You're not My First Choice

By aufklarung94

109K 4.9K 184

"Broken heart girl bounds by bump with cold heart Mafia Leader" ******** --Kim Soeun-- Perawat yang cantik da... More

Broken Heart
Cold Heart
First Meeting
Nuneo
The Plan
The Baby
New Friend
The Fear
It's not Secret Anymore
Birthday celebration
No Love
Incident
Baby's Father
Shopping Time
Testing the theory
His claim
Broken Heart Again
Tears and Tragedy
Father's Plan
The Chaos
Ultimatum
Missing Her
The Game is On
First Mission
He is back
Visiting The Den
His Hidden Pain
Their sweet little bubbles
Boss of The Dragons
The Only One
Paradox
Confession and The Wedding
Nuneo or Junho?
Interrogation
Taken
Bounding
Not The First but The Right One
The Little Chunnie

New Guy

2.1K 116 4
By aufklarung94

“Aku rasa kau bisa membelikannya sebuah arloji atau mungkin kemeja” ucap Soeun pada seseorang di seberang telepon. 

“Yah….Tapi aku sudah pernah membelikannya arloji dan kemeja di hari ulang tahunnya yang sebelumnya, Soeun” balas suara dari seberang telepon pada Soeun. 

Soeun pun hanya bergumam sembari jemarinya menyusuri satu demi persatu buku yang disusun di rak. Ada begitu banyak buku di hadapannya saat ini. Namun, belum ada yang menarik perhatiaannya.

“Jadi hadiah apa yang akan kau belikan untuknya, Boah?” Tanya Soeun lagi.

Mata Soeun pun melirik sebuah buku tebal dengan cover yang sangat cantik. Soeun mengambil buku itu dari tatanan di rak. 

Twisted Fate’ baca Soeun dalam hati. Lalu membalik buku tersebut untuk membaca sinopsis yang ada di cover belakang.

Ya. Saat ini, Soeun tengah berada di salah satu pusat toko buku di Soeul. Toko buku ini adalah toko buku langganan Soeun. Namun, ketika Soeun telah menyelesaikan kuliahnya dan memulai pekerjaan di rumah sakit, Soeun tak punya waktu untuk mengunjungi toko buku tersebut. Dan hari ini, Soeun memutuskan untuk datang ke toko buku ini. Rasa takjub mendera Soeun ketika dirinya tiba di toko buku tersebut setelah sekian lama tidak mengunjungi toko itu. Jelas ada banyak perubahan. Baik dari ukuran toko, dekorasi ruangan serta jumlah buku yang dijual di sana. 

Akhir yang bahagia tidak selalu terjadi seperti yang kau duga….. hmmmm…. Ceritanya lumayan menarik’ komentar Soeun sembari membaca sepenggal kalimat dari sinopsis buku yang sedang dia pegang. 

“Soeun…. Soeun…?!! Apakah kau masih di sana? Hello…?” 

Suara Boah memanggil-manggil dirinya membuat Soeun kembali fokus pada iphone nya. 

“Ah… ya…Boah. Maaf. Apa tadi yang kau katakan?” Ujar Soeun merasa tak enak telah mengacuhkan sahabatnya.

Terdengar suara Boah menghela nafas dari seberang telepon. 

“Aku tak punya ide apapun yang akan kuberikan padanya di hari spesialnya. Ya ampun…. Padahal tinggal satu minggu lagi…..” keluah Boah. 

“…. aku memang tunangan yang tak bisa diharapkan. Soeun-ah, bagaimana jika rasa cinta Chansung berkurang padaku karena aku tak memberikan kado yang berkesan untuknya nanti?” Celoteh Boah. 

Soeun memutar bola matanya mendengar Boah yang selalu mendramatisir segala sesuatu. 

Always drama queen’ komentar Soeun dalam hati. 

Soeun lalu berjalan dari seksi novel ke seksi buku aneka resep makanan. Setibanya di sana, Soeun mencari-cari buku resep yang dia inginkan. 

“Soeun-ah apa yang harus aku lakukan?” Tanya Boah dengan nada bicara yang terdengar pasrah dan tidak bersemangat. 

“Bagaimana jika kita pergi mencari hadiah untuknya bersama-sama? Aku juga belum membelikan kado untuk Chansung” tawar Soeun. 

