SHUAI | HANDSOME (NamJin)

By CELENGDEBU

411K 31.7K 4.1K

[BTS - Namjin/Monjin] Namjoon tak pernah terlalu religius, apalagi memperdulikan kehakikian asal semesta. N... More

01. THAT DAY
02. WHIPPED
03. DI SUATU SIANG
04. SOFT TOUCH
05. HIMEROS
06. An Apple A Day Can't Keep The Villain Away
07. Hyung, Please Notice Me
08. Mad, Sexy, Cool
09. SLOW MOTION (M)
10. A Letter to My Dearest
11. Kau, Aku, dan Bahasa Kita
12. BROKEN
13. Mad, Sexy, Cool (Extended)
14. FEVERISH
15. A Spoonful of Sugar
16. An Apple A Day Can't Keep The Villain Away (Side Story)
17. Trivia: Hormones (M)
18. Baby Blue Koala
20. Piece of Peace
21. Of Numbers, Books, and You
22. Mi Padre, In Bed (M)
23. PILLOW FIGHT
24. VIDEO CALL
25. House of Bread
26. BITTER COFFEE
27. PORRIDGE
28. Of Possessive and Long Legs (M)
29. QUICKIE (M)
30. SHOWTIME (M)
31. THIRSOS
32. The Wolf That Namjoon Brought
33. HUNCH
34. MON CHéRI, at Night (M)
35. SAILO(R)KIVE
36. INTUITION
37. Mi Padre, Afternoon Holiday
38. Rival on The Street, Couple in The Sheet
39. Cling Like A Koala
40. JJIN JJIN
41. A Day with Pretty Daddy
42. On The Way Home
43. Date Me, Manager Kim
44. EARLY BREAKFAST
45. Like The First Time Feeling
46. Hello, Thursday
47. It's Called Jealousy
48. CHEWY BAO (Slight M)
49. My Silly Hamster
50. A Very Common Scenario
TERIMA KASIH

19. Everythin' Goes

4.8K 493 48
By CELENGDEBU

.

Pernahkah kau berpikir soal kematian, Namjoon-ah?

.

.

.

.

Lagi.

Namjoon terbangun dengan sakit kepala, tangannya reflek meraba tempat kosong di sisinya. Setengah mengantuk, pria itu menggosok tengkuk dan menguap malas, mimpi yang sama selama empat hari dan mengonsumsi obat tidur malah membuat kepalanya tak mampu berpikir jernih saat terjaga. Seprai wangi lavender bermotif bidak catur hadiah dari iparnya, kusut karena belum diganti, sementara seluruh pelayan rumah baru akan kembali akhir pekan. Rangkaian bunga di dekat jendela itu juga tak terkena sinar matahari hingga kuntum-kuntum mawarnya layu dengan tangkai terkulai. Namjoon mengedarkan pandang ke sekeliling dan mengusapkan kedua tangan ke wajahnya seraya melirik jam di sisi lampu meja—pukul lima lebih lima, terlalu dini untuk membuka jendela dan minum kopi kecuali dia berniat lari pagi. Berdecak malas, pria itu bangkit sambil mengernyit saat mengendus bau keringat dari kemeja kerja yang dipakainya tidur. Piyama hitamnya bergelayut di gantungan baju dan Namjoon terlalu mengantuk untuk mengambilnya semalam.

Diperiksanya sejumlah dokumen di atas meja, lalu berusaha menajamkan penglihatan demi membereskan sisa-sisa pekerjaan dengan agak meraba-raba. Pahanya membentur ujung kursi dan pria itu mengumpat. Namjoon tidak suka mengundur waktu, hanya perlu memeriksa dua lembar lagi dan dia bisa kembali tidur.

