My Rapunzel

By odiadara

14.9K 2.8K 232

[COMPLETE] Aku mempunyai tetangga. Namanya Son Seungwan, tapi aku memanggilnya Swan. Dia cantik seperti angsa... More

1. Gadis berambut pirang
2. Perumahan Victoria
3. Tetangga baru
4. Tamu yang tidak diundang
5. Rapunzel
6. Berjalan bersamanya
7. Kedatangan sang dokter
8. Kau baik-baik saja?
9. Keanehan
10. Kucing putih
12. I loved you
13. Hujan yang dingin
14. Swan yang berbeda
15. Kau adalah Rapunzelku
16. Neverland (Ending)

11. Hidup bersama gadis pirang itu

823 158 9
By odiadara

Aku tertegun sambil memandang langit-langit kamar. Sedangkan Son Seungwan sudah tidur terlelap di sampingku. Awalnya aku menolak untuk tidur bersamanya, tapi Seungwan memaksaku agar aku tidur di sisinya. Dia takut dan lagi-lagi mimpi buruk. Dengan keadaan seperti ini, tentu saja membuatku tidak bisa tidur.

Pertama, karena Seungwan tidur di sampingku. Siapa juga pria yang bisa tidur ketika gadis yang ia cintai itu tidur di sampingnya? Mungkin kalau mereka bukan pasangan suami-istri. Semua pria pasti akan gugup dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kedua, yang lagi-lagi aku memikirkan pria berhoodie abu-abu itu. Aku merasa tidak aman lagi. Bukan takut, tapi bingung. Bingung dengan apa alasan dari pria itu mengikutiku? Apalagi sekarang dia sudah mulai berani masuk ke rumahku.

Aku menoleh memandang Seungwan. Tanganku tak tahan mengusap rambut pirangnya yang lembut. Ketakutan yang begitu aku takuti adalah jika Seungwan yang terluka dan pergi meninggalkan aku. Aku hanya takut, orang gila itu juga mengincar Seungwan dan menyakiti Seungwan. Aku tidak akan membiarkannya.


"Kau tidak tidur, Chanyeol?"

Seungwan membuka mata. Aku membangunkannya. Dengan cepat aku menyingkirkan tanganku yang awalnya di kepala Seungwan.

"Oh, maaf. Aku membangunkanmu, ya? Tidurlah lagi."

Gadis itu menggelengkan kepala.

"Tidak. Daritadi aku pura-pura tidur."

Aku mengerjapkan mata.

"Kenapa? Tidurlah. Sudah larut malam."

"Sebenarnya aku datang ke rumahmu bukan karena tidak bisa tidur. Aku melihat seseorang masuk ke rumahmu lewat jendela kamarmu."

Seungwan melihat orang itu. Dan kemungkinan besar orang itu juga melihat Seungwan, hingga dia melarikan diri seperti tadi. Aku merasa semakin tidak aman, untukku dan untuk Son Seungwan. Sial!

"Wah, pasti dia adalah pencuri. Tidak kusangka ada orang yang ingin mencuri sesuatu di rumahku," kataku sambil tertawa kecil. "padahal tidak ada barang yang berharga di rumah ini. Dasar pencuri kelas teri itu!"

"Tidak Chanyeol. Dia mengincarmu. Akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengikutimu."

Rencana untuk tidak membuat Seungwan khawatir pun gagal. Gadis berambut pirang itu juga menyadarinya kalau orang itu selalu mengikutiku. Aku menatapnya khawatir.

"Apa dia mengikutimu juga? Apa dia juga datang ke rumahmu juga?" tanyaku.

Seungwan menggelengkan kepala. "Tidak. Jangan khawatir Chanyeol. Dia tidak begitu padaku, tapi...."

"Tapi, kenapa?"

"Kurasa dia yang sudah membunuh Loey. Sebelum aku melihat Loey tergeletak di jalanan. Aku melihat ada seseorang yang berdiri di depan rumahmu dan terus menatap rumahmu."

Aku mendesah frustasi. Seungwan menatapku begitu khawatir.

"Jangan khawatir. Ya, mungkin dia adalah temanku yang ingin berkunjung bukan pembunuh Loey," ujarku sambil tersenyum.