Dalam hitungan detik, perubahan nada bicara Boah sangat nampak. Dari tak bersemangat menjadi penuh semangat.

“Benarkah? Kau bersedia menemaniku membeli hadiah untuk Chansung?” Tanya Boah dengan antusias. 

“Ya. Bagaimana kalo empat hari dari sekarang?” Tawar Soeun lagi. 

“Okay. Terima kasih Soeun. I love you” ucap Boah dengan nada penuh semangat. 

Soeun terkekeh pelan. Namun, moodnya berubah seketika saat Boah menanyakan satu hal padanya. 

“Bagaimana hubunganmu dengan nya?” Tanya Suzy sedikit ragu. 

Soeun mengalihkan matanya dari jejeran buku resep di hadapannya ke arah lantai. Tak perlu bertanya untuk kedua kalinya pada Boah mengenai siapa yang Boah maksud.

“Tidak ada kata hubungan antaraku dengan dia” ujar Soeun pelan.

Lama tak terdengar sahutan dari seberang telepon. Soeun mengira Boah sudah menutup teleponnya.

“Apakah kau merindukannya? Maksudku setelah semua yang telah terjadi. Kejadian di bar yang berujung pendarahan hebat padamu” ujar Boah dengan nada bicara yang sedikit hati-hati.

Tentu saja, bagi Boah topik tersebut mungkin sangat sensitive. Itulah mengapa setelah 6 minggu pasca pendarahan, Boah baru menanyakan hal itu pada Soeun. 

Sejak insiden pendarahan itu. Nampaknya semua orang disekitar Soeun sepakat untuk tidak menyebut nama Junho ataupun membicarakan topik terkait Junho di depan Soeun. Hanya dua orang sejauh ini yang membahas hal terkait Junho. Suzy. Dan orang yang kedua adalah Boah. 

Soeun mengelus perutnya dan tersenyum simpul ketika merasakan putranya menendang, bereaksi terhadap apa yang Soeun lakukan. 

“Apakah kau masih perlu bertanya? Ketika aku mencintai seseorang, aku benar-benar memberikan hatiku untuknya. Hal yang kadang kubenci dari diriku” ujar Soeun penuh kejujuran. 

Untuk apa membohongi perasaannya sendiri. Lagi pula, orang yang bertanya padanya saat ini adalah Boah. Sahabat dekatnya yang sudah bagaikan saudara baginya sendiri. 

“Kau tahu, Soeun. Ku harap ada keajaiban antara dirimu dengan Junho. Aku menyukaimu bersamanya. Entah mengapa bagiku Junho bukan pria yang terlalu buruk” respon Boah. 

Hooh…. Ada apa ini? Jadi para pria melarangku bertemu Junho sementara para wanita mendukungku bersama Junho?’ Ujar Soeun dalam hati, menyimpulkan keadaan. 

“Hmmm….. jadi kau ada di pihaknya, huh?!! Tunggu saja, aku ingin tahu bagaimana reaksi Chansung jika dia tahu kau mendukung Junho” goda Soeun.

“Yah!!! Ini rahasia kita” balas Boah dengan cepat. 

Soeun pun tertawa kecil. 

“Baiklah, Soeun. Aku akan menghubungi mu lagi nanti. Bye, sweet Mommy” ujar Boah menutup pembicaraannya dengan Soeun di telepon. 

Soeun pun memasukkan iphonenya ke tasnya lalu kembali fokus pada buku-buku di hadapannya. 

“Ini. Dia. Aneka dessert” ucap Soeun sembari mengambil buku resep dessert. 

Merasa sudah mendapatkan apa yang dia cari, Soeun lalu keluar dari seksi buku resep makaman. Wanita itu terus berjalan menuju kasir ketika tanpa sengaja dirinya menyenggol seseorang. 

“Maaf.. ya ampun….” ucap Soeun terkaget-kaget ketika tahu dirinya menyenggol bahu seseorang sehingga kopi yang dipegang orang tersebut tumpah membasahi sweeter yang orang itu kenakan. 

Soeun lalu sedikit membungkukkan tubuhnya seraya memohon maaf. Tidak menyadari siapa orang yang ada di hadapannya itu.

“Ya ampun. Maaf. Apa yang harus ku lakukan? Uhm… saya akan mengganti rugi biaya laundry nya, anda bisa mengirim…..” 

