"Karena Bapak lebih mempercayai Mas Benny untuk menjagaku," jawab Meisye singkat. Wanita dengan mata sembab akibat terlalu banyak menangis itu menatap tepat pada manik mata Robby yang sedikit mencondongkan tubuh menghadapnya.
"Apa?!" respon Robby dengan mata membulat sempurna. Ia tidak menyangka jika jawaban itu yang didengar oleh pendengarannya sendiri. Ia kalah dari Benny hanya karena restu orangtua. Akan tetapi bukankah dulu orangtua Meisye tidak melarang hubungan mereka? Bahkan saat intensitas keduanya yang selalu berangkat sekolah, bermain maupun sekadar hangout bersama, baik Bapak maupun Ibu Meisye tidak pernah melarang keduanya? Lantas mengapa mereka justru menikahkan Meisye dengan Benny? Dan bukan dengannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Robby. Seakan-akan ia membutuhkan jawaban yang lebih rinci dari sekadar jawaban Meisye yang hanya mengatakan 'karena bapaknya'.
"Iya, Mas. Bapak dan Ibu memang tidak berpikir kalau hubungan kita lebih dari sekedar saudara. Dan saat mereka tahu kita memiliki hubungan spesial itu, mereka berusaha memisahkan kita. Dan aku yang waktu itu memergoki kamu bermesraan dengan Niken, lebih memilih melupakanmu dan menganggap bahwa benar jika lebih baik kita hanya sebatas saudara, bukan sepasang kekasih."
Flashback On
xx Agustus 1997
Meisye membawa rantang berisi makanan yang dibuat oleh Ibunya menuju rumah salah satu sanak saudara jauhnya. Dengan berjalan kaki sekira seratus meter, ia berhenti di depan rumah berwarna putih berdinding kayu yang untuk ukuran rumah desa, rumah itu sudah jauh dapat dikatakan milik orang berada, sama seperti rumahnya yang berdinding tembok, lebih mewah dibanding rumah di depannya itu.
Sejenak gadis berambut panjang yang dikepang dua dan bertali pita berwarna biru itu tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya menyusuri halaman rumah yang luas dengan pohon-pohon mangga berusia puluhan tahun berjejer di sekelilingnya. Dalam hati, ia berharap bisa bertemu dengan pujaan hatinya, Robby. Pujaan hati yang juga sepupu jauhnya itu hari ini pulang ke rumahnya setelah seminggu yang lalu berpamitan untuk mencari pekerjaan di kota tetangga.
"Assalamu'alaikum, Bulek? Bulek?" Meisye mengetuk pintu berbahan kayu jati itu sedikit keras. Rumah yang luas sudah pasti membuat si empunya sedikit kesusahan untuk mendengar tamunya datang. Oleh sebab itulah Meisye sedikit mengeraskan suaranya hingga tenggorokannya terasa sakit.
"Bulek kemana ya? Apa aku masuk lewat pintu samping saja? Sepertinya bulek sedang memasak di dapur," gumam Meisye berbicara dengan dirinya sendiri. Ia pun melangkahkan kakinya menyusuri sebuah lorong di samping rumah buleknya itu dan berhenti tepat di depan ruang tengah yang menghubungkan pintu samping dengan lorong yang memang diciptakan untuk jalan menuju arah kebun belakang rumah yang kebetulan juga melewati pintu samping rumah berbentuk joglo itu.
"Bulek? Bulek?" sapanya lagi, takut jika ia justru menganggu pemilik rumah. Ia melangkah perlahan hingga kaki mungilnya sampai di depan sebuah ruangan yang biasa digunakan keluarga itu untuk makan. Sebuah ruangan yang lebih banyak menyimpan kenangan Meisye dan Robby saat keduanya masih kecil dahulu. Sejenak Meisye tersenyum mengingat kebersamaan keduanya. Cinta monyet yang tercipta antara dirinya dan Robby seakan sudah terpatri kuat, bahkan saat dirinya masih duduk di bangku SD.
Tadinya Meisye mengira bahwa hanya dirinyalah yang mencintai Robby, namun ternyata hal itu juga dirasakan Robby padanya. Tepat tiga tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku SMA dan Robby baru menyelesaikan pendidikan SMA-nya, lelaki yang telah menghuni hatinya bertahun-tahun itu mengungkapkan perasaannya pada Meisye. Dan betapa bahagia dan terharunya ia saat mendengar ungkapan itu. Sampai-sampai ia sudah seperti orang gila yang setiap waktu selalu tersenyum mengingat akan cintanya yang terbalas oleh Robby. Hingga tiba-tiba lamunannya buyar saat di dengarnya seseorang yang tengah tertawa lepas di dalam kamar yang ia yakini sebagai kamar Robby.
