Is my choice wrong?

By AisyahIzzah151

337 30 19

"Sekarang, pilihlah... Jalan untuk menjadi manusia atau jalan menuju racun? " Dari pilihan itu, aku memilih u... More

Upacara darah

Kenyataan

190 15 14
By AisyahIzzah151

"Albafica!!! " sang Pope membuka pintu kamar dengan keras.

"Maafkan Albafica Master Lugonis, karena Albafica, Master ... " belum selesai aku mengucapkan kalimat tersebut, sang Pope sudah mengulurkan tangannya untuk memelukku.

"Albafica, kau pasti sangat trauma setelah mengetahui bahwa pilihan yang kau ambil telah membuat gurumu tiada. Kau selalu bermimpi buruk dan selalu terbangun dengan menangis sambil menyalahkan dirimu sendiri. Saya sebagai pemimpin dari para saint, tidak akan membiarkan kamu berlalu dengan kesedihan ini" sang Pope mendekatkan tangannya kearah kepalaku dan mengalirkan cosmonya untuk membuatku kembali terlelap.

"Akan kubawa kau besok kepada Krest, supaya kau bisa melupakan kejadian pahit itu. " direbahkannya kembali diriku dan ditutup nya pintu kamar secara perlahan nyaris tanpa suara.

Sudah lebih dari seminggu aku selalu terbangun dengan menangis sambil menyalahkan diriku sendiri, setelah mendapatkan mimpi buruk karena frustasi mengetahui bahwa aku telah membunuh guru sekaligus ayah bagiku.

Sang Pope yang mengetahui bahwa Lugonis telah mempertaruhkan nyawanya supaya aku menjadi seorang saint gold Pisces, menjemputku untuk tinggal bersamanya di Pope's Chamber sampai aku menjadi seorang saint gold Pisces selanjutnya menggantikan Pisces Lugonis.

-0oo0oo0-

"Sekaran, pilihlah... Jalan untuk menjadi manusia atau jalan menuju racun?. Secara alami kau ketakutan, kau harus segera pergi dari taman ini. "

"Tidak, aku bukan penakut. Master, untukku, seorang yatim piatu, anda dan tanaman inilah satu-satunya dunia untukku! Aku akan tetap disini, jika aku pergi sekarang aku akan merasakan kesendirian dan anda juga sendiri, Master... "

"Albafica. "

"Aku akan dengan senang hati membentuk ikatan merah darah Pisces denganmu! "
.
.
.
.
.
.
"Ugh... Mimpi itu lagi. " aku terbangun dari tidur nyenyakku sambil menyentuh kepalaku yang terasa pusing dan berat.

"Kenapa kepalaku selalu terasa pusing dan berat ketika memimpikan hal itu? "

"Ah, sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. " aku beranjak dari ranjangku dan bersiap untuk mengemban tugas sebagai seorang saint gold Pisces.

Sudah seminggu ini aku selalu memimpikan hal yang sama setiap malamnya. Hingga akhirnya aku mulai berpikir bahwa mimpi itu bukanlah mimpi biasa, melainkan seperti kejadian masa lalu yang tidakku ingat.

Setelah mengenakan cloth Pisces, aku pun segera menuju Pope's Chamber untuk menemui sang Pope yang akan memberitahukannya tentang misiku hari ini.

"Seperti biasanya Albafica, kau selalu datang tepat waktu. " sang Pope tersenyum melihatku datang.

"Tentu saja Pope, saya sebisa mungkin tidak akan terlambat melakukan tugas saya sebagai seorang saint. " aku duduk berlutut dihadapan sang Pope dengan wajah yang sedikit pucat.

"Apa ada yang salah Albafica? kau teiaihat agak pucat. Apa kau sakit? " sang Pope memastikan apakah keadaanku baik-baik saja.

"Ah, tidak kenapa anda menanyakan hal seperti itu? " aku tersentak mendengar pernyataan sang Pope.

"Benarkah? Apa perlu saya minta Degel untuk memeriksamu? "

"Tidak, tidak perlu Pope, saya baik-baik saja. Bisa saya tau apa misi saya Pope? Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah, ada beberapa Specter terlihat di bagian barat Sanctuary. Bisakah kau membereskanya Albafica? " sang Pope menjelaskan tentang misiku meski ia terlihat meragukan keadaanku.

"Tentu saja Pope, kalau begitu saya permisi. " aku segera beranjak meninggalkan Pope's Chamber setelah mendapatkan misiku.

"Aku punya firasat aneh tentang anak itu, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya."

Tak lama setelah aku meninggalkan tempat itu, Shion pun datang dengan tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan misinya hari ini.

"Ah, Shion."

"Apa misi saya hari ini Pope? " Shion duduk berlutut dihadapan sang Pope dan menanyakan misinya.