"Boleh aku tinggal di sini?"

Aku terbelalak. "Eh? Apa?"

"Aku ingin tinggal di sini bersamamu."

"Tinggal bersamaku? Di rumah ini?"

"Iya!"

Tidur bersamanya seperti ini saja sudah membuatku gugup. Dan sekarang Seungwan ingin tinggal di rumahku? Aku tidak percaya ini, tapi tentu saja aku tidak ingin menolaknya. Namun, bukankah ini adalah ide yang buruk?

"Jangan, Swan. Jika benar ada seseorang yang mengikutiku. Sepertinya untuk saat ini kau jangan terlalu dekat apalagi tinggal di sini. Aku takut jika aku sedang kuliah dan meninggalkanmu di rumah ini. Orang itu akan—"

"Tidak bisa! Aku ingin tinggal di sini. Bersamamu selalu. Jika boleh, aku ingin bersamamu selamanya."

Aku terdiam, menatap Seungwan penuh arti.

"Kau pernah bilang ingin melindungiku, kan? Dan mulai saat ini, aku juga ingin melindungimu, Park Chanyeol," lanjutnya dengan serius.

Hening. Keadaan mulai hening mengisi kamarku yang gelap. Aku dan Seungwan saling diam dan saling menatap penuh arti. Rasa bahagia di dalam hati mulai terasa. Kurasa aku sudah berhasil membuka hati Seungwan untuk menerimaku sendiri. Namun, aku takut dalam keadaan seperti ini malah membuat kami saling tersakiti. Entah nanti itu Seungwan, atau nanti malah aku yang akan merasa sakit?

=====

Pagi ini aku bangun lebih dulu. Aku membersihkan rumah dan membuat sarapan untukku dan Seungwan. Seungwan masih tidur. Setelah malam itu kami saling berdebat tentang tinggal di rumah ini. Hingga akhirnya aku pun mengiyakan untuk setuju. Kurasa untuk sementara.

Senang, tentu saja aku senang sekali. Senang bisa melihat Seungwan setiap hari. Melihat wajah cantiknya, dan melihat senyuman indahnya. Dan sekarang pun aku melihat sesuatu di diri Seungwan yang jarang kulihat, yaitu wajah kucel Seungwan yang baru saja bangun dari tidur dengan rambutnya yang sedikit berantakan.

Dia masih terlihat cantik.

"Selamat pagi Chanyeol!" sapanya, berjalan mendekat ke arahku.

"Kau sudah bangun, Swan. Duduklah, aku sudah membuat omelet," kataku sambil meletakan dua piring berisikan telur dadar di atas meja makan.

Kami berdua pun duduk dan mulai menikmati makananku. Seungwan tersenyum menatap omelet itu.

"Tidurmu nyenyak tadi malam?" kataku dengan mulutku yang mengunyah makanan.

"Iya! Aku bermimpi indah. Bagaimana denganmu?"

"Te-tentu saja aku tidur dengan nyenyak dan bermimpi indah."

Padahal aku tidak bisa tidur sama sekali. Dan inilah alasanku bangun pagi buta sambil membersihkan rumah dan membuatkannya sarapan. Semoga mataku tidak terlihat lelah. Namun, sepertinya gadis itu terlihat bahagia sekarang. Seungwan tersenyum padaku tanpa menyentuh makanannya. Dia terus memandangku. Aku gugup lagi.

"Makanlah Swan, nanti dingin makanannya."

"Senangnya.... Bisa melihat Park Chanyeol makan dengan lahap di pagi hari," katanya masih dengan senyuman.

"Senangnya... bisa melihat wajah Son Seungwan yang kusut di pagi hari," balasku menggodanya.

Dia memegangi pipinya dengan terkejut. "Oh? Apa aku terlihat jelek sekarang?"

Aku tertawa kecil. "Tidak, Swan. Kau selalu cantik."

"Sudah kuduga. Aku memang selalu cantik," katanya sambil tertawa kecil.


Di sela-sela candaanku bersama Seungwan. Aku melupakan sesuatu, aku merasa ada sesuatu yang janggal. Aku mengecek ponselku untuk melihat jam. Aku pun terkejut melihatnya. Sudah jam 7 pagi.

