Freshly written.
Enjoy reading!
Hanenda Camitengku💕 [23.15]
Sudah tidur ya? Saya berangkat ke Surabaya dulu ya Nae. Tugas saya masih belum selesai. Sweet dream sayang😘
Me [23.16]
Camitengku? Ini pinjam hp tadi cuma buat ganti nama kontak aja?Penting banget ya Nend. Saya belum tidur. Kok nggak bilang tadi kalau mau ke Surabaya? Ini dimana?
Aku segera turun dari ranjang dan membuka pintu kamar. Berharap masih bisa melihatnya, tapi yang kutemukan malah ayah yang sedang mematikan televisi. Dari beliau aku tahu bahwa Hanend dan Naka sudah berangkat beberapa saat yang lalu.
Aku tahu soal Naka yang akan bertolak ke Jakarta dengan kereta malam ini. Tapi tidak terpikir kalau Hanenda turut serta. Kukira benar dia akan menginap di rumah.
Hanenda Camitengku💕 [23.15]
Camitengku= CalonsuaMiganTengKu😜
Keren kan nama kontaknya😘
Maaf nggak sempat bilang tadi. Kamunya semangat banget cerita pembullyan Nares dan Citra sepanjang jalan pulang. Hehe.
Salam ke mereka ya. Gak papa mereka jadi pendukung Nanta. Tapi minta tolong sama Nares dan istri untuk jagain kamu dari dia selama saya nggak ada ya?😎
Ini hampir sampai stasiun. Cepet tidur calon istri.💋
Ah iya. Tadi kami tidak sengaja bertemu Nares dan Citra. Mereka juga sedang jalan-jalan sekitaran alun - alun kota. Suara cempreng Citra memanggilku dengan suka cita. Meski hanya beberapa menit, cukuplah mereka mempermalukanku di depan Hanenda.
Sebulan ini belum puas mereka membullyku. Bersama Hanendapun tanpa sungkan aku digoda habis - habisan. Parahnya, Nares dan Citra dengan polosnya mengikrarkan diri tetap menjadi pendukung fanatik Ananta. Hanend tidak sedikitpun tampak tersinggung, malah merespon mereka dengan senyum.
Me [23.16]
Astaga emotnya Nend 😒. Menjyjyqqan! Sumpah anda alay. Biasa aja deh. Hati- hati di jalan. Kasih kabar kalau sudah sampai ya. Salam ke Tante, Om dan Hisa.
Hanenda Camitengku💕 [23.20]
Haha. Maklumlah sayang baru juga punya pacar. Ok nanti saya salamkan. Istirahat, sudah malam. Nanti kalau sampai dikabarin.
Love you.
Aku tak membalas pesannya. Benar - benar ini Hanend ya. Makin lebay. Telat jatuh cinta begini banget efeknya. Yang dulunya datar tanpa ekspresi, sekarang? Tambah bikin esmosi!
~•~•~•~•~
"Nilai sudah ku entry Cit. Tinggal comments saja. Nanti bantu check ya. Takutnya kaya tahun lalu. Nama lupa nggak diganti di akhir. Bisa habis di hajar parents lagi."
Seminggu setelah anak-anak melaksanakan Penilaian Akhir Semester, kami mulai sibuk mengerjakan nilai beserta tethek bengeknya. Karena 2 hari kemudian pembagian rapor kepada wali murid
"Haha,masih trauma Nae?"
"Banget haduhh, kebayang dipelototin mamanya Carl lagi..No, big No!"
"Kalo sekarang disinisin panggil babang
Hanenda aja, suruh cari pasal apa kek buat BAP mama Carl yang horor itu."
"Kan...suka ngelantur deh bu mil, dari bahasan bantuin check melencengnya tetep ke sana-sana aja."
"Haha. Siap bos. Nih masih bantuin kelas 1 dan 3 dulu."
Pembicaraan kami terhenti mendengar telepon berdering. Prisca yang berada tak jauh dari gagang telfon menerima panggilan dari telepon internal sekolah kemudian meneriakkan namaku.
"Nae, dipanggil pak DoS ke ruangannya."
