Hey Mantan (Selesai)

By Secretlyonyou1506

130K 3.1K 278

Judul awal : NadyArisen FOLLOW DULU SEBELUM BACA! PERINGATAN : ⚠ MEMBACA CERITA INI SEDIKIT MENGURAS EMOSI EN... More

0.01 (Revisi)
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
0.07
0.08
0.09
0.10
0.11
0.12
0.14
0.15
Pindah Joylada
Sequel?
Penentuan
Heartbreak Effect
Cerita Baru

0.13

2K 109 34
By Secretlyonyou1506

"Kenapa semuanya serba tiba-tiba? Seperti dia yang datang dengan tiba-tiba. Memberikan kabar secara tiba-tiba. Dan lama-lama ia akan menghilang dengan tiba-tiba pula."

🥀 🥀 🥀

Revan sibuk memandang handphone nya. Hatinya bimbang, ia ingin menelepon Nadya, tapi ia juga takut kalau sampai Nadya menolaknya. Sudah cukup lama ia berdiam diri dengan posisi seperti itu. Kurang lebih 1 jam cowok itu di sana, mengabaikan kopi panas yang ia pesan sampai menjadi dingin.

"Hai, Van. Kita ketemu lagi." kata Fani riang seperti anak SD yang mendapat boneka baru.

Revan hanya mendongak lalu mengangguk singkat sebagai respon. Fani mendengus sebal. Padahal ini kali kedua mereka bertemu, sama-sama sendiri pula. Harusnya ini menjadi momen yang bagus untuk pdkt kan?

"Masih sendiri, Van? Keliatan banget sih jomblonya haha." ucap Fani sambil menarik kursi di depan Revan untuk duduk.

"Lo juga sendiri. Jomblo juga kan?" kata Revan masih dengan pandangan fokus ke layar ponselnya.

Fani sedikit penasaran dengan isi ponsel Revan. Cowok itu terlalu fokus memandanginya. Jangan-jangan itu isinya yang iya-iya?

Cewek itu sedikit berdiri lalu menunduk dengan badan condong ke depan pura-pura mengambil saus yang ada di dekan ponsel Revan. Mata Fani sedikit melirik, ada tulisan "Cengil😙" dengan nomor ponsel di bawahnya. Sepertinya Revan hendak meneleponnya.

Hati Fani sedikit nyeri serasa dihimpit
2 batu bata. Bibirnya melengkung ke atas dengan sedikit paksaan. Dengan cepat Fani kembali duduk, mata sedikit memanas. Patah hati? Tentu sangat jelas. Ia sudah hampir 1 tahun menyukai Revan. Ia rela stalk sana sini demi mendapat info si ketos ganteng itu. Dan setahunya cowok tampan eh, ganteng di depannya ini tidak memiliki pacar ataupun teman yang lebih dari teman.

"Lo kenapa, Van?" tanya Fani dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin.

Revan mendongakan kepalanya, diletakan ponsel itu di dekat cangkir kopinya. Matanya menatap Fani penuh keraguan. Ia ragu jika ingin bercerita dengan cewek di depannya ini.

"Gue ragu." katanya pelan dengan mata melirik layar ponsel yang bertuliskan "Cengil😙".

"Maksudnya?" tanya Fani pura-pura tidak mengerti. Hhh dirinya kenapa mendadak menjadi bodoh? Bukankah jika begini ia justru semakin terluka? Hatinya akan menjadi lebih sakit bukan?

"Gue takut buat telpon dia. Gue udah lama tertarik sama dia. Tapi, beberapa minggu yang lalu gue baru bisa ngobrol sama dia. Dia itu imut, lucu, katanya sih pintar, dan ah hidungnya sedikit mancung. Pokoknya cantik." ucap Renan dengan mata penuh dengan pancaran bahagia. Bahkan sangat bahagia. Sepertinya cowok itu begitu suka atau mungkin sayang dengan cewek itu. Fani lagi-lagi hanya mampu tersenyum kecut. Mata cewek itu menjelajah ke seluruh penjuru Cafe. Ia tak mau kalau sampai menangis di depan cowok ini.

"Oh gitu, telpon aja. Dia,, pasti terima. Secara lo ganteng gini." kata Fani dengan suara semakin serak. Matanya benar-benar sudah memanas.

"Tapi.. Dia udah ada pacar, Fan." adu Revan kepada Fani. Kepala cowok itu menunduk dalam membuat hati Fani semakin sakit.

"Kenapa? Kenapa lo gak pernah liat gue, Van? Dan lo bilang lo suka sama cewek yang udah punya pacar? Lo gila! Yang jomblo aja banyak, Van!"

Ingin Fani berkata seperti itu di depan Revan. Tapi sayangnya ia tak kuat. Ia tak tega menyakiti cowok yang amat sangat ia sukai. Fani mengusap pipinya pelan menghilangkan air mata yang berani menetes.

Dengan tangan sedikit bergetar cewek itu menepuk pundak kokoh milik Revan. "Gue yakin lo bisa dapetin dia. Oiya, gue pamit ya udah malem." ucapnya segera berdiri berjalan menuju pintu keluar.