"Sial! Aku terlambat, Swan. Kau habiskan makannya, ya? Aku mau ke kampus dulu."

"Oh, iya, Hati-hati Chanyeol."

Aku pun bangkit kemudian berlari tergesa-gesa mengambil ranselku di dalam kamar. Tak lupa aku mengambil sepatuku di rak sepatu dekat dapur dan memakainya dengan terburu-buru. Ini pasti karena tadi pagi aku membersihkan seluruh rumah. Aku benar-benar tidak menyadarinya karena terlalu fokus.

"Swan! Jangan lupa mengunci semua pintu rumah dan jendela, ya?" teriakku sambil berjalan ke ruang tengah dengan masih berusaha memakai sepatu dengan gerakan yang cepat.

Seungwan berlari menghampiriku. "Hati-hati Chanyeol."

"Iya, lanjutkan sarapannya. Makan siang kau bisa memesannya sendiri. Ada uang di atas kulkas. Aku berangkat dulu, ya?" kataku setelah selesai memakai kedua sepatuku.

"Tunggu. Pulang jam berapa?"

"Mungkin malam. Sekitar jam 7 malam karena aku ada tugas yang banyak."

Seungwan menghela napas. Dia terlihat sedih.

Aku tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Aku akan pulang secepatnya. Tutup dan kunci semua pintu dan jendela, ya?"

"Iya...."

"Aku berangkat."

Aku pun membuka pintu dan mengambil sepedaku. Entah mengapa, aku berpikir bahwa aku dan Seungwan terlihat seperti sepasang pengantin yang baru saja menikah. Aku sangat senang.

======

Aku tidak bisa pulang dengan cepat, karena banyak sekali tugas yang harus kukerjakan di kampus. Aku ingin sekali cepat sampai di rumah dan melihat Seungwan menyambut kedatanganku.

Hingga akhirnya malam pun tiba. Ketika sudah sampai di rumah. Dengan cepat aku meletakan sepedaku dan langsung membuka pintu.

"Aku pulang!" kataku dengan semangat.

"Kau sudah pulang Chanyeol."

Seungwan tersenyum dan berlajan mendekatiku. Lihatlah! Senang sekali jika setiap hari seperti ini. Rinduku padanya pun semakin terasa jika selalu ada di sampingnya. Ketika aku datang aku pun juga disambut dengan aroma pizza yang lezat.

"Wah, ada pizza. Kau memesan pizza Swan. Kebetulan sekali, aku sangat lapar."

Aku duduk di sofa ruang tengah dan langsung menyantap pizza itu. Pizzanya sudah dingin. Sepertinya Seungwan memesan pizza ini sudah lama, tapi meskipun sudah dingin masih tetap terasa lezat. Apalagi jika dimakan bersama Seungwan yang duduk di sampingku sambil menatapku dengan senyuman.

"Apa ada orang yang mencurigakan setelah aku pergi?"tanyaku.

"Tidak ada. Aku sudah menjaga rumahmu dengan aman."

Aku mengacakan rambut Seungwan dengan senyuman. "Anak pintar."

Seungwan tertawa kecil. "Apa pizzanya masih enak?"

"Oh, masih lezat sungguh. Kau sudah makan?" tanyaku. Aku mengigit pizzanya lagi.

"Sudah!"

"Baguslah. Oh ya, apa kau ingin menonton film?"

"Kau ada film?"

"Ada."

Aku mengambil remote TV. "Kau bisa mencari film di remote ini. Sebentar aku mau mengambil minum dan menganti baju dulu."

"Baiklah..."

Aku meletakan remote itu di atas meja kemudian bangkit pergi ke dapur. Lampu dapur tidak menyala. Seungwan pasti lupa menyalakannya, aku pun menyalakan lampu itu.

Lalu aku membuka kulkas. Aku melihat masih ada uang yang kuletakan tadi pagi di atas kulkas. Kuambil uang itu dan kuhitung. Jumlahnya masih sama seperti sebelumnya. Jadi Seungwan tidak membeli pizza itu dengan uangku? Sepertinya dia memakai uangnya sendiri. Gadis itu pasti berpikir kalau tinggal di rumahku pasti akan merepotkanku. Nyatanya tidak, aku sangat menyukainya. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil kaleng minuman soda di dalam kulkas. Pizza lebih enak jika ditemani minuman soda seperti ini.