Tapi tidak. Dia enggan bermimpi dengan keringat dingin yang akan ditanyakan si bungsu jika terbangun. Sudah sebesar itu tapi tetap keras kepala jika otaknya tak bisa menerima. Namjoon harus ingat anak itu tidak mirip dirinya, setidaknya dengan perbandingan bahwa Jungkook terlalu peka dan dia tidak. Taehyung mungkin saja sama, Namjoon tak pernah sanggup menebak apa yang sedang dipikirkan oleh anak sulungnya itu. Taehyung bukan tipe yang suka memberinya salam setiap kali bertatap muka atau menyapanya saat mereka sedang berada di ruang makan, bibirnya yang selalu tersenyum tanpa ekspresi seolah menjadi pertanda kuat agar siapapun tak melontarkan pertanyaan padanya. Minggu lalu dia mampir dari kampus untuk mengantarkan soju dan sekardus bacaan yang terbungkus kain putih dan disegel dengan tali merah. Buku-buku yang dibeli Taehyung tiap dua hari sekali dan penuh dengan judul kesukaan Namjoon. Yang bersangkutan baru pulang dari kantor saat menemukan kiriman itu tergeletak di beranda dengan kertas bertuliskan pesan singkat.

Aku sudah merelakannya, Ayah.

.

.

.

Namjoon menyibak handuknya sekilas, air hangat dan serbuk mandi jeruk membuat matanya cukup terjaga untuk berjalan sendirian di halaman belakang. Kakinya menapak gontai, tak peduli salju bisa membuatnya terpeleset jika kurang hati-hati. Jungkook selalu cerewet dengan halaman yang memisahkan rumah dengan dapur, begitu banyak detik yang terbuang demi mengambil minuman jika jaraknya sejauh itu. Namjoon tahu, itu hanya alasan untuk menutupi sifatnya yang agak pemalas. Toh Jungkook tak pernah protes lebih jauh, mulut besarnya akan bungkam setelah lima menit berkicau.

Namjoon memilih rumah itu untuk tempatnya pulang, tempatnya melepaskan rasa penat dan jenuh akibat pekerjaan, pikiran, dan segalanya yang menuntut untuk segera dibereskan di luar sana. Rumah itu tempatnya kembali untuk disambut dengan senyuman dan ucapan selamat datang, gelak tawa Jungkook dan secangkir kopi panas. Seringkali kepalanya akan semakin pusing karena dipicu tingkah bandel si setan kecil, namun anak bungsu yang paling disayanginya itu adalah salah satu hal terpenting yang harus dijaga Namjoon sampai nanti. Belahan jiwanya menginginkan anak laki-laki itu setengah mati dan Namjoon dibuat tersenyum mengingat bagaimana riuhnya suasana halaman saat dirinya membawa pulang Jungkook yang baru berusia setahun. Semuanya sibuk menarik perhatian sosok mungil tersebut, termasuk Taehyung yang antusias memaksanya untuk turun dari gendongan. Bisik-bisik gemas dari tiga pelayan pun penuh mengisi udara diikuti langkah perlahan Seokjin yang turun menapaki tangga, senyum terkembang dengan tangan terentang bahagia. Hari ketiga di awal musim gugur, Namjoon tak pernah lupa.

Dibawanya cangkir berisi kopi pahit keluar dari dapur, pergelangannya terpecik air panas dan Namjoon menyekanya dengan lengan piyama sambil agak berjengit, sudah lama dia tak membuatnya sendiri.

