Bangun pagi dengan sajian pemandangan dari jendela besar di kamarku seperti terapi yang menyegarkan otak dan pikiran. Tahu kan? Tempat tidurku menghadap jendela besar yang memperlihatkan taman dengan rumput liar, bunga mawar dan bunga matahari. Sejak aku menempati kamar di lantai dasar ini, Fred meminta tukang kebun merapikan taman depan jendela kamarku.
Aku kaget setengah mati waktu melihat Fred tidur di ruang tamu depan kamarku. Ia masih mengenakan jaket kulit lengkap.
Semalam ia dan Boni berada di ruang kerja hingga larut malam. Ia sama sekali tidak menemuiku setelahnya. Aku juga tidak tahu kalau dia keluar rumah.
Aku yakin dia keluar ke suatu tempat semalam. Tapi, ke mana? Banyak hal yang mau aku tanyakan pada Fred.
Tapi, aku lebih memilih bersiap-siap untuk ujian ilmu komunikasi dari Pak Nurdin. Aku harus lulus dengan nilai bagus kalau mau jadi seorang jurnalis handal. Sangat berbeda dengan Jessica, dia lebih memilih ilmu komunikasi untuk bidang pemasaran untuk menjalankan perusahaan milik keluarganya.
Sedangkan Dante dan Farel memilih fakultas ekonomi untuk meneruskan perusahaan milik ayah mereka. Boleh dibilang, cuma aku yang hidupnya terlunta di sini. Tapi, aku nggak akan nyerah gitu aja. Hidup itu butuh diperjuangkan.
Aku mau menjadi seorang jurnalis dan bertemu tokoh hebat dalam negri dan luar negri.
Aku lirik jam dinding di kamar, masih jam Tujuh pagi. Dan rasanya sangat berbeda mengetahui Fred masih tidur. Biasanya dia sudah bangun dari jam Enam pagi lalu joging dan berenang.
Aku membawa selimut dari kamarku dan menutupi tubuhnya.
Saat aku melangkah meninggalkanya, ia memanggil, "Bella," suaranya serak khas bangun tidur.
"Ya. maaf kalau aku bangunin kamu. Aku cuma mau kasih selimut aja,"kataku gugup. Malu banget ketawan mandangin cowok tidur.
"Kemarilah,"
Aku menghampirinya sambil menatap wajah yang mengantuk tapi tetap tampan itu.
Ia membuka mulut dan mengatakan hal yang membuatku terkejut, "Beri tahu aku jika ada yang mengikutimu atau kamu merasa diikuti kalau kamu di luar rumah."
Perasaanku diliputi rasa tidak tenang kalau begini. Aku cuma mau ke kampus bukan jalan-jalan kelur rumah seharian.
"Tenanglah. Aku nggak akan kenapa-kenapa. Lagi pula kan ada Jessica, Dante dan Farel nanti."
"Oh, kamu akan bertemu dengan kedua laki-laki itu juga?"
Loh? Mereka memang satu kampus, aku akan bertemu mereka suka atau tidak.
"Apa maksud pertanyaanmu barusan?" Tanyaku menyelidik.
"Tidak ada. Sudah sana mandi dan kuliah."balasnya dengan nada sedikit kesal.
Sikap Fred itu selalu berubah-ubah kadang manis dan perhatian banget, tapi bisa juga jadi aneh marah-marah nggak jelas.
Masa iya dia cemburu sama Dante dan Farel?
Aku kembali ke kamar untuk mandi dan pakai pakaian kasual buat ke kempus. Aku juga masih pakai tas yang biasa buat ke kampus walaupun Fred sudah memenuhi lemari dengan tas branded lainnya. Yang harganya bisa lebih mahal dari motor matic.
"Non Bella." Panggil Bik Sri, suaranya nyaring menembus pintu kamar.
Udah hampir sama kayak Jessica.
Buku-buku dan alat tulis sudah ku atur sedemikian rupa. Aku juga sudah memesan ojek online ke kampus. Biar sampai lebih cepat ke kampus.
