TITIK NOL

By Hyuniarp

9.7K 517 113

"Jika rindu diibaratkan akar, ia akan tumbuh pada yang dirindukannya" Zakia Salsabila Nugraha kerap dipang... More

Prolog
1. Episode Sakitnya berharap dengan manusia
2. Ceroboh
3. Perjodohan
5. Seseorang
6. Minta maaf
7. Perasaan cinta
8. Move On 2
9. SAH
10. Hari Pertama
11. Cinta Halal
12. Cemburu
13. Orang kedua
14. Salah tingkah
15. Dosen Menyebalkan
16. Ujian
17. Salah paham
18. Pergi
19. Hilang
20. Terbongkar
21. Salah
22. Sabar
23. Pergi berdua
24. Waktu
25. Sadar
26. Melepas
27. Terbongkar
28. Bersatu

4. Move On

435 28 2
By Hyuniarp

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

___________________________________________

"Proses memang menyakitkan, namun disana aku belajar arti dewasa sebenarnya"

-

Setelah solat subuh Zakia membanting tubuhnya di kasur, bagaimana bisa dia akan menikah sebentar lagi diusianya yang masih 20 tahun. Ia membuka lemari pakaiannya dan menemukan sesuatu yang diberi oleh masalalunya. Hal tersebut yang membuat dirinya teringat dengan Arzhi yang berjanji akan menikahiku.

Zakia membuang semua kenangan tentang masa lalunya, ia tak ingin jika tak bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya kelak karena masih menyimpan perasaan terhadap masalalunya. Ia membuka handphonenya dan mencari hal yang berhubungan dengan masa lalunya, ia mengscrool dan menghapus foto dan chat bersamanya. "Aku harus Move On" ucapnya dengan semangat.

Ia kemudian bersiap diri untuk berangkat kuliah, ia melajukan sepeda motornya disepanjang jalan pun rasanya menjadi kenangan dirinya dan masa lalunya, "Astaghfirullah" berulang kali Zakia mengucap istighfar agar hatinya menjadi tenang.

"Kiaaaaaaa tunggu" ucap Laras dari belakangku.

"Ish apaan si Ras teriak-teriak"

"Lo tuh , kalau gak diteriakin gak bakal denger"

Aku langsung menampar bahunya," enak aja , denger cuma males nengok "

"Hmm hati-hati ntar dikeluarin lagi sama dosen itu"

"Apa sih gak takut ya aku, orang galaknya kayak kak Ros gitu"

Ehm ,ucap deheman dari belakang

Aku dan Laras serentak menengok kebelakang.

"Pagi-pagi sudah gosip , kalau berani ngomong didepan saya , jangan dibelakang saya, apa mau saya keluarkan lagi dari kelas" ucapnya dengan mata melotot.

Deg Zakia hanya membulatkan mata acuh mendengar perkataannya , "lagi lagi dosen itu" ucapnya dalam hati.

"Enggak pak ,maaf kan saya sama Zakia" ucap Laras seraya menarik tanganku untuk pergi.

"Sebentar" ucapnya .

Kami lagi-lagi serentak menengok kebelakang.

"Setelah jam selesai ,kamu keruangan saya" ucapnya menunjuk Zakia lalu pergi.

"Haa" ucap Zakia dengan mata melotot.

seusai jam kuliah selesai Laras masih saja merutuki sahabatnya ini, akhir-akhir ini sahabatnya sering terkena masalah dengan dosen barunya yang terkenal killer, "dah sana ke ruangan Pak Fathan"

Zakia hanya merespon deheman dan berlalu pergi ke ruangan dosen barunya, sedangkan Laras menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Zakia.

Dari kejauhan Zakia melihat dosen barunya sudah menunggu di depan pintu dengan tatapan intens masuk ke ruangan dosen barunya , " Ada apa pak manggil saya?"

"karena kemarin kamu tidak mengikuti kelas saya, sekarang kamu kerjakan ini " Dosen Itu menyerahkan selembar kertas. " Oh ya dan ambilkan buku tugas kalian yang ada di Perpustakaan ", laki laki itu melihat ke arah jam yang ada di tanganya " 1 jam dari sekarang", ucapnya lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.

