Adam POV
Disinilah gue, bersama Daffa dan Bagas temennya. Saat masuk Daffa mencoba duduk disamping Bagas, dan gue menarik tangan Daffa agar duduk sebelah gue. Gue gak mau melihat Daffa deket-deket sama cowok tengil macem dia.
"To the point aja, lo suka ngomong apa aja ke adek gue?" tanya gue memulai pembicaraan setelah selesai makan.
"Ngomong gimana maksudnya Kak?"
"Lo, lo suka ngomongin adek gue yang macem-macem kan? Adek gue ini polos tapi dia bisa tau hal-hal berbau mesum dan katanya dia tau dari lo" gue melotot ke Bagas, sontak dia shock dan natap Daffa gak percaya.
"Daff, lo ngomong apa aja ke Kakak lo?"
"Gak ada ah, aku cuma ngomong kalo kamu mau sekolah di SMA XY karena cewek-ceweknya yang seksi" jawab Daffa dan kembali melahap Chicken Fried-nya.
"Nah, apa maksud lo cewek seksi itu? Daffa gak pernah ya sebelumnya ngomong gitu. Dan satu lagi, lo ngapain nempel-nempel ke Daffa terus?" tanya gue menuntut. Bagas yang mendapat serangan gue dan Daffa hanya pasrah.
"Kak, Daffa itu imut. Jadi gue suka aja temenan sama dia"
"Selain imut?"
"Itu aja kok, bener" jawab Bagas sambil mengangkat tangannya dengan gaya dua jari.
"Tapi aku benci sama cewek-cewek yang ada disekolah. Mereka ngatain aku ganjen lah, banci lah, homo lah. Kan aku gak gitu" ucap Daffa cemberut. Gue melihat wajah Bagas yang sangat-sangat jelas kalo dia menyukai Daffa dengan tatapan memujanya. Fiks, gue gak bisa biarin.
"Ngapain lo liatin adek gue gitu amat?" tanya gue.
"Dia imut banget, gue suka" jawab Bagas tanpa sadar, wah bagus.
"APA?! Kamu suka sama aku??" tanya Daffa shock. Sontak Bagas sadar dan cuma cengengesan.
"Hehehe, keceplosan" jawabnya nyengir kuda.
"Ihh!! Jauh-jauh dari aku! Aku gak mau disukai orang macem kamu, hushh.. hushh!!" Daffa meluk dan bersembunyi dibalik tubuh gue. Pantes Daffa disukai cowok gini, tingkahnya imut-imut. Persis kayak Rain. Cuma beda sifatnya aja.
"Lo kenapa suka sama adek gue?"
"Mana gue tau Kak, namanya juga suka" jawabnya enteng.
"Gak boleh!" jawab gue.
"Lah kenapa gak boleh Kak? Kan gue suka sama Daffa, ya kan?" Bagas ngedipin mata ke arah Daffa.
"Ihh, aku takut. Kak ayo pulang!" Daffa narik tangan gue buat keluar dari cafe ini.
"Eh tunggu dulu, Kakak mau bayar dulu" gue menuju kasir untuk membayar semua makanan kami.
Setelah bayar gue keluar dan menuju parkiran, tapi dari belakang Bagas ngikutin gue.
"Kak, gue bakal ngejer adek lo! Inget itu" jawabnya natangin gue.
"Yakin? Lo harus hadepan sama gue dulu"
"Oke, siapa takut" jawabnya songong. Wah nyari gara-gara nih bocah.
"Daffa imut, besok kita ketemu ya... See u~" ucap Bagas ganjen ke Daffa.
Bagas menuju motornya dan pulang duluan, dan hanya tersisa kami berdua di parkiran cafe.
"Ihh, dasar aneh. Masa sukanya ke Daffa sih? pokoknya Daffa gak mau. TITIK!" dumel Daffa entah kepada siapa.
"Kamu jangan deketin dia makanya" jawab gue melihat wajah Daffa yang sedang manyun-manyun gak jelas.
"Gimana gak deketin, orang Daffa duduk bareng dia. Itupun disuruh guru"
Huh, gue lupa kalo Daffa duduk sebangku bareng Bagas. Tapi kalo dilihat-lihat si Bagas orangnya pemaksa, pasti bakal ngejer-ngejer Daffa.
"Yaudah jangan kamu ajak bicara dia. Yuk pulang, udah sore" gue naik motor dan diikuti Daffa duduk dibelakang gue.
Gue coba biarin si Bagas deketin Daffa, gue mau lihat apakah betul yang dia ucapkan bakal dia lakukan. Gue menunggu.
.
.
