!!! Disarankan membaca fanfiction ini dengan mendengarkan lagu taehyung & J-hope Hug me !!!
~~~~
23 Desember 2017
Disebuah persimpangan di daerah Gangnam yang tengah dipadati para pejalan kaki dan para pengendara yang pergi berlalu-lalang untuk menghabiskan waktu makan siang mereka. Disinilah Nari berdiri di tengah salju yang perlahan berguguran menunggu pergantian lampu lalu lintas untuk pejalan kaki berubah menjadi hijau. Sembari menunggu pergantian lampu lalu lintas ia mencoba menghubungi kekasihnya Kim Namjoon.
"Oppa? Apa kau sudah dalam perjalanan menuju Apartementku?"
"Ah, Syukurlah. Kita bertemu di Everland saja. Aku sudah dalam perjalanan menuju Halte Bus."
Nari tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu bersama Namjoon akibat kesibukan mereka. Nari sangat tak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu.
"Tentu saja aku memakai mantel yang hangat dan syal yang Oppa berikan tahun lalu. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Oppa juga menyetirnya hati-hati jangan ngebut jalanan pasti licin karena salju."
Aku melihat lampu lalu lintas yang baru saja berubah menjadi hijau. Segera aku melangkahkan kakiku menyebrangi zebra cross tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
"Oppa harus menepati janji bahwa kita akan menaiki semua wahana di Everland dan juga mengunjungi kebun bi-"
"Tiiiiit!"
Segera aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara itu. Orang-orang disekitar sana sudah berkali-kali memanggilku tetapi aku terlalu hanyut akan duniaku sendiri. Aku terpaku menatap sebuah truck yang hilang kendali menghampiriku. Apakah ini akhir hidupku?
Dengan gerakan secepat kilat, aku merasa seseorang menarik lengan kananku. Menarikku kedalam pelukannya. Suasana disana sangat kacau. Jalan raya itu kini tak bisa dilalui karena truck yang hampir menabrakku itu jatuh terguling sehingga muatannya memenuhi jalan raya itu. Aku masih terkejut dengan kejadian yang menimpaku. Tanpa aku sadari air mataku pun jatuh. Aku memeluk orang itu erat lalu menenggelamkan kepalaku dimantel hangatnya.
"Nari-a? Gwenchanna?"
Aku merasakan orang itu kini memelukku erat dan mengelus punggungku mencoba menenangkanku. Perlahan diriku melepaskan tautan kami mencoba mengetahui siapa yang telah menolongku.
"Seokjin Oppa?"
"Yak? Apa kau gila? Kenapa kau sangat ceroboh menyebrang tanpa melihat kanan kiri dulu? Apa kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk pelan mengiyakan pertanyaannya.
"Kamsahamnida Oppa kau sudah menyelamatkan hidupku. Bagaimana Oppa bisa berada disini?"
"Ah, aku ingin pergi ke supermarket di seberang jalan sana untuk membeli bahan makanan untuk malam natal nanti."
"Ah, sekali lagi terimakasih banyak Oppa."
Aku merasa sangat linglung. Perlahan aku mengarahkan pandanganku kesekitar mencoba untuk mengembalikan kesadaranku.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku ingin ke halte bus di seberang sana. Aku dan Namjoon Oppa ingin menghabiskan waktu bersama-. Ah benar, Namjoon Oppa!"
Refleks aku membelalakkan kedua mataku sembari menatap wajah tampan Seokjin Oppa ketika aku telah menyadari kini tangan kananku tak lagi menggenggam Handphone kesayanganku.
"Namjoon?"
"Ne, Tadi aku sedang melakukan panggilan telpon dengan Namjoon Oppa."
Segera aku mencari keberadaan Handphoneku. Aku melihat Seokjin Oppa yang membantuku mencari keberadaan dimana terjatuhnya Handphoneku.
"Nari-a? Aku merasa sangat menyesal. Handphonemu sudah hancur disana."
Segera aku melihat kearah ia menunjuk. Jari telunjuknya yang panjang menunjuk kejalan raya dimana handphoneku sudah hancur. Aku rasa Handphoneku hancur ketika truck itu melindasnya.
"Mianhae Nari-a. Aku menyelamatkanmu tetapi tidak dengan handphonemu. Aku berjanji akan menggantinya."
"Gwenchanna, Oppa aku harus segera pergi nanti Namjoon Oppa menungguku terlalu lama. Sampai bertemu lagi Oppa."
Aku melambaikan tanganku dan segera berlari menyeberangi jalan raya yang tak bisa di lalui oleh pengendara itu menuju sebuah halte bus yang akan mengantarkanku ke Everland.
~~~~~~
Aku sudah berdiri disini berjam-jam di depan taman hiburan ini tetapi Namjoon Oppa tak kunjung datang. Aku tak bisa menghubunginya karena sebelumnya Handphoneku telah rusak dan aku tidak mengingat nomor Handphonenya. Sebelum Bus terakhir berangkat aku memutuskan untuk pulang. Sungguh aku benar-benar kecewa denganmu, Kim Namjoon.