“Kita bertemu lagi” sela orang tersebut. 

Soeun menghentikan kata-kata.

Suaranya terdengar familiar’ pikir Soeun. 

Soeun lalu meluruskan tubuhnya dan mendaratkan pandangannya pada orang yang baru saja dia tabrak. 

“Changmin?” Ujar Soeun. 

“Kita bertemu lagi, Soeun. What a fate!!!” ujar Changmin seraya tersenyum manis pada Soeun. 

Soeun pun balas tersenyum. 

“Maaf. Aku tidak sengaja” ujar Soeun seraya menunjuk ke arah sweeter coklat muda Changmin yang sekarang memiliki noda kehitaman. 

Changmin melirik ke arah sweeternya. 

“Oh?” Gumam Changmin. 

Lalu tanpa aba-aba, pria itu membuka sweeternya. Dadanya yang bidang dan kokoh serta abs yang seksi terekspos. Mata Soeun membulat sempurna. 

“Apa yang kau lakukan?!” Ucap Soeun seraya dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping. Menghindarkan matanya dari dada bidang pria itu yang saat ini topless.

“Huh? Sweeterku kotor dan lebih baik jika aku melepasnya” ucap Changmin dengan santai. 

Seakan apa yang baru saja Soeun tanyakan adalah sesuatu yang tak harus dia tanyakan. 

“Tapi apa kau harus membukanya di sini? Di hadapan umum?” Tanya balik Soeun. 

Changmin bisa menangkap ada kejengkelan dalam nada bicara Soeun. Pria itu tersenyum kecil. Lalu pria itu menoleh ke sekeliling dan mendapati banyak pasang mata menatap dirinya. Well, pengunjung toko buku yang Soeun kunjungi cukup ramai. Oleh karena Soeun dan Changmin tengah berada di dekat kasir, tak jauh dari pintu masuk-keluar toko buku, apa yang terjadi antara mereka menarik perhatian banyak orang. 

Para pria menatap ke arah Changmin dengan ekspresi iri yang tersirat dalam wajah mereka. Sementara para wanita menatap ke arah Changmin dengan tatapan memuja. Bagaimana tidak? Changmin memiliki tubuh bak model dilengkapi dengan wajah putih tampan. 

Changmin pun tersenyum mendapati tatapan memuja para wanita padanya. Hal itu bukanlah sesuatu yang baru baginya. Terkadang pria itu menikmatinya. Lalu ia teringat akan perkataan Soeun barusan. 

“Tapi aku tidak melihat orang lain protes. Bisa dibilang mereka malah menikmatinya….” tukas Changmin. 

Soeun memutar bola matanya seakan bosan dengan keangkuhan dan ego seorang pria. 

Tsskkk…. para pria dan ego mereka’ cibir Soeun dalam hati. 

“Hei… apa kau barusan memutar bola matamu? Dan di depanku?” Tanya Changmin lagi merasa sedikit heran dengan tingkah Soeun yang seakan tak terpengaruh dengan dirinya yang topless.

“Yup” balas Soeun dengan cepat lalu menatap ke arah Changmin, meyakinkan bahwa dirinya hanya menatap ke arah wajah pria itu bukan dadanya yang sesungguhnya seksi, tapi entah mengapa Soeun tak tertarik akan pemandangan seperti itu. 

Pria ini tampan. Tapi aku sudah terbiasa dengan pria tampan nan misterius dengan pesona yang memabukkan’ komentar Soeun dalam hati mengakui penampilan fisik Changmin.

Melihat Soeun yang bukan hanya tidak menatapnya dengan tatapan memuja pada tubuhnya, bahkan meliriknya saja pun tidak membuat dahi Changmin mengerut. Changmin lalu menatap Soeun sekilas. 

“Para wanita lainnya menatapku dengan mata berbinar. Tapi mengapa kau malah bersikap biasa saja?” Tanya Changmin merasa heran. 

Soeun menghela nafas. 

“Karena aku bukan tipe wanita yang tertarik hanya pada hal seperti itu….” jawab Soeun. 

Selain itu aku sudah biasa melihat dada yang topless. Sangat seksi dengan tatto dragon di sebelah kiri’ lanjut Soeun dalam hati. 

Soeun pun menyadari apa barusan yang dia pikirkan. 