Aku berlari kecil ke meja makan dan mengambil roti yang sudah di olesi selai kacang dan minum jus jeruk dengan cepat. Bukan apa-apa, aku cuma tidak mau telat saat ujian. Aku mau tiba setengah jam lebih awal di kampus untuk baca buku.
"Non, pelan-pelan sarapannya. Duduk dulu dan makan dengan tenang."Bik Sri menasihatiku dengan logat jawa yang kental.
Aku hanya nyengir sambil terus makan dan minum air putih untuk mendorong rotiku masuk ke tenggorokkan.
"Makanlah yang benar, agar makananmu masuk dengan baik ke dalam perut."cowok yang tadi pagi bikin jantungku berdebar tiba-tiba berjalan ke arah meja makan sambil membuka jaket hitamnya. Dan ia berikan ke Bik Sri.
"Maaf. Tapi, aku buru-buru. Sebentar lagi tukang ojekku datang dan ...."
"Apa? Tukang ojek? Apa di rumah ini sudah kehabisan mobil???"tanyanya dengan wajah kesal dan sedikit berteriak.
Aduuuhhh ... repot banget sih nasibku.
Aku berjalan mendekati Fred dan memberikan segelas air putih agar ia tenang.
"Aku nggak mau terjebak macet. Makanya aku order ojek online. Tapi, nanti boleh kok kalau ada orangmu yang mau jemput aku,"
Belum selesai ia minum, ia menaruh gelasnya dan menarik tanganku.
"Bik, ambilkan kunci motor?"
Bik Sri berlari kecil ke lemari kaca tempat semua kunci kendaraan Fred. Dan memberikan Fred sebuah kunci. Dengan berat hati aku mengklik cancel pada aplikasi ojek online.
Aku menunggu Fred di depan pintu rumah 'Istana', tidak berapa lama ia datang mengendarai motor kawasaki ninja H2 dan aku yakin dia satu-satunya pemilik motor itu di negara ini.
Sebenarnya aku malas kalau Fred sering mengantar ke kampus. Tau sendirikan mulut nyinyir cewek-cewek kampus yang sok cantik? Padahal biasa aja.
Mereka semua nyinyirin aku jadi simpenan cowok tajir sejak pertama kali Fred menampakkan batang hidungnya di kampusku. Mereka mengkritik penampilanku yang sudah mulai berubah, padahal aku cuma pakai pakaian yang sudah di sediakan Fred di lemari.
Hari ini aku sengaja memakai kemeja jins dan celana jins. Biar nggak ribet dan dikira orang kaya atau deketin orang kaya.
Setelah sampai di parkiran kampus. Dapat dipastikan semua mata cewek-cewek jelalatan melihat Fred. Yah ... aku cuma kayak rengginang yang di jemur, mereka nggak noleh ke aku. Mereka bakalan lupa sesaat kalau Fred itu goncengin cewek. Nanti, kalau Fred pulang baru deh aku dibilang cewek gatel, ganjen dan sebagainya.
Aku mengembalikan helm pada Fred, yang masih melihat para mahasiswa yang berjalan ke aula kampus.
"Mana Jessica? Aku belum melihatnya. Biasanya dia akan teriak memanggilmu."tanya Fred.
"Aku juga nggak tahu. Dia nggak angkat telponku,"jawabku gusar. Karena barusan Dante berjalan melewatiku bersama Vera cewek tukang gosip yang ngerasa dirinya paling cantik satu kampus. Ya , dia memang cantik namanya juga model.
Fred melihat ke arah mataku tadi.
"Bella, itu temanmu kan? Cowok yang hampir memukulku?"tanyanya dengan alis mengkerut. Pipinya sedikit memerah karena terkena cahaya matahari pagi. Aku jadi bisa melihat dengan jelas kalau mata Fred berwarna coklat.
"Iya, itu Dante."jawabku dengan malas.
Fred menyalakan motornya lalu berputar ke arah gerbang kampus untuk kembali ke rumah.