"Kau sebelumnya berjanji kita akan menghabiskan waktu bersama tetapi kau tidak kunjung datang. Aku tidak akan memaafkanmu."
Dengan langkah gontai aku melangkahkan kakiku di koridor gedung Apartement dimana aku tinggal. Refleks aku memberhentikan langkah kakiku ketika kedua netraku menangkap sosok pria yang aku kenal tengah berdiri tepat di depan pintu Apartementku. setelah terhenti sejenak diriku kembali melangkah menghampiri pria itu.
"Namjoon Oppa?"
Pria itu menengok setelah mendengar namanya terpanggil.
"Bip bip bip bip, tring!"
Pintu Apartementku kini telah terbuka segera aku melangkah memasuki tempat tinggalku.
"Kenapa diam saja? Aku rasa Oppa harus menjelaskan sesuatu kepadaku."
Aku menatapnya tajam lalu melepaskan sepatu converseku menggantinya dengan sandal yang aku gunakan untuk berjalan di dalam rumah. Aku berjalan menuju kearah pengatur penghangat ruangan untuk menghangatkan Apartementku yang sedikit dingin.
"Kleck, tring!"
Aku mendengar pintu itu tertutup dan terkunci.
~~
Nari mendudukkan tubuhnya disalah satu sisi sofa panjang miliknya dan menatap Namjoon dengan tatapan dingin.
"Duduklah."
Perlahan Namjoon menghampiri Nari lalu mendudukkan diri sembari menatap kekasihnya itu tapi tatapannya tak kunjung dapat balasan, kini Nari menatap lurus kedepan.
"Sampai kapan Oppa akan diam? Apakah Oppa tidak ingin menjelaskan sesuatu dan meminta maaf atas kesalahan yang telah Oppa perbuat?"
Ini pertama kalinya Nari bersikap dingin kepada Namjoon.
"Mianhae Oppa bersalah."
Ujar Namjoon mengakui kesalahannya.
"Hanya itu? Tidak ada lagi yang ingin Oppa katakan? Apa semudah itu Oppa memintaku memaafkan Oppa? apa Oppa tau berapa lama aku berdiri disana dan menunggu Oppa kedinginan?"
Nari menggigit bibir bawahnya menahan air matanya agar tak jatuh membasahi pipinya. Nari menatap kedua netra Namjoon lekat. Pandangan mereka kini bertemu tetapi Namjoon tak mengeluarkan sepatah katapun yang membuat Nari tidak tahan menahan bendungan air matanya.
Nari menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya yang mengalir.
"Setidaknya Oppa menjelaskan apa yang terjadi, apa yang membuat Oppa tidak bisa datang."
Ujar Nari pelan menahan suaranya yang bergetar, takut isakannya pecah.
Perlahan Namjoon menarik Nari kedalam pelukannya.
"Maafkan Oppa karena tidak menepati janji dan maaf tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Oppa sangat menyesal. Oppa mohon, maafkan Oppa."
Perlahan Namjoon melepaskan pelukannya. Kedua telapak tangan Namjoon kini tertempel dikedua pipi mulus Nari. Perlahan ia menggerakkan Jempolnya menghapus jejak air mata Nari.
"Berhentilah menangis, ehm. Sebagai gantinya Oppa akan bersamamu malam ini dan besok kita akan ketaman hiburan bersama melewatkan hari berdua dan merayakan natal bersama bagaimana?"
Namjoon mencoba membujuk Nari sembari tersenyum menunjukkan dimpel nya yang manis.
"Apa kali ini Oppa akan menepati janji?"
Dengan mata yang sembab kini Nari menatap lekat netra kekasihnya itu, lagi Namjoon kembali meyakinkan apa yang dikatakan Nari.
"Oppa berjanji."
Namjoon kembali menarik Nari dalam pelukannya. Namjoon tak ingin Jauh dari kekasihnya begitu juga Nari yang tak ingin berpisah terlalu lama dengan Namjoon segera ia membalas pelukan Namjoon.
"Oppa mobilmu dimana? Tadi di depan aku tidak melihat mobil Oppa terparkir disana? Apakah mobil Oppa mogok dan sekarang berada di bengkel?"
Namjoon terdiam mendengar perkataan Nari. Nari yang merasa pertanyaannya tak mendapatkan jawaban segera ia mendonggakkan kepalanya menatap kearah Namjoon. Namjoon yang menyadari pergerakan Nari ia hanya menunjukkan senyumnya sembari mengangguk. Nari terus memandang Namjoon lekat, Nari merasa tidak biasanya Namjoon pendiam seperti ini. Nari merasa ada hal yang Namjoon sembunyikan darinya.
