RIVAN

By CiciSilvia27

779K 30.1K 641

Menjalin hubungan dengan Lili, tidak mudah untuk hubungannya berjalan mulus. Rivan Eldaren, cowok yang terken... More

Part 01
Part 02
Part 03
Part 04
Part 05
Part 06
Part 07
08 - MINE
Part 09
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
18 BAKTI SOSIAL
Part 19
Part 20
Part 21
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
28 - LILI & FAFIAN
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
β–ͺ Part End β–ͺ

Part 22

11.6K 531 6
By CiciSilvia27

Dua hari berlalu, Rivan sudah berusaha mencari keberadaan Lili, Rivan menyesal karena dirinya gagal mengaja Lili. Rivan dan anak yang lain sudah mencari keberadaan Lili, tapi sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana keberadaan Lili.

Rivan mengacak rambutnya frustasi, saat Lili menghilang begitu saja tanpa kabar. Membuat diri Rivan semakin berantakan, bahkan Rivan sempat menelfon Linggar sekedar basa-basi. Rivan pikir Lili menyusul Linggar, namun tebakannya salah Linggar malah menanyakan keadaan Lili.

Rivan menghela nafas lalu memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan dirinya. Galih, Fazan, Fafian, Jefan, dan Dior menatap prihatin Rivan. Karena semenjak Lili menghilang, Rivan menjadi lebih emosional bahkan Galih sempat menjadi sasaran samsak Rivan.

"Sialan, gua bodoh! Gua tolol, harusnya dihari itu gua terus mantau Lili. Tapi gua malah biarin dia sendirian." Rivan melempar gelas kearah dinding

"Tenang, Van. Kita semua udah berusaha sebisa mungkin." ucap Fazan

"Gimana gua mau tenang, sedangkan gua nggak tau dimana Lili!!" Sentak Rivan

"Gua paham. Tapi bener apa kata Ojan, Van. Lo harus tenangin diri lo, kalo lo terus uring-uringan kaya begini, lo nggak akan bisa berpikir jernih." ucap Jefan

"Tapi gua nggak bisa tenang! Gua takut Lili kenapa-napa." ucap Rivan mulai lirih

Mereka tahu kalau sudah menggenai Lili pasti Rivan akan paling khawatir. Karena cewek itulah yang pertama kali hadir dalam hidup Rivan. Walau mereka tahu Rivan cowok yang sangat susah di tebak, tapi jika menggenai orang yang Rivan sayang dia tidak akan main-main.

Rivan juga sudah menyesali telah menyuruh Lili pergi dari hidupnya. Tapi walau hubungan mereka berdua sudah tidak ada, Rivan tetap memantau Lili dari jauhan. Namun sekarang apa ? Ia gagal menjaga Lili, bahkan setiap kali Rivan menghubungin ponsel Lili tetap tidak aktif.

Kamu dimana Lili. Aku khawatir sama kamu, aku takut kamu kenapa-apa. Maafin aku, Li. Aku gagal. Batin Rivan

"Tenangin diri lo. Kita bakal usahain cari Lili, gua juga udah suruh anak CMS lain buat bantu cari." ucap Galih

"Iya, Van. Lo tenang aja, ada kita yang bakal bantu cari Lili." kata Dior

"Lo nggak perlu khawatir gua percaya Lili cewek yang kuat, Van. Berdoa semoga Lili baik-baik aja." ucap Fafian

"Lo harus tenang. Gua percaya cewek yang lo sayang bakal ketemu, Van. Ada kita tenang aja." Jefan menepuk bahu Rivan

"Ada kita apa gunanya kalo nggak bantu. Disini kita harus solid, disini kita juga harus saling bantu. Jadi lo tenang aja, Ketua." kata Fazan

Rivan diam menatap sahabatnya satu persatu. Ada rasa lega karena mereka selalu ada untuk dirinya, bahkan mereka keluarga kedua Rivan mereka juga yang selalu ada untuk Rivan disaat suka maupun duka.

