KEISYA STORY (Terbit) ✔

By chahyaayu

15K 3K 1.4K

Kehidupan terkesan mempermainkan. Apa yang diinginkan, terkadang tidak sejalan. Namun, yang tidak diharapkan... More

Prolog
🌿 1 | Anak baru menyebalkan 🌿
🌿 3 | Kesiangan 🌿
🌿 4 | Menjadi perbincangan 🌿
🌿 5 | Es yang mulai mencair 🌿
🌿 6 | Pulang bareng Vino 🌿
🌿 7 | Gara-gara Kak Yas 🌿
🌿 8 | Keisya cemburu? 🌿
🌿 9 | Makan Es krim promo 🌿
🌿 10 | Putri dan Vino 🌿
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51 [END]
Sebuah surat
Epilog
Peluk Keisya
Peluk Keisya (2)
Spesial

🌿 2 | Sama-sama keras kepala 🌿

690 147 107
By chahyaayu

Sudah lebih dari tiga puluh menit, seorang gadis menunggu di jalan depan sekolah. Ia tidak dijemput. Sudah setiap harinya pulang pergi naik bis sekolah, atau bisa naik angkutan umum lainnya.

Jika kesiangan atau kesorean, lebih memilih naik angkutan umum. Misalnya angkot yang sedang ia tunggu, tapi tak datang-datang.

Tadi perasaan cerah-cerah aja, kenapa tiba-tiba mendung sih, tanyanya dalam hati.

Lama termenung, ia memutuskan untuk kembali ke dalam sekolah. Ia terus berjalan menuju mushollah. Jika dia tetap menunggu angkot, waktu Asharnya akan habis di perjalanan.

Di dalam sana, ia mendengar suara yang terbilang sangat merdu. Suara itu membacakan surat favoritnya, Ar-Rohman. Sayangnya tidak bisa mengetahui siapa orang tersebut, karena terhalangi tirai pembatas mushollah.

Setelah selesai melaksanakan salat, gadis itu langsung buru-buru kembali ke tempat sebelumnya. Namun, ketika di tengah koridor, ia tidak sengaja bertemu dengan Rafa.

"Cewek jutek ternyata belum pulang," ucap laki-laki yang kini menjadi teman sebangkunya.

"Belum." Keisya menjawab dengan satu kata, kemudian lanjut jalan.

Lagi dan lagi, Rafa hanya mengembuskan nafasnya pelan. Lalu tanpa sadar ia menarik sudut bibirnya, dengan sorot mata ke Keisya yang makin jauh dari pandangan. Sepertinya dengan membuat gadis itu kesal adalah cara mendapatkan suatu perhatian dari orang yang membuatnya tertarik.

Mungkin lagi PMS. Tapi kan dia dari Mushollah? Pikirnya kemudian pergi ke arah mobil kesayangannya.

•••

Di depan sekolah, Keisya masih setia menunggu. Bahkan waktunya sampai berbarengan dengan anak ekskul basket yang baru selesai.

Beberapa menit kemudian, ada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya. Kaca mobil itu pun mulai dibuka.

"Kei! daritadi belum pulang?" tanya laki-laki yang sudah mengganti bajunya menjadi seragam sekolah kembali.

"Eh, belum Vin. Buktinya masih di sini," jawab Keisya sambil menggeleng pelan, sedangkan Vino telah turun dari mobil.

"Nunggu angkot? jam segini udah jarang banget Kei, bareng aku aja, gimana?"

"Hmm-" Keisya tengah memikirkan jawabannya, harus menolak atau tidak.

"Udah, nggak usah kelamaan mikir. Ayo," ajak Vino.

Kebetulan sekali tadi pagi Vino tidak salah pilihan, untuk membawa motor atau mobil. Karena ia bawa mobil, jadi Keisya tidak perlu menolak dengan alasan yang sama, yaitu nggak mau dulu diboncengin laki-laki, selain ayahnya.

"Mikirin apa sih, Kei?" tanya Vino pada Keisya yang masih terdiam. Vino sudah agak lama menunggu, tapi yang ditunggunya tengah sibuk memikirkan hal lain.

