"Tegarkan hatimu dan melangkahlah. Suatu saat nanti kau dapatkan pujaan hati yang kan kau dambakan."
Jangan Bersedih - Tiffany Kenan
Crystal tidak henti-hentinya menangis sambil berdiri dan memeluk Bundanya dengan erat. Ruangan rumah sakit itu kini ramai dengan tangis Crystal yang menggema, sedangkan yang lain terlihat tidak sabaran menunggu Crystal yang menangis seperti anak kecil. "HUAA BUNDA!!"
"Aduh, ini apasih berisik banget kamu teriak di pinggir telinga Bunda," sewot Bundanya dan malah berusaha melepaskan pelukan anaknya. "Kita cuma nggak tinggal serumah, Sayang. Ayah sama Bunda juga kan balik ke Jakarta bareng kamu dan suamimu."
"HUAA TETEP AJA!"
"Ya Allah Ya Rabb," Bunda terdengar gemas, lalu merengek pada suaminya. "Ayah, tolongin dong. Ini anakmu mau bikin telinga istrimu jadi katarak."
Jo yang kebetulan ada di sana, terkekeh pelan. "Rabun kali, Bun." ucapnya pada Bunda Crystal, membuat Vany mencubit lengan suaminya itu.
"Budeg, kali, Bun. Bukan katarak." timpal Ayahnya.
"Ayah!"
"Iya, iya," Ayah segera menarik Crystal dari pelukan Bunda. Namun, bukannya berdiri dengan tenang, Crystal malah memeluk Ayahnya dan berteriak di dekat telinga Ayah. "Ih yah! Ni anak perlu di bawa ke acara ruqiyah di tipi deh!" kesalnya sambil mendorong Crystal dan berhasil. Ayah memelototi Crystal dan mendorong kening anaknya agar diam di tempat. "Sana peluk suami kamu, tuh! Kayaknya, dari tadi dia nahan diri banget waktu Ayah ngatain kamu. Mukanya udah muka-muka pahlawan yang bersiap menolong korban, dan Ayah penjahatnya."
Crystal segera cemberut. Dia mengambil tangan Ayahnya, lalu menggigit jari Ayahnya dengan kencang.
"AA! Tuh kan, harusnya Ayah yang jadi korban di sini!" seru Ayahnya, lalu menatap Bunda dengan tatapan memelas. "Bunda ..., Ayah digigit."
"Rasain tuh!" seru Crystal kesal.
Ayah mendelik. "Lagian, kamu lebay banget. Padahal cuma pisah rumah aja meweknya minta ampun."
"Suruh siapa Crystal gaboleh tinggal di tempat kalian buat sementara?!"
"Ya kalau udah nikah ya tinggal sama suami, bukan sama orangtua," Ayah menjawab dengan nada gemas. "Dulu waktu minta Ayah nikahin sama banyak laki, kamu nggak mikir bakal pisah rumah, apa?!"
Crystal cemberut di tempatnya. "Yaudah. Awas aja kalo kangen."
"Nggak akan!" jawab Ayah dan Bunda Crystal serentak.
Crystal cemberut di tempatnya. "Nyebelin!"
Dan Ayah juga Bunda Crystal hanya menjulurkan lidah pada Crystal.
"Udah, udah," Jo yang sedari tadi menonton, mulai membuka suara. "Ini kalau perpisahannya masih lama, kita bisa sekalian aja sewa kantin buat bikin parasmanan-Adaw, babe!" katanya yang disusul seruan sakit karena di sikut oleh Vany. Crystal tertawa, dan langsung dapat pelototan dari Jo. "Lo itu emang tukang drama, ya? Kemarin tatap-tatapan, sekarang mewek-mewek."
Seketika, wajah Crystal terasa memanas saat mengingat jika minggu lalu Jo memergoki Crystal dan Fares sedang bertatap-tatapan. Jo mungkin tidak melihat Crystal menangis, saat itu. Karena Crystal lebih memilih membuang muka sambil mengusap pipinya yang basah, dan Fares hanya berdeham-deham dengan canggung. Dan akhirnya, Jo tak henti membuat kecanggungan tercipta hanya karena ejekannya pada Fares dan Crystal.