"Nari-a? Tadi kau mengatakan kalau kau menungguku sampai kedinginan. Bagaimana kalau sekarang kau pergi mandi dengan air hangat untuk menghangatkan tubuhmu? Aku akan menunggumu disini."
Namjoon tersenyum menunjukkan dimple nya yang terpatri dipipi kanannya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Hem, bagaimana kalau oppa yang mandi duluan lalu aku pergi kedapur memasak makan malam untuk kita?"
Nari melepaskan pelukan mereka menatap Namjoon sembari menunggu persetujuan pendapatnya. Namjoon tampak setuju dengan pendapat Nari. Ia mengangguk pelan lalu segera beranjak dari duduknya.
"Ah, Oppa gunakan kamar mandi di kamarku saja. Nanti akan aku siapkan pakaian untuk oppa."
"hem, gomawo."
Sebelum pergi Namjoon menyempatkan diri mengusap puncak kepala Nari pelan lalu ia bergerak sesuai perintah Nari.
Seiring kepergian Namjoon, Nari terus memandang punggung Namjoon. Ia merasa kalau Namjoon menyembunyikan sesuatu dari nya. Setelah beberapa menit sosok Namjoon sudah tak dapat ia lihat dan ia sudah merasa yakin kalau sekarang kekasihnya itu tengah membersihkan tubuhnya, Akhirnya Nari beranjak dari tempatnya menuju kamarnya. Segera Nari berganti pakaian lalu menyiapkan pakaian untuk Namjoon. Namjoon cukup sering menginap di Apartement Nari sehingga ia memiliki beberapa pakaian yang dapat ia kenakan.
~
Kini mereka berdua tengah duduk dalam diam menyantap makanan mereka masing-masing. Ini pertama kalinya bagi Nari sehingga ia sesekali melirik Namjoon. Nari dapat melihat ekspresi Namjoon yang datar terlihat melamun.
"Oppa? Apa ada masalah? Apakah masakanku tak enak sehingga kau terlihat tak bernafsu untuk memakannya?"
Namjoon tersadar dari lamunanya dan menatap Nari dengan hangat menunjukkan senyumnya untuk memberitau Nari bahwa ia baik-baik saja.
"Masakanmu sudah enak. Bahkan makanan mu telah melampaui Seokjin Hyung."
Nari menatap Namjoon tak percaya lalu meletakkan sumpitnya menandakan kalau ia telah selesai menyantap makan malamnya.
"Kau terlalu berlebihan Oppa, aku belum bisa melampauinya."
Tetapi sejujurnya ia sangat malu ketika Namjoon mengatakan kalau masakannya sudah melampaui Seokjin. Nari yakin pasti sekarang wajahnya merah merona. Nari memegang kedua pipinya lalu menatap Namjoon. Tanpa Nari sadari sedari tadi Namjoon sudah meletakkan sumpitnya dan menatapnya intens.
"Nari-a? Apakah aku pernah mengatakan ini kepadamu?"
Perkataan Namjoon berhasil membuat Nari tampak kebingungan.
"Mwoga?"
"Sekarang kau sangat cantik. Sangat berbeda dengan Jang Nari 5 tahun yang lalu. Pertama kali melihat mu aku ragu kalau kau seorang Mahasiswi Konkuk University."
"Yak Oppa! Jadi kau mengatakan kalau dulu aku tak cantik?"
"Bisa dibilang begitu, tapi aku menyatakan perasaanku kepadamu bukan karena paksaan atau hal konyol lainnya. Aku penasaran kepadamu tanpa sadar aku terus memperhatikanmu."
"Jadi karena penasaran Oppa menyatakan perasaanmu kepadaku? Huh, jadi bagaimana sekarang? Apakah rasa penasaranmu sudah terjawab? lalu saat rasa penasaranmu itu terjawab kau akan meninggalkanku?"
Nari menatap Namjoon kecewa tanpa sadar Nari mengepalkan tangannya. Namjoon menatap kearah kepalan tangan Nari.
"Kau salah paham. Saat aku terus memperhatikanmu. Aku menemukan hal yang membuatku tertarik kepadamu. Kau seseorang yang baik dan hangat tetapi tak ada seorang pun yang menyadari kehangatanmu. Kau terus menjauhi orang-orang karena takut mereka tidak bisa menerima kelebihanmu. Kau terus saja mengutuk kelebihanmu, dari tatapanmu kadang kau terlihat kesepian dan saat itu kau mulai mengutuk kelebihanmu. Tapi aku rasa kelebihanmu itu bukanlah masalah besar yang harus membuatmu menjauh dari mereka. Aku ingin menjadi seseorang yang dapat membuktikan kalau kelebihanmu bukanlah hal yang harus kau khawatirkan untuk orang lain. Aku ingin membantumu keluar dari masalahmu dan membantumu untuk dapat menikmati dunia ini, dan lihatlah sekarang kau berhasil keluar dari masalahmu."
