Driver Me Crazy

Oleh leontopodium_alpinum

3.8K 138 12

"Edi, saya ini sudah kenyang makan asam garam. Gelagat seseorang, tabiat, ataupun busuknya hati orang, saya... Lebih Banyak

DMC-2
DMC-3
DMC-4
DMC-5
DMC-6

DMC-1

974 33 1
Oleh leontopodium_alpinum

"Edi, kamu tahu apa ketakutan terbesar saya?"

"Hm? Sepertinya saya tidak tahu, Pak."

Edi membantu pak Anom, majikannya selama dua belas tahun terakhir ini, turun dari mobil. Salah seorang satpam yang berjaga di rumah megah pak Anom saat itu turut membantu dengan menurunkan kursi roda dari bagasi. Edi dan pak satpam lalu mendudukkan pak Anom perlahan pada kursi rodanya. Membetulkan posisinya agar orang tua itu tetap nyaman bersandar hingga berjam-jam ke depan. Selesai dengan memindah-dudukkan pak Anom, Edi menutup pintu mobil, untuk selanjutnya mendorong kursi roda pak Anom menyusuri pekarangan rumah, membawa majikan yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri itu ke tempat favorit: halaman samping.

Hening sesaat. Edi dan pak Anom merasa damai memandangi dedaunan rimbun pohon-pohon mindi dan mahkota dewa, juga kolam ikan koi yang jernih dan menimbulkan suara gemerisik lembut dari pancurannya, serta tanaman-tanaman hias dalam pot warna-warni. Angin semilir membawa ketenangan. Pak Anom lantas tersenyum.

"Saya belum memberitahu kamu tentang ketakutan terbesar saya, ya," celetuk pak Anom, masih tersenyum.

Edi menoleh. "Apa itu, Pak?"

"Menyerahkan harta saya pada orang yang salah."

Edi terdiam mendengar jawaban pak Anom. Tenggorokannya mendadak gatal, tapi ia segan untuk berdeham. Seharusnya ia tahu, pak Anom memang selalu cinta pada hartanya. Bukan hal baru bagi Edi mengingat bagaimana pak Anom seringkali mengungkit hal itu. Dan melepaskan sesuatu yang dicintai tentu saja membuat setiap orang merasa takut.

"Kamu tahu, Edi," lanjut pak Anom, "alasan saya menikahi istri saya juga sebenarnya karena rasa takut saya. Saya tidak ingin harta saya jadi bahan permainan, dan saya tidak suka penjilat."

Edi menyimak khidmat. Enggan mengusik cerita sang majikan.

"Dulu hidup saya susah. Diusir dari rumah paman saya karena dianggap beban. Ya, maklum saja mungkin. Paman saya anaknya, kan, banyak. Jadi kalau saya terus numpang di rumahnya... takutnya anak-anak paman saya kekurangan jatah makan karena harus berbagi dengan saya. Badan saya dari dulu bongsor. Makan saya tidak bisa sedikit." Pak Anom terkekeh-kekeh, menyisakan kerutan yang semakin dalam sepanjang garis tawa pada pipi bulatnya. "Setelah itu, saya mendatangi paman-paman dan bibi-bibi saya yang lain, tapi mereka juga mengusir saya. Alhasil saya terluntang-lantung. Sebentar nge-kos, sebentar kemudian numpang tidur di tempat teman, kadang juga menginap di rumah ibadah. Bahkan saya pernah tidur di kolong jembatan selama sekian minggu, tidak ada yang mau menampung saya."

Mata Edi melebar. Tidak menyangka kalau pak Anom yang sukses dan bergelimang harta itu ternyata pernah terjebak di roda terbawah dalam hidupnya. Meski begitu, Edi mulai merasa janggal dengan kilas balik yang tiba-tiba dibagikan pak Anom saat itu. Pak Anom selalu punya visi misi yang jelas ke depan. Selama mengenal pak Anom, Edi telah hapal betul ciri khas pak Anom yang tidak pernah mau repot-repot mengenang masa lalu. Baginya melangkah hanya untuk maju. Tapi Edi seperti biasa, tidak suka menyela. Edi tetap diam dan mendengarkan.