Dilihatnya Revan sekali lagi. Matanya tidak hanya memanas tetapi juga telah meneteskan air. Sungguh menyakitkan baginya. Baru saja ia berharap akan dekat dengan Revan. Dan saat itu juga ia harus menerima fakta Revan menyukai cewek lain. Sumpah demi apapun, Fani akan mencari tahu siapa cewek itu. Cewek yang sudah memiliki kekasih, tapi berani sekali mendekati Revannya.

🥀 🥀 🥀

Sepanjang koridor kelas 11 Nadya berjalan dengan bersenandung kecil. Kalau boleh jujur, suara Nadya itu fals dan sedikit cempreng saat bernyanyi jadi maklum saja jika dia hanya bersenandung kecil.

Kedua tangan Nadya menggenggam tali tasnya erat mengabaikan tatapan beberapa siswa siswi yang bertemu dengannya. Bahkan cewek itu meninggalkan Arisen yang masih sibuk mencari tempat parkir motor karena mereka hari ini berangkat sedikit siang.

"Nayla!" sapa Nadya saat melihat Nayla berjalan tidak jauh darinya. Ia segera berlari kecil seperti anak kura-kura mengejar induknya.

"Nayla tunggu!" teriaknya berhasil membuat Nayla menoleh.

"Kenapa?" tanya Nayla polos membuat Nadya mendengus pelan.

"Bareng ke kelasnya." katanya yang langsung disetujui oleh Nayla. Cewek itu langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan Nadya yang masih mengatur nafas.

Sesampainya di kelas, Nadya dan Nayla mendudukan diri di pojok kelas. Nadya sendiri langsung mengambil sapu karena hari ini jadwal piketnya. Dan Nayla sibuk dengan ponselnya. Sepertinya asik membaca Wattpad.

"Guys kalian sembarangan." tanya Vava yang baru tiba di kelas membuat Nadya langsung menatap bingung.

"Lo sehat, Va?" tanya Nadya bingung.

"Sembarangan apanya sih?" tanya Nayla mengalihkan pandangannya kepada Vava.

Vava hanya tersenyum kikuk. Malu. Ia salah bertanya rupanya.

"Bukan. Aduh maafkan, gue kurang tidur semalem." katanya dengan senyum 3 jari.

Nadya dan Nayla hanya mampu geleng-geleng kepala, kemudian melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
......

Jam ke 7 adalah jam-jam di mana otak para siswa sedikit oleng. Pikirkan mereka sudah penuh dengan kata lelah dan juga ngantuk. Dan pastinya mereka sangat menantikan bel pergantian jam segera berbunyi.

Kali ini kelas Nadya mendapat pelajaran bahasa indonesia. Bu Nike asik menjelaskan materi yang ada dengan begitu semangat namun membosankan. Nadya sendiri lebih memilih untuk membaca wattpad. Sedangkan Nayla sibuk mengobrol dengan Vava yang duduk di sebelahnya.

"Nad, lo ngapain sih?" tanya Ririn teman sebangku Vava.

Nadya hanya diam malas menanggapi. Dan Ririn kembali menghadap ke depan mendengarkan penjelasan dari Bu Nike. Sesekali Nadya juga mengalihkan pandangan kepada Bu Nike.

"Jadi begitu ya. Untuk minggu depan siapkan resensi tentang 1 buku fiksi." kata Bu Nike sebelum beliau memilih duduk untuk memeriksa beberapa lembar kertas ulangan siswa.

Melihat itu, semua murid kelas XI IPA 3 bersorak gembira. Mereka langsung membuat beberapa grup untuk mengobrol. Sedangkan Nadya tetap memilih membaca Wattpad, Nayla asik dengan instagramnya, Vava sibuk bermain game online, dan Ririn hanya sibuk menonton kegiatan teman-temannya.

"Nad, lo ngapain sih?" tanya Ririn sedikit penasaran karena Nadya terlalu fokus dengan ponselnya.

"Baca wattpad." balasnya singkat.

Ririn hanya menganggukan kepala, kemudian ia kembali memperhatikan satu-persatu teman-temannya lagi. Merasa bosan ia kembali menghadap ke belakang, melihat Nadya menuliskan sesuatu di ponselnya. Karena penasaran Ririn kembali bertanya.

"Nad, lo sebenernya ngapain sih?"

Nadya gemas dengan pertanyaan Ririn yang hanya bertanya 'Nad, ngapain sih? Nad, ngapain sih?' ia pun menghela nafas kasar.

"Bikin anak." jawabnya ngawur membuat Ririn melotot tak percaya.

Nadya bikin anak lewat hp? Yang benar saja.

"Beneran bikin anak? Bikin anak online dong. Gue bilang Vava ah. Va-"

"RIRIN JANGAN SEMBARANGAN DEH!" teriak Nadya reflek karena khawatir jika sampai Ririn mengadu kepada Vava.

