Gis mengelap keringatnya di dahi. Setelah selesai mengepel lantai, Gis bergegas mencuci setidaknya untuk pakaiannya sendiri. Hari minggu ini Gis sudah rapi dengan pakaian santai kaos bergambar kepala kucing dan celana jeans pendek di atas lutut. Gadis itu kemudian duduk di sofa sambil membaca sebuah novel.
Untunglah karena setelah hari itu, manusia jupiter sudah tidak datang mengganggunya lagi. Jika mengingat hari kemarin, Gis benar-benar ingin menendang manusia jupiter itu supaya kembali lagi ke planet asalnya. Biar saja hilang ditelan badai sekalian. Biar nggak datang-datang lagi. Mungkin akan ia lakukan jika nanti bertemu lagi. Tapi ia berharap kepada semesta supaya tidak dipertemukan lagi.
"Akrab banget, nih, anak Mama sama buku."
"Mama?" Gis menengok ke arah kiri. Ada Mama sedang memutar roda di kursi rodanya. Gis menyimpan novelnya lalu membantu Mama.
"Mama kenapa gak bilang sama Gis kalau mau keluar kamar?" tanya Gis.
"Habisnya Mama tahu kalau kamu pasti lagi baca buku, kan?"
"Tapi, kan, Ma. Gis bisa simpan dulu bukunya." Kemudian Gis membawa Mama ke taman belakang rumahnya. Petak 4 meter persegi itu dihiasi oleh banyak bunga, serta lampion yang menggantung di atasnya.
"Yah, Ma ..., lihat ada bunga yang layu." Gis memetik bunga itu lalu memberikannya kepada Mama.
"Tahu tidak kenapa bunga mawar ini bisa layu?"
"Karena lupa Gis siram?" jawab Gis.
Mama menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu lupa siram lagi, Mama kurangin lho uang jajan minggu ini." Mama tergelak.
"Ih Mama. Kira Gis apaan."
"Kamu lihat gak dua bunga mawar itu?" Gis mengikuti telunjuk Mama lalu mengangguk.
"Iya. Kenapa memang?" tanya Gis penasaran.
"Mungkin cintanya tidak terbalaskan. Makanya bunganya layu karena ia hilang harapan tak kunjung dikasih kepastian."
"Memangnya itu sangat menyakitkan, ya, Ma?"
"Kalau nggak sakit, mana mungkin bunga ini layu, Gis." Mama tersenyum. Di pandangannya, tidak ada yang berubah sama sekali. Gis tetap Gis kecilnya. Walau usianya sudah 18 tahun.
"Bi Ina tadi udah masak, lho, Ma. Makan, yuk?" Mama mengangguk.
Kemudian Gis membawa Mama ke ruang makan, membantunya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Mengambil sesiuk nasi, menambahkan lauk yang belum lama matang di masak Bi Ina.
"Bentar ya, Ma. Gis mau ambil ikat rambut dulu di kamar."
Gis melangkahkan kakinya menaiki anak tangga lekas masuk ke kamarnya. Langsung menyambangi meja belajarnya, Gis membuka salah satu laci yang ada di sana mengambil satu buah ikat rambut. Tadinya Gis mau langsung kembali. Tetapi saat melihat secarik kertas terlipat di atas meja belajarnya, mengingatkan Gis pada sosok manusia jupiter.
Penasaran, Gis membuka lipatan kertas itu lalu membaca tulisannya. Berkali-kali gadis itu menyipitkan matanya berusaha membaca tulisan aneh yang dikirim makhluk teraneh juga. Gis sampai pusing membacanya.
"Ya ampun, tulisannya jelek banget." Setelah mengamati beberapa kali, Gis baru mengerti.
Aku mau ajak kamu ke Merkurius buat beli ikan cupang. Kamu harus selalu siap-siap. Soalnya aku akan datang saat kamu sedang tidak menduga-duga kapan aku datang —manusia aneh, dari Jupiter.
Gis menggeleng-gelengkan kepalanya. Manusia aneh dari yang paling aneh, ya cuma si manusia jupiter. Tidak perlu pergi ke Merkurius, beli ikan cupang juga bisa di depan Sekolah Dasar dekat rumahnya. Lalu Gis kembali turun menemani Mama sarapan di ruang makan.
***
"Sha, gak pa-pa, kan kamu hari ini piket sendirian?" kata salah seorang teman sekelas Gis.
"Gak pa-pa."
Gis mengambil sapu di pojokkan kelasnya. Samar-samar, Gis dapat mendengar percakapan temannya tadi dengan seseorang di luar. Setelah menghela napas panjang, Gis mulai menyapu seluruh permukaan lantai.
"Kamu tahu tidak, Gis? Hari ini cuaca sedang cerah."
"Dwi?" Gis membelalak.
"Bagian itu masih kotor. Biar aku yang angkat bangku."
