My Story...

By Ucy_Lestary

265K 4.5K 592

"Aku tak bisa marah, berontak, atau meneriakkan ketidak adilan yang diberikannya padaku. Aku hanya bisa diam... More

My Story...
My Story 1 - Awal dari kehancuran
My Story 2 - Rencana....
My Story 3 - "Kenyataan 2"
My Story 4 - "Kebagiaan/Mimpi buruk?"
My Story 5 - "Pagi teraneh..."
My Story 6 - "Alasan"
My Story 7 - "Percikan..."
My Story 8 - "Dilema... Dan Rindu..."
My Story 9 - "Kunjungan Tak Terduga..."
Part 10
Part 11 B

Part 11 A

5.3K 110 26
By Ucy_Lestary

Demi apa saking lamanya aku sampai bingung ngelanjutinnya gimana, saking lamanya ini cerita dianggurin. Mana pakai acara leptop rusak lagi. Jadi nulisnya mulai dari awal deh. Maaf ya semua dah nunggu lama 🙏🙏🙏

Part sebelumnya..

"Lebih baik langsung kita prakteki dikamar. Dan asal kamu tau, ini lebih enak dan lebih bermanfaat dari pada sauna-sauna itu..."

Dan...

Blam....

Kalian pasti tahu apa yang terjadi didalam sana bukan.

.......

Cuit.... cuit... cuit...

Sepanjang pagi ini entah kenapa Sera merasa lebih bahagia dari pada pagi yang biasanya. Yah dia akui pagi nya memang selalu cerah apabila dia bersama suaminya.

Tadi baru saja dia selesai memasak untuk suaminya yg sekarang masih tidur di kamar mini nya itu.

Sambil menyiapkan perlengkapan makan Sera tak henti - hentinya tersenyum, seakan dia lupa dengan kejadian semalam. Sungguh lemah hatinya. Hanya karna Dylan mengunjunginya dan tak bertindak kasar padanya dia langsung luluh

"Sebaiknya aku bangunkan Mas Dylan sekarang, takutnya nanti telat," gumamnya setelah melihat semua makanan sdh tertata rapi atas meja.

Sera dengan perlahan masuk kedalam kamar dan mendekati tempat dimana Dylan berbaring dengan tenangnya. Sebelum membangunkan suaminya itu, Sera duduk dan dipandanginya dengan puas wajah tampan didepannya itu. Ingin sekali dia membelainya, hanya saja dia takut akan menganggu atau mengejutkan Dylan, apalagi setelah tahu bagaimana perangai Dylan selama ini.

Meski pun hubungannya dengan Dylan memang semakin baik, bukan berarti Sera menjadi berani bertindak seenaknya, dia masih mengingat posisinya itu apa dalam hubungan rumah tangga Dylan, Dita, dan dirinya. Tak ada hal yang menguntungkan untuknya. Meski bagaimana pun tetap dia yang salah sudah masuk dalam rumah tangga Dylan dan Dina.

Bila dia mengingat itu kembali, hati Sera otomatis merasakan nyeri. Memang seharusnya aku tak menyetujui ini dari awal, sesalnya lagi.

"Sudah selesai melamun nya?"

Sera tersentak mendengar suara bariton disertai serak didepannya. Langsung diperbaikinya raut wajah sedihnya dan dipasangnya senyum lembut yang tanpa sadar selalu membuat Dylan gemas.

"Hehe maaf, Mas. Aku nggak tega bangunin Mas." Ucapnya pelan.

Dylan langsung bangun dan menyandarkan diri dikepala ranjang sambil memandang Sera lekat, "Sekarang sudah jam berapa?" Ucapnya dingin. Sera tersenyum, jika saja dia tidak mengenal Dylan pasti dia berpikir kalau suaminya itu masih membencinya, padahal itu memang nada bicaranya Dylan.

"Ini sudah jam 6, Mas. Aku udah siapin air hangat buat Mas mandi. Mas mau mandi sekarang?" Tanya nya masih dengan suara pelan.

