"Fighting, Tzu! Hari pertama kamu di sekolah ini, cari banyak-banyak temen ya!" Tegas Yicheng menyemangati anaknya, Tzuyu, yang hendak memasuki sekolah menengah atas khusus monster-monster di Indonesia, yang dikenal dengan Monsta-School.
Tzuyu menghela nafasnya gugup, kemudian tersenyum menatap mata ayahnya yang sangat antusias.
"Go, you can do it" Ucap Yicheng.
Tzuyu berjalan dari gerbang sekolah, melihat semua pemandangan yang ada. Jauh dari pandangan manusia, rasanya sangat melegakan bagi Tzuyu setelah trauma yang dialaminya beberapa bulan lalu akibat manusia.
Tzuyu pun telah menemukan kelasnya dan melangkahkan kakinya pertama kali ke kelas 10-A. Semua mata yang ada didalam kelas tersebut pun langsung tertuju pada Tzuyu.
"Ih cantik ya"
"Itu zombie? Zombie secantik itu?"
"Vampir kayanya"
"Secantik itu, kah? Si kulit pucat"
"Tzuyu!" Suara gadis imut yang ada dipojok kelas meneriaki nama Tzuyu, Tzuyu agak terkejut saat melihat gadis itu sangat excited padanya.
"Sana!" Tzuyu segera memeluk Sana. Ia menghela nafas lega karena teman SMP nya sekelas dengannya.
"Ayo, disamping gue" Sana menarik tangan Tzuyu untuk menuntunnya kebangkunya yang terletak diujung kelas.
"Lo disini, gak apa-apa, kan?"
"Gak apa-apa kok, gue emang pengen dibelakang" Tzuyu mengangguk dan tersenyum.
"Gue canggung banget jadi anak baru" Bisik Tzuyu pada Sana.
"Ih gak apa-apa. Lo cantik, pasti langsung famous. Btw gue kangen banget sama lo.." ucap Sana yang setelah itu memeluk Tzuyu. Tzuyu tersenyum dan membalas hangat pelukan sahabatnya itu.
"Sana!" panggil pria berambut hitam dengan gayanya yang agak lugu.
"Hanbin! Sini!" Sana melambaikan tangannya memberi isyarat bahwa ia sedang bersama Tzuyu,
"Wih, anak baru, nih. Kenalin gue Kim Hanbin. Ganteng, kan?" Hanbin mengulurkan tangannya kepada Tzuyu.
"Sok gak kenal deh" Tzuyu merespon candaan Hanbin.
Tzuyu, Hanbin, dan Sana merupakan teman satu SMP, saat itu SMP mereka adalah SMP yang dihuni manusia secara keseluruhan, kecuali mereka bertiga.
Namun saat kelas 2 semester akhir, keluarga Tzuyu pindah ke pelosok dan tidak sekolah disana.
Hal itu terjadi karena Tzuyu nyaris ketahuan bahwa ia adalah vampir saat ia berada di SMP lamanya.
Sangat disayangkan, kejadian naas terjadi, penduduk desa mengetahui bahwa mereka adalah keluarga vampir dan diusir dari desa. Mengharuskan mereka untuk kembali ke Jakarta.
Beruntung kini Jakarta menyediakan sekolah khusus mahluk-mahluk 'aneh' seperti vampir, zombie, peri, manusia serigala dan lain-lain.
Monsta School terletak di ibu kota, namun di daerah yang tidak dapat dijangkau manusia.
Krining! Krining! Krining! . Bel masuk berbunyi, sudah saatnya semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing. Di Monsta School kelas tidak dibedakan bedasarkan jenis mahluknya, semua dicampur dan mengajarkan kebersamaan dalam perbedaan.
"Itu suara bel nya?" Tanya Sana.
"Udah tau pake nanya. Gue balik ke bangku gue ya"
"Balik ke bangku aja pake izin, kayak mau minggat" Sahut Tzuyu yang mulai banyak bicara.
"Tzu, orang minggat biasanya gak bilang-bilang, gak sih?" Balas Sana, sementara Hanbin membiarkan mereka berdua dalam percakapannya.