"Saya tidak menyerah. Saya terus berusaha. Mimpi saya satu: punya banyak uang. Jadi saya mati-matian bekerja ke sana kemari. Sampai akhirnya saya bisa kuliah dengan tabungan saya sendiri, lalu merintis usaha dengan keringat saya sendiri. Setelah usaha saya lancar jaya, berhasil membuka cabang di beberapa kota, tiba-tiba keluarga saya datang. Mereka membawakan saya kemeja batik dan kare kambing kesukaan saya. Paman-paman saya, bibi-bibi saya, sepupu-sepupu saya, yang dulu saya kejar-kejar dan menolak saya... mendadak memuji-muji saya."

Pak Anom mengetuk-ngetuk ujung jari telunjuknya di atas lututnya yang tak lagi dapat merasa. Kepalanya mengangguk-angguk. Kilat emosi terlintas di kedua bola mata coklat gelapnya yang kian hari kian meredup dipengaruhi usia. "Kamu tahu karena apa, Edi?" tanya pak Anom berbisik. "Kekuatan uang."

"Saya tidak tahu bapak punya cerita menyedihkan seperti itu, Pak," komentar Edi akhirnya. "Apa yang harus saya katakan, cerita bapak... menginspirasi?"

Tawa pak Anom pecah seketika. Tangannya mengibas udara kosong di hadapannya. Entah bagian mana yang lucu, Edi tidak mengerti. "Jangan katakan itu menginspirasi, Edi," kekeh pak Anom. "Dari sudut pandang manapun... kisah saya itu mengandung unsur ketamakan dan balas dendam. Tidak ada yang menginspirasi."

"Tapi, bapak—"

"Saya ingin punya banyak uang untuk menunjukkan kepada keluarga saya bahwa saya mampu berjuang tanpa mereka. Dan setelah impian saya tercapai, saya tidak pernah memberi uang sepeser pun kepada mereka. Saya tamak dan pelit, Edi. Sama seperti paman-paman dan bibi-bibi saya."

Pak Anom mendongak, menatap Edi yang berdiri tegak di sebelahnya. Senyumnya mengembang penuh misteri.

"Lalu, Edi," sambung pak Anom, "saya mulai berpikir tentang nasib harta saya. Saat itu saya berumur lima puluh tahun. Saya bertekad, kalau suatu saat saya meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, saya tidak mau harta saya jatuh ke tangan yang salah. Saya tidak mau keluarga besar saya mengambil alih. Jadi saya mengalah pada ego saya dan memutuskan untuk menikah.

"Tidak, saya tidak mau menikahi wanita cantik nan cerdik, yang jari-jari halusnya lihai mencuri uang saya. Saya juga tidak mau wanita lembut yang kata-kata merdunya mampu menyedot tabungan saya. Saya tidak mau harta saya dipermainkan wanita. Karena itulah, ketika saya menghadiri gala dinner nyaris dua puluh empat tahun yang lalu... saya merasa sangat bersyukur. Saya berhasil menemukan sosok sempurna calon istri saya."

Edi mengerjap takjub. Lagi-lagi tak menyangka, ternyata pak Anom punya cerita 'romantis' juga.

"Cantika itu anak salah seorang rekan bisnis saya," kenang pak Anom. Tatapannya menerawang, seolah mengkhayalkan kejadian bertahun-tahun yang lalu. "Dia tuna netra."

Kelu. Edi kehilangan kata-kata bahkan untuk disuarakan dalam hati. Ia baru menyadari satu hal penting selama dua belas tahun belakangan. Ia tidak pernah benar-benar mengenal pak Anom. Ia tidak pernah bertanya, sementara pak Anom terlalu realistis untuk mau bercerita.

"Cantika sosok yang tepat. Dia tidak bisa melihat harta saya. Dia juga tidak bisa lari membawa uang saya. Jiwanya suci dalam diri seorang wanita dewasa. Dan keberuntungan saya, orang tua Cantika langsung mengizinkan saat saya menyampaikan niat ingin menikahinya." Pak Anom lagi-lagi tersenyum. "Jadi, Edi, apa kamu punya pacar?"

Edi meringis karena pertanyaan pak Anom yang tiba-tiba. Ia mengusap belakang lehernya karena malu. "Tidak punya, Pak," jawabnya pelan.

"Berapa umurmu tahun ini?"

"Tiga puluh dua."