Melihat Sera tampak masih takut dan malu padanya, Dylan mendekat dan berbisik ditelinga wanita mungilnya itu, "Kalau suaramu pelan begitu bagaimana aku bisa dengar, sayang? Padahal desahan mu malam tadi tersengar lebih jelas dan..."

"Mas! Hush jangan ngomong gitu," potong Sera dengan pipi merona. Ingatkan Sera selain dingin Dylan juga ternyata adalah seseorang yang mesum. Dan sering lupa kalau istri mungilnya itu adalah seseorang yang polos dan pemalu.

Dan Dylan semakin tersenyum melihat rona merah itu.

Masih dengan wajah merona ditariknya selimut yang tersampir dipinggang Dylan. Syukur suaminya itu memakai baju sesuadah bercinta malam tadi, jika tidak bisa tambah merah mukanya. "Mas mandi sekarang ya. Makanan udah siap didapur. Kalau nggak mandi sekarang takunya Mas telat kekantor."

"Hari ini aku tidak kekantor," ucap Dylan sambil berdiri didepan Sera yang menatapnya bingung.

"Mas bolos kerja?" Tanya Sera polos.

"Hari ini hari apa? Coba kamu lihat kalender," jawab Dylan sambil mengambil handuk yang tersampir dipangkuan Istri mungilnya itu, "mungkin karna aku sukses memberikan mu kepuasan makanya kamu sampai lupa ini hari apa, begitu sayang?" Lanjutnya sambil berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Sera yang semakin semaput karna malu dengan ucapan vulgar Suaminya itu.

"Ish kok Mas Dylan ngomongnya vulgar gitu..," dilihatnya kalender yang ada disamping ranjang mereka, "Hari minggu? Astaga kok aku bisa sampai lupa. Tapi hmm..."

Kok aku bisa sampai lupa, kalo ini tanggal....

Dengan tergesa di ambilnya handphone nya dan mencek apakah hari ini hari penting itu atau bukan.

....

Selesai mandi Dylan langsung keluar menemui Sera yang sudah duduk manis di meja makan.

Sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk dipiring Dylan, Sera berpikir bagaimana menyampaikan keinginannya pada suaminya itu. Dia takut Dylan tidak akan mengijinkannya, mengingat Dylan sangat tidak suka Sera ikut berbaur dalam keluarganya terlalu dalam.

Jadi Sera berpikir berulang kali apakah harus mengatakannya atau tidak. Tapi aku kan sudah janji, resahnya.

"Mas."

Dylan mengangkat kepalanya dari bacaan koran didepannya, "iya?"

Diletaknnya piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauk didepan suaminya perlahan, dan duduk kembali dikursinya. Apa seharusnya aku katakan nanti setelah makan, takutnya Mas Dylan keburu tidak nafsu makan kalau aku bilang sekarang, pikirnya ragu.

"Hmm, tidak jadi. Nanti aja Mas, setelah Mas selesai makan." Putusnya.

Dan itu sukses membuat Dylan bingung dan penasaran dengan tingkah Istri mungilnya itu. Sera tidak akan merasa ragu seperti ini kalau apa yang akan diucapkan nya tidak penting.

Dylan berhenti makan dan menatap penuh tanya pada istri mungilnya itu, "katakan apa yang kamu mau bilang tadi."

"Mas nggak bakal marah kan kalo aku..."

"Katakan saja, Sera!" Putus Dylan gemas.

Takut Dylan semakin marah Sera langsung mengutarakan keinginannya, "hari ini hari ulang tahun Mama kan Mas, jadi aku...,"

"Baiklah, jadi kamu mau membuat acara buat ulang tahun Mama?" Potong Dylan lagi. Lelaki itu sungguh egois, selalu memotong omongan Sera, tanpa menunggu Lira selesai bicara. Dan karna Sera sudah biasa jadi dia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Sera menggangguk sambil menatap suaminya ragu dan penuh harap, "iya, Mas. Jadi aku berencana mau bikinin Mama kue dan ngasih hadiah yang sudah aku siapkan buat Mama. Jadi boleh kan, Mas?"

