"Meski terkadang kita memasang senyum palsu agar selalu terlihat baik-baik saja, ada suatu waktu dimana kita mengharapkan seseorang dapat melihat segala luka yang kita simpan sendirian."
-EWR
🌻
Luna kapok mendengarkan saran dari Tania. Sejak makan malam di rumah Angkasa lima hari lalu, Luna menuruti permintaan Tania untuk menonton salah satu koleksi drama korea kesukaan Tania. Awalnya biasa saja, tapi semakin Luna menekuni kegiatannya menonton drama itu, Luna benar-benar ketagihan, hingga lima malam sudah Luna habiskan untuk menonton aksi Park Hyung Sik bersama Park Bo Young dalam drama yang kata Tania adalah drama terbaik yang pernah ia tonton.
Benar saja, tadi malam Luna menonton tiga episode akhir dari drama itu sekaligus dan ia menangis sesenggukan saat melihat adegan Boong Soon berusaha menyelamatkan diri dari bom yang dipasangkan di tubuhnya. Sial, apa kata Mayang nanti jika tahu mata Luna sembab karena drama korea? Pasti Mayang akan berkata, “Tuh kan gue bilang apa, drakor tuh bikin baper” atau “Nanti nonton drama terbaru bareng gue ya.” Luna capek melihat drama, Luna lelah terus tertawa dan menangis pada hal-hal yang bersifat fiksi.
Baru saja Luna akan melangkahkan kakinya pada deretan kelas IPA, tangan seseorang mencekal lengannya hingga ia tersentak.
Saat berbalik, ia menemukan wajah Aksel yang penuh memar. Ekspresi Aksel yang biasanya menyebalkan itu entah sudah hilang kemana. Yang Luna temukan hanyalah tatapan penuh luka dan sangat butuh pendengar. Maka dari itu, Luna menurut saja saat Aksel menyeretnya menuju UKS.
Meskipun menyebalkan, tapi melihat Aksel yang seperti ini membuat Luna merasa kasihan. Lagi pula, Aksel selalu baik padanya meski Luna tidak menerima ia sebagai pacarnya.
Tanpa diperintah, Luna mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Aksel. Pagi-pagi begini, biasanya anak PMR belum berjaga, mereka baru datang ke ruang UKS saat jam pelajaran dimulai sesuai dengan jadwal piket masing-masing.
“Kak, aku obati lukanya dulu ya.”
Tanpa menunggu persetujuan, Luna mulai menyiapkan alkohol untuk membersihkan luka pada wajah Aksel yang bisa Luna tebak adalah luka baru. Atau mungkin Aksel berkelahi saat di jalan menuju sekolah tadi? Entahlah, Luna belum berani bertanya. Ia takut Aksel sedang mengalami sebuah permasalahan berat yang tidak boleh Luna ketahui.
“Lo pasti mikir gue abis berantem. Right?” tebak Aksel yang sepenuhnya tepat sasaran.
Luna mengangguk sambil menuangkan sedikit alkohol pada kapas. Perlahan, ia mengoleskannya pada wajah memar Aksel. Tapi pergerakannya dihentikan oleh Aksel.
“Bukan ini yang perlu lo obati.”
Aksel menurunkan tangan Luna dari wajahnya. Ia tidak merasakan sakit sedikitpun pada luka fisiknya. Tapi perasaannya sekarang benar-benar kacau. Ia tak tahu lagi, kata apa yang pantas mendeskripsikan kehancurannya sekarang.
“Lo pernah denger nggak ada seorang ayah yang memukuli anak kandungnya?”
Gadis itu hanya menggeleng, ia tidak pernah menyukai kekerasan, maka dari itu, ia tidak pernah menonton berita. Karena setiap presenter berita membawakan sebuah berita terkait kecelakaan, otak Luna seolah bekerja sangat solid untuk membawanya pada masa-masa kehilangannya itu.
“Orang yang selama ini gue panggil “papa” telah melakukannya.” Senyum miris tergambar dalam wajah Aksel.
Seperti yang Luna lihat sekarang, Aksel begitu rapuh. Sama sepertinya, meski dengan alasan yang berbeda. Tapi mereka sama. Sama-sama tidak ingin menunjukkan kerapuhannya pada siapapun. Jika dua kali Luna menunjukkan kerapuhannya di depan Angkasa, maka pagi ini, untuk pertama kalinya, seorang Aksel Reynand benar-benar lumpuh di hadapannya. Seperti raga yang kosong tanpa jiwa. Sorot matanya menggambarkan kekecewaan yang mungkin tidak akan pulih dalam hitungan hari.
Luna tak berbicara, ia menatap dalam mata Aksel. Ia tahu, yang Aksel butuhkan saat ini hanyalah didengarkan. Apalagi hal yang diceritakan Aksel barusan benar-benar membuat Luna iba. Pantas saja Aksel selalu bertindak seenaknya pada perasaan perempuan, ia saja kerap menghadapi luka yang datang dari orang terdekatnya.
“Gue minta waktu lo sebentar ya, Lun. Temenin gue bentar aja,” lirih Aksel, memohon.