Meisye meletakkan rantang milik Ibunya di atas meja makan keluarga Wardoyo. Ia berjalan mengendap menuju kamar berpintu terbuka itu agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Meisye curiga jika seseorang yang tertawa lepas itu bukan Robby sang pemilik kamar.
Mata Meisye terbelalak sempurna saat apa yang dilihatnya bukanlah apa yang diharapkannya dari Robby. Lelaki yang tiga tahun lalu mengikrarkan janji untuk saling setia dengannya itu tengah bercumbu mesra dengan Niken, sahabat Meisye sendiri. Di depan mata indahnya, Robby tampak mengendus leher jenjang Niken hingga gadis berkulit sawo matang khas gadis Indonesia itu tertawa kegelian. Meisye syok. Dengan airmata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, ia bergegas pergi dari rumah yang memiliki kenangan indah dan menyakitkan untuknya itu.
Meisye tidak peduli dengan penjelasan kedua orang yang tengah asyik bercumbu dan menikamnya dari belakang itu jika nanti telah menyadari keberadaannya. Kekecewaan yang dirasakannya membuat Meisye hilang akal. Ia berlari menuju rumahnya dan mulai mengemasi baju-bajunya ke dalam tas jinjing berwarna cokelat miliknya.
Ia sudah mengambil keputusan besar kali ini. Ia akan meninggalkan kampung halamannya dan ikut bekerja di kota yang sama dengan Reni, sahabatnya selain Niken. Kebetulan dua hari yang lalu ia menerima surat dari gadis bertubuh subur yang bekerja sebagai asisten notaris di salah satu kota di Jawa Timur itu dan menawarinya pekerjaan di sana.
Sejenak ia mulai duduk di meja belajarnya dan menulis sebuah pesan untuk Ibu dan Bapaknya yang masih bekerja di ladang. Biarlah ia pergi dari rumah yang membesarkannya hingga saat ini. Yang jelas, ia tidak sanggup jika harus melihat pengkhianatan kekasih dan sahabatnya yang menyakitkan itu. Lebih baik ia menenangkan diri dan bekerja di kota orang, lalu saat ia mampu menyembuhkan luka di hatinya, ia akan kembali ke rumah kedua orangtuanya. Bagaimanapun Meisye memiliki tanggung jawab untuk ikut merawat kedua orangtuanya di masa tua mereka yang mulai sakit-sakitan saat ini.
*****
Meisye menginjakkan kaki di kota kecil yang sepi namun lebih maju dibanding desanya. Dengan tas jinjing berada di tangan kanannya, ia memanggil tukang becak yang berada tepat di depan terminal itu.
Seorang tukang becak berpenampilan lusuh mendekatinya. Ia mendorong becaknya yang tampilannya jauh lebih baik dibanding sang penarik becak. Dihentikannya becak berwarna perpaduan merah, hijau, biru dan kuning itu tepat di depan Meisye. Lalu pria berusia sekira tiga puluh tahunan itu tersenyum sembari berkata, "becak Mbak?"
"Iya, Pak. Tolong antarkan saya ke Jalan Melati Gang kelinci ya, Pak," ucap Meisye seraya membaca alamat yang tertera di amplop surat yang dikirimkan oleh Reni. Ia lalu menaiki becak yang menjadi salah satu transportasi penting di kota itu.
"Mbak-nya bukan orang sini, ya?" tebak tukang becak mencoba beramah tamah.
"Iya, Pak. Saya mau ke kostan teman yang bekerja di sini. Apa gang kelinci jauh dari sini, Pak?"
"Nggak kok, Mbak. Itu di depan sudah gang kelinci. Mbaknya apa sudah tahu kostan temannya? Kalau belum, mending tanya sama Mas-mas yang duduk di depan gang itu dulu," saran tukang becak yang ternyata bernama Pak Sugik itu.
"Iya Pak. Saya tanya dulu sebentar," ucap Meisye seraya memerintahkan Pak Sugik untuk menghentikan laju becaknya tepat di samping lelaki yang tengah berolahraga itu. Maklum, penampilannya yang menggunakan training pendek dengan kaus polo dan topi itu seakan menjelaskan bahwa sang lelaki tengah berolahraga di sore hari itu.