"Makasih. Gua bersyukur bisa kenal kalian semua." ucap Rivan pelan

"Gua lebih bersyukur bisa kenal lo dan yang lain bos. Karena bagi gua lo semua itu terbaik." seru Fazan

"Bisaan aja lo centong nasi."ucap Fafian

"Iri hati mulu lo." Fazan menoyor kepala Fafian

Sontak semua terkekeh melihat Fazan dan Fafian. Memang Fazan lah yang selalu membuat kekonyol. Rivan hanya tersenyum tipis melihat Fazan dan Fafian.

•••••

Didalam kamar yang temaram. Seorang cewek yang terus menangis disudut kamar seraya memeluk kedua kakinya. Bahkan penampilannya sudah sangat kacau, rambut sangat berantakan baju lesu. Lili terus menangis ketakutan, bahkan ia menahan sakit dibagian lengan juga pipinya.

"Rivan, gua takut." gumam Lili

Pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian rapih masuk kedalam kamar. Pelayan tersebut membawa nampan berisi makanan untuk Lili. Pelayan tersebut menyalakan lampu, sontak terkejut saat melihat seisi kamar sangat berantakan. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah Lili yang tengah meringkuk disudut kamar.

Pelayan itu kasihan melihat kondisi Lili yang sangat kacau. Ingin rasanya ia menyalamatkan Lili dan membantu keluar Lili dari kamar itu, namun apa daya jika ia membantu Lili keluar. Ia akan diancam oleh Hillar. Pelayan itu bernama Mina, Mina berjalan menghampiri Lili dan memegang pelan lengan Lili.

Lili terkejut, Mina menatap sendu wajah cantik Lili. Bahkan ada luka memar dipipi Lili, mata Lili sembab karena menangis. Lili menatap Mina seolah memohon untuk membantunya keluar dari kamar tersebut.

"Ayo dimakan." titah Mina

Lili menggeleng, "Bantu saya keluar dari sini, saya mohon!"

"Maafkan saya, saya tidak bisa membantumu." ucap Mina pelan

Hillar masuk kedalam kamar. Ia melihat Lili tengah memohon kepada Mina. Hillar geram melihat itu, ia langsung menarik lengan Lili dengan kasar. Mina yang melihat itu terkejut ia langsung mundur selangkah. Lili meringis kesakitan dan air matanya tumpah kembali.

"Mina!! Apa yang kamu lakukan, saya hanya minta kamu untuk menggantarkan makanan! Bukan untuk mendekati dia atau mengajaknya ngobrol, sekarang kamu keluar." Sentak Hillar

"Maafkan saya, Aden. B-baik saya permisi." ucap Mina seraya pergi, namun ia masih bisa melihat Lili yang tengah menangis kembali

"Sayang! Kamu nggak boleh minta bantuan sama siapapun. Disini itu rumah kamu, jadi kamu boleh pulang hanya kesini." ucap Hillar seraya mencium kening Lili

Lili mendorong tubuh Hillar. Dan membuat Hillar mundur kebelakang.

"Gua mau pulang, ini bukan rumah gua!! Dan lo bukan siapa-siapa gua. Lo itu cowok brengsek, Hillar. Gua mau pulang, lepasin gua." teriak Lili

Hillar tertawa "Sampai kapanpun juga kamu nggak akan bisa keluar dari disini, kamu itu punya aku, Lili Ravenna."

"Lo gila!! Lo gila, Hillar. Harusnya itu lo nggak ada disini tapi tempat lo dirumah sakit jiwa." Sentak Lili seraya nampar Hillar

Hillar hanya tersenyum lalu ia langsung mencengkram lengan Lili dan menekan lukanya. Lili meringis kesakitan, luka yang masih basah dan belum kering ditambah lagi dengan cengkraman Hillar.

"Siksa gua! Siksa sampai lo puas." Teriak Lili

Mina yang berada dibalik pintu kamar. Mendengar teriakan Lili, rasanya ia tidak tega terus mendengar suara Lili. Bahkan bagi Mina, cewek yang tengah disiksa oleh Hillar saat ini cewek yang sangat baik. Mina tidak tega lagi, ia langsung berlari dan mencari tempat aman untuk menelfon seseorang. Mina langsung menelfon seseorang lewat ponselnya.