Guru pun mulai memasuki kelas untuk memulai pelajaran. "Baiklah anak-anak, selamat pagi. Langsung aja, perkenalkan nama saya Jung Victoria. Saya akan mengajar materi bahasa inggris disini. Beberapa dari kalian ada yang pernah keinggris? Atau ada yang keturunan inggris?" Ucap Victoria.
Semuanya pun menggeleng, dan beberapa mengatakannya dengan kalimat tidak. "Chou Tzuyu?" Tanya Victoria pada Tzuyu. Semua mata langsung tertuju pada Tzuyu, termasuk Hanbin dan Mingyu. Tzuyu pun terkejut karena namanya dipanggil secara tiba-tiba.
"Iya-iya bisa dibilang begitu.. Mungkin, saya keturunan Inggris" jawab Tzuyu yang masih belum berani mengungkapkan identitasnya sebagai vampir jenis Origin yang aslinya berdarah Inggris. Merupakan vampir terkuat dalam sejarah.
"Lo deket banget ya sama bu Victor?" Bisik Sana.
"Enggak. Dia yang nyaranin gue masuk Monsta School. Dia juga vampir" balasnya bisik-bisik.
Tzuyu cenderung terlihat pemalu dan sangat diam ketika sedang beradaptasi di lingkungan baru. Ia belum pernah terbuka pada siapapun sebelumnya, kecuali kepada dua temannya itu.
|-°°°-|
Tangan Tzuyu meraih sebuah kemasan minuman berisi darah dengan kemasan susu, untuk memanipulasi manusia dan mengira bahwa itu susu.
"Itu apa?" tanya Sana.
"Darah hewan" bisik Tzuyu pada Sana. Sana pun mengangguk mengerti.
"Enak?" Tanyanya penasaran.
"Buat gue mah enak"
"Soal Kim Hanbin.. Lo tau kan, dia dari dulu, sampe sekarang, dia lagi nyari identitas dirinya yang sebenernya" ucap Sana
"Hooh" angguk Tzuyu.
"Eh btw, lo tau gak, sih, Tzu" Kata Sana dengan sangat antusias disetiap kalimatnya.
"Apa?"
"Ternyata di sekolah monsta-school ini ada manusia juga tau"
"Maksud lo?" Tzuyu membutuhkan waktu untuk mencerna perkataan Sana. "Hah? Manusia?!"
Sana mengangguk, "Hu-uh. Gosipnya sih ayah tirinya itu vampir, trus katanya cakep, pinter, lagi sendiri, lagi!" jelas Sana.
"Nada suara lo kayak biro jodoh yang pengen nyariin gue pacar, tau gak" ucap Tzuyu dengan wajah masam.
"Masa? Nggak ah, gue lagi nyariin buat gue. Boleh juga tuh, Mingyu buat gue"
"Yaudah lah, lagi pula manusia sama hantu juga gak bakal bisa bersatu" kata Tzuyu sambil mencubit hidung Sana pelan.
"Ya tapi kan-" ucapan Sana terpotong, tiba-tiba mata Tzuyu langsung teralih kearah Hanbin yang sedang berdiri didepan pintu kantin.
"Kim Han!" Panggil Tzuyu saat melihat Hanbin sddang celingak-celinguk mencari meja mereka berdua.
"Gw gak nemu sama sekali" ujar Hanbin.
"Apa?" tanya Tzuyu dan Sana serempak.
Hanbin awalnya agak terkejut karena Sana dan Tzuyu yang menyahutnya dengan kompak yang kemudian menatap mata Sana dan Tzuyu satu persatu, "Gue,kematian gue, kenapa gue mati" jelasnya.
"Honestly gue udah gak peduli juga kenapa gue bisa mati dan jadi setan begini, karena yang namanya memori semasa hidup setan yang bangkit udah kehapus. So, mau diapain lagi? Orang udah keapus, yaudah lah ya" Ucap Sana santai.
"Tapi gue ngerasa ada yang aneh, San! Kayak- ada sesuatu yang harus gue selesain, kalau gue mati tenang, gue gak mungkin bisa bangkit begini lagi. Semua arwah yang bangkit pasti punya alasan, atau biasa dibilang arwah penasaran. Dan.. Kalau masalah semasa hidupnya udah kelar, setan yang tadinya bangkit akan kembali lagi ke petinya, dan jadi abu" Jelas Hanbin.