Ketika aku meneguk minuman soda itu. Mataku melirik ke meja makan. Aku berjalan ke arah meja makan itu. Keningku mengernyit melihat sesuatu di atas meja.

Omelet yang kubuat untuk Seungwan tadi pagi masih utuh. Seungwan tidak memakannya. Kenapa? Apa masakanku tidak enak? Tidak mungkin. Dia sama sekali tidak menyentuh omeletnya apalagi memakannya. Atau dia tidak suka omelet?

Aku berbalik menatap Seungwan dengan heran. Seungwan duduk di sofa itu dengan diam. Mata indahnya menatap pizza di atas meja. Sesekali dia melirik remote TV secara bergantian. Kemudian dia mendesah terlihat frustasi dan menoleh ke arahku.

"Kenapa Chanyeol?" tanyanya.

"Oh, tidak."

Aku kembali menetralkan ekspresiku. Kemudian berjalan ke arah wastafel. Bersih, tidak ada piring kotor atau pun piring yang sudah di cuci. Lalu aku membuang kaleng minuman soda yang baru saja kuhabiskan di tempat sampah yang terletak di dekat wastafel. Tempat sampahnya pun bersih, tidak ada satu pun sampah di sana karena aku sudah membuang semua sampah tadi pagi. Hanya ada satu kaleng yang baru saja kubuang.

Keadaan dapur masih terlihat semula seperti tadi pagi. Apakah Seungwan benar-benar sudah makan?

Tiba-tiba ponselku berdering singkat. Seseorang mengirimiku pesan. Kuambil ponselku di saku celana jinsku. Dari Park Suho.

Park Suho.
Aku minta maaf untuk tempo hari. Kau sudah dewasa dan pasti sudah mengenal apa yang namanya cinta. Maafkan aku yang masih tidak percaya padamu. Sebagai permintaan maaf, aku sudah mengirim pizza kesukaanmu tadi.

Ternyata pizza itu dari Suho. Aku menghela napas. Dipikir-pikir lagi, sepertinya aku juga terlalu kasar pada Suho tempo hari karena sudah mengusirnya.

Suho mengirim satu pesan lagi.

Park Suho.
Aku yang mengirim pizza itu sendiri tadi sore. Kurasa saat itu kau sedang ke toko untuk membeli sesuatu karena pintu rumahmu tidak di kunci. Aku masih tidak berani menemuimu, tapi kalau kau ingin aku datang ke rumahmu, aku akan datang kapan pun itu. Oh ya, di mana pun kau berada seharusnya kau mengunci pintu rumahmu! Kau harus waspada karena kau tinggal sendirian. Baiklah, sekali lagi maafkan aku Park Chanyeol.

Aku tertegun membaca pesan dari Suho. Jadi Suho tidak bertemu dengan Seungwan. Dan Seungwan tidak mengunci rumahku.

Gadis itu mengabaikan pesan dariku, bahwa dia harus mengunci semua pintu ataupun jendela rumahku.

Bersambung....

Continue Reading

You'll Also Like

160K 22.3K 36
Completed ✔ #1 Wenyeol -- 23/02/2019 ________ Hanya sebuah cerita mainstream tentang Son Wendy yang jatuh cinta pada pengawalnya sendiri. Seorang pri...
27.6K 4.5K 34
Karena penyakit jantung Bapaknya udah parah, Wendy diminta buat segera nikah sebelum sang Bapak meninggal. Oleh sang ibu, Wendy disuruh buat PDKT sam...
18.4K 3.4K 45
bersahabat dari lahir, chanyeol dan seungwan bagai surat dan prangko. bagai koin receh dan telepon umum. tahun 1999, ketika seungwan pergi ke seoul u...
88.1K 9.8K 31
Keberadaan Seungwan bagaikan matahari kepergiannya seperti matahari tenggelam, terlihat indah dimata Chanyeol. Namun keindahannya hanya sesaat dan se...
Wattpad App - Unlock exclusive features