To be Better [END]

By dlapril

29K 1.7K 29

Pada awalnya Morin tak ingin melakukan hal yang sejatinya dibenci oleh semua orang namun, mau bagaimana lagi... More

PROLOG
1.Wajah Baru✅
2. Bohong✅
3. Si Kembar✅
4. Akhirnya
5. Menyebalkan
6. Sang Malaikat
7 . Disidang
8. Karenanya
9. Pesta
10. Jawaban
11. Ngumpet
12. Pembalasan
13. Hasil
14. Keputusan
15. Perpisahan
16. Sendiri
17. Pertamakali
18. Adaptasi
19. Hujan
20.Teman Sekamar
21. Dia
22. Dingin
23. Kembali
24. Menyamar
25. Jatuh
26. Luka
27. Mencoba
28. Keyakinan
30. Bersatu

29. Bertemu

709 41 0
By dlapril

Delapan tahun kemudian

Rumah yang dulunya ditempati lima anggota keluarga kini telah ditempati oleh enam anggota keluarga. Ada Lando, Morin, Megi, Stefen dan Stefani (anak kembar dari Lando dan Megi), ada juga Ranu yang kadangkala menginap disini saat mengambil cuti kuliah.

Lando sekarang menjalankan perusahaan milik ayahnya dan Morin membuka kembali butik yang dulu pernah dikelola oleh ibundanya. Sedangkan Ranu menganyam pendidikan kuliah di Singapura.

Pagi ini Morin sedang mencari kunci butik yang entah kemana hilangnya, padahal itu adalah kunci keempat kalinya yang hilang selama seminggu ini.

"Jangan sampai hilang, atau aku harus memanggil tukang kunci lagi." Keluh Morin sambil mencari kuncinya di laci kamar.

"Apa Tante mencari ini?"
Tiba-tiba datanglah dua keponakan Morin yang telah mengalungkan kunci itu di lehernya sambil mengejek Morin.

Morin memang mengikatkan tali pada lubang kunci itu agar ia bisa menggantungkannya di lemari pakaian. Namun masih saja bisa diambil oleh dua keponakannya yang hampir masuk sekolah dasar.

"Kesini. Berikan pada Tante, Sayang!" Pinta Morin dengan lembut sambil meminta dengan kedua tangannya.

"Tante jawab pertanyaan aku dulu!" Kata Stefani.

"Yang pasti tante tidak tahu jawabannya."

"Tante kan belum tahu pertanyaannya." Sambung Stefan.

"Baiklah. Apa?"

"Tante kapan punya pacar?" Tanya keduanya secara bersamaan.

"Tante tidak tahu."
Entah kenapa pertanyaan yang dilontarkan keduanya selalu sama setiap hari, dan Morin hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

"Tidak tahu lagi." Ucap Stefani. Anak kecil itu mengharapkan jawaban yang berbeda tapi Morin tetap saja menjawab dengan jawaban yang sama.

"Padahal om Ranu sudah punya lho." Kata Stefan tanpa berfikir dahulu. Terlihat Stefani menyenggol tangan Stefan.

"Stefan. Dimana kamu melihatnya, Sayang?"

"Jangan kasih tahu, nanti Tante marah." Bisik Stefani kepada Stefan, namun bisikannya itu masih bisa didengar oleh Morin.

"Tante janji tidak akan marah."

"Baiklah. Kami berdua melihatnya di kedai pizza saat mengantar papi ke kantor." Jelas Stefan.

"Sekarang kembalikan kunci Tante ya?"

"Tidak." Jawab keduanya begitu kompak dihadapan Morin.

"Kak Megi! Tolonglah diriku ini!" Karena kehabisan akal dan waktu hampir menunjukkan pukul tujuh, Morin berteriak meminta tolong kepada Megi yang sedang memasak di dapur.

"Stefan! Stefani! Berikan kuncinya ke tante, Sayang. Nanti mama buatin kue untuk kalian berdua!"

Setelah mendengar perkataan Megi, keduanya pun memberikan kunci kepada Morin, lalu turun menemui Megi di dapur.

Morin mengambil tasnya, lalu turun ke dapur untuk berpamitan kepada Megi sebelum akhirnya ia pergi ke butik.