Sekarang aku sudah mulai terbiasa menyebut itu 'rumah' yang menjadi tempat aku pulang. Padahal itu bukan rumahku.
Suatu hari Fred, aku akan keluar dari rumah itu dan memiliki tempat tinggalku sendiri. Aku tidak mau menyusahkanmu lagi.
"Hei, gimana tadi? Enak nggak pacaran sama pengusaha terkenal?"
Suara manja yang bikin aku muak. Aku nggak mau menoleh karena nggak mau nonjok mukanya. Aku mau fokus belajar.
"Ver. itu bukan urusan lo, lagian gue mau belajar. Sebentar lagi ujian."
"Lagak lo udah kayak paling cantik mentang-mentang pacaran sama pengusaha. Dia itu pacarnya temen gue tadinya, model cantik yang sekarang mengibarkan karirnya di luar negri."
Eh?
Aku terdiam sesaat. Dan Vera menikmati muka terkejutku, "lo nggak tahu? Kalau Freddie itu pacaran sama model papan atas tadinya. Lo itu nggak ada seujung kukunya pun,"dia tertawa waktu menjelaskan hal ini. Gigi putihnya terlihat rapi dan bersih.
"Gue nggak ada selera, Ver buat nanggepin ini semua."aku berusaha untuk tidak mengeluarkan suara bergetar.
Dante yang baru datang ke kantin langsung mengambil secangkir kopi dan duduk di sebelah Vera.
"Udah jangan pada ribut pagi-pagi. Bukannya pada belajar lo berdua. Ributin cowok yang nggak pantas diributin."ujarnya asal-asalan sambil menyesap kopi hangat.
Dante tidak pernah berkata seenaknya begini ke aku. Apa yang buat dia begini?
Aku tidak menyahut, sesekali dia melirikku. Dia salah kalau aku akan menjawab omongannya.
Vera masih tidak puas karena aku tidak menjawab omongannya barusan. Aku tahu, dia melakukan itu biar menjadi pusat perhatian di kantin.
Kemudian dia mendekatiku lagi, dan mengatakan sesuatu yang membuat darahku naik ke ubun-ubun, "Apa lo ngasih servis bagus ke Freddie Clarke? Cowok nggak akan nempel kalau lo nggak ngasih tubuh lo ke dia dan ..."
Aku memotong omongannya dengan mengebrak meja dan mengepalkan tanganku untuk menonjok wajahnya. Kalau tidak di tahan oleh Dante. "Turunin tangan lo dan kendalikan emosi lo, Bell. Jangan kepancing,"katanya dengan suara serak dan sedikit dalam. Dia memandang mataku dengan tatapan yang tidak bisa aku tafsirkan.
Napasku masih memburu, "kasih tau cewek baru lo ini, sebelum gue bikin dia patah tulang dan wajah cantiknya bonyok. Lo tahu kemampuan gue, kan?"ujarku dengan wajah dingin.
Dengan sigap aku mengambil tas untuk meninggalkan kantin dan adegan menarik perhatian di pagi hari ini.
Jessica berlari ke kantin dan berhenti saat melihat wajahku yang kesal.
"Lo kenapa? Katanya ada keributan di kantin? Siapa yang ribut?"tanyanya sambil berlari kecil.
"Bella, bisa jalan pelan nggak sih? Heels gue bisa patah nih kalau ngikutin cara jalan lo yang kayak preman."aku lupa kalau sahabatku ini putri keraton.
"Yang ribut di kantin itu gue sama Vera. Dia ngatain gue yang enggak-enggak depan anak-anak kampus. Dan Dante juga di sana."
"Dante nggak belain elo?"wajah Jessica terlihat penasaran.
"Dia belain Vera dari pada muka tu cewek bonyok dan gue nggak jadi ikut ujian,"
Sekilas Jessica bengong lalu menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Sebelum pergi ke aula sebrang, Dante menghampiri aku dan Jessica.
"Bell, kendaliin emosi lo. Jangan kayak tadi, hampir aja lo nonjok dia,"tegurnya yang membuat aku dan Jessica bingung.