"Aden harus kesini, ini tentang Hillar. Tolong bibi, Hillar mulai kambuh lagi."

"......"

"Cepat, Aden!"

Mina langsung memasukan ponselnya kedalam saku setelah menelfon seseorang. Mina khawatir terhadap Lili yang masih disiksa oleh Hillar. Jujur saja Mina tidak berani jika Hillar sudah menggamuk, tidak ada satupun orang yang berani mendekatinya disaat Hillar mulai hilang kendali. Bahkan orang tuanya sudah mulai tidak peduli terhadap Hillar, karena Hillar pernah hampir mencelakakan ibundanya.

Sebuah mobil BMW berwarna hitam terparkir rapih dirumah besar. Seorang cowok berbadan kekar dengan pakaian santai, melangkah masuk kedalam rumah besar tersebut. Mina berlari menghampirinya, ia bernafas lega karena seseorang yang ia telfon sudah datang.

"Dimana Hillar, Bi ?" Tanyanya

"Dikamar." ucap Mina

Tanpa berfikir panjang ia langsung melangkah kelantai atas menuju kamar Hillar. Setelah sampai didepan pintu berwarna putih, ia mendengar suara seorang gadis didalam tengah berteriak-teriak. Namun baginya suara teriakan gadis didalam sana sangat familiar.

Didalam kamar Lili tengah berteriak, ia terus menangis, dan menangis bahkan Lili berontak namun selalu sia-sia. Karena tenaga Hillar sangat kuat, Lili memandang Hillar sendu. Ia telah menyesal karena pernah menggenal Hillar, bahkan sikap cowok yang ada dihadapannya ini sudah benar-benar berubah.

"Cukup, apa kamu nggak cape terus berontak seperti ini. Cukup, Sayang." bisik Hillar

Hillar menarik tubuh Lili ketempat tidur, Lili melihat Hillar tengah mengambil sesuatu yang ada didalam laci. Namun pandangan Lili tertuju kepada sebuah bingkai foto, disana ada tiga cowok yang tengah tersenyum difoto itu. Namun Lili sangat mengenali salah satu dari ketiga cowok itu.

Pikiran Lili kini mulai tertuju kepada seseorang yang dekat dengannya, namun ia tepiskan. Hillar mengambil jarum suntik yang sudah berisi cairan bius. Lili melihat itu langsung mundur dari tempat tidur dan turun. Lili sempat teriak karena kakinya menginjak serpihan kaca. Hillar tersenyum miring, ia melangkah kearah Lili.

"Mau kemana." Sentak Hillar

"Arrghh!! Gua mohon jangan sakitin gua, gua mohon." ucap Lili

Hillar tidak peduli. Ia langsung menarik lengan Lili, namun saat Hillar ingin menyuntikan jarum kearah Lili. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka sangat keras.

Brakk!!!

Sontak membuat Lili terkejut. Lili menatap seseorang yang tengah berada diambang pintu. Hillar hanya menatap biasa saja, Lili menggeleng kepalanya tidak percaya.

"Yovan!" Ucap Lili terkejut

Seseorang yang sudah Mina telfon adalah Yovan. Yovan tidak percaya apa yang ia lihat saat ini, cewek yang sangat ia sayang. Dan mata Yovan langsung menatap kearah Hillar yang tengah membawa suntikan, Yovan menggepalkan tangannya.

"Yovan! Tolongin gua." isak Lili

"Hillar, cukup!" Teriak Yovan

"Jangan sakitin Lili! Lo nggak boleh kaya gini, kenapa lo jadi berubah." Sambung Yovan

"Yovan! Tolongin gua, gua mohon." isak Lili kembali

"Lili milik gua!" ucap Hillar

Yovan tidak peduli dengan Hillar, ia langsung menarik Lili dari tangan Hillar. Hillar menatap geram kepada Yovan.

"Berani lo bawa pergi dia! Gua nggak akan segan buat hancurin hidup keluarga lo, dan terutama gua bakal bongkar siapa lo." Ancam Hillar

Mendengar ancaman Hillar, sontak membuat Yovan berhenti. Yovan menatap Lili yang sudah lemas, Lili menatap Yovan dengan penuh harapannya agar ia bisa terbebas dari Hillar.