*****
Hari ini cuacanya kurang mendukung, awan hitam dan gemuruh menandakan hujan akan segera datang.

Lain suasana di kedai pizza yang ramai pengunjung, terutama anak-anak muda. Terlihat Ranu tengah mengobrol dengan seorang gadis berambut pendek dengan kerudung yang menutupi separuh kepalanya.

"Ranu! Gue denger lo bisa mengaji dengan baik ya?" Tanya gadis itu yang kerap disapa Rara.

"Ya. Memangnya kenapa?" Tanggap Ranu.

"Bisa nggak Lo ngajarin gue ngaji? Please gue pengen banget bisa ngaji."

"Bisa. Tapi bukan dengan aku."

"Lha terus sama siapa dong?"

"Sama-"

Belum saja Ranu melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Morin datang lalu duduk di bangku sebelahnya.

"Bisakah kita kenalan?" Morin menyodorkan tangannya kepada gadis itu.

"Namaku Morin. Kakaknya Ranu." Lanjut Morin dengan senyum ketika Rara menjabat tangannya.

"Rara." Balas Rara agak heran dengan kedatangan Morin secara tiba-tiba.

"Kakak kenapa bisa ada disini?" Tanya Ranu agak pelan kearah Morin.

"Aku kesini karena Stefan."

"Pasti anak itu bilang aku sedang pacaran kan?"

"Tepat."

"Ehm! Jadi Ranu tadi Lo bilang gue bisa belajar ngaji sama siapa?" Rara kembali menanyakan pertanyaan yang tadi belum sempat Ranu jawab.

"Kamu bisa belajar dengan kakakku ini." Jawab Ranu.

"Apa kau yakin ingin bisa mengaji?" Tanya Morin kepada Rara.

"Benar kak."

"Baiklah kamu bisa datang ke rumah Ranu sore hari saat kamu punya waktu luang."

"Apa aku boleh mengajak yang lainnya?"

"Iya. Hanya jika mereka memang memiliki kemauan untuk mengaji."

"Terimakasih, Kak. Terimakasih, Ranu."

"Sama-sama." Balas Ranu tersenyum.

"Sebaiknya kalian berdua pulang sebelum hujan datang!" Perintah Morin kepada keduanya.

"Tapi, Kak! Aku-" Hampir saja Ranu akan menentang perintah Morin.

"Ranu! Kak Megi butuh bantuanmu di rumah." Sela Morin.

"Baiklah. Aku pulang dulu , Ra!"

"Iya. Gue juga akan pulang, soalnya takut bunda nyariin." Balas Rara.

Setelah Ranu dan Rara pulang ke rumah. Morin melanjutkan perjalanannya ke butik.

Morin berjalan menuju halte di perempatan jalan. Ia duduk menunggu bus lewat didepannya. Namun tidak ada satupun yang lewat. Morin pun memutuskan untuk lanjut berjalan menuju butik sambil berharap ada taksi yang lewat.

Morin terus berjalan santai. Dilain sisi awan semakin menghitam dan menurunkan setetes demi setetes air.
Sedangkan daritadi taksi tidak kunjung lewat.

"Astagfirullah. Aku lupa bawa payung." Ucap Morin sedikit bingung karena rintik gerimis mulai lebat.

Tiba-tiba saja ada mobil berhenti dan seseorang keluar dari dalamnya sambil membawa payung menuju Morin.

Morin tidak tahu persis itu siapa karena matanya tertutup oleh kacamata.

"Assalamualaikum?"
Seseorang itu mengucapkan salam kepada Morin.

Saat mendengar suara itu Morin teringat seseorang di masa lalunya.

"Waalaikumsalam, Alif?" Jawab Morin, yakin dengan apa yang barusan ia katakan.

'Ternyata kau masih mengenaliku hanya lewat suaraku, Morin.' Pikir Alif dalam hatinya.

"Mari masuk kedalam mobil saya dulu sebelum kamu basah kuyup!" Saran Alif.

Morin hanya mengangguk dan mengikuti langkah Alif menuju mobilnya.

"Tunggu! Aku dibelakang saja ya?"
Morin menolak untuk duduk didepan karena memang seharusnya ia duduk di bangku belakang.

"Saya tidak bisa mendengarmu. Masuklah! Sebelum saya juga basah kuyup." Dusta Alif, padahal suara Morin terdengar jelas di telinganya.