"Lo kok belain dia Dante?"tanya Jessica.
"Yah, lo kayak nggak tahu Bella. Bisa babak belur tuh Vera kalau dihajar sama dia. Terus nanti Bella nggak bisa ikut ujian."jelas Dante lagi, Jessica terlihat masih belum bisa menerima penjelasan Dante.
Aku nggak sebodoh itu, pasti ada yang Dante sembunyikan. Nada suaranya jelas berbeda saat dia di kantin tadi.
"Lo percaya dengan omongan Vera tadi?"tanyaku lagi, Dante dan Jessica menoleh bersamaan.
"Memangnya apa bedanya? Apa lo akan merubah keputusan lo ke laki-laki itu, Bell?"ia memandangku sinis. Aku kecewa, selama ini aku percaya pada Dante. Harusnya sebagai sahabat, Dante lebih mempercayaiku.
"Gue punya alasan, dan ini lebih dari itu Dante. Terserah kalau memang pikiran lo sama dengan yang lain. Berarti gue cukup tahu mana sahabat dan mana musuh,"ujarku dengan suara bergetar.
Dante terdiam dan mematung. Mulutnya terbuka tapi tidak sanggup berucap apapun.
"Bella, jangan kayak gitu ke Dante. Dia cuma nggak tahu yang sebenarnya."panggil Jessica cemas sambil mengejar langkahku.
Ia mengusap keringatnya di dahi, "aduh capek banget gue ikutin drama ini,"
"Yang suruh lo ikutin gue siapa?"tanyaku sambil membuka buku bacaan mempersiapkan alat tulis untuk ujian nanti.
"Jangan sensi dong, gitu aja ngambek non."
"Lo udah belajar kan, Bell?"tanyanya lagi sambil nyengir.
Aku hanya menggelengkan kepala, karena kalau dia sudah nyengir nggak jelas. Berarti dia belum belajar.
*******************************************
Semua mahasiswa sudah selesai mengerjakan ujian hari ini. Dan artinya selesai lebih awal sehingga bisa pulang lebih awal juga.
Farel berlari menghampiriku dan Jessica.
"Nongkrong yuk, ke Kafe Soul. Udah lama kita nggak nongkrong,"
"Gue mau aja. Ayo, Bell,"
Aku masih mencari ponselku, dan sudah ada chat whatsapp dari Fred.
"Cepat pulang ya, seseorang akan menjemputmu,"
"Aku kangen sama temen-temenku dan mau nongkrong bareng,"
"Candy, seseorang akan menjemputmu."
"Fred, aku nggak bisa begini terus. Bahkan bertemu dengan ketiga sahabatku aja harus dibatasi."
"Orang itu akan tetap ke sana. Tunggu saja."
Aku kesal dan menghela napas panjang.
"Jangan bilang, cowok lo itu ngelarang lo untuk nongkrong bareng kita?"tanya Farel sinis.
Dari kejauhan, Dante berlari dan menepuk pundak Farel. Lalu kami berempat saling diam dan saling memandang, lebih tepatnya menunggu aku mengatakan sesuatu.
"Ayo, katanya mau nongkrong. Kok pada diam? Kesambet?"tanyaku lagi.
Aku capek kalau harus ikuti aturan yang Fred buat. Buktinya selama ini nggak ada yang ngikutin aku atau mata-matai aku. Dia aja yang suka lebay.
"Yaudah, gue naik motor sama Dante. Lo temenin Jessica naik mobil."ujar Farel lagi.
Jessica dan aku langsung ke parkiran kampus, dan Vera melihatku dengan sinis sebelum masuk ke mobil sedannya.
Ponselku bergetar lagi. Nama Fred muncul, sebenarnya aku malas kalau angkat telponnya. Tapi, kalau aku nggak angkat telponnya, dia bisa nelpon aku sampai Hpku jebol.
"Hallo,"
"Candy, dengar aku. Pulanglah."
"Aku cuma mau ke Kafe Soul sama teman-temanku,"
"Baik, bagus kalau begitu."