Aku dan Citra saling berhadapan. Dia menyorotkan tatapan penuh tanda tanya. Kuangkat bahu tanda tidak tahu menahu.
Sudah lama kami benar-benar hanya berada di dalam koridor profesional. Ananta tak pernah lagi mengirimkan pesan pribadi. Dalam beberapa minggu terakhir ini kami juga jarang bertemu. Ini benar- benar face to face pertama kami sejak aku menjalin hubungan dengan Hanenda.
"Duduk Nae."
Aku mengangguk dan segera duduk di depan meja kerjanya.
"Kamu, apply beasiswa S2?"
Lho? Kok bisa Ananta tahu? Padahal ini tidak ada hubungannya dengan institusi. Aku memang sedang menyiapkan hati. Bulan depan aku akan interview lagi. Aplikasiku lolos. Aku dijadwalkan wawancara. Belum kuceritakan hal ini pada Hanenda. Entahlah, aku merasa takut dia kecewa. Yang tahu hanya aku dan Naka, karena adikkupun ikut beasiswa yang sama, dia juga lolos. Aku sangat mewanti-wanti Naka untuk tidak membocorkan hal ini pada Hanenda. Kejutan dalihku.
Bagaimana ceritanya Ananta tahu?
"Saya dihubungi teman yang kebetulan kerja di Aminef. Hebatnya kamu juga sudah dapat LoA Uni yang kamu tuju. Kembali ke UTA lagi?"
Glek.
Ini koneksi Ananta sejauh mana sih. Heran.
"Ehem. Maaf Sir, saya belum cerita ini ke siapapun termasuk anda karena belum tentu juga aplikasi saya diterima."
"With LoA in your hands? Are you kidding me? We could say that you almost there. Say 95%. Apalagi kamu grantee salah satu program yang baru saja pulang."
"Masih ada 5% kemungkinan saya nggak diterima," balasku, tak mau kalah.
Ananta mengeratkan 2 tangannya.
"Oke. Dengan 5% yang kamu sebut itu, kamu mau saya kasih karangan testimoni buruk tentang track record kamu supaya gagal dapatin fellowship itu?"
"Kok gitu? That's unfair!" Protesku.
"So what's fair?"
"Hhh. Just let me struggle to reach my dream. It's a way to develop my profeciency."
"I know. The problem is, how could I know it from another person if the chance you get it is 95%?"
....
"Kenapa nggak dijawab? Ok, saya tahu kita masih di sekolah. Tapi sekali ini saja, anggap ini tidak di sekolah. Kita juga abaikan kemungkinan besar kamu resign di pertengahan tahun ajaran. We talk about something personal."
....
Ananta menarik nafas dalam.
"Hanenda tahu?"
Aku menarik nafas berat. Lalu menggeleng.
"Oh my.. You two are dating, arent you?"
Aku mengangguk pasrah.
"You want me to tell him?"
Aku otomatis mendongak lalu menggeleng cepat.
"Kamu tahu gimana kecewanya dia waktu kamu nggak cerita saat lolos fellowship yang hanya 6 bulan? Dan ini 2 tahunan Nae. Gila! Kamu tahu kalau dia sedang mengusahakan kalian bisa menikah mendahului Hisa?"
Hah?
Ananta kenapa bisa tahu ide konyol itu.
"Dia sempet bercanda tentang itu sih, ta..."
"My Goodness!Dia serius Naeswari. He's working on it. Dia lagi usaha bujuk Hisa. Meski belum berhasil, Jangan anggap itu bahan candaan."
Aku diam. Mengatupkan mulutku rapat.
"Tell him soon or I will."
....
"Sebentar, kok jadi kamu yang galak sih Nan. Ini kamu yang sama yang minta saya deket sama kamu kan? Hubungan kalian ini sumpah saya nggak ngerti, rumit."
Ananta berdecak. Persetan dengan profesionalitas. Dia yang menguji kesabaran perempuan datang bulan hari kedua. Baiklah, kulayani.
Aku mungkin tidak bisa dibenarkan tak mendiskusikan masalah ini dengan Hanenda. Tapi apa hubungannya dengan Ananta? Heran.