Dihirupnya kopi itu perlahan, rasa hangat mengaliri tenggorokannya dan Namjoon mendesah lega, diangkatnya cangkir ke udara dan menyadari ada namanya di bagian samping pegangan. Cangkir buatan tangan Taehyung yang antusias bermain tembikar saat menginjak kelas enam. Huruf nama Namjoon terpatri di bagian bawah dengan goresan Hangul yang sangat rapi. Putra jenius yang selalu bertingkah, tapi sangat membanggakan. Namjoon menyesap kopinya sekali lagi seraya melirik hamparan salju di halaman. Pucuk-pucuk rumput kering mengintip dari gundukan, mungkin sebaiknya dipotong di akhir minggu jika saljunya sudah agak reda. Toh biasanya dia tak pernah peduli dan para pelayan akan membersihkannya sebelum menumpuk lebih banyak. Seringkali jika kondisi tubuh agak membaik, Seokjin akan dengan jahil melempar dirinya sendiri ke hamparan salju sampai Namjoon berteriak kencang dari dalam rumah. Namun lelaki bebal tersebut justru akan menyeretnya tanpa alas kaki dan membenamkan Namjoon sambil terbahak-bahak. Dan kalau sudah begitu, dia tak akan bisa menang menghadapi Seokjin yang terlihat bersemangat.

.

'Jinseok, aku harus bekerja...'

'Jangan, temani aku bermain sebentar lagi.'

'Memangnya kau anak kecil?'

'Ayolah, Namjoon-ah.'

.

Angin berhembus sedikit lebih kencang dan Namjoon mendongak, mulai terdengar kicauan burung dan warna-warna yang samar karena cahaya. Lelehan salju menetes turun dari atap beranda dan harum pagi yang tak asing menerpa hidungnya.

Handuknya disampirkan di dekat wastafel dan ditaruhnya cangkir kopi di atas meja. Tangan besarnya bergerak, hendak melepas piyama, kendati urung sewaktu matanya menangkap tirai yang tersingkap di satu bagian, terikat oleh tali yang disimpul, sementara satu bagian lagi terurai menutupi separuh jendela. Mengangkat alis, Namjoon berjalan mendekat dan menyisihkan vas di sampingnya sembari termangu. Ditatapnya simpul tirai itu seraya mencengkeram sisanya, meraih tali pengikat dan menahannya dengan cara yang sama. Matanya beralih pada jendela dan Namjoon melipat tangan sambil mendengus pelan, ada baiknya dia menyerah kali ini.

Dilepasnya kaitan penahan bingkai dan didorongnya jendela itu dengan kedua tangan. Wangi embun dan dedaunan menyeruak masuk dan Namjoon menghirup napas dalam-dalam.

Memang harus dibuka, pikirnya sambil berujar heran. Bertanya-tanya mengapa selama ini dia bersikeras menggeluti perang dingin dengan dunia luar. Langkahnya berjalan mundur, meniti lantai kamar sebelum duduk dengan pasrah di tepi tempat tidur. Ditatapnya pemandangan di luar kamar seraya mengedarkan penglihatan ke sekeliling, kuntum-kuntum mawar layu itu benar-benar harus diganti, atau Seokjin akan memarahinya habis-habisan jika ketahuan teledor. Bagusnya pakai bunga apa ya? Tak harus selalu mawar, mungkin krisan yang aromanya lebih ramah dengan warna yang tak terlalu mencolok. Biasanya Jungkook akan iseng menancapkan seikat daun bawang dari dapur dan Namjoon tak akan sadar jika tidak diamati baik-baik.

Diusapnya permukaan wajah memakai kedua tangan diiringi desah panjang, pun menggeram sesaat karena kepalanya kembali berdentum. Digerutnya seprai sambil memijat pangkal hidung dan berdecak lirih.

.

'Istirahat dulu ya, Namjoon-ah? Matamu merah tuh.'

'Tidak bisa, banyak yang harus dikerjakan.'

'Yakin?'

'Begitulah...'

.

Dan sebuah rengutan besar akan membuatnya mengalah. Namjoon berdecak seraya bangkit dan menggeliat pelan, melepas piyamanya yang tertunda dan melipatnya menjadi bentuk persegi di sisi tempat tidur. Digesernya pintu lemari sambil bertanya-tanya tentang baju apa yang harus diambil. Kemeja biru dan dasi serupa, atau sweater pastel dengan syal hijau gelap?