Gis sempat terkejut dengan keberadaan Dwi di kelasnya. Namun setelah itu, ia kembali bersikap normal seperti Gis yang biasanya. Gis sempat menoleh keluar lewat jendela. Benar kata Dwi. Cuaca sedang cerah. Hanya saja, ketika angin semilir mengembus perlahan, seperti sedang memberi kabar buruk tertahan.
Gis harus segera menyelesaikan piket kalau tidak mau ketiban sial. Sebab mengikuti perkiraan nasibnya hari ini, jika ia tetap berada di dekat Dwi, maka waktunya akan terbuang sia-sia lagi. Setelah selesai, Gis langsung menyimpan sapunya di tempat semula dan bergegas pulang.
"Yuk." Dwi berjalan mendahului Gis sambil menarik pergelangan tangannya.
"Lepasin, Dwi. Aku mau pulang." Gis meronta.
"Bangkunya udah aku angkat ke atas meja semua kok. "
"Aku mau pulang, Dwi!"
"Tapi aku sedang lapar, Gis. Makan di warteg depan dulu, deh."
"Denger aku ngomong apa nggak, sih?" Gis mulai kesal.
"Minggu lalu kamu sudah berjanji mau menemaniku."
"Maksud kamu?" tanya Gis bingung. Memangnya kapan ia membuat dengan Dwi? Dwi memang aneh!
"Sudah baca kertas yang kukasih, kan?" Gis mengangguk.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Dwi membawa Gis mampir ke warteg depan langganannya. Selain harganya yang sangat terjangkau, menurut Dwi, masakan di sana memang sangat enak. Tidak tahu deh kenapa. Sebab Dwi belum pernah makan di warteg lain.
"Mas Dwi?" sapa laki-laki berjenggot bewok memakai celemek kusam kehitam-hitaman. Yang Gis tebak, pasti pemilik warteg ini.
"Tumben ke sini bawa gadis. Cantik lagi," ujar Dito, pemilik warteg sekaligus koki di sini.
"Tadi saya habis pergi ke laut sebentar, Kang. Eh nggak sengaja nemu mutiara cantik. Ya sudah saya bawa," jawab Dwi.
Dito terkekeh menanggapi respon Dwi. Dwi tersenyum lalu duduk di salah satu bangku kosong di sana. Sementara Gis, gadis itu hanya diam saja. Lagi pula, ia tidak mengerti dengan topik bahasan dua laki-laki dewasa itu. Menurut Surya, Dwi adalah mahasiswa teknik ilmu sipil bangunan.
"Sini duduk Gis."
Sambil menilik-nilik sekitar, Gis mendudukkan pantanya di atas kursi di hadapan Dwi. Jadi ini adalah warteg. Seumur hidup, ini adalah kali pertamanya menginjakkan kakinya di tempat seperti ini. Tidak terlalu buruk.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Dwi.
"Aku gak laper," jawab Gis pendek.
"Kang, porsi biasa, ya, dua," teriak Dwi dari tempatnya.
"Siap," sahut Dito.
"Buat siapa?" Gis bertanya dengan kesal. Kesal sekali.
"Dari tadi perut kamu bunyi terus. Makanya aku beliin." Dwi menatap perut Gis seolah-olah memang sedang berbicara 4 mata.
"Aku kan gak lapar!"
"Iya kan, perut?"
"Dwi!!!" Gis berdiri dari tempat duduknya. Namun lagi-lagi Dwi menghalaunya segingga gadis itu kembali duduk. Gis malas. Gis ingin pulang. Gis ingin baca buku. Tapi lagi-lagi si manusia jupiter itu mengganggunya.
"Yang satu buat Abang gantengnya, yang ini buat si Teteh cantik yang dari tadi cemberut aja." Dito menghidangkan makanan pesanan Dwi di atas meja.
"Gak tahu nih, Kang. Mutiaranya cemeberut mulu. Apa perlu saya carikan kerangnya gitu?"
"Kan kerangnya udah ada di sini. Kenapa mesti dicari?" goda Dito.
Setelah itu Dito kembali ke tempat. Sebenarnya Gis tidak mau makan. Tetapi Gis lebih tidak mau lagi mendengarkan paksaan Dwi. Bisa-bisa sistem pendengarannya rusak tidak berfungsi. Terpaksa, akhirnya Gis ikut makan.
***
Padahal hari sudah sore. Tetapi langit masih deselimut biru. Dwi dan Gis sedang menyusuri jalanan lengang. Digandrungi oleh sunyi sepi, dirajai hening memperbudak. Gis sudah berjalan jauh sekali dari warteg tadi. Dalam hati, ia mengutuk lelaki tinggi besar itu. Semilir angin, bawa aku terbang. Gis berkata di dalam hati.
"Kita mau ke mana sih, Dwi?" tanya Gis.
"Merkurius sudah tidak kuat lagi jalan?" Dwi berhenti sejenak.