"Untuk hari ini tidak ada, tapi aku punya tugas khusus untukmu. "

"Apa itu Pope? "

"Akhir-akhir ini saya melihat Albafica selalu terlihat menyembunyikan sesuatu yang sepertinya sangat mengganggunya, bisakah kau menanyakan apa yang sedang terjadi padanya? Saya tau kalau ini bukan hal yang mudah mengingat bahwa Albafica terlalu pendiam untuk dapat menceritakan masalahnya dengan orang lain. Tapi karena saya sudah sering melihat kau mengajak Albafica bicara, saya yakin itu bukan hal yang sulit untukmu. "

"Ya, saya juga memang merasa bahwa Albafica menyembunyikan yang tidak ingin ia ceritakan pada orang lain. Baiklah Pope, saya akan mencoba untuk membuat Albafica menceritakan masalahnya. Kalau begitu saya permisi. " Shion beranjak meninggalkan Pope's Chamber dan menuju ke kuilnya untuk menyambut Albafica saat ia pulang menjalankan misi nanti.

"ROYAL DEMON ROSE"

"AAAAGGGGHHHHHH!!! "

"Itu yang terakhir, dengan begini misiku selesai. "

Menjelang malam aku pun kembali ke Pope's Chamber untuk menyatakan laporanku. Setibanya ia di kuil pertama, aku pun mendapat pemandangan yang tidak asing bagiku. Apalagi kalau bukan Shion yang menyambutku.

"Ah, selamat datang Albafica" seketika Shion menyambutku ketika ia melihatku menaiki tangga yang mengarah ke kuil Aries.

"Maaf, tapi aku sedang tidak ingin berbicara denganmu Shion. Permisi. " aku berlalu meninggalkan Shion namun lenganku segera ditahan oleh Shion.

"Lepaskan aku Shion, akun harus melaporkan misiku pada Pope. " aku mencoba melepaskan cengkeraman Shion.

"Tunggu, kita harus bicara Albafica, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. " terang Shion.

"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu Shion, cepat lepaskan aku, kau tau kalau aku tidak ingin disentuh, kenapa masih menyentuhku? " aku kembali mencoba untuk melepaskan cengkeraman Shion hingga akhirnya terlepas dan langsung pergi meninggalkan Shion.

"Baiklah, akun minta maaf atas kelakuanku tadi Albafica. Tapi tolong Albafica, tidak bisakah kita bicara sebentar? "

"Baiklah, tapi kita bicara di kuilku. " aku kembali melanjutkan langkahku yang kali ini tidak ke Pope's Chamber namun ke kuilku dengan Shion yang mengikutiku dibelakang.

Di kuil Pisces, tanpa basa basi lagi aku langsung menanyakan hal yang ingin di bicarakan Shion setelah duduk di salah satu kursi.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Shion? "

"Apa kau sedang punya masalah Albafica? "

"Tidak. "

"Apa kau sedang sakit? "

"Tidak. "

Shion menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya yang ternyata jauh lebih sulit dari perkiraannya untuk menanyakan informasi dariku.

"Aku tahu kau berbohong Albafica, kau pasti memiliki masalah yang kau sembunyikan, apa kau mau menceritakannya sedikit? " Shion mencoba tersenyum untuk meyakinkanku supaya ia menceritakan masalahnya.

Aku yang sepertinya tidak punya pilihan lain pun akhirnya jujur pada Shion. Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan masalahku kepada Shion.

"Baiklah, ya, aku memang memiliki masalah kecil namun itu sangat menggangguku. "

"Mau menceritakan sedikit? " Shion kembali tersenyum melihatku sedikit mau menceritakan masalahnya dengannya dengannya.

"Akhir-akhir ini aku sering memimpikan hal yang sama. Awalnya tidak aku hiraukan, namun beberapa hari ini setelah memimpikan hal itu, kepalaku selalu terasa pusing dan berat. Dan entah kenapa, aku mulai merasa kalau ini bukan sebuah mimpi biasa. "

"apa yang kau lihat di mimpimu itu? "

"Aku yang sedang berlatih bersama Master Lugonis, dan ia memberikanku sebuah pilihan untuk mengikuti jalan menuju manusia, atau jalan menuju racun. Namun aku tidak ingat kalau Master pernah memberikan pilihan itu. "

"Sudah coba konsultasi pada Degel? "

"Tidak, aku memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri. Karena aku tidak merepotkan siapapun. "

"Baiklah, kalau memang itu keputusanmu. Tapi ingatlah bahwa kau butuh bantuan aku dan yang lainnya akan selalu ada untuk membantumu. "

"Ya, terima kasih Shion. Kalau begitu aku permisi, aku masih belum menyampaikan laporanku pada Pope. "

"Aku juga akan kembali ke kuilku, sampai jumpa besok Albafica. " Shion pun kembali menuju ke kuilnya setelah dirasa pembicaraan ini selesai.