Bukannya apa-apa tapi,,,,, Vava itu cewek yang otaknya sedikit mesum. Yayaya gak cuma dia sih, tapi beneran. Vava itu selalu saja membahas hal-hal seperti itu dengan santainya.

"Lo kenapa sih Nad teriak-teriak?" tanya Arkan cowok yang duduk di bangku paling depan.

Nadya langsung melihat Arkan yang menatapnya heran. Ternyata tak hanya Arkan yang menatapnya seperti itu, hampir seluruh murid kelas XI IPA 3 menatapnya, oh tidak hanya murid ternyata Bu Nike juga menatapnya. Pipi Nadya langsung memerah malu. Sangat malu. Bahkan kini dirinya menenggelamkan kepala di atas meja.

"Kenapa sih, Nad?" tanya Bu Nike heran membuat Nadya mendongakan kepala lalu menggeleng pelan.

Nadya menatap Ririn tajam sedangkan Ririn hanya tersenyum mengejek.

"Lo sih!" tuduh Nadya kepada Ririn masih dengan muka memerah.

Semua murid kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Sedangkan Nayla sibuk tertawa ngakak. Jika kalian bertanya Vava, dia masih asik dengan game online nya.

"Kan gue cuma mau tanya sama Vava. Lo sih bilang bikin anak online."

"Mana ada bikin anak online." kata Nadya sambil membanting hpnya di atas meja. "nih, orang dimode pesawat! Liat nih gue baru baca wattpad."

Nayla masih sibuk tertawa melihat Nadya dan Ririn yang sedang berdebat mengenai bikin anak online. Ada-ada saja.

🥀 🥀 🥀

"Nad!" sapa Revan saat Nadya sedang berjalan menuju parkiran.

Nadya menghentikan langkahnya malas. Ia tidak membalikan badan. Ia lebih memilih menunggu Revan sampai di sebelahnya.

"Pulang bareng yuk!" ajaknya saat sampai di sebelah Nadya.

"Em.. Maaf ya Van. Tapi-"

Drt Drt

Nadya tidak melanjutkan ucapannya. Cewek itu memilih mengambil handphone nya dan mengecek siapa yang mengirimnya pesan.

Revan menunggu dengan hati berdebar hebat. Cowok itu benar-benar takut Nadya menolak tawarannya. Dengan penuh harap Revan masih setia menunggu Nadya yang sedang menatap layar ponselnya dengan wajah kecewa.

Risen Jelek

Nad, maaf ya kita gk bisa plng brng. Aku ada rapat klub. Km dijemput atau nebeng Faya ya? Maaf bngt ya😔
15.35.

Oh iya gpp kok Sen😊
15.36

Setelah membalas pesan Arisen. Nadya langsung berlari ke arah parkiran diikuti oleh Revan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mencari letak motor Faya. Dan sialnya, Faya sudah pulang. Jika ia dijemput tidak ada orang di rumahnya. Ah kenapa sih Arisen telat memberi info. Semua temannya sudah pulang. Lalu dia harus pulang naik apa?

"Kenapa, Nad?" tanya Revan yang ikut bingung melihat Nadya bingung.

"Gak apa-apa." jawabnya pelan hampir menangis.

"Arisen mana?" tanya Revan lagi dengan nada yang lebih penasaran.

"Rapat."

Revan mengangguk tanda mengerti. Pantas saja motor Arisen masih ada, tapi Nadya masih sibuk mencari sesuatu.

"Kesempatan pdkt nih."

"Ya udah bareng gue aja sih." tawar Revan.

Nadya sedikit ragu dalam hatinya. Kalau dia menerima ajakan Revan, Arisen akan marah atau tidak? Kalau Arisen marah bagaimana? Tapi kalau ia menolak, ia pulang naik apa? Masa iya dia harus menunggu Arisen selesai rapat.

"Ya udah, iya. Gue terpaksa bareng. Inget ya terpaksa." kata Nadya yang hanya dibalas senyum manis milik Revan. Sepertinya cowok itu terlalu senang sampai tidak mendengar kata terpaksa dari mulut manis Nadya.

🥀 🥀 🥀

Nadyanya sama Revan tuh.. Gimana dong Arisennya? Marah gak ya?

Jangan lupa vote and comment ya guys.

Thanks for reading

And Lope you guys😁

Continue Reading

You'll Also Like

50.8K 3.1K 61
[Completed] FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA! ............ Jatuh cinta itu tidak salah, hanya jatuh kepada siapa cintanya, itu yang kadang jadi masal...
2.6K 113 11
Karena tak bisa membeli tiket konser Muse, Nadya sampai merengek-rengek di bawah pohon eucalyptus di belakang sekolah. Ia hampir menangis, bahkan sam...
42.2K 4.5K 61
(BUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM BACA) Awalnya, Keira hanya berniat membantu Seno- sang sepupu. Untuk menjadi pacar pura-puranya karena laki-laki itu i...
47.6K 3.4K 63
[HARAP FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA KARENA ADA PART YANG DIPRIVAT] SELESAI MEMBACA JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN BERUPA KOMENTAR DAN VOTE SANGAT...
Wattpad App - Unlock exclusive features