"Di satu sisi gue senang, karena wanita yang gue sayang bisa bahagia. Tapi di sisi lain gue sedih, karena alasan dia bahagia adalah bukan lagi karena gue."
---
Acara pensi sudah berlangsung sekitar 5 jam. Sekarang hanya tersisa anak band yang masih tampil dan murid seangkatanku yang tetap setia menonton pertunjukkan hingga akhir.
"Leo, balik yuk." ujar Disty yang duduk di sebelah Leonna.
"Bentar ah, tunggu Ray selesai tampil. Gue udah beliin minum buat dia. Ntar gue kasih pas dia habis turun dari panggung, biar ada sweet-sweetnya gitu jadi pacar." Leonna tertawa geli.
"Dasar pencitraan." sahut Disty lalu kembali menikmati 9teen yang sedang tampil, membawakan lagu Kangen milik Dewa 19.
"Bukan pencitraan namanya. Gue cuma berusaha menciptakan hubungan yang harmonis, ngga garing, dan ngga ngebosenin." jawab Leonna. "Lagipula lo tau sendiri Ray itu cowo kalem, kalo gue nya kalem juga, ya pacaran krik-krik banget lah."
"Jadi lo ngerasa bosen gitu?" tanya Disty.
Leonna menggigit lidah. "Ya ngga lah. Udah ah skip. Itu lagunya udah habis. Ayo ke belakang panggung terus kita langsung pulang."
Disty melihat ke arah panggung, Ray dan kawan satu tim nya sedang memberesi peralatan musiknya itu. Tanpa perlu menjawab perkataan Leonna, gadis itu langsung berdiri dan memberi kode ke Leonna untuk segera ke belakang panggung.
Leonna mengulurkan tangan kanannya dan memberi botol minum berisi susu coklat dingin yang tadi ia beli di kantin. "Ini minumnya, lo pasti haus kan kedumbrangan pukulin drum. Emang ga cape?"
Ray tersenyum sambil menerima botol minumnya. Ia senang karena Leonna perhatian padanya. Apalagi Leonna memberikan perhatian kepadanya langsung dihadapan Attar, yang notabene nya adalah mantan Leonna.
Leonna membenarkan posisi topi yang bertengger di kepala Ray. Rambutnya acak-acakan. Memang tadi ia lihat Ray sangat bersemangat dalam membawakan lagu.
"Ko tadi semangat banget si bawain lagunya?" tanya Leonna tersenyum tipis menatap ke arah pacarnya itu yang masih meneguk susu coklat.
"Iya jelas lah. Kan ada penyemangatnya." jawabnya seusai menghabiskan satu botol susu.
"Siapa? Mana penyemangatnya?"
"Nih yang barusan kasih botol minum." jawabnya lagi lalu mencium botol minum pemberian Leonna.
"Dih cium-cium." Leonna tertawa.
"Iri ya, pengen pasti kan?" Rayyan meledek.
Pipi Leonna blushing. Ia merasa malu saat ini. Apalagi dihadapan teman-teman Rayyan. "Apaan sih ngga kok." ia menyembunyikan senyumnya yang sebenarnya ingin mengembang.
"Yaudah gue balik dulu sama Disty." kata Leonna.
"Ko sama Disty? Pacar lo Disty apa Rayyan si?" Rayyan tertawa geli.
Leonna menggelengkan kepala dan mengusap dahinya dengan telapak tangan.
"Enak aja lo, Ray. Kalo Leo ga pulang bareng gue terus gue pulang sama siapa?" Disty angkat bicara. Ia memasang muka kesalnya.
"Ya sama cowo lo lah. Kalo misal gaada cowo bisa tuh si abang tukang ojek lo jadiin cowo."
Rayyan merangkul pundak Leonna dan kembali memecahkan tawanya.
"Sialan lo. Boleh kan, please gue balik sama pacar lo ya?" Disty membujuk Rayyan.
Rayyan memutar bola matanya ke berbagai arah secara bergantian.
"Boleh ga nih?" tanya Rayyan pada Leonna.
"Boleh ya, gapapa kan?" Leonna menoleh ke wajah Rayyan yang lebih tinggi darinya.
"Yaudah boleh. Ati-ati lo berdua. Jangan mampir cari berondong."
"Sembarangan lo ngomong. Yaudah gue cabut ya." ujar Disty.
"Gue duluan ya Ray." lirih Leonna. Ia tak sengaja membuang pandang lalu bertemu dengan pandangan yang terkadang ia rindukan. Bola mata teduh milik Attar.
"Iya, ati-ati." Rayyan mengucak rambut Leonna lalu mengembalikan botol minumnya.
Attar yang melihat percakapan diantara Leonna dan Rayyan hanya bisa tersenyum pahit. Di satu sisi ia senang, karena wanita yang disayanginya bisa bahagia. Tapi di sisi lainnya ia sedih, karena alasan Leonna bahagia bukan lagi karenanya.
Terbesit sedikit penyesalan di hati Attar, mengapa dulu dia melakukan kesalan bodoh yang membuat Leonna pergi darinya? Mengapa ia mampu melawan takdir yang akhirnya memisahkan dirinya dengan Leonna? Dan bodohnya lagi, setelah mereka memutuskan hubungan, Attar sama sekali tak pernah membalas pesan singkat dari Leonna. Meskipun hanya ucapan selamat pagi, tapi selalu ia abaikan. Attar berpikir cara seperti itulah yang terbaik untuk dirinya dan juga Leonna. Ia merasa dirinya brengsek dan tak pantas untuk cewe se-sempurna Leonna Salsabilla. Unna yang selalu ia rindukan hingga saat ini.