"Permisi, Mas. Mau tanya, apa di sini ada kostan perempuan yang penghuninya bernama Reni?" tanya Meisye seraya tersenyum ramah pada lelaki itu.
Lelaki yang dimaksud pun menoleh ke arah gadis yang tengah menaiki becak dan bertanya padanya. Sejenak ia terdiam mengamati tubuh mungil dengan wajah cantik dan sedikit pucat itu. Meskipun agak sembab, namun mata indah gadis di depannya itu tampak masih menyilaukan untuk siapapun yang menjadi lawan bicaranya, tak terkecuali bagi Benny, lelaki yang tengah berolahraga itu tampak terpesona dan langsung membuatnya jatuh cinta pada gadis berkepang dua dan tengah menatapinya penuh rasa ingin tahu.
"Ah, Reni yang anak Ngawi itu ya?" jawab Benny tersenyum gugup. Ia masih terpaku pada wajah ayu Meisye yang balas tersenyum dan mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. Ia lalu beralih pada Pak Sugik sembari berkata, "ikuti saya saja Pak. Saya tunjukkan nanti. Kebetulan rumah saya juga searah dengan kostan yang dituju Mbak ini."
"Oh, terimakasih, Mas. Maaf merepotkan," ucap Meisye tersenyum merasa tidak enak. Ia kembali menaiki becak Pak Sugik dan mulai mengikuti lelaki yang terlihat baik dan sopan itu. Dalam hati Meisye bersyukur karena ia tidak memiliki kendala yang berarti untuk menemukan kostan Reni. Bagaimanapun di kota baru itu Meisye tidak mengenal siapapun. Aksi nekatnya yang kabur dan sampai menjelang gelap seperti ini bisa saja digunakan oleh orang-orang tak bertanggungjawab yang ingin menyalah gunakan kepolosannya.
Sepanjang jalan menuju kostan yang bergang tidak luas namun tidak dapat dikatakan sempit pula itu, ia melihat ibu-ibu yang tengah duduk berkumpul di depan rumah mereka. Sesekali lelaki yang berlari di samping becaknya untuk menemaninya itu menyapa mereka. Tak jarang tatapan penuh rasa penasaran pada sosok Meisye yang berada di atas becak pun membuat beberapa ibu-ibu menggodanya.
"Siapa Ben? Calonnya ta?" goda ibu-ibu yang memakai roll rambut di atas kepalanya. Ia tersenyum menggoda Benny yang hanya menampilkan senyum tipisnya. "Doakan saja, Mbak."
Sebuah jawaban yang menurut Meisye hanya basa basi semata yang tidak akan dimasukkan ke dalam hatinya. Ia lalu bertanya, "apa kostannya masih jauh, Mas?"
"Tidak. Sebentar lagi kita juga sampai. Itu rumah besar berwarna kuning kecokelatan," ucap Benny masih dengan langkahnya yang berlari-lari kecil.
Meisye mengangguk tanda mengerti. Ia melihat rumah yang dimaksud Benny dan mendadak matanya menangkap sosok sahabat yang dirindukannya, Reni. "Reni!" panggil Meisye masih dengan dirinya yang berada di atas becak. Ia tertawa sejenak saat dilihatnya Reni terkejut akan kedatangannya yang tiba-tiba seperti ini.
"Meisye?? Kok kamu nggak ngabari sih? Aku kan bisa menjemputmu di terminal!" Reni memasang wajah merajuk namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum. Dihampirinya gadis yang tengah membayar ongkos becaknya itu dan dipeluknya tubuh mungil nan proporsional yang juga memeluknya erat. Keduanya tertawa penuh rasa rindu karena lama tidak berjumpa.
"Maaf mengganggu, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Benny yang langsung membuyarkan euforia pertemuan Meisye dan Reni.
"Eh, Mas Benny." Reni tersenyum dan baru menyadari jika Benny-lah yang mengantar Meisye hingga kostannya baru saja. "Kamu diantar Mas Benny ya, Mei?"