Zakia masih melongo dengan perkataan dosen barunya,"untung dosen , kalau bukan udah ku lempar pake sandal" ucap Zakia dalam hati lalu menuju ke Perpustakaan.

Waktu sudah menunjukan pukul setengah 5 Sore, harusnya dirinya sudah berada di rumah duduk santai didepan Tv menonton serial kesukaanya. Namun ini ia harus mengerjakan tugas yang sangat menguras tenaga dan pikirannya, karena ia belum pernah mendapatkan materi ini sebelumnya dikarenakan tak mengikuti mata kuliah bersama dosen itu.

"waktunya habis" dosen baru itu muncul dari balik pintu dan menarik kertas yang ada di tangan Zakia, " Kok kosong ? kamu dari tadi ngapain aja" .

"Bapak itu yang bener aja , saya belum pernah mendapatkan materi ini tapi suruh ngerjain. Saya aja gak paham sama soalnya?" ucapnya lalu menoleh ke sembarang arah.

Fathan duduk di sebelah Zakia dengan ruangan Perpustakaan yang masih ramai untuk rapat beberapa organisasi, ia kembali menjelaskan materi dengan jelas dan cepat tak ada setengah jam Zakia sudah bisa menyelasaikan tugasnya.

Zakia memberikan tumpukan buku ke tangan dosenya "ini ya pak untuk bukunya , saya mau pulang dulu"

"ini kan tugas kamu yang bawa ke ruangan saya"

"Maaf ya Pak , bapak kan disini jadi sekalian aja , ini udah sore saya mau pulang . Nanti ujungnya juga gamau berterimakasih , gerah badan gerah hati gitu kata iklan, " ucapnya berlalu pergi.

Fathan menggeleng-gelengkan kepalanya , melihat kelakuan salah satu mahasiswanya. Pasalnya ia baru bertemu, namun kelakuan mahasiswanya sangat susah diatur.

Zakia disepanjang jalan menggerutu dengan nasib hidupnya yang akhir-akhir ini memprihatinkan, ia yang ditinggalkan kekasih, selalu kena omel orang tuanya , dan ditambah dosenya yang garang itu. Rasanya kehidupan ini begitu tak adil untuknya. Berulang kali Zakia membuang nafas kasarnya diperjalanan.

Senja sudah mulai berganti malam dan adzan berkumandang menandakan waktu mahrib telah tiba, Zakia berhenti disalah satu masjid yang tidak jauh dari rumahnya sebelum ia pulang. Ketika ia turun dari sepeda motornya ia melihat seorang ibu yang sedang kesusahan membawa dagangannya dengan tangan kirinya yang digendong dengan kain karena sakit. Zakia segera membantu ibu yang tak ia kenalnya, "permisi ibu, biar saya bantu" 

Ibu yang terlihat buru-buru itu terkejut dan melihat ke arah Zakia lalu tersenyum "terimakasih mba, taruh didekat tiang itu saja" ucapnya seraya menyerahkan beberapa daganganya.

Zakia menerima dagangannya dan membawa ke dekat tiang masjid dan mengikuti ibu tersebut untuk berwudhu. Zakia kagum ketika melihat ibu tersebut yang masih sempat menunaikan solat sunah terlebih dahulu dikondisinya yang sedang sakit. Sedangkan Zakia dikondisinya yang sehat ia terkadang menunda-nunda solatnya.

Orang satu persatu meninggalkan masjid tersebut dan tersisa ibu tersebut yang masih berdiam diri di masjid, Zakia bangkit dan duduk di dekat tiang tempat ibu tadi menaruh makananya dan berniat membeli makananya.

"Mba kok belum pulang" ucap ibu tersebut dari belakang Zakia.

Zakia menoleh ke belakang, "Iya bu, saya menunggu ibu. Saya mau membeli makanan didagangan ibu, soalnya saya belum sempat makan dari tadi hihihi" ucapnya seraya menunjukkan deretan giginya.