Aneh!
Dia matikan telponnya begitu tahu aku ke mana. Lama-lama aku mau urusanku dengannya selesai. Dia cuma mau anak kan?
Setelah dapat anak, dia pasti akan buang aku gitu aja.
"Bell, lo kenapa dari tadi bete terus?"Jessica memasang sabuk pengamannya. Interior dalam mobil BMW biru tua ini berwarna pink dan banyak hello kitty di dalamnya.
Iya... kalian pasti mau bilang, masa udah gede masih masang hello kitty di mobil?
Bukan aku. Aku nggak punya mobil. Sekarang aja hidup mewah karena di tampung sama cowok kaya yang mau anak dari aku.
Pokoknya jangan kaget kalau masuk mobilnya Jessica. Nggak boleh makan dan minum. Wangi bunga dan penuh dengan warna pink dan hello kitty. Kasihan kalau dia punya cowok, dan cowoknya akan menderita dengan hello kitty bertaburan.
Jessica menyalakan lagu favorit kami, yaitu you are the reason callum scott. Lagu cinta yang membuat jantung para cewek jatuh bangun.
"Eh, Bell. Lihat deh mobil pajero hitam itu dari tadi ngikutin kita."katanya sambil memerhatikan spion dalam mobil. Sesekali aku menengok ke belakang.
"Gue akan coba ngebut dan ambil jalan lain,"Jessica mulai panik. Tapi, dia pengemudi yang handal kalau soal kebut-kebutan. Beda sama aku, yang bawa mobil kayak slow motion.
Karena aku juga baru diajarin sama Jessica. Jadi, butuh latihan lebih lama lagi.
Mobil hitam besar itu masih mengikuti mobil Jess. Ponselku berbunyi lagi, kali ini nama Boni muncul di layar. Perasaanku semakin nggak enak.
"Alihkan mobil itu dan belok kanan di perapatan jalan. Ikuti sedan Audi silver,"Boni mengatakannya tanpa kata halo.
Dia memang nggak sopan. Tapi, dia nggak ada waktu untuk begitu kalau keadaan sedang gawat.
"Belok kanan Jess. Nanti kita ikutin mobil Audi silver,"kataku panik.
"Tenang Bell, jangan panik."
Jessica memiliki ketenangan yang luar biasa dalam keadaan genting. Aku harus belajar banyak dari dia. Aku yang suka panik dan emosi. Seperti dipertemukan dengan sahabat yang cocok yaitu Jessica.
"Lo kenal yang ada di mobil Audi itu?"tanya Jessica.
Aku menggeleng dan menghela napas, karena aku cuma mengikuti instruksi Boni.
Mereka sudah tertinggal jauh. Tiba-tiba mobil Audi itu berhenti di depan kami. Cowok jangkung bermata abu-abu dan rambut coklat, keluar dari mobilnya dan mendatangi mobil Jessica.
"Keluar, pindah ke mobil depan."kata cowok jangkung tanpa menoleh ke aku dan Jessica. Ia memakai topi dan masker.
Aku mau tanya siapa dia. Tapi, kita harus bergerak cepat. sepertinya, dia bukan ditugaskan untuk beramah tamah denganku dan Jessica.
"Menunduk jika aku perintahkan kalian untuk menunduk."perintahnya lagi.
Aku dan Jessica masih nggak tahu apa yang terjadi, kami cuma mengangguk saat diberi instruksi begitu.
Lagi!
Nyawaku terancam.
Suara tembakan saling menyahut. Laki-laki itu terlihat ahli dalam menembak dan mengemudi sekaligus. Dia teriak memintaku dan Jessica menunduk, lalu membuka maskernya.
Aku pernah lihat dia di ruang kerja Fred. Mereka bertiga merencanakan sesuatu yang penting yang aku tidak tahu itu apa.
Waktu aku mau bangun dan mengintip ke jendela. Dia teriak dan memintaku tetap nunduk.
Jaket abu-abu yang ia kenakan kontras dengan aura misterinya.