"Iya, Ren. Terimakasih ya, Mas, sudah mau membantuku, sampai repot-repot mengantar ke sini." Meisye menjawab pertanyaan Reni sekaligus mengucapkan rasa terimakasihnya pada Benny.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi bolehkah saya tahu namamu?" tanya Benny memberanikan dirinya untuk berkenalan dengan gadis yang sejak pertama melihatnya, ia merasakan sebuah perasaan aneh yang bisa dikatakan bahwa ia telah jatuh cinta pada Meisye. Seperti lagu Arafiq, Pandangan Pertama. Ya, Benny jatuh cinta pada Meisye pada pandangan pertamanya. Katakanlah ia terlalu cepat mengatakan jika apa yang dirasakannya adalah cinta, namun ia cukup yakin dengan perasaannya itu sendiri. Benny yang notabene dianggap bujang lapuk karena di usianya yang ke-29 tahun belum juga menikah, merasa jika Meisye adalah jodohnya. Ia pun bertekad di dalam hati untuk membuat Meisye jatuh cinta padanya dan menikah dengannya suatu hari nanti.
"Meisye." Meisye mengulurkan tangannya sembari tersenyum.
*****
Tiga bulan kemudian...
Meisye menatap ibunya yang semakin membaik kesehatannya saat ia memutuskan untuk pulang kembali ke desanya setelah menerima surat yang berisi tentang kondisi kesehatan ibunya yang menurun. Tiga bulan lamanya Meisye menghabiskan waktunya dengan bekerja satu kantor bersama Reni. Ia yang juga mengekost di tempat Reni sedikit banyak mulai melupakan sakit hatinya pada Robby. Tokh lelaki itu juga tidak mencoba menyusulnya atau sekadar mencari keberadaannya yang tiba-tiba menghilang entah kemana.
Bodoh kamu, Mei, tentu saja Mas Robby udah melupakanmu. Dia udah memiliki Niken kan? Jadi tidak ada salahnya juga kamu menerima Mas Benny menjadi penggantinya. Tokh Mas Benny lelaki yang baik juga. Ah sudahlah, memikirkan masalah hati membuatku pusing tujuh keliling. Batin Meisye bermonolog seraya memeras cucian bajunya yang akan ia jemur.
"Meisye!" teriak ibunya dari dalam rumah setelah sebelumnya meninggalkannya sendiri di pekarangan belakang untuk menjemur cucian bajunya.
"Ya buk? Ada apa?!" balas Meisye setengah teriak. Jarak pekarangan dengan pintu belakang rumah yang sedikit jauh, membuat Meisye harus sedikit berteriak agar ibunya mendengar ucapannya.
Meisye mengernyitkan keningnya dalam saat Ibunya lari tergopoh menghampirinya. "Ayo kamu masuk, Nduk. Ada rombongan dari Sidoarjo yang mau melamarmu," ucap Sari, Ibu Meisye dengan napas memburu.
"Hah? Dari Sidoarjo? Siapa Buk?" tanya Meisye seolah jantungnya akan lepas dari jaringan tubuhnya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Rombongan? Sidoarjo? Jangan-jangan...
"Ayo buk, kita masuk." Meisye meletakkan begitu saja cucian yang belum sempat ia jemur. Ia menggenggam erat tangan Sari yang gemetar karena tiba-tiba anak gadisnya dilamar dengan membawa pasukan alias keluarga sebanyak itu.
*****
Meisye menatap satu persatu wajah familiar yang kini duduk di ruang tamu rumahnya. Sekira lima belasan orang yang terdiri dari Benny, kedua orangtuanya, kakak dan kakak iparnya, bahkan dengan keponakan-keponakan yang sangat dikenal Meisye tampak tengah membicarakan hal serius dengan Bapaknya.
"Nah, ini Meisye. Sini Nduk, duduk dulu," ucap Bapak menepuk kursi di sampingnya. Rumahnya yang besar memang memungkinkan untuk keluarga Benny masuk ke dalam dan duduk di kursi dari anyaman rotan yang kebetulan mampu menampung semua tamu Meisye.
Meisye menatap Benny dengan pandangan bertanya yang dibalas dengan senyuman meneduhkan lelaki itu. Setelah tersenyum paksa karena tidak mengira akan kedatangan tamu sebanyak itu, Meisye memilih duduk di samping Harto, Bapak Meisye.
"Jadi begini, Nduk. Kedatangan keluarga Nak Benny ke rumah ini bermaksud meminang kamu untuk jadi istri Nak Benny. Apa kamu akan menerimanya? Jika iya, Bapak segerakan akad nikah kalian." Harto memandang tajam putri bungsunya. Ia seolah mengirimkan kode jika Meisye harus menerima lamaran Benny.
Menikah? Sama Mas Benny?