Ibu tersebut duduk disebalah Zakia dan memberikan sebungkus nasi, "Ini mba , masih ada nasi bungkus buat mba, itung-itung tadi udah bantu ibu" 

"Jangan bu, nanti ibu rugi kalau memberikan ke saya gratis"

"Tenang ada Allah"

Zakia terdiam dengan ucapan ibu tersebut, "terimakasih bu" seraya menerima nasi bungkus dan segera memakannya. "Kalau boleh tahu tangan ibu kenapa?" lanjut ucapnya.

Ibu tersebut memperlihatkan tanganya "Ini ibu terkena musibah ketika berjualan ada mobil menyerempet, sehingga tangan ibu patah".

"Siapa bu yang tega sama ibu ?" ucap Zakia dengan mata melotot karena terkejut.

Ibu tersebut hanya menggelengkan kepalanya "Mobil tersebut langsung pergi"

"Astaghfirullah, tega sekali orang itu" ucap Zakia dengan nada kesal.

"Gapapa mba, ibu sudah ikhlas. Allah datangkan orang itu untuk menguji keimanan ibu. Semoga orang itu selalu dalam lindungan Allah"

Zakia yang mendengar perkataan itu hingga sulit menelan makanan yang sudah penuh dalam mulutnya.

"Ibu juga bersyukur karena tangan kiri yang patah, sehingga tangan kanan masih bisa untuk beraktivitas", lanjut ibu tersebut.

"kalau saya jadi ibu pasti saya mengeluh, dan memaki orang itu. Pokonya orang itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya" ucap Zakia dengan sebal.

"Mengeluh itu terkadang membuat masalah yang sedang kita hadapi semakin berat mba, Allah sudah memberikan banyak nikmat kepada ibu. Ibu bersyukur masih diberikan kesehatan, keimanan, kekuatan, rumah untuk ibu tinggali, keluarga yang selalu ada buat ibu dan yang terpenting nikmat islam yang Allah berikan. Bahkan banyak diluar sana yang nasibnya kurang beruntung, lalu apa yang harus ibu keluhkan ketika Allah mengambil sedikit kenikmatan diantara banyak kenikmatan yang bisa ibu syukuri".

Zakia benar-benar dibuat melongo dengan jawaban ibu tersebut dan hanya bisa memberikan ekspresi kagumnya.  "Terimakasih banyak ya bu, masakan ibu enak" ia membuang bungkus makananya ke tempat sampah. Ia mengambil botol yang ada ditasnya dan meneguk beberapa kali. "Ibu saya pamit pulang ya, terima kasih ibu telah mengubah presepsi hidup saya"

Ibu itu tersenyum kepadaku, "syukurlah kalau kamu tidak marah dengan cerita ibu, bukan ibu yang merubah pemikiran mba, itu semua atas izin Allah".

Zakia tersenyum lalu menyalami ibu yang tak ia kenalnya, bahkan ia lupa memperkanlkan dirinya tadi. Sepanjang jalan ia beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Selama ini selalu mengeluh dengan masalahnya, justru keluhan itu yang menjadi benalu dalam hidupnya, "Semoga Allah mengampuni kesalahanku" ucapnya disertai bebrapa tetes air mata yang sudah tak tahan ia bendung, "Aamiin" ucapnya lirih.

_


Jangan lupa vote and komen ... 💙

Continue Reading

You'll Also Like

2K 38 1
Berkahwin dengan lelaki yang dia cinta merupakan impian dalam hidup Aina. Bahagia... itu yang dia mahu bersama Benjamin. " Sampah apa yang kau bagi...
81 1 5
Tidak kah semua yang pergi Allah ganti dengan yang lebih baik lagi? ketika semua yang ku anggap baik ternyata tidak sebaik itu, ketika satu-persatu m...
525 17 19
Berbicara tentang cinta, semua koneksi bukan berpusat pada otak, namun di hati. Cinta tidak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan den...
1.3K 90 5
Cinta yang kurasa hanya sebuah mimpi dan sirna ketika terjaga. Keinginan untuk memiliki dapat diibaratkan sebagai pungguk merindukan bulan. Aku memil...
Wattpad App - Unlock exclusive features