.
.
Renald POV
Setelah selesai ngawasin Reon, aku pulang duluan tanpa menghiraukan Reon. Aku lagi males ngomong sama dia, setiap kata yang dia lontarkan bakal buat aku bingung dan ujung-ujungnya galau.
Aku keluar sekolah dan menuju parkiran, saat berjalan perutku berbunyi tanda lapar. Aduh, kayaknya harus ngisi nih.
Aku menuju motorku dan mengambil kunci didalam saku celana. Aku mengendarai motor dan keluar dari pekarangan sekolah, saat melewati cafe aku pun stop karena aku mau makan. Perut aku sudah berdemo minta diisi, sabar ya cacing perut.
Aku melihat di kaca jendela cafe, dan disana Rain sedang duduk dibagian dekat jendela itu bersama Cheery. Wah, bagus banget. Kali aja mereka bakal mau dengerin cerita aku.
Sesampainya dimeja Rain dan Cheery bersikap ramah kepadaku, dan aku bersyukur karena Rain masih mau dekat denganku lagi. Tetapi kabar yang sangat mengejutkan bahwa Rain berpacaran sama Adam, anak basket kelas 10 itu. Aku kaget, sedikit sedih. Sedikit kok. Tetapi aku gak bisa berbuat apa-apa, karena itu pilihan hati Rain. Jika Rain senang, akupun ikut senang.
Dan aku pun berniat untuk bercerita kepada mereka, syukurnya mereka mau dan ingin mendengarnya. Saat aku menyebut nama Reon, sontak mereka kaget.
"Reon?" jawab mereka bersamaan.
"Iya Cheer, Rain"
"Tunggu-tunggu, Reon yang pernah nonjok Rain itu bukan?" tanya Cheery.
"Iya gitu lah"
"Ada apa emangnya?" tanya Rain.
"Gini, waktu itu dia bilang kalo dia gak suka kalo aku deket kamu Rain, dan deket sama siapapun. Reon bilang kalo aku gak peka, terus juga dia ngikutin aku pulang sampe rumah dan katanya dia khawatir. Maksudnya apa ya?"
Rain nengok Cheery meminta jawaban. Ah atau Rain gak ngerti masalah gue.
"Emm, menurut gue sih Reon itu.. suka sama lo deh Ren" ucap Cheery.
Hah? Suka? Masa iya sih. Gak mungkin orang kayak Reon seorang gay, kayak gue.
"Ah gak mungkin deh Cheer, dia aja kayak jijik gitu pas dia gak sengaja nyium pi-" aku nutup mulutku secara tiba-tiba. Astaga kenapa harus keceplosan sih.
"A-apa? Kamu dicium Reon?" tanya Rain gak percaya.
"I-itu, g-gak gak kok" jawabku sedikit kelabakan.
"Lo jangan bohong deh Ren haha, udah keliatan dari muka lo yang merah"
Aduh, kenapa muka aku harus merah sih.
"I-iya, tapi gak sengaja kok beneran. Waktu itu Reon emosi dan ngedorong aku, tapi dianya juga jatuh" jelasku sejelas-jelasnya. Aku gak mau mereka mikir macem-macem.
"Iya gak apa kok. Kalo menurut aku sih Reon memang suka sama kamu. Tapi, kalian sama-sama gak sadar" jawab Rain yang membuat aku kembali berpikir.
Pantes sifat Reon berubah semenjak kejadian dia mencium pipiku, ralat kecelakaan menciumku itu.
Tapi bagaimana biar aku tahu kalo Reon juga sama kayak aku, sama sukanya.
"Terus aku harus gimana?" tanyaku semakin bingung.
"Emmm... jauhin dia" ucap Cheery.
"Gimana mau jauhin, orang aku harus ngawasin dia selama hukuman berlangsung"
"Oh, hukumannya masih ya. Kapan selesainya?" tanya Rain.
"10 hari lagi"
"Yaudah kamu jangan ajak dia ngomong, nanti aku bantu deh" jawab Rain.
"Ah nanti ada yang marah nih"
"Adam? Tenang, nanti aku bisa bujuk dia kok"
"Oke deh makasih ya Rain, Cheer"
Aku makan pesanan yang sudah aku pesan, bersama obrolan dan candaan dari Rain dan Cheery. Dan aku bakal melakukan saran yang apa mereka katakan barusan, juga menunggu bantuan Rain yang entah seperti apa.
TBC...
Makin dilanjut makin gak semangat buat nulis cerita:( yang baca dikit dan voting apalagi. Apakah ceritaku ini tidak menarik ya?
Mau nangis aja:'(