"Sebentar, Vin. Tapi beneran nggak apa-apa?"

"Gak boleh deh."

"Yaudah, nggak jadi." Keisya tadinya mau masuk, tapi berhenti karena ucapan Vino. Sungguh, Keisya adalah manusia yang mudah menganggap ucapan orang serius.

"Becanda, Keisya Ariana. Mau disini aja atau gimana? Udah gelap bang-"

Jederr..!

Setelah langit bergemuruh, barulah Keisya langsung masuk ke dalam mobil. Vino yang menyaksikan tingkahnya pun hanya dapat tertawa.

"Hahhaha ... takut ya?" Vino masih tak henti ketawa.

"Udah ah Vin, cepetan jalan. Nggak usah ngeledek terus ih." Keisya mulai kesal, karena dihadapkan dengan makhluk seperti Vino. Menertawakan apa yang Keisya takutkan.

Untung vino yang kaya gini cuma satu, ucapnya pelan.

Vino melajukan mobilnya, berbaur dengan kendaraan lain. Belum ada obrolan antara mereka berdua. Sangat sepi, karena yang punya mobil tidak memutar musik.

Yang satu fokus menyetir, sedangkan satunya lagi hanya menatap tetesan hujan yang mengalir di balik jendela. Sesekali Keisya memainkan ponsel untuk mencari sesuatu yang menarik. Mobil Vino membelah ibu kota di tengah padatnya lautan kendaraan.

Lima belas menit berlalu, barulah Keisya membuka suara. Mereka telah berada di kawasan dekat rumahnya.

"Dah, sampe sini aja Vin. Rumahnya udah kelihatan, kok."

"Bener nih? masih gerimis, Kei," ucap Vino sambil menatap Keisya.

"Cuma gerimis juga, Vin. Nggak usah lebay deh."

"Dibilangin malah susah kan. Nanti kalau sakit gimana?" Vino memutar bola matanya jengah.

"Kalo sakit, tinggal istirahat," jawab Keisya spontan. Ia meminta Vino untuk membuka pintu mobil yang masih dikunci ini.

"Buka pintunya, Vino. Mumpung masih gerimis."

Bukan Vino namanya, jika kalah dengan Keisya. Pintu mobil telah ia kunci, dan tombolnya ada di sebelah lengan kanannya. Tidak mungkin Keisya mencoba untuk menggapainya, 'kan? Tanpa pikir panjang, Vino langsung mengambil jaketnya sendiri yang ada di bagian belakang.

"Nih, ambil." Keisya hanya memandangi jaket berwarna biru dongker itu.

"Mau ambil atau nunggu gerimis berhenti."

Keisya mengernyit heran. Perkataan tadi Itu seperti lebih ke pernyataan daripada pertanyaan. Mau tidak mau, Keisya langsung menerimanya dan pintu mobil langsung dibuka oleh Vino.

"Assalamu'alaikum," salam dari Keisya sebelum pergi.

"Wa'alaikumussalam." Vino menjawab dengan pelan.

Masih aja Keisya yang dulu. Unik.

•••

Akhirnya Keisya bisa sampai di rumah sebelum langit menggelap. Keisya memang suka hujan, sangat. Namun, fisiknya tak sekuat keinginannya. Jika sudah kehujanan, pasti langsung sakit.

Sebenarnya, yang dikhawatirkan bukan hanya itu. Melainkan karena ia tidak suka obat. Pahit. Lanjut yang tadi, intinya kalau mau minum obat harus dipaksa. Kalau nggak, mungkin obatnya hanya akan didiamkan entah sampai kapan.

"Kei, kalau udah nggak sibuk bantuin kakak, ya," pinta seseorang memecahkan lamunan Keisya.

"Iya, Kak Yas."

Itu adalah suara kak Yas. Yasmin Aradela. Kak Yas sedang sibuk menyelesaikan skripsinya. Ia baik, tapi pasti ada saja yang membuat Keisya kesal.

Misalnya seperti sekarang. Sudah pasti kak Yas akan memberi Keisya daftar bahan yang dibeli untuk makan malam nanti. Setelah ini, Kak Yas akan berkata, "Kei, ini daftarnya dan kembaliannya jangan diambil." Seperti itu.