"Gue ngerti, Hanbin. Gue pasti bantu kok" Tzuyu menyemangati Hanbin.
"Eh, btw pulang sekolah kosong gak?" Tanya Hanbin pada Tzuyu.
"Kosong kosong aja sih kayaknya, kenapa emang?" Tzuyu menaikkan satu alisnya.
"Anterin gue ke perpus nasional kuy, kayak biasa" ucap Hanbin.
"Perpus?" Ia memikirkan perkataannya yang akan ia keluarkan untuk menolak ajakan Hanbin. "Kenapa gak perpustakaan Monsta-library aja?" Tanya Tzuyu balik.
"Ada buku yang pengen gue beli, bukan pinjem" jawab Hanbin. "Tapi sebelum itu gue ke lab dulu ya"
"Fix, gue gak ikut, gue paling benci baca buku, apalagi-di perpustakaan. Sunyi, bau kertas. Nope, gue gak ikut. Lo berdua aja sana" Celetuk Sana yang membuat Hanbin dan Tzuyu kompak untuk tertawa.
Tanpa sadar, bel masuk sudah berbunyi, istirahat telah selesai, ini adalah momen yang paling dibenci hampir semua siswa karena telah habisnya waktu bersantau mereka dengan teman-temannya setelah lelah karena pelajaran.
|-°°°-|
Point Of View to Chou Tzuyu
Gue Chou Tzuyu, vampir yang udah hidup selama 1015 tahun, gue termasuk vampir jenis Origin, vampir terkuat dari semua jenis vampir. Gue termasuk vampir yang masih anak-anak, gue gak pernah minum darah manusia, makanya gue lemah, gue masih kayak manusia, gue tidur, dan lelah, tapi gue gak makan makanan manusia, gue selalu minum darah hewan segar yang dikemas pake kemasan kotak seperti susu, buat menyembunyikan identitas bangsa kami, vampir, yang selalu dicap pembunuh.
Gak cuman itu, gue punya kekuatan sendiri yang gak banyak dimiliki vampir-vampir lainnya, gue bisa ngeliat masa depan yang singkat. Itu alasan kenapa gue bisa selalu selamat dari orang-orang yang berniat nyelakain gue, karena gue tau.
Kebetulan darah hewan yang dikemas lucu begini cuman ada di sekitar Monsta-School, karena sekolah ini emang sekolah yang dikhusus kan buat para monster yang masih ingin menuntut ilmu. Gak cuman vampir, disini ada alien, keturunan unicorn, keturunan naga, peri, putri duyung, hantu dan bahkan zombie. Semua monster bersekolah disini kecuali..........................
Drakula, dan vamfire
Sejenis vampir, namun berbeda.
|-°°°-|
"Tzuyu?" Panggil Sana.
"Hey, Sena, eh Sana, kenapa na?" Tanya Tzuyu yang mengumpatkan rasa gelisahnya.
"Lo lagi kenapa?" Tanya Sana menghampiri sahabatnya yang sedang terlihat murung.
"Eung.. Gue masih penasaran aja soal dia-maksud gue Hanbin, gw yakin ada sesuatu dibalik kematiannya. Gue baca di salah satu buku tentang hantu yang bangkit dan kehilangan memorinya. Seinget gue.. Mereka pasti punya bekas yang tertinggal di tubuh hantunya sekarang" Jelas Tzuyu, melampiaskan rasa gelisahnya pada Sana.
"Kayak gini?" Sana mengulurkan tangannya sehingga menampilkan pergelangan tangannya yang memiliki bekas luka seperti tersilet sesuatu yang tajam. "Gue yakin kalau gue bunuh diri" Sana menghela nafasnya "Tapi gue tetep gak bisa inget kenapa gue bisa ngelakuin hal itu".
Mata Tzuyu mengarah kearah jam dinding kelas, tiba-tiba ia teringat sesuatu yang membuatnya berdiri dari bangkunya.
"Eh! Gue ada urusan bentar ke ruang guru, lo disini aja ya" Ucap Tzuyu yang terlihat buru-buru.