Namjoon mengarahkan pandangannya kearah Nari dan mendapati Nari yang terpaku atas ucapannya. Segera Namjoon beranjak menghampiri Nari lalu menggengam tangan Nari pelan. Nari terperanjat lalu mengarahkan pandangannya kearah Namjoon.
"Kajja sudah larut malam kita harus segera tidur. Besok kita akan menghabiskan waktu bersama."
Setelah penjelasan Namjoon tadi membuat Nari diam. Kini Nari tidur membelakangi Namjoon entah apa yang Nari pikirkan sekarang.
"Jalga Oppa."
Ujar Nari pelan lalu memejamkan matanya. Namjoon yang menatap punggung Nari memilih untuk mendekati kekasihnya lalu memeluknya dari belakang.
"Jalga Chagia."
Tak lupa sebelum memejamkan kedua matanya Namjoon mengecup puncak kepala Nari pelam. Tanpa sadar air mata Nari terjatuh. Mereka berdua tertidur dengan lelap.
24 Desember 2017
Hari ini tampak sangat cerah. Nari terbangun dari tidurnya tetapi, ia tak lagi merasakan tangan Namjoon yang memeluknya segara ia berbalik untuk mengetahui apakah Namjoon masih tertidur dan hasilnya pun nilih. Nari tak menemukan sedikit pun kerutan tertinggal dibantal yang biasanya Namjoon gunakan untuk tidur. Nari mulai panik. Ia takut kalau Namjoon akan pergi meninggalkannya.
Segera Nari berlari berhamburan ke kamar mandi mencari keberadaan kekasihnya itu, kamar mandi itu kosong Namjoon tak berada disana, kembali ia berlari keluar kamarnya. Nari mengalihkan pandangannya kearah ruang tengah tapi Nari tak menemukan Namjoon yang biasanya duduk disofa sembari menonton berita pagi. Nari pun mengalihkan pandangannya kearah dapur dan akhirnya ia menemukan sosok Namjoon disana.
Namjoon tengah asik menata piring makanan yang telah ia siapkan diatas meja. Nari tersenyum lega lalu menghampiri Namjoon dan memeluk pinggang kekasihnya menyenderkan kepalanya kepunggu kekasihnya itu.
"Kau sudah bangun? Aku membuatkanmu sarapan."
Mendengar pertanyaan Namjoon yang bergema dipendengarannya, Nari pun memberikan jawaban dengan sebuah anggukan.
"Sejak kapan Oppa bisa membuat sarapan? Terakhir kali yang aku tahu, Oppa bahkan tak bisa memegang pisau dengan benar."
Nari tersenyum dengan menggoda Namjoon.
"Hey, jangan ingatkan kejadian itu lagi. Lagian aku hanya memanaskan sisa masakan mu kemarin malam dan mengambil susu yang ada dikulkas. Bahkan anak kecil yang ibunya sibuk berkarir pun mampu membuatnya."
Mendengar perkataan Namjoon, Nari pun tertawa.
"Apa pun yang Oppa siapkan dengan senang hati aku akan memakannya dan setelah aku pikir-pikir ini pertama kalinya Oppa menyiapkan sarapan untukku. Gomawo Oppa"
"Haruskah Oppa belajar memasak dari Seokjin Hyung?"
Mendengar pertanyaan Namjoon segera Nari menganggukkan kepalanya yang sangat menyetujui pertanyaan Namjoon. Namjoon bisa merasakan pergerakan Nari. Ia pun melepaskan pelukan Nari dan membalikkan badannya menatap Nari lekat. Dengan gerakan kilat ia mengecup bibir Nari dan menunjukkan seringainya. Nari melihat seringai Namjoon segera ia memukul lengan Namjoon, sungguh Nari merasa sangat malu. Melihat tingkah kekasihnya Namjoon hanya tertawa, ia merasa gemas melihat tingkah malu kekasihnya itu.
"Kajja sarapan. Kita harus mengisi tenaga sebelum menghabiskan waktu bersama."
Nari dan Namjoon duduk di bangku meja makan masing-masing dan menyantap sarapan mereka. Seketika Nari teringat sesuatu.
"Oppa kapan keluargamu kembali dari Amerika?"
"Mungkin hari ini atau besok, wae?"
Namjoon menatap Nari kebingungan. Baru suapan pertama dan selesai mengunyahnya Nari meletakkan kembali sumpitnya.
"Oppa bilang kita akan menghabiskan waktu bersama hari ini lalu bagaimana dengan keluargamu? Besok sudah natal seharusnya malam natal dihabiskan bersama keluarga."
Dengan pelan Nari mengucapkan ucapan terakhirnya mengingat ia memilih untuk tinggal sendiri.
"Hey, kita bisa berkumpul bersama dengan mereka di pagi Natal. Keluargaku sudah menerimamu, mereka sudah menganggapmu sebagai menantu mereka."