"Oke saya masih ada perasaan sama kamu. Tapi tidak lantas membuat persahabatan kami yang menahun nggak ada artinya kan? Hubungan kami layaknya keluarga Nae. Jadi kalau kamu buat dia uring-uringan kaya dulu, sampai ceroboh kena peluru nyasar, sementara saya tahu penyebabnya apa, saya juga yang ngerasa salah."
"Sebentar, peluru nyasar?"
Kemudian mengalir cerita tentang Hanenda. Kuprediksi kejadiannya terjadi saat dia marah masalah beasiswa. Ternyata suhu badan yang panas waktu itu akibat dia tertembak saat ikut meringkus bandar narkoba. Sehari setelah dioperasi, Hanenda mendengar tentang aku yang akan ke Surabaya. Tidak mengindahkan nasihat dokter, Hanend ambil penerbangan tercepat.
"Diantara kami, Hanend yang paling banyak berkorban Nae. Tentang Ditya misalnya. Saya mencintai Ditya, Hanend selalu risih kalau Ditya terang - terangan menunjukkan perhatiannya. Semua pemberian dialihkan ke saya. Tapi secintanya saya, kalau waktu itu ada di posisi Hanend yang mendengar secara langsung tentang Ditya, saya nggak yakin mau menanggung semuanya."
"Sebentar, kata Hanend gak banyak yang gahu tentang ini, hanya .."
"Uko yang cerita. Hanend tau saya sudah berusaha melupakan Ditya, dia nggak mau membebani saya. Dia yah..memang kadang sebodoh itu."
.....
"Yang terpenting sekarang, kamu komunikasikan tentang aplikasi kamu secepatnya. Tahu sendiri dia dalam masa recovery trauma. Meski tampak baik-baik saja. Tapi kalau mendengar kamu bakal study di luar saya yakin dia gak bakal baik -baik saja."
"He's not that weak anyway."
"Are you sure? After all the things he went through?"
Aku diam.
"Saya akan ACC resign kamu, bahkan tanpa penalti, berdasarkan apa yang terjadi dengan Hanenda.
What?!
~•~•~•~•~
Deritaku sepertinya belum berakhir hari ini. Sepulang sekolah mas Cakra tiba - tiba menelpon untuk memintaku datang ke rumah sakit. Mama opname di sana dan meminta mbak Vit serta keluarga lainnya untuk menghubungiku. Kangen kata beliau.
Aku meminta izin ayah dan ibu. Mereka mengiyakan. Bahkan akan menyusulku ke RS untuk menjenguk nanti.
Kurapikan cepat alat tulis di atas meja sebelum memesan ojek online. Aku tidak membawa motor hari ini. Sengaja memanfaatkan voucher yang diberikan aplikasi ojol yang kugunakan. Daripada hangus, kan mubazir. (Baca: penghematan)
Hanenda Camitengku💕 [15.35]
Sudah pulang sayang?
Me [15.38]
Ini lagi nunggu ojol.
Hanenda Camitengku💕 [15.39]
Lho, motor kemana?
Me [15.40]
Ada di rumah. Ini lagi eman sama voucher.
Hanenda Camitengku💕 [15.42]
Ya sudah hati-hati. Kalau sampai saya dikabari ya.
Me [15.41]
Ok. Siap.
Jawaban pesan terakhir yang kukirimkan bersamaan dengan panggilan dari ojek online yang tertera di layar ponsel. Akupun segera bergegas keluar.
~•~•~•~•~
Mama memelukku erat begitu aku tiba di sana. Meminta maaf karena tidak pernah menghubungiku karena terlalu malu, ungkap beliau. Aku tentu saja berusaha menghibur, dengan balik meminta maaf karena aku juga tidak menghubungi beliau sama sekali.
Mbak Vit dan mas Cakra juga papa ada disana. Kami ngobrol beberapa lama. Suasana hangat layaknya dulu saat kami masih terikat keluarga masih terasa, setidaknya sampai Gatra datang. Ya, kemudian mau tidak mau, berubah canggung.
Aku kemudian pamit, karena merasa tidak enak sendiri. Meskipun mama, papa, mbak Vit juga mas Cakra terlihat begitu semangat membuat topik yang sekiranya "aman" untuk kami turut serta berinteraksi.