Tangannya meraih jas terlebih dulu saat matanya tertuju pada warna putih di lipatan teratas. Tercenung, diambil dan dihamparkannya seraya menutup lemari. Tampak masih sangat baru dan dia tak ingat pernah memakai benda itu. Seokjin selalu protes soal ketidaksukaan Namjoon pada kemeja putih dan kerap memaksanya membeli satu. Berujar lugas bila Namjoon akan tampak semakin gagah dengan setelan tersebut.

Dikenakannya seraya mengendus sekilas. Memang bahan baru dan garisnya sesuai dengan tubuhnya, tak terlalu besar dan tanpa banyak ornamen. Lengannya dikancingkan seraya menyambar sehelai dasi bergaris hitam dan jas serupa tanpa banyak menimbang. Pukul setengah enam, semoga Jungkook ingat bahwa dia harus bisa bangun sendiri. Paling tidak, anak itu cukup tahu dimana letak sereal dan susu lewat memo kecil yang menempel di pintu lemari es.

Namjoon memasang arlojinya seraya melirik sekilas pada bingkai mahoni di atas bantal besar yang tertata rapi, sudut bibirnya mengembang disertai bisik rendah. Sebuah potret berhias setangkai lili di atas meja, berisi jiwanya dengan senyum manis yang selalu diingat Namjoon. Senyum yang menjadi alasan dari penantian rasa yang menggebu, membuatnya mengenang beribu jam yang tak pernah hilang, membekas begitu dalam dan Namjoon tak berniat melupakan. Kisahnya tak memberi waktu yang terlalu lama, tapi cukup untuk membuatnya merasakan hidup yang sempurna.

Ditutupnya pintu kamar usai berbalik dan berhenti, mematikan lampu seraya bergumam lirih.

.

.

.

Aku berangkat ya, cinta.

.

.

.

Namjoon tak pernah menyalahkan siapapun, tidak dengan kebahagiaan yang begitu banyak dan kasih yang teramat sangat. Tidak untuk airmata Jungkook, tidak untuk kebisuannya sendiri. Mungkin hatinya belum mampu menyikapi sebuah kehilangan, atau mungkin Namjoon hanya tak mau menerima kenyataan. Yang manapun, Namjoon sadar dan mengerti bila ada memori yang menolak untuk pergi. Seperti ingatan akan mata yang berbinar dan genggaman hangat di sela-sela jari, mimpi yang berulang tiap kali, tangan yang tak tergapai atau suara merdu yang terdengar sesekali. Manusia tak pernah bisa mengulang waktu—tentu, dan dia tahu itu.

Semilir sejuk meniup lembut helai tengkuknya yang masih terasa lembab. Namjoon berkedip sekilas, berhenti melangkah sambil mengantongi kembali kunci mobil yang hendak dikeluarkan. Sorot tajamnya melunak seketika dan senyumnya tersungging lembut.

"Tidak rela ditinggal, Jinseok?"

Sebuah sentuhan menyapa lengan atasnya dan Namjoon menoleh sekilas pada kekosongan yang beraroma familiar. Dihelanya napas panjang sembari memiringkan kepala, lantas mengangkat alis kala telinganya berderik tanpa diminta.

'Menurutmu?'

.

.

.


Continue Reading

You'll Also Like

157K 9.7K 27
🚫 DON'T READ IF YOU'RE HOMOPHOBIC 🚫 (Boyxboy relationship - YAOI) (Rated M - NC 18+) - Pairing: Namjoon x Seokjin - Jimin x Jungkook (minor) - Cast...
51.8K 6.7K 40
[BTS - Namjin] Cerita yang manis-manis gula. Tidak boleh banyak, tapi nagih jua. Sama sekali tidak berhubungan dengan burung biru sosial di sana. Ini...
220K 24K 36
Cover by @sugardione Berawal dari anak anjing Taehyung yang sakit, keduanya jadi cukup sering bertemu tanpa alasan yang jelas. Terlalu kebetulan unt...
Wattpad App - Unlock exclusive features