Yellow

By harenezumi

6K 553 324

"Ini cuma menurut gue aja ya, Mon. Tapi yang namanya cinta itu sama sekali enggak terencana. Lo enggak bakal... More

1. Dawn [Kim Taehyung]
2. Morning [Park Jimin]
3. 10 AM [Kim Seokjin]
4. 10 AM [Moon Byul Yi]
6. 11:11 [Kang Seulgi]
7. 8 PM [Bae Joohyun]
8. A Bad Day [Moon Byul Yi]
9. Late Night [Jung Hoseok]
10. Saturday [Min Yoongi]
11. Saturday Night [Bae Joohyun]
12. Monday [Kang Seulgi]
13. 8:30 PM [Kim Yongsun]
14. Early Morning [Lee Minhyuk]
15. Early Morning [Kim Seokjin]

5. 11:11 [Kim Yongsun]

311 26 15
By harenezumi

Hari Senin pun tiba. Waktunya kembali beraktivitas. Kim Yongsun yang lagi terkena monday blues bingung ketika semua orang di kantor tiba-tiba jadi baik dan super ramah banget sama dia. Iya, semua orang di kantor, termasuk satpam sampai mas-mas cleaning service pun menyapanya riang, bahkan sampai memberikan semangat padanya. Yongsun yang bingung cuma bisa tersenyum dan tertawa sekenanya meski dia enggak paham apa yang sebenarnya terjadi.

Yongsun baru saja meletakkan tasnya di atas meja kerja saat tiba-tiba Park Chorong, rekan kerja sekaligus teman dekatnya dari departemen sebelah, muncul dan menarik tangan Yongsun, mengajaknya ke kamar mandi cewek. Yongsun yang masih kebingungan cuma bisa nurut aja.

"Chorong, Apaan sih kok—"

"Are you okay?" Chorong memotong ucapan Yongsun. Wajahnya kelihatan cemas. "Gue udah denger semuanya. Bener-bener deh ya. Kelihatannya aja baik, tapi ternyata brengsek juga."

Yongsun mengerutkan dahinya, antara kaget dan bingung. Dia masih enggak paham sama apa yang sedang dibicarakan Chorong, tapi kaget juga temannya itu pagi-pagi udah berkata kotor.

"Oke, bentar deh," ucap Yongsun sambil mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat agar Chorong tenang. "Lu lagi ngomongin apa sih? Siapa yang kelihatannya baik tapi ternyata brengsek?"

"Kok malah nanya siapa sih," Chorong sewot. "Ya siapa lagi kalo bukan Eric Nam. Bagus deh kalau lu mutusin dia. Cowok kayak gitu enggak worth it. Percaya deh. Lu udah ambil langkah yang bagus dengan mutusin dia. Dan tenang aja, gue yakin lu bakalan dapet cowok yang jauh lebih oke lagi daripada dia."

Oke. Sekarang Yongsun sudah mulai paham apa yang terjadi—kenapa tiba-tiba semua orang di kantor jadi super baik sama dia. Pasti kabar soal kandasnya hubungannya sama Eric sudah menyebar luas. Aneh sih. Soalnya Yongsun sama Eric putusnya hari Jumat nyaris tengah malem, tapi kayaknya pada hari Senin pagi seantero kantor udah tahu beritanya. Tapi rasanya ada yang sedikit janggal...

Lamunan singkat Yongsun buyar saat Chorong menggenggam kedua tangannya erat dan berkata sambil menatap lurus padanya. "Kalo lu butuh temen curhat atau bahu untuk menangis, I'll always be here for you. Pokoknya lu harus tetap semangat dan jangan terlalu mikirin semua ini. Oke?"

"Thanks. I appreciate it. I do," ucap Yongsun hati-hati sambil menarik tangannya dari genggaman Chorong. "Tapi gimana bisa lu dan semua penghuni kantor tahu kalau gue sama Eric putus?"

"Well... kemarin Sabtu malem rame dibicarain di grup chat kantor. Kalian berdua 'kan couple hits di kantor, makanya pada rame. Gue enggak tahu sumber awalnya siapa, tapi anak-anak bilang lu sama Eric putus gara-gara dia selingkuh sama cewek lain padahal kalian udah mau nyiapin lamaran," jelas Chorong. "Pas ditanyain langsung ke Eric pun dia langsung membenarkan. Bilangnya dia selingkuh, terus elu marah dan mutusin dia."

Yongsun tercengang. Pantesan aja ada yang aneh. Maksudnya, yah yang namanya pasangan putus wajar kan. Tapi mendadak semua orang mengasihani Yongsun banget. Itu yang enggak wajar. Ternyata berita yang tersebar melenceng dari fakta yang ada. Dan bukannya meluruskan, Eric malah mengonfirmasi. Aneh 'kan.