Keesokan harinya, Shion pergi pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit menuju Pope's Chamber untuk menyampaikan laporannya.

"Jadi bagaimana? Apakah kau sudah tahu masalah apa yang sedang dialami Albafica, Shion? "

"Ya Pope, kemarin dia bercerita pada saya kalau akhir-akhir ini dia selalu bermimpi tentang hal yang sama setiap malamnya. Dan menurutnya itu lebih mirip sebuah kejadian masa lalu yang tidak ia ingat. Apa Albafica mengalami amnesia Pope? "

Sang Pope menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Shion. Sepertinya agak sedikit sulit bagi sang Pope untuk menjawab pertanyaan itu. "Tidak, Albafica tidak memiliki amnesia. Melainkan akulah yang membuat Albafica tidak ingat kejadian masa lalu itu. "

"Apa maksud anda Pope? "

Aku yang kebetulan ada dilorong, mengurungkan niatku untuk bertemu Pope setelah mendengar bahwa Pope sepertinya sedang berbicara dengan seseorang didalam.

"Dulu saat mengetahui kenyataan bahwa pilihan yang dipilihnya membuat Lugonis meninggal, Albafica mengalami frustasi sehingga ia selalu mendapatkan mimpi buruk dan terbangun dengan menangis sambil meyalahkan dirinya sendiri. Karena aku tidak ingin melihat Albafica terus berlalu dalam kesedihan, aku pun membawanya kepada Krest supaya ia menghilangkan ingatan Albafica tentang kejadian itu. "

Aku yang mendengar hal itu, tidak bisa lagi membendung air mata yang keluar karena pengakuan sang Pope. Segera aku menjatuhkan peta bintang yang kubawa dan berlari meninggalkan tempat itu dengan air mata yang mengalir deras. Saat ini aku tidak peduli akan kemana, tapi yang jelas aku ingin pergi sejauh jauhnya dari tempat itu.

"Sepertinya aku mendengar seseorang diluar. "

"Benarkah? Kalau begitu biar aku periksa. "

Shion pun keluar ruangan dan menemukan beberapa gulungan kertas yang ia kenali sebagai peta bintang.

"Loh, inikan milik Albafica, kenapa ada disini? " Shion pun mengambil peta bintang yang tergeletak dilantai.

"Tunggu, kalau ini milik Albafica, berarti... "

Shion pun segera bergegas kembali menemui Pope.

"Maaf Pope, tapi sepertinya Albafica mendengar pembicaraan kita. "

"Apa?!!! " sang Pope terkejut dan berdiri dari singgahsananya

"Ya Pope, saya menemukan gulungan peta bintang miliknya di depan pintu. " Shion menunjukkan peta bintang yang ia temukan.

"Kalau begitu cepat kau cari Albafica bersama para saint gold lainnya. "

"Baiklah Pope" Shion pun segera meninggalkan Pope's Chamber untuk memberitahukan para saint gold lainnya.

Aku terus berlari tanpa menghiraukan para sesama saint gold yang memanggilku, hingga akhirnya langkahku berhenti di padang mawar dimana aku dibesarkan dan dilatih oleh Master Lugonis.

Aku tidak marah ataupun kesal karena Pope menyembunyikan hal ini dariku. Namun aku frustasi mengetahui kenyataan bahwa pilihan yang aku pilih dapat membuat Master meninggal. Meskipun firasatku mengatakan bahwa di tempat inilah aku membunuh Master karena disini lah Master memberiku pilihan, tapi disini lah aku dibesarkan dan dan dilatih oleh Master. Dan hal itu, membuat aku ingin menenangkan sejenak diriku disini.

Hanya ada satu pertanyaan dalam pikiranku. Kenapa pilihanku yang memilih jalan racun dapat membuat Master meninggal? . Dan kalau sampai Master meninggal karena pilihanku, apakah berarti aku telah memilih pilihan yang salah?. Didalam hati aku menjerit sekeras kerasnya 'aku memang tidak berguna'.

To be continued

Continue Reading

You'll Also Like

56.3K 4.4K 37
ANTARA CINTA DAN DENDAM Apa yang kalian pikirkan saat kalian diminta memilih antara cinta dan dendam ??? Mereka yang sama sama dibutuhkan dan dilaksa...
70 7 5
"Fadil dan rania adalah pasangan yang terpisahkan karna orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka ,dikarenakan masa lalu keluarga rania yg per...
13.7K 1K 15
"kamu tau bahwa mencintai seseorang itu tak perlu syarat...mau kamu berubah jadi siapapun kamu tetap kamu...dan hatiku tetap sama.." "kenapa harus di...
26.4K 2.4K 6
Katanya, kadang untuk beranjak dan melanjutkan kehidupan perlu dibantu oleh orang lain... "Aku ngerti, dia berarti banget buat kamu dan kamu nggak bi...
Wattpad App - Unlock exclusive features