"Jo," Fares memperingatkan sambil berdeham. Lelaki itu kemudian maju dan menghadap Crystal dan juga orangtua Crystal. "Barang-barang Crsytal yang masih berada di rumah kalian akan Fares urus. Kalian tidak usah membereskannya, karena sudah ada orang kepercayaan Fares yang akan melakukannya." ucapnya kemudian.
Bunda tersenyum lebar, seperti biasa saat dia mendapat kejutan dari Fares tentang betapa kompetennya lelaki itu, bahkan untuk menjadi seorang suami. "Ohh iya nak Fares, terimakasih." ucapnya keibuan, membuat Crystal berdecih.
Fares menganggukan kepalanya pelan, lalu menoleh pada Crystal. Tangannya terulur dan menggenggam tangan Crystal. "Ayo."
Crystal sedikit cemberut, lalu mengikuti Fares sambil menempelkan sisi tubuhnya pada Fares. Mereka keluar terlebih dahulu, meninggalkan orang-orang di sana yang mungkin masih berbincang atau bahkan mungkin saja mengikuti mereka dari belakang.
"Kita beneran bakal ke Indonesia?" tanya Crystal kemudian.
Fares menganggukan kepalanya sambil berdeham pelan. "Kenapa?"
Crystal menunduk, dan memainkan genggaman tangannya dengan Fares. Melakukan gerakan maju mundur seolah Fares sedang menggandeng anak kecil. "Di sana hidup," jawabnya, lalu tersenyum pada Fares yang menatapnya bingung. "Beda dengan New York, di Jakarta banyak banget perjuangan aku. Kamu tau, kan, aku suka dibuli? Jakarta kayaknya tempat di mana aku bisa menjadi seseorang yang kuat." lanjut Crystal dengan senyum lebar.
Kali ini, Fares menghentikan gerakan tangan Crystal, dan melakukan gerakan mengelus pada punggung tangan Crystal. "Maaf," ucapnya kemudian, menatap Crystal penuh sesal. "Kayaknya, kenangan terburuk kamu di Jakarta adalah aku."
Crystal tersenyum tipis. "Aku udah maafin kamu, tau. Aku harus bilang pakai cara apa, coba, biar kamu percaya?" ujarnya.
"Rasanya, nggak mungkin aja kamu memaafkan aku secepat itu."
"Aku kan emang pemaaf."
"Tapi apa yang aku lakukan ke kamu itu kelewat jahat."
"Dan bukan berarti aku harus menaruh dendam sama kamu."
Fares menghentikan langkahnya dan menatap wajah Crystal dengan seksama, seolah mencari kebenaran di sana. Dan seolah mendapatkannya, Fares memandang kagum pada Crystal. Tangan Fares yang lain mengusap kepala Crystal dengan sayang. "Terima kasih atas ketersediaan kamu jadi istriku. Walaupun aku tahu, setelah kamu bangun mungkin kamu merasa terpaksa melakukannya." ucapnya sambil tersenyum tipis.
Crystal segera menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum. "Justru aku yang harusnya berterimakasih. Makasih, udah jadi orang yang rela mengambil resiko menikahiku waktu itu, padahal keadaan aku saat itu antara hidup dan mati." katanya sambil tersenyum lebar.
Fares kali ini tersenyum hingga matanya menyimpit. Senyum Fares yang dulu Crystal kenal. Senyum yang semenjak mereka bertemu, tidak pernah Crystal lihat.
"Woy! Ini apaan, sih drama lagi di jalan? Ngehalangin orang mau lewat, tau nggak?"
Sudah tahu, bukan, perkataan siapa yang membuat suasana romantis menjadi kacau?
Jo mendapatkan pelototan dari Crystal dan tatapan tajam dari Fares.
Sumpah paling nggak bisa bikin adegan romance giniiiii😣😣😣😣😣😣😣😣😣😣😣