Namjoon menunjukkan senyumnya. Nari cukup terkejut mendengar ucapan terakhir Namjoon.
"Ne? Menantu apanya, Oppa saja belum melamarku."
Nari sedikit kesal, ia pun mempoutkan bibirnya.
"Oppa aku tak akan menikah denganmu sebelum kau melamarku."
Nari mengatakan hal itu tanpa melihat kearah Namjoon, sedangkan Namjoon terlihat murung mendengar ucapan Nari. Menyadari perkataannya yang tak mendapatkan tanggapan membuat Nari segera mengalihkan pandangannya kearah Namjoon. Saat itulah Nari baru menyadari kalau perkataannya telah melukai hati kekasihnya. Perlahan Nari mengulurkan tangannya lalu menggengam tangan Namjoon pelan.
"Aku akan menunggumu Oppa. Aku akan selalu menunggumu kapanpun kau akan melamarku."
Pandangan mereka bertemu satu sama lain dan saling memberikan pandangan yang hangat.
"Kajja aku sudah tak sabar menghabiskan waktu bersama di Everland."
Nari melepaskan genggaman tangannya dan segera menghabiskan sarapannya.
~
Matahari terus bergerak mengitari bumi perputaran matahari tersebut tak dihiraukan oleh sepasang kekasih yang tengah asik menikmati waktu berdua mereka. Nari sedari tadi mencoba satu persatu hiasan rambut yang cocok untuk ia beli. Melihat kekasihnya yang sedikit kebingungan dengan pilihannya. Namjoon menunjuk salah satu penjepit rambut, melihat hal tersebut segera Nari mengambil penjepit tersebut dan memakainya.
"Kau sangat cocok menggunakan yang itu."
Nari memandangi wajahnya dari pantulan kaca milik penjual penjepit rambut itu memastikan apakah perkataan Namjoon benar. Nari yang menyadari kalau Namjoon sedari tadi memerhatikan tingkahnya, ia pun merasa tersipu lekas ia membayar penjepit rambut pilihan Namjoon.
"Mianhae hari ini kau yang harus membayar semuanya."
Nari merangkul lengan Namjoon dan bersandar dilengannya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka kewahana berikutnya.
"Gwenchanna, Kau selalu ceroboh Oppa. Bagaimana bisa kau meninggalakan dompetmu di dalam mobil? Seketika aku teringat dua tahun yang lalu saat kita liburan kau juga menghilangkan pasport mu sehingga kita pulang lebih awal."
Nari sedikit terkekeh melirik kearah Namjoon.
"Waktu itu ekspresi oppa sangat lucu."
Namjoon sedari tadi hanya melihat kearah Nari. Tiba-tiba ia memberhentikan langkahnya yang diikuti Nari. Pergerakan Namjoon ini berhasil membuat Nari menatap Namjoon kebingungan. Perlahan Namjoon mendekatkan wajahnya kearah Nari. Mengetahui maksud Namjoon, Nari memejamkan matanya. Dengan gerakan yang hati-hati Namjoon mulai melumat bibir plum Nari, sedangkan Nari hanya diam menerima lumatan Namjoon.
Dari sudut yang berbeda orang-orang menatap Nari dengan tatapan kebingungan dan aneh. Mereka berpikir "apa yang sedang wanita itu lakukan?". Setelah beberapa menit tautan mereka, akhirnya Namjoon melepaskan tautan mereka. Tersipu itu yang mereka rasakan satu sama lain ketika pandangan mereka bertemu, mereka hanya saling tertawa karena rasa malu. Kembali Nari dan Namjoon melanjutkan perjalanan mereka yang tunda dan menghiraukan tatapan orang disekitar mereka.
Hari ini mereka benar-benar membunuh hari bersama-sama mulai dari menaiki seluruh wahana di Everland, memasuki rumah hantu,lalu diakhiri dengan karoke dan photo box di Game Center. Kini mereka telah sampai di Apartement Nari dan meluruskan kaki mereka yang pegal dengan duduk bersandar disofa ruang tengah Apartement Nari. Sedari tadi Nari terus memandangi bukti photo box mereka dengan ekspresi yang tersenyum menunjukkan betapa bahagianya ia hari ini.
"Apa kau sangat senang hari ini?"
Mendengar pertanyaan Namjoon segera Nari menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Oppa hari ini kita terlalu banyak berciuman. Besok tak ada jatah morning kiss."
Nari menatap Namjoon penuh seringai. Ia sangat ingin menggoda kekasihnya itu.
"Yak! Apakah itu masuk akal? Kau perhitungan sekali. Kalau begitu aku akan menciummu lagi."
Namjoon kembali menghampiri Nari, tetapi sebelum hal itu terjadi segera Nari berlari sambil tertawa kearah dapur.
"Sudah waktunya makan malam."
