Between You and Her(Completed)

By HenryNatio

60.2K 4.2K 288

Perjuangan Shania untuk kembali ke pelukan Beby, dimulai More

Prolog
#01: Awal Kisah
#02: Awal Perjuangan
#03: Perjuangan Beby
#04: PDKT(BebNju)
#05: Kegalauan Saktia
#06: BebNju Jadian(?)
#07: The Proposal
#08: Sweet Beby
#09
#10
#11
#12
#13: Cueknya Beby
#14: Ulang Tahun Saktia
#15: Sisil Berulah
#16: Saktia Dibully
#17: Amnesia
#18: Pengakuan Beby
#19: Kesedihan dan Ketakutan
#20: Perpisahan Sementara
S02: #01. New Life, New Story
S02: #02. Letter's from Beby
S02: #03. Christmas Gift
S02: #04. Beby Pulang
S02: #05. Tahun Baru
S02: #06. Liburan
S02: #07. Tangisan Beby
S02: #08. Penyesalan Shania dan Saktia
S02: #10. Pentas Seni
S02: #11. Kecelakaan
S02: #12. Harapan Shania
S02: #13. Perjuangan Shania
S02: #14. Pengorbanan Shania
S02: #15. Air Mata Penyesalan
S02: #16. Situasi Genting
S02: #17. BebNju Balikan
S02: #18. Awal Kebahagiaan
S02: #19. Persiapan Pernikahan
S02: #20. Hari Bahagia(Last)
Spesial Part: Saktia Pulang Kampung
Spesial Part: Anin Patah Hati (18+)
Spesial Part: Honeymoon(18+)

S02: #09. Pertengkaran(Kilas Balik)

1.2K 95 8
By HenryNatio

Sore itu dikala semua orang telah pulang ke rumah mereka masing-masing, Saktia tampak sedang duduk bersantai di sofa ruang tamu kosnya. Dia baru saja selesai mencuci semua piring bekas.

Baru saja dia beristirahat, tiba-tiba terdengar suara bantingan di meja ruang tamu yang mengagetkannya. Dia melihat ke arah orang yang telah membuatnya kaget tersebut, "Apaan sih, Beb? Datang-datang main geprak meja aja."

"Sak, maksud lo apaan ngerebut dia dari gue?!" Tanya Beby penuh emosi.

"Apaan sih, Beb! Kok lo dateng-dateng ngegas?"

"Dasar emang lo, pebinor!"

Saktia yang tidak terima Beby membentaknya pun berdiri dari sofa dan menatap Beby dengan tatapan bencinya.

"Maksud lo apa bilang kayak gitu?!"

"Karena lo udah ngerebut Shania dari gue!"

"Helloowww!! Ya lo ngaca aja keles! Lo itu cuek dan selalu gak punya waktu buat Shania. Ya, wajar dong kalau dia ngebuka hatinya untuk orang lain!"

"Tapi nggak gini juga, Sak! Gue udah nganggap lo tuh sahabat gue! Gue percaya sama lo! Tapi sekarang, lo malah ngekhianatin persahabatan kita! Lo tau kan betapa susahnya gue dapetin hatinya Shania?!"

Saktia mendelik dan memutar malas bola matanya.

"Ya terus? Urusan gue gitu? Hah! Itu urusan lo! Udah ah gue mau cabut ke kamar gue! Bye!"

Beby berdiri terdiam saat Saktia berjalan melewatinya.

***

Beby POV

Bukan maksudku membentak Saktia seperti itu. Tapi, emosiku memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku meluapkan segalanya pada Saktia. Aku tidak peduli jika dia sakit hati. Aku juga tidak peduli jika dia tidak ingin lagi berteman denganku.

Kini aku sedang berada di depan kamarnya. Kudengar suara isakan dari dalam sana. Aku yakin, Saktia sedang menangis. Dan ini pertama kalinya aku mendengar suara tangisannya yang begitu pilu. Dan karena aku tahu kebiasaan dia yang tidak mengunci pintu kamar, aku pun menarik knop pitu kamarnya dan masuk ke dalam.

"Lo jahat Beb! Jahat banget!" Bentak Saktia dengan isakannya.

"Gue kayak gini juga gara-gara lo, Sak!" Aku menjeda ucapanku, "Lo tau Shania itu pacar gue. Tapi, lo dengan seenak jidat ngedeketin dia. Sahabat macam apa lo?!"

Saktia mengangkat wajahnya dan menatapku, "Trus mau lo apa sekarang?!"

"Kalau lo emang ingin bersaing, kita bersaing secara sehat." Ucapku.

Saktia mendengus, "Gak usah bersaing juga semua orang tau, Shania lebih milih lo dari pada gue."

"Kalau lo udah tau, kenapa lo gak ngejauh?!"

"Itu salah lo sendiri yang nitipin dia buat gue!" Kini, Saktia meninggikan nada bicaranya, "Lo berobat ke luar negeri dan lo nitipin dia ke gue tanpa tau perasaan gue ke dia itu gimana!"

