Mengejar Cinta Halalmu

By jatipalupi

1.6K 39 10

Kau adalah sahabat kecilku Saat ku harus pergi jauh Kenapa bayangmu tak bisa hilang dari ingatanku Sampai dat... More

Prolog
Bag. 1
Bag. 2
Bag. 3
Bag. 4
Bag. 5
Bag. 6
Bag. 7
Bag. 8
Bag. 9
Bag. 10
Bag. 11
Bab 12
Bab 13
Bag. 14
Bag. 15
Bag. 16
Bag. 17
Bag. 19
Bag. 20
Bag. 21
Bag. 22
Bag. 23
Bag. 24
Bag. 25
Bag. 26
Bag. 27
Bag. 28
Bag. 29
Bag. 30
Bag. 31
Bab 32

Bag. 18

28 1 0
By jatipalupi

Pagi ini Damar bertekat menemui Rewinta. Gejolak hatinya sudah tak bisa dibendung lagi. Antara rindu, kecewa dan rasa bersalah.

Selepas subuh, Damar mencoba menelpon Rewinta lagi. Tapi tetap saja jawaban diseberang sana memberitahukan bahwa nomer yang dituju tak bisa dihubungi. Dia putuskan untuk menemui gadis yang membuatnya gelisah itu. Sedemikian beratkah pernyataan yang ia sampaikan? Sampai-sampai Rewinta mematikan hp nya?

Kampus yang asri komentar Damar dalam hati saat ia masuk ke area kampus Rewinta. Pohon ketapang banyak ditanam di sana. Dibawahnya ditata kursi-kursi dan meja dari beton yang banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk berdiskusi atau sekedar bercengkrama dengan sesama mahasiswa. Damar melangkah mencari masjid. Kata hatinya menuntun ia untuk menuju masjid. Ia tidak tahu dorongan itu begitu kuat dan ketika ia hampir sampai ia bertanya pada mahasiswi yang lewat didepannya.

"Maaf mb. Kenal dengan Rewinta?" tanya Damar pada mahasiswi itu.

"Kenal mas, kebetulan saya teman dikelasnya." Alhamdulillah, batin Damar.

" Ada yang bisa dibantu mas?" tanyanya pada Damar.

" Dimana saya bisa menemuinya mb?" sebenarnya dari segi umur gadis didepannya itu lebih muda darinya. Tapi panggilan mbak adalah bentuk penghormatan untuk orang yang belum kita kenal.

"Wah.. Dimana ya mas?" gadis itu mengeritkan keningnya seperti memikirkan sesuatu.

"Mas tunggu dibangku itu saja, saya coba bantu cari Rewinta," kata gadis baik hati itu.

"Wah terimakasih banyak ya mb" gadis itu mengangguk dan berlalu dari hadapan Damar.

Damar melangkah kearah bangku panjang dibawah pohon yang ditunjukkan gadis teman Rewinta. Ia duduk membelakangi arah gadis itu pergi karena bangku beton itu ada sandarannya dan menghadap ke arah berlawanan.

Hati Damar tidak tenang. Dadanya berdebar seperti orang yang akan wawancara kerja. Bukan..bukan.. Ada sensasi lain yang tak ada ketika ia menunggu wawancara kerja dulu. Ada rindu yang membuncah, ada kuatir, takut. Aaahhh... Sulit untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Apalagi setelah ini ia akan jauh dari gadis impiannya. Kembali ke Jakarta yang Damar tidak tahu apakah ia bisa tenang disana nanti.

Beberapa kali Damar menengok kebelakang. Memastikan apakah Rewinta sudah datang atau belum. Ya Allah..kenapa waktu berputar begitu lambat? Dan kenapa Rewinta ngga datang-datang? Jangan-jangan ia tidak mau menemuiku?.. Tiba-tiba ia merasakan tangannya dingin. Berulangkali ia mengusap wajahnya, mengambil nafas agar debaran jantungnya lebih tenang.

Dan seperti ada yang menariknya ketika kemudian Damar menoleh kebelakang, ia melihat Rewinta sudah berdiri agak jauh dibelakangnya.

"Wiwiiit...." mulutnya memanggil nama Rewinta secara reflek. Ada penekanan disana. Sesuatu yang ia tahan. Rasa rindu dan kuatir yang bercampur aduk.

Gadis itu berdiri mematung saat tahu yang mencarinya adalah Damar.

"Damar.." lirih sepeti terkejut ketika tahu yang mencarinya adalah orang yang berusaha ia hindari. Tapi gerakan bibir mungil gadis itu tertangkap penglihatan Damar. Ia terpaku sejenak. Ada gestur yang ia baca bahwa Rewinta terkejut dengan kehadirannya. Ada kekakuan yang kemudian muncul seolah mereka adalah orang asing yang tidak pernah kenal sebelumnya.

