SCHICKSAL

By IanFitria

59K 3.4K 96

(REVISI SETELAH TAMAT) "Apa takdir sedang mempermainkan kita?" "Saat aku mendekat, kamu seolah menjauh," "Ap... More

Prolog
INFO
· 02 ·
· 03 ·
· 04 ·
· 05 ·
· 06 ·
· 07 ·
· 08 ·
· 09 ·
· 10 ·
· 11 ·
· 12 ·
· 13 ·
· 14 ·
· 15 ·
· 16 ·
· 17 ·
· 18 ·
· 19 ·
· 20 ·
· 21 ·
· 22 ·
· 23 ·
· 24 ·
· 25 ·
· 26 ·
· 27 ·
· 28 ·
· 29 (END) ·
Extra Part - 1
New
EXTRA PART - 2 (END)

· 01 ·

3.2K 163 6
By IanFitria

Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?

**

Gadis itu berjalan menelusuri koridor sekolah yang sudah hampir sepi, bagaimana tidak ini sudah menunjukkan pukul 7.30, waktu pelajaran pertama akan dimulai, ia berjalan santai mencari ruang sekertariat untuk administrasi, tapi tak kunjung menemukannya.

"Buset nih sekolahan apa labirin dufan sih, udah muter-muter juga gak ketemu," dia duduk di lapangan basket, capeklah.

"Ada yang bisa gue bantu?" Tiba-tiba ada seorang cewek menghampirinya.

"Oh iya, gue nyari ruang sekertariat nih, dari tadi gak ketemu, bisa bantuin gue?" Cewek itu mengangguk.

"Nama gue Biru, lo?" Anak baru itu adalah Biru, 

Menyambut uluran tangan Biru, "Gue Billa," ucapnya dengan senyuman.

Setelah berjalan selama 5 menit mereka sampai di depan ruang sekertariat.

"Ini ruang sekertariatnya, gue tinggal ke perpus ya, nggak papa 'kan?"

"Oke, nggak papa, makasih ya Billa," akhirnya mereka berpisah.

**

Biru sedang berjalan bersama seorang guru yang di ketahuinya bernama Bu Donna, guru BK yang akan mengantarkannya ke kelas barunya.

Mereka menuju kelas 11 IPA 3, kata Bu Donna itu adalah kelas unggulan di kalangan kelas sebelas jurusan IPA, tapi kenapa urutan kelasnya yang paling terakhir? Kata Bu Donna gak harus yang nomor satu yang slalu unggul, benar juga 'kan.

Saat masuk kelas, first impression Biru adalah pasar. Kenapa? Kelasnya ramai, jauh dari ekspektasinya, Ini yang dibilang kelas unggulan? Tanya Biru dalam hati.

"Silahkan perkenalkan diri kamu," perintah guru yang sedang mengajar di kelas ini juga sebagai wali kelasnya nanti.

"Hi, namaku Sabiru Isabelle, kalian bisa panggil Biru, aku pindahan dari Bandung, terimakasih,"

"Idaman gue nih,"

"Cantik bener dah,"

"Ternyata bener ya, bidadari itu ada yang nggak bersayap,"

"Apaan sih kalian, ribut mulu,"

"Kenapa lo mel? Takut kalah saing yaa?"

"Gue harus gebet nih,"

Begitulah celotehan murid-murid didalam kelasnya, "sudah-sudah jangan ribut! Biru silahkan kamu duduk di sebelah Billa,"

Biru baru sadar bahwa Billa ada di kelas ini, beruntung jadi ia tak perlu repot-repot mencari kenalan teman lagi.

"Kita ketemu lagi ya? Berarti kita jodoh nih?" Billa bengong dengan ucapan Biru.

"Iya kita jodoh buat jadi temen," Billa pun ber-oh-ria.

"Selamat datang di BINUS ya Bi,"

"BINUS?"

"Iya, Bina Nusantara, itu singkatan sih," Billa sedikit terkekeh.

Mereka kembali fokus pada pelajaran pertama.

**

Di kantin, di satu meja terdapat segerombolan murid laki-laki, sekitar 4 orang.

"Eh tadi gue liat ada murid baru, cewek, cakep banget," ucap salah satunya.

"Mata lo kalo liat cewek bening dikit aja kayak liat duit Bim,"

4 cowok itu adalah Azlan, Langit, Bimo, dan Aron, mereka adalah pentolan di BINUS.

Keren, ganteng parah, tajir, pinter, most wanted, siapa yang gak kenal mereka coba.

"Dari pada lo ngomongin yang nggak penting, mending lo pesenin gue mie ayam deh Bim,"

"Gue juga,"

"Lo juga ikut-ikutan Az,"

Dia Azlan, cowok dingin, irit bicara sekali bicara bisa bikin orang yang ngajak ngobrol pengen bunuh diri langsung. Sadis emang.

"Udeh sono, sama Aron tuh, daripada dia pacaran mulu sama game," usir Langit.

