Cinta Untuk Raka

By madinadandelion

170K 19K 5.9K

[Tamat] Mengapa bintang bersinar? Mengapa air mengalir? Mengapa dunia berputar? Lihat segalanya lebih dekat... More

Tengil
02_Ksatria
03_Peristiwa Baru
04_Membaca Pikiran Raka
05_Harus Bagaimana?
06_Gak Mau!
07_Makna Cinta
08_Rahasia Rahwana
09_Waktu
10_Pertama
11_Sashi
12_Jangan Sakit
13_Tak Terduga
14_Deal!
15_She
16_Hijrah
17_Deretan Para Mantan
18_Selangkah
19_Unpredictable
20_Terlanjur
21_Threat
Voting Result
22_Kawan Lama
23_Laki-Laki Sejati
24_Kejujuran
25_Rasa Yang Tersimpan
26_Siapkah Untuk Kehilangan?
27_Semua Butuh Perjuangan
28_Tiba Masanya
Pra Ending
29_Bimbang
30_Persimpangan Jalan
🙏
31_Lihat Lebih Dekat
32_Epilog

01_Alisa

11.1K 746 126
By madinadandelion

Perempuan itu masih duduk di depan cermin, riasannya telah lengkap, busana kebaya putih dengan ekor menjuntai telah dikenakan. Ditatapnya lekat-lekat wajah yang terpantul lewat cermin, kepalanya ingin berpikir, namun gagal. Di luar sana, Ayah dan Bunda tidak tahu apa yang tengah Alisa rasakan.

Firman adalah pria yang baik. Selama menjalin kasih dengannya selama tiga tahun -dengan dua tahun jarak jauh, Alisa tidak pernah mengalami hal tidak wajar. Laki-laki itu terbilang cukup saleh, itu yang sempat keluar dari bibir Bunda dan Ayah.

Kalau orang tuanya yang mengatakan itu, berarti Alisa tidak salah pilih. Iya kan..?

"Raka?" Alisa mengerjap saat pintu kamar telah terbuka. Dia ambang sana, berdiri laki-laki yang hanya bisa ia pandang dadanya -karena Alisa hanya setinggi bahu Bungsunya Sasongko, menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

"Hai, Ta." Raka mengenakan setelan jas hitam pagi ini, terlihat sangat resmi. Baru satu kali ini Alisa melihatnya seperti itu.

"Kamu sama siapa ke sini?" Alisa memutar tubuh, dilihatnya Raka berjalan mendekati, lalu laki-laki itu menarik satu bangku yang tadinya dipakai perias.

"Udah siap?"

Alisa mengangguk seraya tersenyum malu. "Mama Tia mana? Mas Barga?"

Raka menoleh ke belakang, "di luar."

"Oh." Alisa hanya bisa berkata satu kata itu, berdua dengan Raka di saat seperti ini kenapa jadi salting? Padahal akhir-akhir ini dia sudah berhasil mengembalikan vibe persahabatan seperti masa kecil mereka. "Aku cantik gak, Ka?" Alisa bertanya, mengalihkan rasa canggung yang menghampiri.

Raka tidak menjawab, ia justru mengedarkan pandangan ke sudut-sudut kamar Alisa. "Wallpapernya kenapa diganti?"

"Ha?"

"Udah rusak ya?"

Alisa mengangguk -lagi, dia sendiri lupa kapan wallpaper kamarnya telah berganti menjadi bunga daisy kecil berwarna pastel. Alisa merasa vibe kamarnya masih seperti dulu, identik dengan perempuan. Hanya saja, ia meninggalkan warna pink. Kata Raka tidak bagus, makanya diganti. Maunya biru seperti apa pinta Raka sebelum kepindahan yang Alisa anggap mendadak kala itu, tapi Ayah tidak menemukan gambar yang cocok. Akhirnya Alisa mengalah dengan warna pastel, yang penting tidak pink kan?

"Kamu yang bilang gak mau liat kamarku serba pinki-pinki."

Raka manggut-manggut, masih tidak juga melihat wajah Alisa yang siap untuk dinikahi Firman.