Pak Anom mengangguk. Aura kebapakan pak Anom terpancar jelas, lebih-lebih saat berbincang dengan supir pribadinya itu. "Kapan terakhir kali kamu menjalin hubungan dengan wanita?"

Edi menghela napas. Ya, ia tidak akan bisa terus menghindar. Kapan pun dan di mana pun, pertanyaan menjurus itu akan selalu muncul mengingat usianya yang tidak muda lagi. Itu sudah seperti mantra masyarakat. Maka Edi memutuskan untuk menjawab apa adanya, "Tahun lalu. Mantan pacar saya selingkuh dengan temannya sendiri, Pak."

"Bodoh sekali dia," ejek pak Anom. Perkataan pak Anom yang agak tajam itu membuat Edi bingung. "Wanita yang bodoh. Bisa-bisanya dia menyia-nyiakan pria jujur dan setia sepertimu, Edi."

Edi tersenyum maklum mendengar komentar pak Anom. Tapi kemudian ia menggeleng. "Pak," katanya, "saya percaya kalau setiap orang punya takdir masing-masing. Mantan pacar saya itu hanyalah bagian dari rangkaian takdir dalam hidup saya. Jadi saya menerimanya. Saya tidak bisa menyalahkannya. Malahan saya bersyukur bisa segera mengetahui kalau mantan saya itu selingkuh. Kalau hubungan kami sudah terjalin lebih jauh lagi, pasti rasanya lebih menyakitkan."

Pak Anom memberi kode melalui tangannya agar Edi membungkuk. Sambil terkekeh, pak Anom menepuk-nepuk kepala Edi dengan sayang. "Edi, saya ini sudah kenyang makan asam garam. Gelagat seseorang, tabiat, ataupun busuknya hati orang, saya bisa menilainya hanya dari kerlingan matanya saja. Dan sejak pertama kali melihatmu, saya tahu kamu itu anak muda yang jujur dan setia. Jadi... ini permintaan saya: nikahi putri saya."

Bagaikan tersengat aliran listrik, Edi refleks berjalan mundur. Matanya terbelalak, benar-benar terkejut atas apa yang baru saja didengarnya dari mulut majikannya secara langsung. Bahkan dalam khayalan liarnya sekalipun, Edi tidak pernah membayangkannya. Edi mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang didengarnya barusan hanyalah ilusi. Tapi... senyum kemenangan pak Anom sungguh nyata.

"Saya merasa... saya sudah tidak sanggup lagi menjaga Meena," adu pak Anom tanpa mengalihkan perhatiannya dari Edi yang masih syok. "Dengan kamu menikahinya, saya jadi tenang, harta saya tidak jatuh ke tangan yang salah."

Edi mengusap wajahnya. Suaranya terdengar sengsara, "Saya takut tidak bisa bertanggung jawab, Pak."

"Tidak, Edi!" Pak Anom bersikeras. "Saya tahu, saya percaya, kamu itu orang yang jujur dan setia. Kamu tidak akan menkhianati saya. Menitipkan Meena dan kekayaan saya padamu tidak akan menjadi kesalahan."

Edi merasa ada batu-batu besar menggelinding tepat ke arah pundaknya. Berat. Ia tidak yakin apakah sanggup. Namun sama seperti permintaan-permintaan pak Anom yang sudah-sudah, Edi tidak pernah bisa menolaknya.

*Bersambung*

Lanjutkan Membaca

Kamu Akan Menyukai Ini

1.3M 73.6K 53
Highest Rank #1 in Selingkuh Highest Rank #1 in Cinta Highest Rank #1 in Girlsquad Highest Rank #1 in Galau Highest Rank #2 in Indonesia Highest Rank...
1.8M 57.3K 13
Dari penulis A Wedding Come True dan My Bittersweet Marriage: Jasmine jatuh cinta pada Dinar, seorang geeky software engineer yang memiliki masa lalu...
1.1M 94.8K 59
"Jangan liatin gue kayak gitu, gue ga suka." Ucap Aya terang-terangan. "Aya," panggilan itu entah kenapa terasa berbeda, Aya menjadi gugup. "Hm?" Ald...
33.4K 175 3
Bosphorus adalah selat yang membelah istanbul , simbol dua dunia yang berbeda tapi disatukan. Dua keluarga terpandang menyatukan nama besar mereka da...
Aplikasi Wattpad - Akses fitur eksklusif