Apa yang aku pikirkan? Ughhh….’ keluh Soeun sambil mencubit lengannya sendiri.

Menyadarkan dirinya sendiri. 

Soeun terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari Changmin yang terus saja melihatnya. 

Wanita ini memang cantik. Tapi aku rasa ada banyak wanita lain yang lebih cantik. Tapi mengapa paman ingin wanita ini jadi menantunya? Apa Junho akan tertarik pada wanita ini?’ Pikir Changmin. 

Soeun lalu menatap ke arah sekelilingnya, mata para wanita masih tertuju ke arah mereka. Well, lebih tepatnya menatap Changmin. 

Ughh… mereka bertingkah seperti Changmin bak dewa yang sangat mempesona. Tskkk… Nuneo jauh lebih seksi dibanding Changmin…. wait…. Kim Soeun….. apa yang kau pikirkan..? mulailah untuk berhenti memikirkan Nuneo terus menerus’ rutuk Soeun pada dirinya sendiri. 

“Uhmm… aku akan menuju kasir. Apa kau yakin aku tak perlu membayar laundry nya?” 

Changmin pun tersadar dari lamunannya. 

“Ah, iya. Hmm… daripada kau membayar ganti laundry nya padaku. Bagaimana jika kau yang melaundrynya sendiri?” Tawar Changmin. 

“Huh?!”  

“Ahh… tentu saja jika kau tak keberatan” ujar Changmin cepat. 

Soeun menggeleng kepalanya. 

“Tentu saja aku tak keberatan. Semuanya karena salahku yang menyenggolmu” balas Soeun. 

Soeun lalu menengadahkan tangannya pada Changmin. 

“Berikan sweetermu padaku. Dan…uhhh… mungkin nomor kontak yang bisa aku hubungi ketika sweetermu telah selesai di laundry atau mungkin alamat agar aku bisa mengantarkan sweetermu nanti” 

Changmin pun lalu memberikan sweeternya beserta kartu namanya. Soeun pun menerima sweeter Changmin dan kartu namanya. 

“Baiklah. Aku akan segera mengembalikan sweetermu dalam keadaan bersih dan siap pakai” ujar Soeun seraya tersenyum ramah. 

Changmin pun membalas senyuman Soeun. Lalu matanya melirik pada buku yang dipegang Soeun. 

“Kau tak perlu membayarnya?” 

“Eh?” 

“Buku itu” tunjuk Changmin. 

“Kau berencana membeli buku itu kan?” Tanya Changmin lagi mengkonfirmasi. 

Soeun menganggukan kepalanya. Wanita itu memicingkan matanya.

“Uhmm… apa kau akan membayarkan buku ku? Ah tak usah aku…” 

“Tidak. Itu hadiah dariku. Hadiah untuk perkenalan kita” 

Manik hitam Soeun membulat. Dirinya berkali mengedipkan matanya. Ekspresi polos Soeun membuat Changmin tanpa sadar menyentuh pipi Soeun lalu mencubit kedua pipi Soeun. Bagaimana tidak? Soeun sangat menggemaskan saat ini. 

“Toko ini milikku. Khusus untuk buku yang kau beli hari ini, kau tak perlu membayarnya” ujar Changmin masih dengan mencubit pipi Soeun. 

“Awww…”

Soeun lalu menepis tangan Changmin. 

“Sakit, mister!!! Jangan memperlakukanku seperti anak kecil” 

Soeun lalu mengelus pipinya lalu menatap Changmin dengan mata yang membulat. Sementara Changmin hanya tertawa kecil.

“Hmmm…Kau serius?” 

“Yup!!!” jawab Changmin seraya mengedipkan matanya pada Soeun. 

Lalu Changmin menoleh sekilas ke arah sisi sebelah kanannya. Sesuatu menarik perhatiannya. Ya. Dipojokan seksi majalah tengah berdiri seorang pria mengenakan topi dan berkacamata hitam. Pria itu memegang majalah, namun matanya menatap tajam ke arah Soeun. Changmin menoleh ke arah Soeun lalu ke arah pria itu lagi.

Ada apa dengan pria itu? Dia menatap Soeun seakan-akan tengah mengawasinya….’ kata-kata Changmin terhenti ketika dirinya menyadari sesuatu. 