Akhirnya Bimo dan Aron pergi menuju stand penjual mie ayam. Azlan masih sibuk dengan kameranya, sepertinya kemera lebih menarik daripada teman di sampingnya itu. Yaiyalah, Langit 'kan cowok, Azlan juga masih normal kali.

Sembari menunggu mie ayamnya datang, Langit mengirim pesan pada seseorang, menanyakan kondisinya.

LangitAAbraham : Gimana aman?

Setelah mengirim pesan, ia menaruh kembali ponselnya di atas meja.

"Langit," tiba-tiba ada seorang gadis memanggilnya.

"Hi, Vi," sapanya kembali.

"Ntar pulang sekolah kita jalan yuk," ajaknya.

"Iya, nanti kita jalan," sambil tersenyum.

"Ya udah aku balik ke temen-temen ya, dah Langit,"

"Dah, Vita," gadis itu adalah Vita, kekasih Langit.

Tek,

"Beda ya aura jomblo sama yang udah taken mah," dengan meletakan nampan berisi 4 mangkok mie ayam.
"Makanya cari pacar dong," jawab Langit sengan sedikit menyenggol lengan Azlan yang duduk di sampingnya. 

**

Untuk jam pelajaran terakhir di hari pertamanya, Biru di tugaskan untuk mengambil LCD proyektor yang ada di perpustakaan. Tadi dia bersama Billa, namun Billa pergi ke kamar mandi dulu, kebelet katanya.

Setelah memasuki perpustakaan, matanya berkeliling mencari keberadaan LCD proyektornya. Matanya berhenti di satu etalase besar, namun benda yang di butuhkannya berada di slot paling atas, dan itu membuat Biru kesusahan untuk mengambilnya, dari ukuran tubuh yang tidak terlalu tinggi itu membuatnya sedikit kesulitan.

Biru melompat-lompat, berusaha menggapainya tapi tetap saja nihil.

"Tinggi banget, siapa sih yang naruh tuh LCD diatas sana?" Grutu Biru.

Ia mencoba meraih lagi dengan berjinjit setinggi yang ia bisa, tangannya merai sebisa mungkin. Namun tiba-tiba ada tangan yang dengan mudahnya menggapai LCD itu, Biru menengok menatap siapa pemilik tangan tersebut.

"Kalo nggak bisa lo kerjain sendiri, lo bisa minta tolong sama orang lain," Ucap cowok itu dengan memberikan LCD proyektor pada Biru.

Biru terkesima dengan wajah cowok itu, bukan, bukan hanya wajahnya tapi matanya, indah, batin Biru. Tapi ia segera sadar dari tatapannya.

"Ah. Oh. Iya, makasih ya-- kak," karena Biru melihat bet kelas yang ada di bahu seragam sebelah kiri cowok itu. Kemudian cowok itu pergi, meninggalkan Biru yang masih teepesona dengan manik mata yang indah tapi terlihat dingin itu.

Tepukan di bahu membuat Biru kaget, lalu tersadar dari lamunannya.

"Maaf ya Bi, lama. Lo kok bisa ambil LCD proyektornya?" Karena menyadari di perpustakaan tidak begitu banyak murid.

"Iya, gue tadi di bantu cowok cakep," bayangan mata cowok tadi hinggap di otaknya lagi dan membuatnya tersenyum.

"Siapa?" Billa spontan kepo.

"Itu, kakak kelas cakep yang baru aja keluar dari perpus,"

"Oh, kak Azlan?" Jika tidak salah ingat, memang Billa tadi berpapasan dengan Azlan hendak masuk perpustakaan tadi.

"Namanya Azlan, cakep banget ya Bil,"

"Iya cakep banget, tapi dia juga dingin banget orangnya," wajah Biru tampak bingung.

"Udah entar aja gue ceritain, sekarang kita ke kelas, sebelum nyai marah gara-gara kita ambil LCDnya kelamaan,"

Akhirnya Biru dan Billa kembali ke kelas.

Biru masih saja teringat manik mata milik Azlan, warnanya indah banget, Kayaknya gue pernah liat manik mata seperti itu, tapi kapan? Pikir Biru dalam diam.

**

Continue Reading

You'll Also Like

63.7K 1K 24
--Theodore, mahasiswa teknik mesin tingkat akhir, sedang di ambang putus asa. Tugas akhir mangkrak, laptop rusak, dan uang di rekening nyaris habis...
1.3K 1.1K 13
Sembilan tahun lalu, dua sahabat kecil tanpa menyadari bahwa mereka pernah mengikat janji suci di masa kecil-janji polos antara dua sahabat kecil: ji...
1.2K 37 21
Memang cinta dimasa SMA itu sangat menyenangkan, tapi bagaimana dengan anak laki-laki yang tak pernah menemukan cinta dan lelah dengan cinta yang tak...
40.9K 2.9K 73
SUDAH TERBIT! TERSEDIA DI ONLINE SHOP 115k!! DAN TERSEDIA DI KARYAKARSA! "Aku memutuskan untuk mencintainya, jadi aku harus siap untuk menerima segen...
Wattpad App - Unlock exclusive features