"Apaan sih, Dwi? Jadi kamu beneran mau ngajak aku ke Merkurius?"
"Cepat, Gis. Nanti ikan cupangnya keburu ada yang beli." Kemudian mempercepat langkahnya.
"Buat apa sih?"
Lagi-lagi Dwi tidak menjawab. Sesampainya Dwi dan Gis di depan toko ikan cupang, Gis memilih untuk menunggu Dwi di luar. Tak lama, Dwi sudah kembali membawa akuarium kecil berpasir dan batu karang kecil dengan ikan cupang berwarna merah menyala.
"Tahu tidak, Gis kalau kamu itu mirip sama ikan cupang?"
"Ngawur kamu." Gis memutar bola mata, mendelik.
"Kalau kamu sendiri, kamu baru bisa tenang. Tapi kalau kamu dikasih teman, walau itu cuma satu, kamu pasti langsung marah-marah."
Gis teridam sejenak. Kenapa hatinya merasa tertohok sekali dengan ucapan Dwi barusan? Semesta, lenyapkan lah makhlukmu yang satu ini.
"Nanti aku juga mau coba ah kasih kamu cermin. Kalau lihat diri kamu sendiri, kamu bakalan marah nggak, ya?"
"Heh! Kamu pikir aku bahan percobaan, apa?" Gis menyikut tangan Dwi sehingga air di dalam akurium jadi keruh karena hamburan pasir dan sedikit tumpah mengenai kaos yang sedang Dwi pakai.
"Kamu nggak mau minta maaf?" Dwi menatap Gis.
"Buat apa?"
"Ini bajuku basah."
"Gara-gara siapa?" tanya Gis.
"Gara-gara gadis merkurius nyikut tanganku barusan."
"Kamu panggil aku apa barusan?"
"Karena kamu kecil."
"Ih!!!" Gis sudah berada di puncak kekesalannya. "Kenapa gak sekalian Pluto aja?" Gis merengut kesal.
"Aku kira kamu gak secebol itu." Dwi terkekeh.
"Dwi!!!" Setelah itu Gis berjalan terburu-buru meninggalkan Dwi di belakang. Jangan tanya alat ukur kekesalan yang Gis punya untuk mengetahui takarannya. Karena hari ini sudah dirusak oleh manusia jupiter super menyebalkan itu.
Dwi menyusul di belakangnya. Berjalan, laki-laki itu mengembangkan senyum. Sepertinya ceria yang dimiliki semesta hari ini didedikasikan untuk dirinya.
"Gis tungguin aku. Memangnya kamu tahu jalan pulang lewat mana?"
***
"Gis? Gis?"
Hari sudah semakin malam. Satu jam terakhir waktunya habis dipakai untuk mencari keberadaan Gis yang sepertinya sedang benar-benar tersesat. Ya Tuhan, Dwi jadi merasa bersalah. Seharusnya tadi ia tidak usah bilang kalau Gis itu cebol.
Dwi menyusuri gang sempit daerah sekitaran sana. Dwi yakin kalau Gis masih berada di daerah sekitar sini. Sayangnya karena gulita semakin merajalela, Dwi jadi kesulitan mencari mutiara yang baru saja minggu lalu dan tadi sore ia temukan.
"Gis? Gis?"
Dwi masih kesulitan mencari Gis. Laki-laki itu terus berputar ke sana dan ke mari. Ia mulai panik. Setelah menarik napas dalam-dalam, Dwi melanjutkan lagi pencariannya. Lewat meni-menit, akhirnya Dwi dapat menemukan Gis di tengah lapangan bola berumput liar sedang duduk sambil memeluk erat lutut.
Dwi mendekat. Dengan jelas Dwi bisa menangkap bahu Gis gemetaran. Kemudian ia duduk bersila di samping Gis, menyimpan akuariumnya sebentar lalu sebelah tangannya ia letakkan di atas kepal Gis sambil tersenyum.
"Jangan takut lagi, ya?"
Gis masih enggan menjawab. Mulutnya tertutup rapat.
"Kamu tahu? Aku tidak akan meminta maaf karena aku tahu kamu sudah tahu letak kesalahanku di mana. Jadi jangan takut lagi, ya? Karena aku udah ada di sini."
Gis masih tidak menjawab. Tetapi sekarang kepalanya mengangguk.
"Boleh aku marah sama kamu?" tanya Gis.
"Lihat deh ikan cupangnya. Gerak-gerak. Udah gak sabar pingin dibawa sama gadis merkurius pulang."
"Dwi?"
"Aku ingin kamu yang rawat ikan ini."
"Serius, Dwi."
"Aku nggak bercanda, Gis. Kamu jangan jauh-jauh dariku."
"Tau ah."
"Aku antar kamu pulang."
Dwi berjalan terlebih dahulu. Gis memang sengaja mengambil jarak 1 meter di belakang Dwi sambil membawa akuarium berisi ikan cupang itu di tangannya.