"Sebelum saya menjawab lamaran ini, bolehkah saya berbicara dengan Bapak dan Mas Benny terlebih dulu?" tanya Meisye dengan menahan napasnya dalam-dalam. Hatinya sungguh takut jika Harto akan menolak dan mengiyakan saja lamaran ini. Namun bagi Meisye, ia ingin setidaknya merundingkan keputusannya. Karena bagaimanapun baik Meisye maupun Benny belum terlalu lama saling mengenal.
"Mari silahkan Nak Meisye. Kami tahu ini terlalu mendadak. Jadi silahkan dirundingkan dulu bagaimana baiknya. Akan tetapi, kami sangat berharap jika Nak Meisye mau menerima lamaran Benny, anak kami." Lelaki yang diketahui Meisye sebagai ayah dari Benny itu berbicara lembut padanya.
Meisye tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia lalu berdiri dan beralih masuk ke dalam ruang keluarga yang terletak di belakang ruang tamu rumahnya.
*****
"Mas, apa yang Mas pikirkan sampai mau melamarku mendadak seperti ini? Ini terlalu cepat, Mas. Kamu nggak tahu aku, dan aku juga nggak tahu kamu," Meisye menyambut Benny yang baru saja akan duduk di kursinya dengan wajah memerah menahan marah. Rencana lamaran Benny yang tidak ia ketahui membuat Meisye merasa tidak dihargai dan seolah ditodong dengan keberadaan keluarga Benny yang jauh-jauh ke desanya hanya untuk melamar tanpa tahu keinginan Meisye yang sebenarnya.
"Bukankah apa yang aku lakukan sudah benar, Mei? Kita sudah menjalin hubungan selama tiga bulan ini. Apa itu belum cukup untukku meminang kamu?" Benny menatap bingung Meisye yang terlihat marah padanya. Untung saja Harto belum mengikuti keduanya masuk untuk berunding, kalau tidak, tentu ia akan merasa janggal dengan hubungan keduanya yang seperti bukan pasangan kekasih.
"Ya tapi nggak secepat ini, Mas! Kamu belum mengenalku!"
"Mengenal kamu yang seperti apa, Mei? Aku menerima kamu apa adanya. Aku mencintai kamu dengan semua kelebihan dan kekurangan kamu. Aku datang kemari, melamar kamu semata-mata agar kita tidak terjebak oleh zinah, Mei." Benny menatap Meisye dengan kecewa. Pasalnya ia mengharapkan Meisye menerima dan bahkan bahagia akan lamarannya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Meisye marah dan ia menemukan sisi lain Meisye yang meledak-ledak seperti saat ini.
"Zinah? Kita memang tidak pernah melanggar norma Agama, Mas. Tapi apa kamu tahu, aku sudah tidak suci lagi. Suatu kesalahan aku melakukannya dengan seseorang yang bahkan sampai saat ini belum aku putuskan cintanya! Aku masih mencintainya, Mas. Sejujurnya, aku menerima kamu karena aku ingin melupakannya. Jadi..."
"Lantas kenapa kalau kamu tidak suci lagi, Mei? Aku menikahi kamu bukan semata-mata hanya karena nafsu. Tapi aku ingin kita bisa saling melengkapi dan mendampingi hingga maut memisahkan kita. Aku..."
"Kamu terlalu naif, Mas," potong Meisye dengan air mata yang entah sejak kapan sudah turun membasahi pipinya. Ia mengalihkan pandangan matanya yang langsung bertubrukan dengan manik mata Harto yang mungkin saja mendengar semua perdebatan Benny dan Meisye.
"Apa maksud kamu, Meisye?" tanya Harto dengan wajah memerah menahan marah dan malu sekaligus. Ia tidak menyangka jika putrinya bisa bertindak diluar batas dengan seseorang yang ia yakini adalah Robby, keponakan dari sanak keluarga jauhnya.
"Bapak.." Meisye menghapus airmatanya dan berdiri menyambut Harto untuk duduk.
"Bapak malu sama kamu Nak Benny. Bapak sudah mendengar semuanya. Sepertinya Bapak tidak bisa menerimamu menjadi menantu Bapak karena kebodohan Meisye, Nak."
"Tidak, Pak. Saya akan tetap menikahi Meisye dan menerima kelebihan dan kekurangannya. Saya harap Bapak mau mengizinkan dan memberikan kesempatan pada saya untuk menikahi Meisye terlepas akan semua yang Bapak dengar tadi. Saya mencintai Meisye, Pak. Saya berjanji akan membahagiakan dan menjaga Meisye seperti Bapak membahagiakan dan menjaganya hingga detik ini."