Gua nggak mau keluarga gua hancur gara-gara cowok bangsat itu!! Apalagi gua belum siap, Lili tau siapa gua. Ya tuhan gua harus gimana. Batin Yovan

"Gimana! Kembaliin dia ke gua, lo aman. Tapi kalo nggak, lo nggak akan aman." ucap Hillar santai

"Yovan." Ucap Lili lirih

Yovan mengangkat tangan pertanda kalo Yovan menyerahkan Lili. Lili menggeleng kepala tidak percaya, namun tidak perlu berpikir panjang Lili langsung melihat kearah pintu kamar yang terbuka. Kesempatan Lili sangat sedikit saat ini, Lili langsung berlari keluar dari kamar ia tidak peduli kakinya terluka.

Lili berlari sekencang mungkin. Ia juga mendengar teriakan frustari dari Hillar. Mina yang bersembunyi melihat Lili berhasil kabur, hanya bernafas lega. Lili sudah berada diluar rumah besar itu, namun saat Lili melihat kebelakang ternyata Hillar mengejarnya. Lili terus berlari, walau sesekali ia kesakitan karena kakinya

Gua harus kuat. Batin Lili

Lili melihat kebelakang kembali ternyata sudah tidak ada Hillar. Ia mencari, kendaraan umum agar ia bisa pulang kembali. Namun sial, tidak ada satupun kendaraan umum yang lewat. Ia berpikir apa karena daerahnya sangat jauh dari kota. Lili terus berlari mencari kendaraan yang lewat, bahkan Lili sudah cukup jauh dari rumah Hillar.

Nafas Lili sudah mulai lelah, bahkan kepalanya mulai pusing dan juga penglihatannya mulai menggabur. Sebuah mobil sport berwarna pink berhenti disamping Lili. Lili yang mendengar suara mobil yang berhenti disampingnya langsung melihat. Seorang cewek keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah Lili.

"Lili!!"

Belum sempat Lili melihat wajah cewek yang ada dihadapannya, pandangannya mulai gelap. Lili hanya mendengar jika cewek tersebut memanggil namanya saja.

••••

"Mega, gimana keadaan cewek gua." ucap Rivan panik

Cewek yang disebut namanya Mega itu menoleh kearah Rivan dan yang lainnya. Wajah Rivan sangat panik dan gelisah saat ini.

"Gua nggak tau, Rivan. Dokter masih cek keadaan Lili." ucap Mega

"Mega, gimana lo bisa nemuin Lili ?" tanya Galih

"Waktu itu gua ditelfon Yovan, buat dateng kerumah Hillar. Gua juga nggak tau, Yovan bilang kalo Hillar mulai hilang kendali. Dan saat gua dalem perjalanan mau kerumah Hillar, gua familiar liat Lili dipinggir jalan dalem keadaan yang kacau. Disaat itu juga Lili pingsan." jelas Mega

Semua yang berada disitu mengerutkan dahinya menatap Mega.

"Hillar ? Rumah ?" Tanya Fafian

Saat itu juga dokter keluar dari dalam ruangan. Rivan langsung menghampiri dokter tersebut.

"Dokter, gimana keadaan Lili ?" tanya Rivan

"Pasien baik-baik saja, namun pasien mengalami luka ringan dan trauma. Jika kalian ingin melihatnya tolong jangan berisik, karena pasien butuh istirahat, saya permisi." jelas dokter seraya pergi

Rivan langsung masuk kedalam. Ia menatap wajah Lili yang memar, bahkan semua badannya banyak luka memar. Rivan meneteskan air matanya saat melihat keadaan Lili lemah, lalu ia mencium kening Lili.

"Maafin gua, gua gagal." gumam Rivan

Mata Lili perlahan terbuka. Ia melihat sekelilingnya berwarna putih semua. Dan Lili melihat Rivan berada disampingnya, Rivan tersenyum saat Lili sadar.