Attar menyesal telah memberi luka yang cukup dalam pada Leonna. Sampai-sampai Leonna menolak ajakan balikan dengan alasan ia hanya ingin sendiri. Mereka berdua jomblo cukup lama. Itu yang sedikit membuat Attar yakin jika Leonna masih belum bisa menemukan pengganti dirinya. Tapi tidak untuk sekarang, Leonna telah bahagia. Dia telah menemukan lelaki yang mampu membuatnya nyaman dan tersenyum setiap hari.
Sering Attar berpikir, jika saja Leonna telah mampu bahagia dengan pengganti dirinya, mengapa Attar sendiri tidak bisa membuka hati untuk Neira yang sudah jelas sangat tulus mencintainya? Ah, cinta itu memang buta. Dan jika sudah jatuh, akan susah untuk bangkit dan berpaling.
"Woi, Tar." Rayyan menepuk bahu Attar.
"Eh, Ray. Kenapa?" Attar menggaruk kepalanya sambil cengengesan.
"Ngelamun aja lo, mikirin Nei?" tanya Rayyan sambil merangkul tas ranselnya.
Attar tersenyum tipis. "Yaudah yuk, buruan. Mau nongkrong dulu kan?" Attar menoleh ke arah Rayyan, Brian, dan Vano bergantian.
"Siap bos." jawab mereka serentak. Lalu berjalan menuju gerbang sekolah dan menaiki motor sport-nya masing-masing.
---
"Dis, ko si Ray centang 1 terus ya?" Kini Leonna dan Disty sedang bersantai di balkon kamar Leonna sambil menyantap secangkir teh hangat. Seperti biasa, Disty sepulang sekolah akan selalu mampir ke rumah sahabatnya itu. Karena kedua orang tuanya sibuk bekerja hingga larut malam sehingga Disty selalu merasa kesepian dirumah. Ia baru akan pulang kerumahnya jam 5 sore, setelah mama nya Leonna pulang kerja.
"Em gatau, lowbatt kali." jawab Disty yang tengah asik memainkan jari jemari nya di ponsel.
Leonna terdiam. Masih memantau roomchatnya dengan Rayyan 2 jam yang lalu sebelum ia tampil. Sesekali ia menyeruput teh dan menoleh ke arah Disty. "Kayanya lagi pada tongkrongan deh."
Disty mendongakkan kepalanya menghadap ke arah Leonna. "Coba aja lo hubungin temen-temennya. Kali aja mereka tau."
Leonna menyeringai. "Tumben encer." Disty langsung melotot sambil menahan tawanya.
"Gue tanya Brian aja kali ya." kata Leonna.
"Suka-suka lo dah."
Leonna memencet tombol pencarian. Lalu mengetik nama 'Brian.'
Bri, lo lagi pada tongkrongan ya?
Ko si Ray gue pc centang satu?
Leonna menghela napas. Sengaja ia tak menekan tombol send terlebih dahulu. Ia memilih mengambil cangkir tehnya terlebih dahulu lalu mengahabiskan teh itu dalam satu tegukan.
Leonna kembali fokus pada ponselnya. Matanya membulat tak percaya melihat notifikasi pop-up di layar hpnya. Whatsapp message from Attar.
"Dis, gilaa!" serunya.
Disty menoleh sekilas. "Apanya? Lo gila? Emang."
"Attar ngechat gue!!" Leonna mendekat ke Disty dan menunjukkan ponselnya yang menampilkan isi chat dari mantan satu-satunya itu.
Attar Valero.
Leo, ini gue Ray. Sorry tadi hp gue mati. Ini lagi di charge tapi gue matiin dayanya. Kita chat pake wa Attar aja ya?
Leonna menggigit ujung bibirnya sambil memasang raut muka cemas. "Ya Allah, kenapa harus pake wa Attar si? Kan masih ada Vano sama Brian. Bisa-bisa gue rasanya lagi chattan sama Attar, kan flashback lagi jadinya parah si ah." gumam Leonna.
Disty mengamati Leonna yang tampak gugup. "Lo kenapa salting gitu? Baper dikira chat sama Attar?"
Leonna menoleh. "Hah? Ngga kok." jawabnya singkat.
"Yaudah biasa aja. Balesin tuh pesannya ntar dikira Ray lo marah terus cuma nge-read wa nya doang."
Leonna masih mengatur deru napasnya yang berdebar lebih kencang tidak seperti biasanya. "I-ya, ini gue bales."
Disty hanya menoleh lalu mengedikkan bahu. "Gue tau, sebenernya Leonna itu masih sayang sama Attar. Tapi gatau kenapa dia ceroboh banget, sampe nerima Rayyan jadi pacarnya. Padahal separuh hatinya masih dimilikkin Attar." Disty bergumam dalam hati sambil memperhatikan Leo yang sedang membalas pesan dari Rayyan lewat whatsapp Attar.
---
Huhuhu:(
See u in next chapt guyss!! :))
-NabilaFayyaza.