Setelah mobil yang menguntit kami sudah tidak ada. Kami duduk kembali dan menghela napas panjang. Lebih gilanya lagi, mobil yang aku tumpangi ini nggak kenapa-kenapa dan jendelanya nggak pecah ataupun bolong.
Jessica nyengir waktu melihat ke arahku, dia pasti tahu jenis mobil apa yang kami tumpangi ini.
"Keren banget nih mobil, Bell. Sampai nggak tembus sama peluru."
Aku menoleh sambil memegang kening dan perut."iya, keren tapi ... "
"Eh, jangan bilang lo mau muntah??"Jessica panik dan matanya terbelalak. Aku nggak tahan beneran eneg banget diajak ngebut kayak tadi. Ngebut sambil tembak-tembakan.
Mendingan aku ngehajar preman di depan gang Haji malih.
"Eh mas, bang. Aduh siapa kek nama lo! Berhenti dong, temen gue mau muntah!"Jessica teriak teriak sambil narik kerah jaket cowok bermata abu-abu.
Cowok sialan itu nggak peduli dengan teriakan Jessica.
"Gue muntah di sini aja kali ya Jess?"aku nggak tahan, aku tarik koran yang ada di jok belakang.
"Apa?? Kamu mau muntah di mobil??!"cowok itu marah karena ngelihat aku mau muntah.
"Ribet banget ngomong sama lo! Dari tadi juga udah gue bilang, temen gue mau muntah Jarwo!"Jessica sewot sampai memanggil cowok itu dengan nama Jarwo.
Cowok itu terlihat takut saat kena semprot Jessica. Dia langsung menepikan mobilnya. Aku langsung membuka pintu mobil dan muntah di pinggir jalan.
"Cari minum dan tisu dong, jangan diam aja!"bentak Jessica lagi. Cowok yang barusan gagah berani menyelamatkan kita, mendadak kayak kelinci dibentak Jess.
Belum pernah aku ngerasa mual dan pengin ngakak dalam waktu bersamaan.
Cowok itu berdiri di sisi kanan Jessica sambil memberikan tisu basah dan tisu kering untuk membersihkan bibirku dari muntah.
Cemen banget sih, pakai muntah segala kalau di ajak ngebut.
"Mending naik angkot deh lo Bell, diajak ngebut pakai mobil keren masa muntah."
"Tadi tuh parah ngebutnya Jess, gue langsung pusing!"
"Mobil ini punya daya safety yang tinggi bagi penumpang. Jadi, kita nggak akan kenapa-kenapa."jelasnya lagi.
"Tetap aja gue eneg."
Cowok itu memerhatikan Jessica dan aku yang lagi ngobrol sambil membersihkan muntah.
"Nama lo siapa?"Jessica bertanya ke cowok yang dari tadi diam kayak patung sambil memegang tisu.
"Rico,"
"Kalau kalian sudah selesai, cepat naik."perintahnya lagi.
Jessica memutar bola matanya, jelas banget kalau dia nggak suka di perintah begitu. Sesekali cowok itu memerhatikan Jessica dari kaca spion dalam. Kalau tanpa sengaja terlihat sama aku, dia langsung salah tingkah.
"Mobil gue nasibnya gimana ya Bell?"
"Nanti gue akan bilang ke Fred,"
"Mobil ini, harganya dua kali lipat bahkan lebih sama BMW gue yang biru tua itu. Gila aja sih, kalau sampai nih mobil cuma dibuat kebut-kebutan nyelametin cewek tukang muntah kayak lo!"ujarnya lagi, hingga cowok di depan itu ikutan senyum tanpa sengaja.
Hampir setengah jam kami sampai di pekarangan 'istana' Fred yang membuat mulut Jessica terbuka lebar.
"Ini rumah?"
"Bukan. Kandang kuda!"jawabku asal.
Fred duduk di sofa sambil membaca koran.
Rico mengumpat dan mengatakan kalau mobil itu bau muntah.