Shit!!! Dugaanku memang benar….’ ucap Changmin dalam hati sembari mengepalkan tangan kirinya. 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tuan besar, ada yang ingin bertemu dengan anda” ucap seorang pelayan pria pada Tuan Lee yang sedang duduk membaca koran di salah satu ruang baca di kediaman Lee. 

Tuan Lee menoleh mendengar perkataan pelayannya. 

Oh, dia sudah datang’ pikir Tuan Lee. 

Pria itu lalu melipat korannya. Senyuman menghiasi wajah bos besar Big Jun Corp.

“Suruh dia masuk ke sini” perintah Tuan Lee.

Tak lama pintu ruang baca terbuka dan masuklah Changmin. 

“Halo paman” sapa Changmin.

“Silahkan duduk nak” 

Changmin pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Tuan Lee. 

“Bagaimana?” Tanya Tuan Lee dengan nada yang tidak sabar. 

Pria itu sangat ingin tahu berita apa yang ingin disampaikan oleh Changmin padanya. 

“Sesuai permintaan paman. Aku sudah saling berkenalan dengan wanita bernama Soeun…” 

Tuan Lee pun diam sembari menatap Changmin. Pertanda Tuan Lee ingin tahu detailnya. Changmin pun menghela nafas. 

“Kami juga akan bertemu lagi beberapa hari uang akan datang” 

“Oh ya? Bagaimana kau melakukannya?” Tanya Tuan Lee. 

Tuan Lee selalu berpikir bahwa Soeun bukan wanita gampangan. Jadi, sungguh ajaib Soeun bersedia bertemu lagi dengannya.

Changmin pun lalu menceritakan kejadian di toko buku miliknya tadi siang.

Gelak tawa pun terdengar di ruang baca setelah Changmin menceritakan peristiwa di toko buku tadi pada Tuan Lee. 

“Dia tidak menatap dadamu dan abs mu yang sangat kau banggakan? Tentu saja Soeun tak akan tergiur dengan dada toplessmu. Dia bukan wanita seperti itu” komentar Tuan Lee.

Changmin mendengus. 

“Dia melukai egoku. Aku bahkan sempat mempertanyakan apakah bodyku tak seksi lagi. Tskkk… aku berani bertaruh, Soeun bukan tidak menyukai pemandangan dada topless plus abss. Dia mungkin hanya tidak mau menampakkan dari luar” bela Changmin. 

Tuan Lee pun menganggukan kepalanya. 

“Atau mungkin, karena dia sudah lebih dulu tergoda dengan dada topless dan abs pria lain” ujar Tuan Lee seraya menaikkan satu alisnya. 

Changmin menyeringai lebar.

Well, aku tak bisa tak sepakat dengan apa yang barusan paman katakan. Jika tidak, mana mungkin dia sekarang mengandung cucu paman” balas Changmin. 

Tawa Tuan Lee pun kembali pecah. Namun, kemudian tawanya hilang seketika ketika Changmin membuka mulutnya lagi. 

“Aku rasa ada yang memata-matai Soeun dan ingin mencelakainya” 

“Apa maksudmu?” Tanya Tuan Lee seraya mengerutkan dahinya. 

Changmin mengubah posisi tubuhnya yang tadi rileks menjadi lebih serius. 

“Pertama kali kami bertemu, aku melihat seseorang dengan sengaja menubruknya ketika Soeun akan menggunakan eskalator menurun. Untung saja, jarakku dan Soeun kala itu tak jauh sehingga aku masih sempat menarik tangannya tepat sebelum Soeun jatuh ke eskalator. Aku yakin betul pria itu sengaja melakukannya. Dan tadi siang, aku melihat pria yang mencurigakan yang terus saja melihat ke arah Soeun. Aku punya firasat mereka adalah pria yang sama” jelas Changmin. 

“Apa?!! Ada yang sengaja menubruknya hingga Soeun nyaris terjatuh? Mengapa kau tak melaporkannya segera padaku?” Bentak Tuan Lee sembari menggebrak meja.

Tuan Lee pun bangkit dari kursinya.

Raut wajahnya yang semula terlihat ramah berubah menjadi serius dan sedikit menyeramkan. Namun, bagi Changmin yang sudah terjun dalam dunia mafia, hal itu tak membuat dirinya bergidik ngeri sedikit pun. Bagaimana tidak jika kau anggota kelompok mafia yang terkenal kejam dan tanpa ampun. The Rogue

“Maaf paman. Aku pikir akan lebih baik jika aku mengatakannya ketika aku bertemu langsung dengan paman” 

Tuan Lee pun kembali duduk. 