Mama terlihat tidak rela. Tapi aku tetap undur diri. Selain sudah lelah seharian di dera beban pekerjaan dan emosi, aku juga jengah mendapati Gatra menatapku dengan pandangan yang tak biasa.
"Nae, bisa bicara sebentar."
Aku menghentikan langkah sejenak sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara di belakangku.
"Maaf, saya nggak.."
"Sebentar saja, aku mohon."
Baik katakanlah aku bodoh, karena pada akhirnya kami berada disini. Di kedai seberang rumah sakit.
Gatra tampak sedikit kacau. Berbeda dengan terakhir kali kami bertemu. Sorot angkuh di matanya tak lagi kutemu. Dia, sepertinya kembali menjadi laki-laki yang pernah ada di dalam hidupku.
"Aku, minta maaf Nae. Untuk semua. Semua yang sudah kamu alami. Semua kesusahan dan kesedihan kamu di masa lalu karena saya. Saya minta maaf."
What!? Wow..ini Gatra kenapa bisa tiba-tiba sadar?
"Forget it, sudah lalu. Saya juga sudah lewati proses memaafkan."
"Thank you"
....
"Kamu baik-baik saja, Nae? Ayah, ibu juga Naka sehat?"
"Alhamdulillah, saya sekeluarga sehat."
"Syukurlah."
....
Aku mulai merasa tidak nyaman. Pandangan Gatra yang sendu, juga rasa bersalahnya yang tiba-tiba sangat membuatku ingin secepatnya beranjak dari tempat ini.
"Aku tidak baik-baik saja, Nae. Aku menyesal."
Ok. Sebaiknya aku pamit. Tidak ingin sesi curhat ini berlanjut.
"Tra, saya harus pa.."
"Aku hampir cerai Nae."
Aku menghela nafas. So what? Harus dia cerita masalah keluarganya?
"Tapi, Gupita hamil..."
Aku membelalakkan mata. Bukan karena berita yang dia ucapkan. Tapi raut sedih saat mengabarkan istrinya hamil. Demi Tuhan! Harusnya dia bahagia kan!?
"Aku tahu, harusnya ini kabar gembira. Tapi, aku terlalu sakit hati untuk kembali. Aku..."
"Tra, apapun masalah kalian saat ini, bukan urusanku okay? Selamat. Yang jelas, jangan ulangi kesalahan di masa lalu. Jaga bayi kalian baik - baik. Semoga persalinannya nanti lancar. Kamu harus perbaiki apapun yang terjadi demi bayi kamu. Bisa kan? Maaf, saya nggak bisa lama, ini ayah ibu juga sepertinya hampir sampai di rumah sakit."
Beruntunglah pesan singkat ayah menyelamatkanku. Gatra tampak kecewa. Tapi apa peduliku? Aku tidak mau ada salah paham atau drama terjadi lagi jika tiba-tiba Gupita menemukan kami jalan berdua seperti ini.
Aku bernafas lega setelah keluar dari kedai. Kulihat ibu dan ayah berjalan menuju pintu masuk, aku bergegas menyusul mereka. Gatra mengikutiku dari belakang.
Setelah mencium tangan ayah dan ibu juga menyebutkan nomor kamar tempat mama dirawat, aku pamit pulang. Lagi pula ada Gatra yang menemani orang tuaku menuju kamar.
Ibu dan ayah tampak sedikit kaget melihat Gatra ada di belakangku. Apalagi saat dia mencium tangan keduanya. Ajaib. Akupun heran. Dia seolah kembali menjadi Gatra sebelum hilang akal dan perasaan.
Yah, anggap saja, dia sudah belajar menjadi lebih baik. Amin.
Baru saja melangkah dari pintu keluar, ponselku bergetar.
Hanenda Camitengku💕 [19.04]
Kalau urusan dengan mantan suami selesai, saya tunggu di sini. Parkiran RS kamu berada sekarang. Satu - satunya Expander hitam.
Glek.
Yang masih setia mana suaranyaaaa??😁😁
Comments and Votes will be well appreciated!
Typos? Feel free to let me know. :)
Thanks
XOXO