"Gue titipin dia ke lo bukan berarti lo bisa lupa kalau dia siapa!"

Saktia berdiri dan menghampiriku, "Dan sekarang lo baru tau kalau gue itu cinta sama Shania?!" Jeda Saktia. "Lo telat, Beb!"

Aku tersenyum sinis atas ucapan Saktia yang menurutku tidak layak. Aku menatap tajam padanya, "Lo bilang gue telat mengetahui perasaan lo pada Shania?!" Aku tertawa keras, "Lo salah besar, Sak! Justru gue tau gimana lo!"

Saktia terdiam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kulihat kedua tangannya mengepal. Kepalanya tertunduk.

"Gak bisa bales kan lo?!" Cibirku.

Aku mendekati wajahku ke telinga Saktia yang masih menundukkan kepalanya, "Gue udah ngelamar dia, Sak. Dan lo harus jauhin dia apapun alesannya."

Setelah itu, aku menjauhkan wajahku dan keluar dari kamarnya.

***

Author POV

Saktia jatuh terduduk di ranjangnya satu detik setelah Beby berkata demikian di telinganya. Hatinya terasa perih, sangat perih. Kenapa kisah cintanya selalu saja begini? Kenapa dia selalu tidak diizinkan bahagia walau cuma satu detik saja?

Saat Saktia sedang merenung, ponselnya bergetar tanda ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Saktia menghela napasnya sejenak kemudian mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut.

Saktia kembali mendengus saat membaca pesan tersebut. Meskipun Beby marah padanya, tapi Beby tetaplah Beby yang selalu perhatian pada sahabatnya. Dia sedikit merasa bersalah pada Beby.

Satu detik setelah dia membaca pesan dari Beby, ponselnya berbunyi dan dia melihat nama Beby terpampang disana. Beby menelponnya. Dengan ragu, Saktia pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan menempelkan benda persegi panjang tersebut ke telinganya.

"Ha-halo, Beb?"

'Besok lo kalau ikut kita liburan, bersikap seperti biasa aja! Jangan sampe Shania curiga kita berantem.'

"Iya, Beb." Jawab Saktia.

'Terus satu lagi, besok kalok Shania ajak lo bicara, lo biasa aja. Gak usah canggung. Tapi inget, jangan deket-deket!'

Saktia menghela napasnya dan mengangguk, "Iya, Beb. Lo tenang aja. Gue gak bakal deketin Shania lagi setelah ini."

Tanpa membalas ucapan Saktia, Beby menutup telponnya sepihak. Saktia kembali menghela napasnya saat mendengar suara dingin dari Beby tadi. Seperti bukan Beby yang biasa dikenalnya.

"Mungkin, aku memang tidak ditakdirkan untuk bahagia." Batin Saktia.

***

Saktia POV

Aku baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak tidur saat ponselku kembali berdering. Aku melihat nama Shania disana. Aku tersenyum tipis saat melihat nama tersebut. Tapi, aku sudah membuat janji pada diriku sendiri untuk menjauhi Shania.

"Maaf Shan. Kali ini, gue harus menjauhi lo agar tidak ada lagi orang yang tersakiti." Batinku.

Tapi kenapa ini begitu sulit? Saat dering telpon tersebut berhenti, pikiranku tidak pernah lepas dari sosok Shania. Apa aku terlalu mencintainya? Dan apakah aku harus menjadi orang jahat agar bisa menggagalkan pernikahan sahabatku sendiri?

Ini begitu sulit. Dan aku, aku.... Ya! Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkan apa yang aku mau. Aku tidak peduli akan cibiran bahkan bentakan dari Beby sekalipun. Aku tidak peduli.

Ini kehidupanku dan ini kisah cintaku. Untuk apa aku harus diatur oleh sahabatku yang bahkan aku sendiri tidak menganggapnya sebagai sahabat. Besok adalah liburan, dan kesalahan Beby mengajakku dan menyuruhku untuk bersikap biasa aja pada Shania.

"Inilah saatnya! Akan kubuat pernikahan kalian gagal!" Batinku.

Setelah itu, akupun masuk ke dalam mimpiku.

***

Author POV

Saat ini, Saktia sedang berada di taksi online yang dipesannya. Setelah mendapat pesan dari Shania yang menyuruhnya datang ke sebuah kafe. Tak lama kemudian, taksi tersebut sampai di kafe yang dimaksud oleh Shania.

Senyumnya mengembang saat dia melihat Shania yang sedang duduk bersama Beby yang terlihat fokus dengan laptopnya. Sementara Shania yang tampak cemberut dan tidak menikmati sarapannya.

"Sorry lama. Macet tadi." Ucap Saktia begitu sampai di meja yang ditempati oleh Shania dan Beby.

"Gak apa-apa kok, Sak!" Shania menggeleng dan tersenyum manis pada Saktia.

Saktia pun duduk di sebelah Shania dan mulai mengobrol dengan Shania. Sesekali mereka tampak tertawa saat Saktia menceritakan sebuah cerita lucu. Sementara Beby tampak memicing curiga memperhatikan Saktia yang asyik mengobrol dengan Shania.