Dengan gerakan yang cekatan Nari mempersiapkan bahan-bahan untuk ia masak. Namjoon mengarahkan pandangannya kesebuah foto yang terpajang didalam bingkai yang terletak tepat di samping televisi ruangan itu. Namjoon kembali menunjukkan wajah murungnya. Namjoon memilih untuk menghampiri Nari yang tengah asik memotong bahan-bahan yang akan ia masak. Perlahan Namjoon memeluk Nari dari belakang.
"A~ Oppa jangan mengganggu konsentrasiku."
Nari sedikit risih dengan pergerakan Namjoon.
"Bagaimana kabar keluargamu?"
"Wae? Mereka baik-baik saja"
"Bagaimana kalau kau kembali tinggal bersama mereka?"
"Kenapa Oppa tiba-tiba berkata seperti itu?"
Nari terkejut dengan perkataan Namjoon. Ini pertama kalinya Namjoon mengungkit permasalahan ini.
"Hanya saja, Oppa merasa khawatir kalau kau tinggal sendirian."
"Kan ada Oppa."
"Oppa akan jarang menemanimu."
Namjoon memelankan suaranya. Nari yang mendengar perkataan Namjoon segera ia menghentikan kegiatannya lalu melepaskan pelukan Namjoon. Nari membalikkan badannya menatap Namjoon lekat.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba? Apakah ini ada hubungannya dengan pembicaraan kita kemarin malam?"
"Bukan itu. Oppa hanya memikirkan orang tuamu. Orang tuamu masih ada tetapi kau meninggalkan mereka sedangkan kau sangat mengkhawatirkan kedua orang tuaku. Apakah tidak pernah terlintas dipikiranmu untuk kembali tinggal dengan mereka?"
Tiba-tiba Nari menundukkan pandangannya.
"Pernah. tapi, mengingat tempat kuliahku dan rumah mereka yang cukup jauh membuatku memutuskan untuk tinggal sendiri. Mereka juga menyetujuinya. Lagian ada adikku yang harus mereka urus disana."
Nari mengulurkan tangannya lalu memeluk Namjoon erat.
"Dari kemarin malam Oppa sangat aneh. Tidak biasanya Oppa mengungkit hal seperti ini. Apa yang membuat Oppa akan jarang menemuiku?"
"Aku hanya ingin fokus untuk kelulusanku, hanya itu saja."
Namjoon mengelus puncak kepala Nari pelan.
"Aku akan menunggu Oppa. Jangan khawatir."
Nari mendongakkan kepalanya lalu melepaskan pelukan mereka. Nari sedikit mendorong tubuh Namjoon pelan agar ia berjalan menjauhi dapur.
"Sebaiknya Oppa sekarang bersantai sambil menonton tv dan aku akan melanjutkan memasakku. Setelah itu kita makan malam bersama. Jadi sekarang tunggu aku dan jangan menggangguku lagi."
Nari sedikit terkekeh ketika melihat ekspresi Namjoon yang sedikit kecewa karena Nari mengusirnya dari dapur dan memintanya untuk tidak mengganggu Nari.
~
Setelah mereka menyantap makan malam mereka Namjoon mengajak Nari untuk tidur lebih awal. Kini Namjoon dan Nari berbaring saling berhadapan. Namjoon mengulurkan tangan kirinya mengusap pipi Nari pelan, entah hari ini sudah berapa kali Namjoon berhasil membuat Nari tersipu.
"Ada apa ini Oppa? Aku rasa kau sekarang terlihat lebih manis dan tampan."
Mereka saling berpandangan dan saling melempar senyum manis mereka.
"Apa kau lebih menyukai Oppa yang sekarang?"
"Hem, tentu saja. Tetaplah seperti ini. Oppa yang telah merubah duniaku. Aku hanya memerlukan Oppa."
Setelah mengatakan Hal tersebut Nari merasa malu sehingga ia memeluk Namjoon membenamkan kepalanya dipelukan Namjoon.
"Wah~ aku baru menyadari kalau kau sangat manja."
Namjoon terkekeh melihat tingkah kekasihnya.
"Nari-a, bagaimana kuliahmu? Apa sekarang kau memiliki banyak teman?"
"Dibandingkan sebelumnya cukup banyak. Aku memiliki satu teman wanita, Seokjin Oppa dan Oppa. Memangnya ada apa? Dari tadi Oppa selalu menanyakan hal yang aneh."
"Apa karena kelebihanmu kau masih menutup dirimu?"
Segera Nari melepaskan pelukannya manatap Namjoon tajam.
"Oppa bisa kita hentikan pembicaraan ini?"
"Kenapa? Bukankah kau sudah mencoba untuk berubah. Kenapa kau masih menutup diri karena kelebihanmu? Karena kelebihanmu itulah membuatku tertarik dan karena kelebihanmu itulah kita bisa bersama."
"Apa maksud Oppa? Aku tak mengerti apa yang Oppa bicarakan. Kita bersama karena takdir yang mempertemukan kita bukan karena kelebihanku ini. Aku tak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Selamat natal Oppa."