"Ini sampah nya buang dulu" Sana mengangkat kardus minuman vampir yang selalu diminum Tzuyu. Tanpa berfikir panjang Tzuyu langsung mengambil kotak itu yang sepertinya masih ada isinya, kemudian berlari menuju ruang guru.
Sesampainya didepan pintu ruang guru, Tzuyu mengetuk pintu dan langsung masuk.
"Tzuyu" Sapa Victoria, guru bahasa inggris Tzuyu.
Tzuyu tersenyum dan membungkuk hormat kepada sang guru.
"Kamu satu-satu nya vampir cewek di sekolah ini, kan?" Victoria hanya tetap duduk dibangkunya seraya menyilangkan tangan dan kakinya.
Tzuyu mengangguk dengan ragu.
"Ayah kamu keturunan Origin?" Tanya Victoria yang membuat Tzuyu agak kurang nyaman. Tzuyu hanya membalas anggukan kecil.
"Ibu harap kamu tetap rendah hati dengan status kamu sebagai vampir jenis Origin"
"Saya bakal lakuin yang terbaik, bu" balas Tzuyu
"Kamu anak Chou Yenling, kan?"
Kali ini Tzuyu benar-benar tidak nyaman dengan semua perkataan dan pertanyaan dari Victoria, ia berharap Victoria dapat memberitahu langsung alasan mengapa ia dipanggil untuk menemuinya.
"Ntar aja jawab, ibu cuman minta tolong besok kamu cariin buku karya John Green di perpus" ucapnya.
"Ibu bisa baca fikiran orang?" Tzuyu tanpa sengaja bersikap lancang.
Victoria menggeleng, "Ibu cuman nebak dari muka kamu" jawabnya singkat. Tzuyu merasa curiga dengan Victoria, walaupun sebenarnya Victoria sebangsa dengannya, vampir, namun entah kenapa Tzuyu merasakan aura aneh saat ia sedang berbicara dengannya.
Vampir dapat dikatakan telah dewasa saat dirinya telah meminum darah manusia. Jika belum, orang yang terlahir dari darah vampir tetap akan bersifat seperti manusia, yaitu lambat, lelah, lapar, dan lain-lain. Namun vampir remaja tetap tidak memakan makanan manusia, begitu juga dengan minuman, vampir remaja meminum darah hewan yang biasanya dikemas seperti susu kotak untuk menyamarkan identitas vampir.
Setelah percakapan yang sedikit menyinggungnya, Tzuyu keluar dari ruangan dengan keadaan masih memegang kotak minumannya-darah yang isinya tinggal setengah.
Tzuyu menutup pintu ruang guru. Saat ia berbalik ia melihat seorang pria berpostur badan tinggi. Mereka menjaga kontak mata satu sama lain. Membuat Tzuyu terlamun sejenak.
"Bisa permisi, gak?" Ucap pria itu sedikit kasar. Tzuyu mengalihkan pandangannya, ia menunduk dan mendapati pin nama yang ia pakai bertuliskan 'Kim Min Gyu'. Tzuyu tidak berkutik dan terus menatap pin nama itu dengan wajah yang dan terhanyut dalam lamunan.
Raut wajah Mingyu kesal dan ia memutuskan untuk berjalan menghiraukan Tzuyu. Akibatnya bahu Tzuyu dan Mingyu bertabrakan satu sama lain, kotak minuman yang dipegang Tzuyu terjatuh kemudian tumpah, isi dari minuman tersebut pun mengalir bebas dilantai.
Tzuyu terkejut dengan tumpahnya isi minuman miliknya di langai dan berharap Mingyu tak melihatnya dengan tetap masuk ke ruang guru tanpa menghiraukan dirinya.
Namun, Mingyu sepertinya telah mengetahuinya, namun ia hanya pura-pura tidak peduli dan melanjutkan langkahnya.
"Kim Mingyu, manusia satu-satunya yang sekolah di monsta-school, paling dingin seantero sekolah" Gumam Tzuyu yang sudah berhasil menilai Mingyu dari sudut pandangnya.
|-°°°-|
Monsta library
(perpustakaan Monsta School)
Langkah kaki Mingyu melangkah perlahan, dan matanya melihat semua judul buku yang tertata rapih di rak buku.