Melihat tatapan penuh harap istri mungilnya, dan rasa bersalah karna dia sempat melupakan tanggal kelahiran ibunya itu, Dylan pun menyetujui kemauan Sera. Dia ingat, selama menikah dia jarang menjenguk ibu yang sudah melahirkannya itu.

"Setelah ini kita ketempat Mama. Kue dan hadiahnya sudah kamu siapkan?"

"Iya sudah!" Jawab Sera penuh semangat dan senang Dylan menyetujui rencananya. Padahal dia takut Dylan akan menolak, karna dia tahu Dylan tidak akan mau dan setuju kalau Sera masuk terlalu dalam ruang lingkup dan urusan keluarga besarnya.

Karna Sera pun sadar, dia hanya dibutuhkan untuk melahirkan keturunan dan pewaris Keluarga Govin saja.

Tapi.... tetap saja hatinya sakit saat mengingat kembali posisi nya saat ini.

"Baiklah kalau begitu," ucap Dylan kemudian dan kembali melanjutkan makannya.

Syukurlah pagi ini berjalan dengan aman, batin Sera lega.

*******

Pagi itu setelah selesai makan Dylan dan Sera langsung bersiap pergi kerumah Ibu Dylan, hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai kerumah mertua Sera tersebut.

Selama diperjalanan tak hentinya Sera tersenyum sambil memeluk hadiah buat ibu mertua tersayangnya tersebut, dan Dylan yang melihat itu hanya bisa menahan senyum. Sera tampak menggemaskan dimatanya.

Merasa dirinya dipandangi Sera menolehkan kepalanya ke Dylan, dan mendapati muka dingin suaminya.

Mungkin hanya perasaan ku saja, ucapnya dalam hati.

"Ibu bakalan suka ngga ya, Mas?"

"Mungkin" balas Dylan datar.

"Mas tau kesukaan ibu apa? Makanan atau barang yang ibu sukai Mas tau?" Tanya Sera sambil menatap suaminya.

Memdengar pertanyaan itu Dylan semakin sadar kalo dia kurang perhatian kepada Mamanya. Dia bahkan sampai lupa atau mungkin tidak tahu apa makanan ataupun benda kesukaan Mamanya, yang dia pikirkan dan dia buat bahagia hanya Dina selama ini. Sedangkan Ibunya sendiri....

"Mas?" Panggil Sera lembut sambil menyentuh bahu Dylan, dia melihat suaminya seperti melamun. Dan melihat suaminya sempat tidak fokus saat dipanggil semakin meyakinkan Sera kalau Dylan melamun tadi. Kan bahaya melamun saat menyetir begini, batinnya.

"Mas ngga papa?" Tanyanya lagi.

Dimas kembali fokus menyetir, "iya aku tidak apa-apa. Sebelum kerumah ibu kita ke mal dulu sebentar, aku lupa beli hadiah buat ibu," ujar Dylan kemudian.

"Kan sudah ada, Mas" heran Sera.

Dylan menghembuskan nafasnya pelan, "itu kan dari kamu, dari aku belum."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian! Kamu hanya perlu mengikuti saja." Ucap Dylan final.

********

Continue Reading

You'll Also Like

37.3K 924 23
pernikahan yang dijadikan ajang balas dendam itu sangat menyiksa ku.. pada umumnya nikah karena cinta, tapi aku di jadikan ajang balas dendam yang bu...
51.4K 930 50
mencintai itu adalah hak semua manusia,namun tidak semua orang bisa mendapatkan cinta dari orang yang di sukainya. terkadang mengikhlaskan adalah...
5.5K 154 59
Adriana Carla Brahmadi Aku yang selalu menghindar dari nya dan aku selalu bersikap acuh ...
Wattpad App - Unlock exclusive features