Nari memalingkan badannya, sungguh ia merasa sangat kesal dengan Namjoon.
"Aku berharap, kalau aku kehilangan sixth senseku."
Sembari menutup matanya Nari berucap kesal.
"Apakah kau sangat berharap sixth sense mu hilang?"
Sebelum Nari benar-benar terlelap ia menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Namjoon. Membuat Namjoon terdiam tak bisa menghentikan ego kekasihnya.
~
25 Desember 2017
Nari terbangun dari tidurnya. Seperti kemarin Nari tak merasakan keberadaan Namjoon. Perlahan ia beranjak dari kasur berjalan menyusuri kamar mandi, ruang tengah, dan dapur. Perasaan khawatir dan tak enak menghampiri ketika ia berada didapur. Kali ini Nari tak menemukan sosok yang selalu ia rindukan.
"Apakah Namjoon Oppa marah lalu pergi disaat aku tertidur?"
"Tingtong!"
Suara bell berhasil membuatnya terkejut sekaligus senang. Segera Nari berlari kearah pintu lalu membuka pintu itu. Tetapi perasaan senang itu segera hilang saat Nari mengetahui apa yang ia pikirkan salah. Nari mengira Namjoon yang datang tapi kini ia menatap sosok Seokjin dengan kebingungan.
"Seokjin Oppa, ada apa pagi-pagi kemari? Kenapa Oppa memakai pakaian serba hitam dipagi Natal seperti ini?"
Refleks Nari menertawakannya, walaupun bukan tertawa terbahak-bahak. Bisa dibilang Nari tertawa canggung.
"Aku sudah menduganya. Kim Ahjumma kemarin kemari tetapi ia mengatakan kalau Apartementmu kosong. Ia juga mencoba menghubungimu tetapi kau tidak bisa dihubungi lalu ia menghubungiku. beliau memberitau kalau kemarin malam Namjoon kritis dan tadi pagi Namjoon telah pergi meninggalkan kita."
Nari tak percaya dengan perkataan Seokjin. Nari menunjukkan seringainya.
"Oppa tidak sedang bercandakan? Kemarin kami menghabiskan waktu bersama."
"Apa kau tidak salah liat?"
mendengar pertanyaan Seokjin refleks Nari membelalakkan matanya. seketika ia teringat sesuatu, segera ia berlari kekamarnya yang diikuti Seokjin. Nari bergegas merogoh tas yang kemarin ia gunakan mencari ponsel genggamnya.
"Nari-a? Apa yang kau cari?"
"Handphoneku. Aku ingin menghubungi Namjoon Oppa."
Seokjin menggengam lengan Nari mencoba menghentikan pergerakan Nari.
"Apa kau lupa? Handphone mu rusak dua hari yang lalu saat kita bertemu."
Nari menatap Seokjin gemetar dan ia teringat dengan bukti photo boxnya dengan Namjoon kemarin.
"Aku bisa membuktikan kalau kemarin aku dan Namjoon Oppa menghabiskan waktu bersama."
Nari membuka lemari nakas yang berada di samping tempat tidurnya mengambil hasil photo box kemarin bersama Namjoon. Betapa terkejutnya hasil photo box itu hanya menampilkan dirinya saja.
"Nari-a, kau pasti salah lihat."
Tanpa Nari sadari air matanya kini terjatuh. Kedua kakinya lemas sehingga membuatnya oleng, segera Seokjin menangkapnya.
"Kim Ajumma mengatakan kalau dihari saat kita bertemu Namjoon mengalami kecelakaan saat ia mengendarai mobilnya. Ia menjalankan mobil terlalu cepat lalu oleng karena jalanan yang licin. Ia mengalami kecelakaan yang cukup berat sehingga membuat Namjoon koma dan dini hari ini Namjoon telah pergi meninggalkan kita. Sebentar lagi Namjoon akan dikremasi. Ahjumma ingin kau bisa melihat Namjoon untuk yang terakhir kalinya karena itu beliau menyuruhku untuk menjemputmu. Beliau juga sudah menghubungi orang tua mu."
Seiring Seokjin menjelaskan apa yang terjadi, pikiran Nari kembali mengingat apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Nari teringat kalau Namjoon yang datang tanpa menggunakan mobilnya, Nari teringat saat ia mempersiapkan baju untuk Namjoon tetapi Namjoon tetap menggunakan pakaian yang sama. Nari juga teringat saat ia memakan makanan yang Namjoon siapkan walaupun saat itu Namjoon mengatakan kalau ia sudah memanaskan makanan tersebut, bagi Nari makanan itu terasa dingin, seperti Nari memakan makanan yang ia siapkan untuk Namjoon. Semua yang ia lakukan di Everland dan Game canter hanya ia sendiri. Nari teringat ketika ia memilih penjepit rambut, penjual itu hanya menangkap pantulan dirinya saja tetapi aku bisa melihat Namjoon dan Photo box, hanya dirikulah yang tertangkap kamera. Perlahan Nari berjongkok. Air matanya kini sudah mengalir deras. Tangisnya pun pecah. Perlahan Seokjin memeluk Nari mencoba menenangkannya.