"Kei, ini daftarnya dan kembaliannya jangan diambil," ucap Kak Yas kemudian.

Tuh kan sama. Keisya sudah hafal dengan apa yang Kak Ya ucapkan hampir setiap hari. Bukan masalah kembaliannya, tapi hampir setiap kali kak Yas menyuruh Keisya belanja itu tidak ada kembaliannya. Karena uang yang diberikan tepat sesuai hitungan. Kak Yas memang pintar.

"Iya kak, ini mau jalan."

Kak Yas berdiri di depan pintu kamar. "Yeh kamu ini, ya nggak sekarang juga. Kamu lagi sibuk, 'kan?"

"Oh, yaudah."

Keisya yang tadinya ingin bangkit dari tempat ternyaman, kembali mengurungkan niat. Beberapa detik kemudian, Kak Yas berubah pikiran..

"Eh, sekarang aja deh, Kei. Nanti malah kelamaan."

"Kakak mah, udah gede masih aja labil," ucap Keisya langsung dihadiahi pelototan oleh Kak Yas.

"Kamu kalo ngomong nggak ngaca dulu," jawab kak Yas sebelum berlalu.

"Awas kak, jangan suka melotot gitu. Nanti matanya keluar. Haha."

"KEISYA," teriak Kak Yas. Selain pintar, kak Yas juga memiliki pendengaran yang tajam. Sepertinya Keisya harus belajar banyak dari kak Yas.

Tanpa mengulur waktu lagi, Keisya langsung bersiap. Di depan rumah, ada motor matic yang terparkir dengan rapi, juga bersih setelah dimandikan oleh kak Yas. Okey, pinky akan jalan-jalan dengan Keisya.

Kak Yas yang memberi nama sendiri. Lagipula, motornya juga warna pink. Cocok untuk diberi nama pinky. Kecuali kalau motornya hijau, namanya pinky, itu baru patut dipertanyakan.

•••

"Yang ini udah, ini udah, terus ini juga udah. Ceklis, ceklis, ceklis." Keisya mendata yang sudah masuk keranjang. Tersisa dua barang lagi yang belum ketemu.

"Kak, mau tanya. Bumbu ini yang halus ada nggak ya?" tanya Keisya sambil menunjukkan contoh benda yang dicari kepada salah satu karyawan.

"Oh, itu ada di dekat tempat es krim. Mau saya antar, kak?" tawar kakak berseragam itu.

"Oh disitu ya, nggak usah deh, Kak. Aku ambil sendiri aja. Makasih ya, Kak"

"Sama-sama," jawab kakak yang tadi, lalu langsung melanjutkan tugasnya.

Akhirnya Keisya dapat menemukan apa yang dicari. Keisya ingin ke kasir. Namun, sebelum itu ada sesuatu yang ingin dia beli menggunakan sisa uang jajannya. Saat tangannya ingin meraih, ada tangan lebih besar mengambilnya lebih dulu.

"Yah," keluh Keisya karena es krim coklatnya tidak ada lagi.

"Siapa cepat, dia dapat," ucap orang itu. Keisya ingin bicara, tapi orangnya sudah pergi begitu saja.

•••

Oke, jangan lupa pencet bintangnya ya 😉
Kalau ada yang ingin dicoment, coment aja. Jangan malu-malu.

Continue Reading

You'll Also Like

1.6M 101K 49
SEBAGIAN PART TELAH DI HAPUS UNTUK KEPENTINGAN PENERBITAN! #1 in psycopath 10 agustus 2020 #1 in disa 14 mei 2020 #3 in gray 12 mei 2020 #1 in dendra...
6.9K 1.6K 23
Terimakasih luka ... Walau datangmu tak pernah jadi harap, Walau adamu selalu menjadi tangis, Tapi, berkatmu aku sadar ... Tak ada bahagia selagi kau...
513 54 19
Semesta Arya Pratama selalu merasa hidupnya seperti langit mendung-kelabu, sesak, dan tidak pernah benar-benar terang. Sebagai anak kedua dalam kelua...
Wattpad App - Unlock exclusive features