“Apa kau mengenali wajah pria itu?” Tanya Tuan Lee. 

Changmin menggeleng kepalanya. 

“Aku tidak melihat wajahnya….. ” 

Changmin menghentikan perkataannya ketika dirinya menangkap ekspresi di wajah pamannya. 

“Tidak paman. Mereka bukan orang-orang Kim Nam Gil atau anggota The Rogue. Aku mengenal setiap anggota The Rogue meskipun hanya dari postur tubuh mereka aku akan bisa mengenali mereka” ujar Changmin menjawab pertanyaan dan dugaan yang tersirat dalam benak Tuan Lee. 

Jika seperti itu… Aku yakin ada orang lain dibalik semua ini. Orang yang ingin Soeun celaka. Atau orang yang ingin Junho menderita dengan mencelakai Soeun?’ Pikir Tuan Lee. 

Lalu bos Big Jun corp. Itu pun kembali menatap Changmin dengan lebih rileks.

“Baiklah. Paman akan mencari tahu soal itu. Paman akan memerintahkan beberapa bodyguard untuk menjaga Soeun dari balik bayang-bayang. Kau lakukan apa yang harus kau lakukan sesuai dengan rencana. Aku ingin Junho dan Soeun berakhir dalam pernikahan” tukas Tuan Lee. 

“Baik, paman” ujar Changmin. 

“Oh ya, Changmin. Apakah kau melihat pria lain bersetelan hitam yang juga mengawasi soeun dari kejauhan?” Tanya Tuan Lee lagi. 

“Tidak paman” jawab Changmin.

Tuan Lee kembali terdiam.

Jadi sesuai dengan desakanku Junho benar-benar menarik semua anak buahnya yang selama ini mengawasi Soeun. Anak itu benar-benar melakukannya’ pikir Tuan Lee. 

Ia teringat dengan perintahnya pada Junho agar anaknya itu berhenti mengawasi Soeun dengan diam-diam. Tuan Lee beralasan apa yang dilakukan oleh Junho kala itu melanggar privasi Soeun karena dilakukan tanpa sepengetahuan Soeun dan menambahkan bahwa Soeun akan marah jika tahu Junho mengawasinya dengan menugaskan anak buahnya selalu mengikuti kemanapun Soeun pergi dan melaporkannga pada Junho.

Junho benar-benar melakukan apa pun demi kebaikan Soeun. Dan aku yakin dia akan marah besar padaku jika tahu apa yang terjadi pada Soeun setelah dia menarik anak buahnya’ keluh Tuan Lee. 

“Baiklah paman. Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku pamit dulu” ujar Changmin. Tuan Lee mengangguk.

Changmin lalu berjalan menuju pintu setelah sebelumnya memberi salam perpisahan pada Tuan Lee. Seakan teringat sesuatu, Tuan Lee pun kembali berbicara. 

“Ah, Changmin-ah. Paman berharap kau tak jatuh cinta pada Soeun selama kau menjalankan rencana ini. Karena Soeun hanya untuk putraku” ucap Tuan Lee dengan penuh ketegasan. 

Paman benar-benar serius soal menjadikan Soeun sebagai menantunya’ komentar Changmin dalam hati. 

Lalu pria itu berbalik menatap pria yang baginya adalah pamannya sendiri meski mereka tak ada hubungan darah. 

“Jangan khawatir soal itu paman. Aku tak akan jatuh hati pada wanitanya Junho” balas Changmin. 

‘….Karena aku sudah memberikan hatiku untuk seseorang. Seseorang yang juga berharga bagimu, paman’ lanjut changmin dalam hati. 

Continue Reading

You'll Also Like

102 5 13
Dan memiliki seorang selebritas papan atas dari negeri ginseng dalam sebuah pernikahan adalah impian gilaku sejak aku jatuh cinta pada semua pesona y...
622K 21.7K 52
Danish Haiziq- Seorang lelaki yang ada auranya sendiri. Kacak,segak dan bergaya. Ah! Dia memang cukup sempurna. harta? uh dia memang seorang yang jut...
Wattpad App - Unlock exclusive features