Tanpa pikir panjang Morin akhirnya masuk kedalam mobil dan duduk di bangku depan bersama Alif.

Didalam mobil Alif melepaskan kacamatanya. Sekarang terlihat jelas kalau yang disamping Morin adalah Alif.

"Maaf, kamu bisa tolong saya?" Tanya Alif.

"Apa ada yang kamu butuhkan?"

"Tolong taruh kacamata ini di laci mobil."

"Baiklah." Morin mengambil kacamata yang diberikan oleh Alif.

Morin membuka laci mobil itu dan tiba-tiba sebuah kotak cincin dan selembar kertas jatuh tak sengaja saat mobil Alif melewati polisi tidur.

"Maaf, biar aku ambil." Morin mengambil kotak cincin dan srlembar kertas itu, saat ia mengambilnya teryata itu adalah sebuah foto. Terlihat wajah seorang gadis cantik berbalut hijab yang sedang tersenyum.

'Subkhanallah, cantik sekali gadis ini. Apa mungkin dia tunangan Alif?' Ucap Morin dalam fikirnya.

"Morin! Apa kamu baik-baik saja?!" Kejut Alif agak melirik wajah Morin yang terlihat kaget.

"Iya." Balas Morin lalu segera membalikan foto dan kotak itu kedalam tempatnya, namun pada saat ia ingin menaruh kotak itu kedalam laci, Alif meminta bantuannya lagi.

"Morin, bisakah saya meminta bantuanmu lagi?"

"Tentu, apa itu?"

"Tolong kamu pakai cincin yang ada didalamnya."

"Tolong pakai dijari manis mu ok?!" Lanjut Alif.

"Tapi,ini-"

"Please."

"Baiklah." Morin menyematkan cincin itu dijari manisnya.

"Sudah?" Lanjut Morin yang memperlihatkan kepada Alif.

"Bagus! Oh iya apa menurutmu seseorang akan suka dengan cincin itu?"

"Ya." Singkat Morin, lalu mengembalikan lagu cincin itu ke tempatnya.

"Katakan sekali lagi!"

"Iya! Seseorang itu pasti akan senang menerima cincin ini!" Ucap Morin agak menekan suaranya, sedangkan Alif hanya tertawa kecil.

"Tapi sebenarnya sih orang yang memberikannya lebih bagus lagi daripada cincinnya." Guman Morin agak pelan.

"Apa kau bilang?! Coba ulangi lagi!"

"Berhenti disini!" Balas Morin cepat dan mengalihkan pandangan Alif ke butiknya.

"Apa kau bekerja disini?"

"Iya. Lebih tepatnya ini dulu milik ibuku."

"Oh."

"Alif, terimakasih atas tumpangnya ya?" Ucap Morin setelah keluar dari mobil.

"Iya. Dan, Morin!"

"Iya ada apa?"

"Terimakasih atas bantuannya hari ini."

"Sama-sama, hati-hati dijalan."

"Assalamualaikum?!"

"Waalaikumsalam."

Morin menatap kepergian Alif dengan mobilnya itu. Morin yang awalnya mendambakan Alif sebagai jodohnya, ternyata yang ia dambakan salah. Kini Alif akan melamar orang lain.

_______________ Bersambung

Please VOMENT Gays!!!

"Terimakasih."

Continue Reading

You'll Also Like

893 130 16
"Kenapa sih lo gak pindah aja ke agama gue Lun?" Tanya Andreas serius. "Kalo, gue pindah agama ke agama lo, yakin lo masih mau nerima gue?" Balas Lun...
502 27 9
Leana tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan kembali dihadapkan pada bayang-bayang masa lalu yang kelam. Ketika ia menemukan Arnan, seorang pria...
209K 5.7K 9
Erine tak pernah menyadari bahwa setiap langkahnya di panggung, setiap gerakan tariannya yang anggun, selalu ada sepasang mata yang mengawasi-mata mi...
kamar ujung By Dikla Tarsis

Mystery / Thriller

49 20 10
Sun-Mi, seorang mahasiswi pindahan, mendapat kamar di dekat ujung lorong asrama yang terkenal dengan cerita-cerita mistisnya. Suara ketukan di tengah...
Wattpad App - Unlock exclusive features