Melihat seseorang memohon padanya, Luna rasanya ingin menghilangkan diri saja. Ia tidak tega melihat orang-orang yang ia kira hidupnya bahagia ternyata menderita luka yang luar biasa. Ternyata benar, beberapa orang terlihat bahagia hanya karena pandai bersyukur dan pandai menutup luka. Dan ia ingin ada untuk Aksel, sebagai seorang teman yang selalu menjadi tempat berari saat berbagai permasalahan menghampiri.
Aksel menatap Luna yang juga sedang menatapnya dalam diam. Tak apa jika Aksel tak bisa memiliki Luna. Yang terpenting Luna selalu di sampingnya. Itu sudah lebih dari cukup.
“Kok bisa Kak Aksel dipukuli?”
Merasa canggung dengan hening yang tercipta, Luna memilih buka suara. Ia tak mau Aksel larut dalam kesedihan yang tak mampu ia rasa. Tapi Luna tidak tahu harus berbuat apa karena setelahnya, Aksel justru menggenggam tangannya.
“Lo nggak perlu tau, nanti lo takut. Yang penting lo disini, temenin gue sebentar aja,” pinta Aksel sekali lagi.
Aksel kemudian merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Ia hanya butuh ditemani. Ia tidak butuh didengarkan. Ia tidak mau Luna tahu tentang permasalahan yang ia hadapi dan menjadi takut padanya. Karena untuk saat ini, Aksel ingin Luna tetap berada di sampingnya.
🍓
“Tadi pagi gue liat Aksel berduaan sama Luna di UKS.”
Kalimat Hanan mampu menegakkan punggung Angkasa yang sejak tadi tersandar pasrah pada senderan kursinya. Ia kelelahan akibat pelajaran matematika yang sangat menguras otaknya. Kalau kata Hanan sih, ada asap yang mengepul keluar dari kepala Angkasa.
“Mukanya babak belur. Pasti ada masalah berat lagi,” lanjut Hanan sambil menghela nafas berat.
Ia dan Angkasa sudah tahu, bagaimana kondisi keluarga Aksel yang benar-benar hancur. Ibunya pergi dari rumah sejak setahun lalu karena tidak tahan dengan sifat keras ayahnya. Beberapa waktu yang lalu, Aksel mendengar kabar ibunya sudah menikah lagi. Tanpa pernah memberi kabar pada Aksel.
Tentang ayahnya, menurut cerita dari Aksel, beliau sudah melakukan kekerasan terhadap ia dan ibunya sejak beberapa tahun terakhir. Jika saja Aksel tidak melarang, Angkasa dan Hanan pasti dengan senang hati sudah melaporkan kejadian itu pada polisi. Tapi Aksel tak ingin hal itu terjadi. Lagi pula, ayahnya hanya pulang ke rumah beberapa kali dalam sebulan saja. Jadi, Aksel hanya perlu menghindar saat ayahnya pulang.
Angkasa memilih bangkit, diikuti oleh Hanan yang sudah bisa menebak kemana temannya itu akan melangkah. Tidak salah lagi, Angkasa turun ke lantai satu kemudian berjalan menuju UKS.
Suasana ruang UKS cukup sepi saat Hanan dan Angkasa sampai. Ya, memangnya siapa yang mau menghabiskan waktu istirahat di ruangan serba putih itu kecuali sedang benar-benar sakit. Di ruangan itu kini hanya ada Aksel dan seorang siswa kelas sepuluh yang sedang diberi obat oleh petugas piket.
Di depan Hanan dan Angkasa, terbaring seorang temannya yang menderita memar hampir di seluruh wajahnya. Ia memejamkan mata, menahan ngilu yang masih belum hilang di dadanya.
Sakit.
Mungkin jika ia seorang yang cengeng, satu kata itu akan terlontar begitu ada yang menanyai bagaimana kondisinya. Tapi Aksel tidak mungkin selemah itu. Ia laki-laki yang kuat. Rasa sakit bukanlah tandingannya.
“Apa belum cukup?”
Mata Aksel terbuka begitu mendengar pertanyaan dari Angkasa. Ia cukup terkejut karena tidak tahu mereka ada di sini.
“Lo harus melawan, Sel. Kalo nggak, lo bisa mati di tangan bokap lo sendiri,” timpal Hanan dengan nada memaksa.
Tidak ada respon. Aksel hanya menutup matanya lagi. Ia tahu, bahkan sangat tahu bahwa kedua sahabatnya itu sangat peduli. Tapi ia tak bisa jika harus memenjarakan ayah kandungnya sendiri, meski sejahat apapun beliau.
Angkasa hanya bisa menatap Aksel dalam diam. ia yakin, Aksel sedang butuh ditemani. Meski dalam diam, meski tak bersuara, tapi ia harap, kehadiran ia dan Hanan mampu meneguhkan hatinya, mampu meyakinkan Aksel bahwa masih banyak orang yang menyayanginya.
🌻
Hei, selamat hari minggu yaaaa💕
Gimana part ini? B aja kan ya hahaha
Part tegangnya masih lama kok😂
Cerita ini bakalan panjang dan aku harap kalian sabar menanti😊
Ini Angkasa
Ini Luna
Ini Aksel
Oh iya, aku juga mau minta maaf ya sebelum bulan ramadhan datang☺
See you!💙💙💙
-EWR