Jadi... Eric sama Yongsun ini sudah tiga tahun pacaran dan bulan lalu mereka berdua sepakat untuk membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius. Orang tua Yongsun menyambut rencana itu dengan baik. Tapi tidak begitu dengan keluarga Eric. Dari dulu ibu Eric enggak tahu kenapa kurang suka banget sama Yongsun. Mulai dari gaya pakaian sampai kebiasaan Yongsun, semuanya dikomentarin dan pasti ada aja yang menurutnya enggak sreg. Ya maklum sih. Eric berasal dari keluarga yang cukup terpandang sedangkan Yongsun dari keluarga yang biasa-biasa aja. Beda level lah. Mungkin itu yang bikin ibu Eric enggak suka putranya punya hubungan spesial sama Yongsun.

Puncaknya hari Kamis yang lalu ibu Eric menegaskan kalo dia enggak bakal merestui kalo Eric dan Yongsun nikah. Sebagai perempuan normal, tentu saja Yongsun sedih sekaligus sakit hati. Dinyinyirin mulu ya siapa yang enggak bete sih. Walo selama ini Yongsun bersabar, tapi dia sudah mencapai batasnya dan minta Eric untuk mengambil keputusan—mau nekat lanjut atau udahan aja sekalian. 

Kurang dari 24 jam setelah Yongsun memintanya mengambil pilihan, Eric memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Yongsun. Dia cinta sama Yongsun, tapi dia lebih sayang sama ibunya. Pedih? Ya iyalah. Tapi Yongsun bisa paham dengan keputusan Eric. Hanya saja Yongsun sedih karena Eric tidak berjuang lebih kuat lagi untuk bikin ibunya bisa menerima Yongsun. Eric lebih milih menyerah. Meski berat, Yongsun menerimanya. Dia emang sedih, bahkan sempet nangis-nangis juga. Namun Squad A-5 terus menghiburnya, bahkan hari Minggu malem Taehyung bawa Momon dan Jimin untuk ikut seru-seruan di rumah, biar Yongsun enggak sedih terus.

Sepanjang hari Yongsun enggak bisa tenang bekerja. Dia bingung kenapa Eric harus bohong soal alasan mereka putus. Dia pengen nanya langsung ke orangnya tapi agak berat juga kalau ngehubungin langsung. Yongsun pun menghela nafas panjang.

Pukul 10.41. Pikiran Yongsun udah ruwet. Akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke pantry. Mau bikin susu cokelat panas yang selalu sukses bikin dia semangat kalau lagi sumpek begini.

Yongsun baru buka pintu pantry, baru masuk satu langkah dan langsung terhenti saat melihat sosok Eric lagi sibuk menyeduh kopi. Dia mau puter balik tapi Eric udah terlanjur noleh. Bakalan canggung banget kalo Yongsun langsung cabut begitu aja. Akhirnya Yongsun pun masuk ke dalam pantry, berusaha untuk bersikap biasa aja walau sebenernya dia agak kikuk dan deg-degan gitu.

"Mau bikin susu cokelat?" tanya Eric basa-basi.

"Eh? Oh... iya. Mau bikin susu cokelat," sahut Yongsun sekenanya, rada kaget soalnya enggak nyangka Eric ngajakin dia ngobrol.

"Kamu emang suka banget ya sama susu cokelat," ujar Eric sambil tersenyum kecil. Yongsun agak bingung harus ngasih respons kayak gimana. Akhirnya dia pun hanya melemparkan senyum canggung, lalu fokus bikin susu cokelatnya. Habis itu hening. Suasananya masih tetap canggung. Awalnya Yongsun agak ragu, tapi akhirnya dia mutusin untuk menanyakannya langsung dengan Eric.

"Eric," panggil Yongsun pelan.

Eric yang lagi nyeruput kopi langsung noleh. "Ya?"

"Kenapa kamu enggak beritahu orang-orang tentang alasan yang sebenarnya?" tanya Yongsun. "Kalau sebenarnya kita enggak dapet restu dan ibu kamu enggak suka sama aku."

Pria itu terdiam sejenak, masih memandangi Yongsun. Kelihatannya dia paham dengan maksud Yongsun. Tapi ia sedang berusaha merangkai kata-kata di dalam kepalanya agar bisa tersampaikan dengan baik. Tipikal Eric Nam banget.

"... aku enggak mau nama kamu atau mama aku jadi buruk di depan banyak orang," ujar Eric kemudian. "Begini aja lebih baik. Toh yang namanya cowok selalu salah 'kan? Ya sekalian aja. Hehe."

Eric berusaha melucu agar kecanggungan mencair. Namun Yongsun sama sekali tidak tertawa. Gadis itu masih menatap lurus ke Eric yang kini senyumnya sudah mulai memudar, lalu hilang sepenuhnya. "Maaf," ucap Eric lagi. "Tapi kurasa itu yang terbaik. Mereka enggak perlu tahu detailnya. Biar kita saja."

"Tapi nama kamu jadi buruk di depan semua orang. Padahal kamu enggak pernah selingkuh atau melakukan hal yang buruk selama kita pacaran. Cuman... yah..." Raut wajah Yongsun meredup. "Kita enggak bisa bersama seperti yang kita harapkan. Gitu aja. Tapi hubungan kita baik, kamu orang baik. Aku enggak suka malah nama kamu yang jadi jelek di mata orang sekarang."