Damar melangkah mendekati gadis yang telah mampu mengoyak segala rasa yang selama ini tak pernah dirasakannya. Ia menangkap gadis pujaannya itu berdiri kaku. Kepalanya masih tegak tapi pandangan matanya menatap kearah rumput.

"Maaf aku lancang mencarimu dikampus. Karena nanti malam aku sudah kembali ke Jakarta maka aku ingin bertemu denganmu hari ini," ia sudah berdiri didepan gadis itu dan berusaha menghilangkan kekakuan yang terjadi.

"Kita duduk disana yuuk ada yang ingin aku sampaikan.." ajak Damar sambil terus menatap Rewinta yang masih diam seribu basa.

"Bagaimana kalau disampaikan disini saja?" Rewinta menatap Damar sekilas. Ia menghindari tatapan mata dengan Damar. Matanya akan sangat jujur bila Damar membaca sorotnya.

"Tidak enak bicara sambil berdiri. Ayolah Wit.." Damar menghiba.

"Yuk.." Damar menatap Rewinta lembut. Kepalanya mengisyaratkan ajakan pada Rewinta.

Gadis itu melangkah ketempat yang ditunjukkan Damar. Mereka duduk saling berhadapan. Rewinta tetap tak berani menatap Damar.

"Apa kabar?" tanya Damar membuka percakapan.

"Alhamdulillah baik," tangan Rewinta mulai terasa dingin.

"Dari kemarin aku menelponmu. Bahkan tadi pagi juga tapi tidak bisa nyambung. Kenapa?" ingin rasanya tangan Damar menangkup wajah gadis didepannya ini. Mengelus rambutnya yang ikal dan diikat begitu saja dengan tali rambut. Tapi justru itu membuatnya semakin cantik. Cantik alami.

" Hp ku rusak...." maafkan aku Damar. Terpaksa aku berbohong. Jerit hati Rewinta. Selama ini ia berusaha selalu berkata jujur. Walaupun seringkali kejujurannya membuahkan sesuatu yang tidak enak. Seperti saat Rewinta diberi baju oleh Putri sebagai oleh2 dari Lombok NTB. Baju itu dicucinya sehingga ibunya tahu.

Flashback on

"Darimana baju itu?" tanya ibunya

"Oleh2 dari Putri Bu"

"Memalukan orangtua saja. Dikiranya ibu tidak bisa membelikan baju kamu apa? Kok sampai menerima pemberian orang lain..." ibunya mulai mengomel.

"Tapi aku ngga minta Bu. Ini tadi dibawa kekampus. Katanya oleh-oleh buat aku"

"Ibu tidak mau tahu. Kembalikan baju itu!!" perintah ibunya.

"Ya Allah bu.." Rewinta tidak percaya dengan perintah ibunya.

Mau tidak mau baju itu dikembalikan pada Putri. Awalnya Putri tidak mau menerima. Ia menyuruh Rewinta untuk menyimpannya dan memakai suatu saat nanti, tapi Rewinta menolak daripada akan terjadi masalah berkepanjangan denagan ibunya. Akhirnya Putri memahami keputusan Rewinta.

Flashback off

"Wiit.."

"Ah ..eh.. Ya ya ada apa?" Rewinta salah tingkah ketika ketahuan melamun. Damar menangkap sesuatu yang tidak beres. Ada apa dengan Wiwit?

"Aku mau minta maaf," kata Damar sambil memandang wajah Rewinta yang masih saja tak mau menatapnya.

"Minta maaf untuk apa?" tanya Rewinta bingung

"Pernyataanku kemarin. Kalau itu kamu anggap salah. Aku minta maaf.." Damar menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi Rewinta.

Dan benar saja. Mata hitam yang berkilau itu menatapnya sekilas.

"Kamu tidak salah,"

"Lalu kenapa kamu pergi meninggalkan rumah sakit tanpa menungguku? Tidak mengangkat telponku?.." Aahh Damar hampir saja tidak bisa menguasai emosinya. Wiwit, aku serius. Seharian sampai malam kemarin kamu sudah menyiksaku sedemikian rupa. Tidakkah kau merasakannya?

"Maaf..", Rewinta semakin kebingungan. Lidahnya kelu untuk menerangkan semua yang dirasakannya hingga ia harus memutuskan yang ia sendiri tak kuasa melakukanya.