"Rivan ?" Ucap Lili pelan

"Kasih tau gua mana yang sakit." ucap Rivan khawatir

"Rivan." Lili terisak dan langsung memeluk tubuh Rivan

Rivan sontak terkejut saat Lili histeris. Ada perasaan aneh saat Lili memeluknya seperti ini. Seolah rasa sakit yang Lili rasakan berpindah kepadanya, bahkan tubuh Lili bergetar seperti ketakutan.

"M-maafin gua." isak Lili

"Jangan minta maaf lo nggak salah." ucap Rivan pelan

"G-gua takut."

Rivan melepaskan pelukannya "Apa yang lo takutin, ngomong sama gua. Siapa yang nyakitin lo."

"Lili, lo nggak papa ?" suara Mega membuat Lili menoleh kearahnya

"Gua takut." Seru Lili

"Lili, lo kenapa, apa yang lo takutin ?" Tanya Mega mulai cemas

"Lili apa yang lo takutin." titah Rivan

"Hillar, Yovan! Mer--argh!!!" Lili mengacak rambutnya frustasi

Rivan langsung memeluk Lili. Ia tidak tega melihat Lili seperti ini. Namun dibalik itu semua ada amarah yang sedang Rivan tahan. Saat Lili menyebut nama Hillar dan Yovan, ia sangat marah. Jefan, Galih, Fazan, Fafian, dan Dior juga Mega diam menatap Lili yang tengah ketakutan.

Pandangan Galih langsung tertuju kepada Mega yang tengah menatap Lili cemas. Galih menatap Mega seolah ingij menanyakan sesuatu.

"Mega, lo bisa ikut gua keluar, ada yang mau gua omongin." ucap Galih

"Gua ikut." ucap Fafian

"Kita juga." ucap Fazan dan Jefan

Mega dan yang lain keluar dari ruangan kamar Lili. Dior berada didalam bersama Lintang, yang sejak tadi hanya diam dan menangis menatap sahabatnya yang terluka. Rivan berusaha terus untuk menenangkan Lili, namun Lili terus histeris dan seolah ia sedang sangat takut.

"Ada gua disini, jangan takut nggak ada yang berani sakitin lo lagi. Jangan buat gua khawatir, tenang ya." bisik Rivan lembut

"Gua takut, Rivan." isak Lili

"Its okay, i'm here, Baby."

Lili memeluk tubuh Rivan sangat erat seolah ia takut jika Rivan akan meninggalkannya. Dan tidak akan ada disampingnya. Hati Rivan sakit saat melihat cewek yang dia sayang seperti ini kondisinya.

"Gua masih sayang sama lo, gua menyesal udah suruh lo pergi. Maafin gua, maafin semua kesalahan gua, gua mau memperbaiki semuanya." gumam Rivan tangannya mengelus lembut rambut Lili

• TO BE CONTINUED •

• SPAM NEXT, UNTUK PART SELANJUTNYA •

• TERIMAKASIH •

Continue Reading

You'll Also Like

322 36 23
Pertemuan pertama mereka membuat sosok Revan tertarik dengannya. Seiring berjalannya waktu mereka menjadi teman dekat. Akankah pertemanan yang selama...
45.9K 1.1K 30
Larissa Amarante, gadis yatim piatu yang hidup dari panti asuhan dan bertahan karena kecerdasannya, tak pernah menyangka bahwa hidupnya di kampus ter...
20.8M 1.3M 62
Laki-laki itu menatap tajam gadis di hadapannya. "Kenapa dekat-dekat dia?" tanyanya dengan marah tertahan. Gadis itu mendongak menatap pacarnya itu...
872K 22.3K 49
π™’π˜Όπ™π™‰π™„π™‰π™‚βš οΈ π™π™–π™©π™š:18+ [π™π™Šπ™‡π™‡π™Šπ™’ π™Žπ™€π˜½π™€π™‡π™π™ˆ 𝘽𝘼𝘾𝘼 π˜Όπ™‰π˜Ώ π™‘π™Šπ™π™€ π™Žπ™€π˜½π™€π™‡π™π™ˆ 𝘽𝘼𝘾𝘼] π˜½π˜Όπ™‰π™”π˜Όπ™† π™π™”π™‹π™Š π˜Ώπ™„ π™Žπ™€π™π™„π˜Όπ™‹...
Wattpad App - Unlock exclusive features