"Jadi, apa keputusan kamu Meisye?" tanya Harto mengalihkan tatapannya dari raut wajah penuh keseriusan Benny. Ia memberikan tatapan penuh intimidasi pada gadis bungsunya itu seraya melanjutkan, "Bapak harap kamu mau menikahi lelaki sebaik Nak Benny yang mau menerima kekurangan kamu yang tidak termaafkan itu. Belum tentu lelaki lain mau menerima kamu seterbuka ini. Lagipula, lelaki yang kamu banggakan itu hanya seorang pengecut yang menodai arti cinta yang kamu agung-agungkan itu. Inilah sebabnya Bapak tidak pernah menyetujui hubungan kalian yang bukan hanya karena kalian bersaudara, tapi juga kepengecutan lelaki itu."
Lama Meisye terdiam menyerapi setiap kata yang diucapkan Harto. Ia memang membenarkan apa yang dikatakan oleh Bapaknya itu. Selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Robby, tidak pernah sekalipun lelaki itu membicarakan perihal pernikahan dengannya. Padahal Meisye berharap, setelah ia tamat SMA, Robby akan melamar dan menikahinya seperti keinginan pasangan-pasangan yang lain, dimana pernikahan merupakan muara berakhirnya pencarian belahan jiwa mereka. "Baiklah, Pak. Saya menerima lamaran Mas Benny," jawab Meisye akhirnya.
Flashback End
"Aku minta maaf kalau karena ketidaksiapanku melamarmu waktu itu, pada akhirnya membuat Bapak memaksamu menikah dengan Benny. Tapi sungguh, Mei, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku belum memiliki pekerjaan untuk bisa menafkahimu. Walaupun mungkin hasil sawah Bapakku bisa membuat kenyang perut kita, tapi aku lelaki, Mei. Aku ingin menghidupimu dari hasil jerih payahku sendiri. Aku..."
"Sudahlah, Mas. Nggak perlu dibahas. Semuanya udah berlalu. Terimakasih atas tumpangannya. Aku permisi dulu," potong Meisye cepat. Mengingat kenangan masa lalunya hanya membuat hati Meisye sakit. Ia tidak sanggup harus mengingat pengkhianatan yang dilakukan lelaki di sampingnya itu. Bagaimanapun, hingga detik ini ia masih memiliki secuil rasa untuk Robby, cinta pertamanya.
"Tunggu, tunggu. Biar aku mengantar kamu. Aku tidak akan membahas masa lalu kita kalau kamu tidak nyaman. Tapi, bolehkah aku meminta nomor ponselmu, Mei? Aku pikir tidak ada salahnya kita menjalin silaturahmi kita sebagai saudara. Boleh?" Robby mengeluarkan jurus modusnya. Ia sengaja meminta nomor Meisye untuk kembali menjerat wanita itu dengan cintanya yang juga belum hilang sepenuhnya.
"Aku nggak punya ponsel, Mas."
"Kalau begitu, ambil ponsel ini, Mei. Biar aku bisa menghubungimu. Lagipula bukankah kamu memiliki hutang yang juga harus kamu bayar padaku? Kalau kamu tidak memiliki ponsel, bagaimana kamu bisa menghubungiku?" goda Robby sembari terkekeh pelan. Namun ia tetap memaksa Meisye menerima ponsel yang disodorkannya sedari tadi.
Dan Meisye yang merasa tidak mau berhutang pada Robby, akhirnya dengan berat hati menerima benda persegi panjang itu. Tokh nanti saat ia memiliki uang dan membayar hutangnya pada Robby ia bisa sekaligus mengembalikan ponsel yang kini berada ditangannya itu.
*****
A/N
3k kata yang membuat mabok 😂😂😂
Story ini nggak akan sepanjang cerita yang lainnya kok. Nggak akan berbelit-belit, konflik-penyelesaian..
Cerita fiksi-nonfiksi pertama akikah..
Yang nentuin judul sampe berkali-kali, wkwkwkwk
But, coba tebak, akikah di sini sebagai siapa? 😂😂
Untuk judul yang ganti, karena di story ini nggak cuma menceritakan Benny aja, tapi semua anggota keluarganya so, yaaa gitu deh, ganti judul 😅😅😅
Semoga ada yang baca, syuka, amiin 😊😊😊
Ok, see you,
Salam,
Vio-ivi