Bodo amat! Masih untung aku muntah di jalan bukan di mobil.
Fred tidak mau mengambil resiko dan meminta Rico untuk jadi supirku ke manapun. Rico mengumpat lagi dan meninggalkan kami.
Eh, salahku apa sih dia ngumpat terus!
"Sepertinya aku akan tetap meminta Rico untuk menemanimu ke manapun,"
"Nggak usah! Aku bisa jaga diri sendiri,"jawabku.
Belum selesai aku menjawab omongan Fred, Jessica sudah menyenggol lenganku. Tanda bahwa dia juga serius tentang keselamatanku.
"Kamu dan Jessica hampir mati di kuntit oleh orang suruhan Jason Smith dan Hugo."
"Dari mana kamu tahu kalau itu mereka?"
"Siapa lagi yang akan berusaha membunuhmu agar tidak bisa memberikanku keturunan? Ini kenyataan Bella."
"Aku nggak mau diantar ke mana pun sama cowok kasar kayak dia!" aku nunjuk ke cowok yang lagi santai minum bir. Seolah-olah nggak terjadi sesuatu barusan.
"Kalau, lo nggak mau. Gue aja Bell, dia pasti mau nganter gue."timpal Jessica lagi.
Rico memutar bola matanya. Ada seulas senyum dari sudut bibirnya.
"Lo ambil deh,"kataku lagi.
Fred tidak ambil pusing dengan kejadian barusan. Dia lebih memilih masuk ke ruang kerjanya bersama Boni.
Sebelum berjalan lurus ke ruang kerja, dia berhenti depan kamarku.
"Candy, aku tidak bisa terus ada untuk melindungimu, jadi tolong jangan keras kepala."
"Aku bisa jaga diriku, aku nggak butuh di temani."
"Tidak. Buktinya hari ini nyawamu terancam."
"Oh ... jadi ini beban buat kamu ya? Karena harus selalu melindungi aku?"
Aku tertawa dengan padangan datar. Aku sadar sepenuhnya, kalau aku harus tetap hidup sebagai alat untuk memberinya keturunan.
Apa aku sudah gila? Kemarin aku yang mendatangi Reynold dan menyetujui proses inseminasi itu. Sekarang, aku merasa sensitif dengan hal itu.
"Apa aku harus tetap selamat demi memberimu keturunan? Untuk itulah kamu terus menjaga aku. Lalu, kalau sudah dapat yang kamu mau, kamu akan perlakukan aku bagaimana?"tanyaku dengan nada bergetar.
Jessica terdiam dan mematung. Dia tidak berani melihat ke arah Fred yang berdiri di depan pintu.
Tahu nggak rasanya di butuhkan karena memang ada sesuatu yang harus mereka dapatkan dari kalian?
Bukan perasaan benar-benar butuh seperti membutuhkan orang itu berada di sampingmu seumur hidup.
Fred memang bersikap lebih lunak setelah aku membacakan surat dari Bunda. Dia begitu karena ada yang dia butuhkan dariku.
Apa dia akan memperlakukan aku sama seperti sekarang, jika sudah mendapatkan keinginannya?
"Jess, keluarlah. Aku butuh bicara dengan permen ini,"
Jessica yang sejak tadi tegang. Memilih keluar sambil menoleh ke arahku. Aku kasihan padanya, kasihan karena ikut dalam drama ini.
********************************************
Capek di kejar-kejar oleh penguntit.
Bella yang labil, dia suka nggak percaya diri kalau dia itu pantas di cintai.
Ditambah lagi Fred nggak pernah ngomong apapun tentang perasaannya.
Bagi Fred, membuat Bella tetap aman itu harga mati. Walaupun cewek itu ngerasa udah kayak tawanan.
Sebagai cewek, perasaan kita selalu halus dan butuh di senangkan. Bagi cowok perbuatan itu jauh lebih penting dari sekedar kata-kata.
Aku lanjut malam ini yah guys.
This is my story. Dan akan aku buat sesuai seleraku yah guys.
Lots of love
mutisya🌺