Setelah lima belas tahun tidak bertemu, Alisa melihat sahabat masa kecilnya itu berubah. Memang sih satu tahun setelah itu bukan waktu yang lama untuk ia bisa mengenal lagi Bungsunya Keluarga Sasongko tersebut. Tapi Alisa ingin Raka cerita banyak pada Firman tentang masa kecilnya dulu. Bahkan Alisa korban waktu mengapeli Mama Tia hanya untuk mencari foto masa kecilnya dulu demi slide yang ingin ia tayangkan di resepsi pernikahan nanti, dua minggu setelah akad. Kata Bunda, yang cetak banyak foto dulu itu Papanya Raka. Apalagi Mas Barga hobinya fotografi, sudah pasti foto-foto cetakan itu tersimpan dengan baik.

Misi Alisa berhasil, dia mendapatkan beberapa foto yang bagus. Sebagian di antaranya bersama Raka yang selalu tidak terlihat bagus kalau dijepret. Kadang pasang wajah usil, sering buang muka, kadang pasang tampang jutek minta ampun. Beda dengan Alisa yang selalu tersenyum, meski dua matanya jadi tertutup pipi yang lumayan tembem.

"Kamu udah liat slide yang mau diputer besok?"

Raka menggeleng.

"Padahal Mas Barga yang bikin, kamu kok gak liat?" Alisa protes. Ini Raka yang kebangetan gak punya waktu apa gimana? Harusnya Raka juga ikut taruh ide, minimal intip hasil karya Mas Barga yang kebut dikerjakan dua hari. Inginnya Alisa memang dadakan, untung Mama Tia pengertian, jadi Mas Barganya oke. Meskipun Alisa mungkin tidak tahu di balik itu ada Raka yang sedang berbohong.

"Gak tertarik," Raka kini menatap bola mata Alisa yang membulat saat binar mereka bertemu.

"Jahat banget sih!"

Raka berdecak saat Alisa menimpuknya dengan bantal. "Ta."

"Hem?"

"Kamu masih inget gak pohon yang biasa kita pake ayunan jaman kecil dulu?"

"Pohon yang di mana?"

"Rumah Kakekku."

Alisa tampak berpikir, lalu ia mengangguk. "Inget, kenapa emang?"

"Pohonnya udah mati."

"Loh, kok bisa?"

Raka mengangguk. "Mang Ujang salah guyur, maunya matiin serangga pake bensin, tapi caranya salah."

"Ya Allah, trus matinya gara-gara bensin itu?"

"Enggak."

"Lah kok?"

"Udah uzur aja."

Tangan Alisa spontan terulur memukul lengan Raka, ia berdecih. "Gak penting tau gak cerita tentang pohon! Nyebelin ih!"

Raka tersenyum, setelah sekian jam yang lalu ia bergulat dengan pikiran yang dipenuhi rasa amarah, akhirnya ia berhasil tersenyum di depan sahabat kecilnya itu.

"Ka."

"Hem?"

"Kalau aku udah nikah, stop panggil aku Cinta ya."

Alis Raka bertaut, ditatapnya lekat wajah teduh Alisandria Cinta, putri tunggal Ayah Farhan dan Bunda Sintha. "Kenapa? Takut calon suamimu cemburu?"

"Bukan gitu." Alisa menggeleng cepat, Raka tidak salah kalau memanggilnya Cinta, Cin, atau Ta. Toh namanya memang seperti itu. Tapi kalau di depan banyak orang, mereka jadi salah sangka kalau Raka itu punyanya Alisa. "Eum.., ntar dikirain aku istri kamu."

"Ya kan kalau istri bilangnya sayang, beb, ayangbeb, jarang ada yang bilang cinta."

"Masak sih?"

"Iya."

"Tapi aku sama Mas Firman..," belum selesai Alisa berbicara, ada suara memanggil.

"Neng Alisa."

Obrolan Raka dan Alisa tersela karena kehadiran perias pengantin, ditambah ada Wenda yang kini ikut berdiri di ambang pintu. "Kirain kamu di mana, Ka."

"Kenapa, Mbak Wen?"

"Masmu nyari." Wenda memandang wajah Alisa, seulas senyum ia berikan pada perempuan mungil yang sebentar lagi akan sah menjadi istri laki-laki yang beruntung. Perjodohan ternyata tidak selalu salah ya, buktinya Alisa dan Firman berhasil melalui masa itu. Tiga tahun pacaran, dan kini akan menikah.

"Selamat ya, cantik."

"Makasih, Mbak Wen."