"Wiwit, kalau pun kamu menolak katakanlah. Tapi kita masih bisa menjadi teman kan?" tubuh Damar mendekat kearah Rewinta. Menatap gadis yang masih menundukkan pandangannya itu lekat-lekat.

"Ini hadiah dariku. Hp mu rusak kan? Anggap saja ini kenang-kenangan dariku dan bisa kamu manfaatkan untuk menunjang belajarmu," kata Damar sambil.menyodorkan smart phone yang masih terbungkus rapi dalam kotaknya yang tadi ia sempatkan untuk membeli saat menuju kampus Rewinta.

"Aku tidak bisa.." jawab Rewinta lirih.

"Terimalah Wit. Aku berharap ini bisa membantumu.." Damar memohon. Tanpa sengaja Damar melihat hp Rewinta sangat jadul waktu dirumah sakit dan tentu hp jadul seperti itu hanya bisa untuk telpon dan sms saja. Ia membayangkan bagaimana Rewinta akan mengikuti info dari kampus, dosen atau yang lain kalau hp nya masih seperti itu. Makanya ia berinisiatip membelikan smartphone untuk Rewinta dan akan membantunya memenuhi kebutuhan data internet yang Rewinta butuhkan kalau Rewinta mau menerima.

"Maaf Yo. Aku tidak bisa menerima. Terimakasih untuk semua perhatianmu selama ini.."

"Lalu kamu pakai apa untuk alat komunikasi nanti?"

Tiba-tiba ada yang berdering dari dalam tas Rewinta. Wajah Rewinta pucat dan itu ditangkap oleh Damar dengan cepat. Damar emosi. Tangannya mencengkeram lengan Rewinta.

"Kenapa Wiit? Kenapa kamu berbohong? Hpmu tidak rusak kan. Itu hanya alasan kamu tidak mau menerima panggilanku kan??!!"

"Apakah itu artinya kamu menolakku?"

Wajah Rewinta semakin pucat. Tubuhnya kaku dalam cengkeraman tangan Damar

"Katakan Wit...Aaahhhh," Damar berusaha sekuat mungkin menahan amarahnya. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku. Katakan saja kalau kamu tidak menerimaku. Jangan seperti ini...

"Wiwit!! Jawab pertanyaanku.. Apa semua ini kamu lakukan karena seorang Bagus???" Sudah tak mampu lagi Damar menahan gejolak dadanya. Antara marah dan cemburu yang bercampur baur mengoyak akal sehatnya.

Spontan Rewinta menatap Damar. Damar menangkap kesedihan dan kemarahan Rewinta dari sorot matanya. Damar berharap Rewinta menjawab tuduhannya dengan kata-kata. Apapun jawabannya akan Damar terima.

Tapi harapannya sia-sia, tidak satu katapun terucap dari mulut gadis yang dicintainya itu.. Hanya tetesan airmata yang keluar memberi jawaban.

Hati Damar melembut dan tangannya sudah terayun akan menghapus airmata itu ketika Rewinta mundur dan mengusap sendiri airmatanya.

"Sebaiknya kita tidak usah berkomunikasi lagi. Terimakasih untuk semuanya.. Aku minta maaf bila telah menyakitimu dan tidak bisa menerima pernyataanmu. Tiyo..lupakan aku," tanpa.menunggu reaksi dari Damar, Rewinta berlari meninggalkan Damar. Damar berdiri hendak mengejar tapi ia sadar berada di kampus. Jangan sampai mereka berdua menjadi pusat perhatian yang menyebabkan Rewinta mengalami kesulitan atas kejadian ini.

Damar menatap bungkusan hand phone yang masih ada dimeja beton itu, lalu mengambilnya. Dia usap hadiah yang tak dikehendaki oleh gadis yang sangat ingin ia bahagiakan itu.

Kakinya melangkah meninggalkan kampus Rewinta dengan gontai. Sesekali menengok kearah Rewinta pergi, barangkali gadis itu masih berdiri disana dan ia masih bisa menatap wajahnya.

Sayang gadis itu sudah tidak ada

Continue Reading

You'll Also Like

110K 5.3K 24
Seorang Pria yang kehilangan rasa cinta namun tetap ada yang selalu menjadi kakak pelindungnya Cerita kedua yah guys........
32.1K 3.4K 50
Kowe ojo sumelang tresna ku ra bakal ilang Ibarat koyo kuto ku jogja Kowe cen istimewa
3.1K 174 49
Menyakitkan.... yaa itulah yang aku rasakan setelah mengenal yang namanya cinta. yang kata orang cinta itu indah cinta itu menyenangkan hari-hari men...
50.5K 3.6K 53
Antara keheningan Senja dan dinginnya Embun
Wattpad App - Unlock exclusive features