"Seharusnya aku tak tidur membelakanginya. Seharusnya aku tak menelponnya saat itu. Ia pasti mendengar kejadian itu sehingga membuatnya khawatir. Seharusnya aku menyadarinya. Seharusnya aku mengatakan aku mencintainya. Seharusnya aku tak kecewa dan marah kepadanya."
Nari memeluk hasil photo box nya kemarin mengingat semua kenangan saat ia dan Namjoon menghabiskan waktu bersama.
"Apa yang kau bicarakan? Aku yakin tanpa kau katakan Namjoon akan tau kalau kau sangat mencintainya."
Seokjin mengelus pundak Nari pelan mencoba menenangkan Nari.
~
Nari memandangi sebuah bingkai foto yang dikelilingi oleh beberapa jenis bunga. Secara bergantian orang yang baru saja datang memberikan penghormatan terakhir mereka di depan bikai foto tersebut. di dalam bikai itu terpajang foto Namjoon yang tengah tersenyum bahagia. Tak ada suara tangisan di dalam ruangan ini walaupun banyak orang yang menunjukkan ekspresi sedih mereka. Semua orang terlihat tabah merelakan kepergian Namjoon.
'Oppa ucapanmu kemarin benar. Di pagi natal yang cerah ini semuanya berkumpul bahkan kedua orangtuaku pun datang. Semua teman-temanmu juga berkumpul disini memberikan penghormatan terakhir mereka.'
Nari merasa tak sanggup lagi menahan air matanya, sehingga ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu mencari tempat yang sepi untuk ia mengeluarkan semua kesedihannya. Tanpa Nari sadari Kim Ahjussi menghampiri dan merangkul pundaknya mencoba menenangkannya. Walaupun status Nari masih menjadi kekasih Namjoon tetapi kedua orang tua Namjoon sudah menganggap Nari sebagai anaknya.
"Nariya?"
"Ne, Ahjussi?"
Nari menghapus jejak air matanya dengan punggung tangan kanannya.
"Aku rasa Namjoon ingin melamarmu. Pihak medis menemukan ini saat menangani Namjoon. Ambillah ini barangmu."
Kim Ahjussi memberikan kotak berwarna hitam itu kepada Nari. Nari menatap kotak hitam itu lalu mengambilnya.
"Relakanlah kepergian Namjoon agar ia tenang."
Kim Ahjussi menepuk pundak Nari pelan dan meninggalkan Nari.
Nari membuka kotak hitam itu, lagi air matanya mengalir tanpa seizinnya. Nari melihat sebuah cincin yang tertancap di dalam kotak itu. Ia teringat perkataan nya kepada Namjoon kalau Nari tak ingin menikah dengan Namjoon sebelum ia melamarnya.
"Maafkan aku Oppa. Sungguh, aku meminta maaf. Aku sangat menyesal."
Tangis Nari pecah menyesali semua perlakuannya beberapa hari terakhir.
~
Tepat satu bulan kepergian Namjoon. Hari ini salju kembali turun. Cuaca cukup dingin tetapi hal itu tak menghalanginya untuk menemui Namjoon. Kini Nari berjalan disebuah koridor penyimpanan abu jenazah. Nari memasuki sebuah ruangan yang terdapat lemari kaca besar yang bersekat-sekat dimana abu-abu mereka disimpan. Nari menempelkan buket kecil tepat dikaca dimana abu Namjoon tersimpan. Nari melihat foto-foto Namjoon yang terpajang disana. Melihat foto-foto itu menampilkan wajah Namjoon yang tersenyum membuatnya ikut tersenyum.
"Oppa? Sekarang hidupku sudah normal. Semenjak malam itu aku tak lagi melihat hal-hal yang tak bisa orang lain. Aku rasa sixth sense ku telah hilang. Aku merasa permohonanku waktu itu telah dikabulkan dan sekarang aku menyesalinya. Aku merindukanmu Oppa aku ingin melihat mu lagi."
Air mata Nari tiba-tiba mengalir segera ia menghapusnya dengan punggung jari telunjuknya.
"Oh iya, aku juga mengikuti perkataanmu Oppa. Aku kembali tinggal bersama dengan orang tua ku dan aku juga memulai membuka diriku dikampus. Baru-baru ini aku juga menawarkan diri mengikuti beberapa kegiatan sosial bersama Seokjin Oppa."
Beberapa saat Nari terdiam menguatkan diri agar air matanya tak kembali mengalir lagi. Nari terus menatapi salah satu foto Namjoon disana. Raut wajah Nari datar.
"Apakah kita bisa bertemu lagi?"
END~~~~