Namun disatu langkah ia berhenti dan mulai mengambil buku yang sepertinya sedang ia cari. Ia pun membuka lembar buku itu perlahan dan melihat semua kata kata didalam nya.
Merasa cocok dengan buku tersebut, Mingyu pun membawa buku itu ke meja baca dan mulai membaca halaman 1.
"101 vampire powers"
Matanya mulai membaca semua kalimat kalimat didalam nya dengan serius dan beberapa waktu kemudian ia membalik halamannya.
Tzuyu melihat Mingyu yang sedang membaca buku dengan serius dari belakang, tiba-tiba ia teringat kejadian memalukan yang baru saja ia alami bersama Mingyu. Ia pun segera mendekati pria berdarah asli manusia itu dan berencana untuk berdamai, bekerjasama agar Mingyu tak memberitahu seseorang pun bahwa dirinya adalah vampir.
"Hey" Tzuyu memulainya dengan cara yang halus.
Mingyu menoleh. "Gue.. Chou Tzuyu, anak pindahan" ucap Tzuyu sambil mengulurkan tangannya.
Bukan membalas jabatan tangan Tzuyu, Mingyu hanya menutup buku yang ia baca dan menyembunyikan nya dibelakang punggung nya.
"Baca buku apa, lo?" Tanya Tzuyu basa-basi dan duduk disamping Mingyu. Mingyu menggeleng pelan, menolak Tzuyu berada lama-lama disisi Mingyu.
"Soal tadi-" Tzuyu mulai memberanikan diri untuk mengkonfirmasi kejadian tadi, jika Mingyu benar-benar melihatnya, tamatlah Tzuyu, jati dirinya akan terungkap dan memungkinkan dirinya untuk pindah lagi karena ia tidak sanggup jika ia akan tertekan karena dibuli atau merasakan hal-hal yang sangat tidak ia inginkan.
"Gak usah dipikirin" Ucap Mingyu cepat.
"Lo kanibal?" Tanya Mingyu spontan.
"Nggak!" Tzuyu mengelak dengan cepat.
"Berarti lo vampir, ya?" Jebakan! Ini jebakan, Mingyu sangat hebat dalam hal menjebak, dalam situasi ini sangat tidak masuk akal jika Tzuyu masih saja beralasan.
"Gue cuman..." Tzuyu berfikir keras untuk mencari alasan, sementara Mingyu menaikkan satu alisnya dan menangkap reaksi dari Tzuyu.
"Aneh. Iya, gue cuman aneh" lanjutnya.
"Jadi lo manusia aneh yang suka minum darah kayak vampir?"
Tzuyu tersenyum canggung dan mengangguk
Suasana hening menyelimuti keadaan perpustakaan, oh, nggak, lebih tepatnya, keheningan menyelimuti Tzuyu dan Mingyu. "Oh iya, gw cabut duluan ya, gw ada perlu sama Hanbin" akhirnya Tzuyu yang membuka mulut setelah keheningan membosankan yang baru saja terjadi.
|-°°°-|
@choutzuy
Hi Kimhan, jadi gak?
@kimhanbeen
Hah? Serius lo mau?
@choutzuy
Iya gc, gw baru keluar dari perpus.
@kimhanbeen
Eh kebetulan nih gw masih di lab, ntar gw nyusul ya, tungguin!
(read)
|-°°°-|
Tzuyu pun menunggu sambil duduk di bangku taman.
"Chou Tzuy" panggil Hanbin.
Tzuyu mendongakkan kepalanya dan tersenyum melihat orang yang ia tunggu akhirnya datang.
Hanbin melihat Tzuyu seperti sedang terpikirkan sesuatu karena raut wajahnya yang tidak mengenakkan.
"Kok manyun?" Tanya Hanbin yang ikutan menarik bibirnya kebawah.
"Kok lama?"
"Hehehe, Gw piket di lab"
"Pantes" Jawab Tzuyu yang langsung meraih helm yang memang diketahui untuknya.
Tanpa mereka sadar, daritadi Mingyu sedang memperhatikan mereka didepan pintu perpustakaan. "Vampir? Mahluk terangkuh dimuka bumi" gumam Mingyu mengepal tangannya geram terhadap sesuatu.
|-°°°-|