"Gue harap, dia gak lupa dengan perjanjian kita." Batin Beby.

Saktia menghentikan obrolannya degan Shania, kemudian menghadap Beby, "Beb, lo gak makan kan ini kuenya? Buat gue ya?"

Beby hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Setelah itu, dia pun memanggil pelayan dan membayar tagihan makanannya.

***

Saktia POV

"Abis ini, kita ke Ancol ya?" Ujarku. "Gue pengen liat lumba-lumba."

Beby dan Shania terkekeh mendengar celetukanku. Kini, kita tengah di dalam mobil Beby dan melaju ke sebuah tempat wisata yang dimaksud olehku.

"Selain lumba-lumba, lo mau liat apa lagi Sak?" Tanya Beby padaku.

"Banyak yang mau gue liat. Mumpung liburan, kita puas-puasin aja nih mata." Jawabku diiringi oleh suara tawa dari Beby dan Shania.

Tak lama kemudian, mobil Beby pun telah sampai di tempat wisata tersebut. Setelah memarkirkan dengan baik mobilnya, kita pun berjalan masuk ke dalam setelah membeli tiket.

"Wih! Udah lama rasanya gue gak kemari!" Celetukku yang terlihat bahagia.

"Sak, pelan-pelan. Jangan kayak anak kecil lo." Ucap Beby.

"Ah elah, Beb. Gue bisa jaga diri gue. Tenang aja lo." Balasku.

Sepertinya Beby berpikir bahwa aku benar-benar menuruti apa yang dibilangnya. Dan aku senang! Biarlah dia berpikir seperti itu. Yang penting, untuk saat ini aku akan menghilangkan penat pikiranku dengan berjalan-jalan.

Pandanganku terhenti pada sebuah kolam yang akan mempertontonkan pertunjukkan anjing laut. Aku membalikkan badanku dan melihat Shania dan Beby sedang berjalan menghampiriku.

"Mereka bergandengan tangan? Tapi, sebentar lagi, mereka akan dipisahkan. Lihat saja nanti." Batinku.

"Woi! Kalian berdua, ngapain di sono?!" Aku menghampiri Beby dan Shania, "Ke sono liat pertunjukan anjing laut yuk?"

Beby mengangguk dan merangkul Shania untuk masuk ke dalam untuk membeli tiket. Aku mengikuti mereka dari belakang sembari tersenyum sinis.

"Kalian duduk dulu. Aku mau beli cemilan dulu." Aku dan Shania mengangguk kemudian duduk di bangku yang sesuai dengan nomor tiket kami.

"Sak, lo seneng banget ya liat beginian?" Tanya Shania padaku.

Aku mengangguk, "Iya! Waktu kecil dulu, kedua orang tua gue suka bawa gue ke tempat ginian."

Shania terkekeh pelan, "Pantesan lo semangat banget saat bilang mau ke Ancol tadi."

"Iya dong! Kapan lagi coba gue ke Ancol?" Jedaku. "Udah lama gue gak ke Ancol."

Shania kembali terkekeh. Dan tanpa sadar, Shania menyenderkan kepalanya ke pundakku. Ini membuatku semakin tersenyum karena aku sempat melihat ekspresi cemburu dari Beby.

Dalam hati aku bersorak saat melihat Beby berjalan keluar dari arena tersebut dengan kemarahan yang ditahannya. Aku tahu bahwa Beby memang tidak suka mencari masalah di tempat umum seperti ini.

"Hahaha! Rencana gue berjalan mulus. Maaf Beb, tapi lo harus ngerasain sakit sekali-sekali." Batinku.

***

TBC

Author's note:
Di chapter kali ini, ceritnya tentang kilas balik saat Shania, Saktia dan Beby berlibur ke Ancol. Dan bagaimana Saktia dan Beby bisa bertengkar habis-habisan.

Segini dulu ya?

Maaf kalok author jarang update belakangan ini.

Semoga suka dengan ceritanya.

Continue Reading

You'll Also Like

311K 22.3K 31
Geola, 25 tahun, hanya berniat melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Tapi hidupnya berubah ketika sang bos tiba-tiba menyeretnya ke dalam ska...
4.6M 139K 72
"Gue terpaksa nikah sama lo, demi bayi yang ada di perut lo." Kata-kata itu jatuh seperti pisau yang menancap tepat di hati Kiana Alisha. Pernikahan...
415K 30.7K 88
[TERBIT] "Jangan ngelakuin hal-hal mistis di apartemen gue!" seru Stefan. Lelaki itu hanya berusaha menutupi rasa takutnya dengan amarah setiap meli...
695K 57.1K 41
[SUDAH TERBIT | BISA DIPESAN SETIAP BULAN TANGGAL 1-7] Luo Yi, seorang mahasiswa miskin yang mengandalkan beasiswa agar tetap bisa melanjutkan pendid...
Wattpad App - Unlock exclusive features