Seulas senyum tipis melengkung lemah di bibir Eric. "Sudahlah. Itu sama sekali enggak masalah buatku. Toh hari ini aku bakalan ngajuin resign. Mulai minggu depan aku udah enggak ada di sini lagi. So it won't be a problem. Dan kamu bakalan tetap bisa nyaman bekerja di sini."

Mendadak Yongsun kehilangan kata-kata. Entah kenapa ia paham sekaligus tidak paham dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. "Tunggu," Yongsun mengangkat satu tangannya. "Kamu mau resign? Cuma gara-gara masalah ini? Apa-apaan itu?"

"Yongsun..."

"Kita putus, oke. Aku bisa terima itu. And look, I'm fine or at least I'm trying to be fine. Aku tahu kita butuh waktu untuk bisa nyaman ngobrol dengan satu sama lain lagi. Tapi kamu milih buat resign cuman gara-gara ini? What the hell is wrong with you, dude?!" Yongsun mulai emosi. "Bahkan kita beda departemen, Eric. Palingan kalo papasan cuma pas di lobi atau di pantry kayak gini. Dan walau meja kerja kita depan-depanan atau sebelahan pun, I'm fine. Kita profesional aja. Tapi kalau kamu resign kayak gini... kamu udah bangun karier di sini, Ric. Jangan biarin masalah pribadi ini ngerusak jerih payah kamu."

"But I'm not fine!" Nada bicara Eric meninggi, membuat Yongsun cukup kaget. "Aku... aku..."

Eric menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya, berusaha untuk mengontrol emosi. "Pokoknya itu yang udah kuputuskan," lanjut Eric, kini dengan nada yang lebih tertata. "Dan aku bakal pindah ke Amerika setelah ini. Orang tuaku sudah nyari kerjaan buat aku di sana."

Selama bertahun-tahun kenal, ini pertama kalinya Eric meninggikan intonasinya ke Yongsun. Dia enggak pernah emosi seperti ini. Dan Yongsun pun mencoba untuk paham. Perpisahan ini bukan hanya berat untuknya, tapi juga buat Eric.

Yongsun menganggukan kepalanya pelan. "Oke kalau keputusanmu udah bulat. Aku bakalan menghargai itu. Kuharap kamu bisa menemukan kebahagiaan di sana."

Gadis itu mengulurkan sebelah tangannya untuk bersalaman dengan Eric. Yongsun memaksakan seulas senyum. "Terima kasih untuk semuanya."

Eric terlihat ragu sejenak, tapi akhirnya ia menyambut uluran tangan Yongsun. "Maafin semua kesalahanku. Kamu pantes dapat yang lebih baik lagi daripada aku."

"Kamu juga, Ric."

Saat melirik ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul 11.11. Orang-orang bilang, ini merupakan waktu yang tepat untuk membuat permohonan. Yongsun sendiri enggak percaya sama yang begituan. Menurutnya, semua waktu bisa digunakan untuk berdoa, mengungkapkan harapan dan keinginan. Dan selama tangannya bersalaman dengan tangan Eric, satu persatu memori kebersamaan mereka muncul salam kepala Yongsun—mulai dari pertemuan pertama, kencan pertama hingga detik-detik ketika Eric memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Tentu saja Yongsun sedih. Tapi pedih di dalam dadanya tidak sesakit kemarin. Entah kenapa hatinya terasa lumayan baik-baik saja, tidak seperti yang ia bayangkan. Mungkin tanpa Yongsun sadari, ia sudah mulai bisa menerima kenyataan dan melepaskan pria itu. Eric adalah pemuda yang sangat baik. Dia memberikan banyak kebahagiaan untuk Yongsun selama tiga tahun belakangan ini. 

Mulanya Yongsun tidak menyadarinya karena terlalu fokus dengan perasaannya sendiri. Tapi kini ia bisa melihat betapa Eric pun luar biasa terluka dengan perpisahan ini. Tidak ada satupun hal yang bisa dilakukan oleh Yongsun saat ini selain berdoa. Dan Yongsun berdoa agar suatu saat nanti Eric akan menemukan kebahagiaannya sendiri tanpa dihalang-halangi oleh siapa pun. 

    part 5 END

Continue Reading

You'll Also Like

277K 41.5K 48
[ Completed ] Ada satu titik dimana ia merasa begitu beruntung, mempunyai segala yang orang lain tak punya. Namun, ada satu titik pula ia merasa begi...
232K 27.6K 54
Berceritakan seorang raja dengan watak yang keras dan bijaksana, sejarah menentukan. Saat raja Min memimpin Kerajaan Baekji menjadi sejartera dan ber...
6K 903 48
"Dengan cara cara yang tidak dapat kita terka, terkadang semesta merestui sesuatu yang tak kita duga duga." Begitulah kisah cinta Kim taehyung dan Wa...
88.6K 5.7K 19
"Hyung.. Ayo cerai." "C-cerai? Kenapa?" "Oppa apa kamu mencintainya?" "Apa aku mencintainya? Aku tidak pernah mengucapkan bahwa aku pernah mencintain...
Wattpad App - Unlock exclusive features