Raka menghembuskan nafas pelan, dilihatnya interaksi kakak ipar dan Alisa. Menepuk dua paha, ia lalu berdiri, membuat Alisa mendongak.

"Mau ke mana, Ka?"

Raka mengamati wajah Alisa, dilihatnya jemari putih bersih perempuan itu. "Siniin."

Alisa tahu ke mana tujuan mata Raka, diangkatnya tangan kiri untuk meraih jemari Raka yang terulur padanya. Mereka saling menggenggam. "Doain ya, Ka."

Raka mengelus jemari Alisa, "doain yang kayak gimana?"

"Doain biar sakinah, mawadah, warahmah." Wenda memutus tautan jemari adik-adiknya, diambilnya dua tangan Alisa. "Bismillah, semoga dilancarkan."

"Iya, Mbak. Makasih banget doanya." Alisa memajukan tubuh, menerima pelukan Wenda.., serta tatapan tanpa ekspresi Raka.

Kamu kenapa sih, Ka?

-------

Barga tahu kalau pernikahan tetangga lamanya itu mungkin tidak akan berjalan mulus sesuai rencana. Dua jam lalu suasana penuh keharuan masih melingkupi mereka. Namun setelah kejadian sepuluh menit penuh drama, laki-laki itu harus pasang badan saat sang adik akan melakukan sesuatu di luar perkiraan.

"Ijinkan saya menikahi Alisa, Om."

Itu kalimat yang Raka ucapkan saat melihat Alisa pingsan. Kejadiannya sangat cepat, Pak Penghulupun juga ikut bingung, apalagi Ayah dan Bunda Farhan. Tangis dan amarah tidak bisa dihindari, membuat Firman dan keluarga besar terpaksa meninggalkan tempat prosesi.

Setelah berembug, ditambah Mama dan Papa Nur Sasongko yang akhirnya setuju dengan keputusan Si Bungsu, akad akan tetap dilanjutkan. Bukan Firman yang akan mengucap akad, melainkan Raka Mahendra, sahabat masa kecil Alisa.

"Kamu yakin Alisa gak apa-apa dinikahin Raka?" Wenda berbisik, tiba-tiba kebayanya terasa sesak, mungkin juga akibat shock yang masih dirasakan.

"Raka tau apa yang dia lakuin."

"Tapi ini nikah loh, Mas."

Barga menoleh pada sang istri. "Sejak kapan kamu sangsiin keputusan Raka?"

"Sejak..," Wenda akhirnya mengalah. Meski aslinya dia turut senang Keluarga Farhan tetap melangsungkan pernikahan putri tunggal mereka, namun rasanya tidak yakin saja. "Apa Raka cinta Alisa? Sejak kapan?"

"Sejak dia kekeuh manggil Alisa yang sekarang dengan nama kecilnya."

"Cinta?"

Barga tersenyum samar, "kali."

"Ish, kalian kakak adek gak ada bedanya. Jaimnya selangit. Bilang cinta aja apa susahnya sih?"

"Lha kan Alisa calon istri orang, Mi. Raka masih waras gak ngrebut."

"Iya juga sih." Wenda mengamati Raka yang terlihat menghapalkan akad sebelum prosesi dimulai. "Tapi sebentar lagi Alisa jadi adik iparku...," Wenda menoleh pada Barga. "Ibu Raka Mahendra."

Dalam pingsannya, Alisa tidak tahu hiruk pikuk yang terjadi di ruang tamu. Entah apa yang akan perempuan itu akan hadapi setelah siuman nanti.








--- Cinta Untuk Raka ---



Continue Reading

You'll Also Like

35.6K 1.6K 35
DEAR MISTER PRESIDENT RATARA ♪kesayangan tuan Presdir ratara ♪ cerita serena x ratara ke 8 Campuran Korea x Indonesia Jadi ada marga Korea baca aja c...
28.7K 2.5K 31
SUNSUN✓ "Gue cinta banget sama lo Kak, Gue gak tau kenapa gue bisa cinta sama lo, orang yang selalu ngomong hal jahat ke gue" "Jangan pernah lakuin h...
570K 32.1K 54
"cinta bukan hanya soal menyentuh" Lisa "cinta adalah sentuhan jika kau tidak bisa memuaskan nya maka kau akan kehilangan nya" jennie "Ini hanya misi...
Wattpad App - Unlock exclusive features