Kathryn berjalan di sebelah Daniel. Meski weekend, seharusnya Daniel bekerja. Namun, sepertinya, dia harus libur untuk hari ini. Daniel yang bergaya casual berjalan dengan perempuan yang bercelana sobek, memakai kaos yang sedikit kotor, dan rambut yang hanya di kuncir kuda serta agak berantakan itu, merasa cuek. Daniel tidak menanggapi ocehan orang-orang di sekitarnya.
Kathryn yang mendengar bisikan-bisikan yang tidak enak di dengar pun menjadi risih. Kathryn menyenggol lengan Daniel, "Daniel! Ssttt, Daniel!"
"Apa?!" ucap Daniel dengan keras.
"Kita harus berjalan berapa lama lagi untuk sampai di toko baju? Kakiku sudah pegal. Dan apa kau tidak dengar kalau banyak yang mengataiku gadis aneh karena pakaianku yang kotor?" ucap Kathryn panjang lebar.
"Kita harus menaiki ini dulu!" ucap Daniel sambil menunjuk eskalator. Kathryn melihat ke arah yang di tunjuk Daniel. Kathryn tidak mengerti, mengapa tangga yang ada di depannya itu, bisa berjalan naik.
"Wahhh!! Tempat ini sangat hebat. Tempat ini sangat besar, punya banyak ruko, dan lihat! Di sini juga punya tangga yang bisa berjalan naik. Di rumah temanku, Kristel, tidak punya seperti ini. Padahal dia sangat kaya," ucap Kathryn yang kagum dengan apa yang baru di lihatnya. Daniel hanya bisa mengangguk saja.
Daniel menarik lengan kiri Kathryn agar dia cepat naik ke eskalator. Kathryn hanya diam mengagumi apa yang dia dan Daniel lakukan, "Wow! Aku hanya diam dan aku bisa sampai naik ke atas. Aku sangat senang," ucap Kathryn melompat-lompat. Orang-orang yang ada di atas dan di bawah Daniel melihat Kathryn dengan tatapan aneh.
"Diam! Kau membuatku malu," ucap Daniel, kesal.
Kathryn berhenti melompat, setelah mendengar ucapan Daniel. Sesampainya di atas, Kathryn melompat lagi. Dia sangat senang setelah bisa naik ke eskalator.
"Ayo!" ajak Daniel sambil menarik lengan Kathryn. Kathryn hanya diam dengan perlakuan Daniel.
Daniel dan Kathryn sekarang berada di depan salon kecantikan. Daniel ingin rambut Kathryn menjadi lebih terawa, "Sekarang, kau akan di perbaiki oleh tante Lydia. Dia adalah teman mamanya Nadine. Yang perlu kau lakukan adalah, diam. Mengerti?" ucap Daniel setelah Kathryn duduk.
Kathryn menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti. Daniel berjalan keluar dari salon itu. Dia akan mencarikan baju untuk Grae. Sedangkan baju untuk Kathryn, Kathryn yang akan memilih sendiri. Setelah sampai di salah satu toko baju, Daniel masuk dengan melihat ke arah kanan dan kiri.
"Kak Daniel?" ucap remaja yang memiliki lesung pipi di ujung toko. Daniel yang mendengar namanya di sebut langsung menoleh ke sumber suara.
"Brace?" ucap Daniel terkejut. "Bisa gawat kalau dia tahu aku dan Kathryn ada di sini," gumam Daniel.
Brace menghampiri Daniel yang sedang bergumam. Brace menghampiri Daniel sambil membawa tiga baju dan dua celana.
"Katanya gak mau di ajak ke mall..." ejek Brace.
"Heh, bocah ingusan. Emang salah, kalau aku ke mall? Lagian mall ini kan bukan punyamu," ucap Daniel yang menyembunyikan ekspresi takutnya. Takut kalau adik satu-satunya itu bertanya tentang Kathryn.
"Pasti ke sini sama pacarnya ya...? Eak, eak, eak. Mana sih pacarnya?" goda Brace sambil menyenggol lengan Daniel. Daniel merasa risih dengan kelakuan adiknya yang selalu aneh menurutnya. Sikap Brace dan Daniel memang bertolak belakang. Daniel yang cuek dengan apa pun, sedangkan Brace sangat ceria dan suka kepo.
"Aku ke sini sendirian. Minggir! Aku mah cari baju buat Grar," ucap Daniel sambil menyingkirkan Brace dari hadapannya.
"Grae? Siapa Grae? Jangan-jangan anak kalian ya?" tanya Brace polos.
Daniel membalikkan tubuhnya, menatap Brace dengan tatapan burung hantu, "Heh bocah ingusan, aku ini masih waras yak. Dasar otak mesum! Grae itu adiknya Kathryn," ucap Daniel kesal.
"Kathryn? Oh nama pacar kak Daniel itu, Kathryn. Nama yang bagus," ucap Brace sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Udahlah! Sekarang, mending bantuin nyari baju buat Grae. Dia itu, seumuranmu, tapi dia lebih tinggi darimu. Cepat cari baju yang cocok!"
"Lah emang aku ini pendek ya?" tanya Brace pada dirinya sendiri. Daniel yang mendengar itu hanya terkekeh. Adiknya itu sebenarnya tidak terlalu pendek, tapi kalau dibandingkan dengan Grae, Brace lebih pendek dari pada Grae.
Di tempat lain, Kathryn masih di tata rambutnya oleh tante Lydia. Tante Lydia sesekali mengajak Kathryn mengobrol. Tante Lydia juga menanyakan tentang hubungannya dengan Daniel. Karena mereka sepakat untuk menjadi kekasih pura-pura, Kathryn menjawab kalau dia adalah kekasih barunya Daniel.
"Tante tidak tahu banyak tentang Daniel, tapi dia itu sangat dingin. Bukan dingin seperti mayat hidup, tapi dia itu sangat cuek. Makanya dia sangat jarang bersama wanita. Em, tepatnya tidak pernah. Paling juga sama mamanya," ucap tante Lydia.
"Oh ya? Tante, dia menembakku baru kemarin, tapi baru aku jawab tadi pagi. Dan asal tante tahu, dia menyatakan perasaannya dengan tidak ada romantisnya sama sekali."
"Bagaimana dia menyatakan perasaanya padamu? Tante jadi penasaran," tanya tante Lydia.
"Dia bilang seperti ini, 'Aku menyukaimu. Kau mau jadi pacarku atau tidak? Kalau tidak ya gak apa-apa, tapi kau akan menyesal. Ingat! Kau akan menyesal.' seperti itu, tante," ucap Kathryn sambil menirukan Daniel saat meyatakan cinta. Tentu saja itu di buat-buat oleh Kathryn.
"Itu seperti mengancammu. Daniel memang aneh. Oh ya, rambutmu sudah selesai. Sekarang mari kita perbaiki bajumu. Aku punya beberapa baju yang sepertinya cocok untukmu. Sebentar!" ucap tante Lydia. Kemudian, tante Lydia pergi untuk mengambil beberapa baju.
Daniel berjalan santai bersama Brace ke tempat salon. Brace memaksa untuk ikut Daniel bertemu Kathryn. Brace mengancam Daniel jika tidak boleh ikut, Brace akan bilang ke mamanya kalau kakaknya itu bohong soal kekasih.
Setelah sampai di salon, Daniel memperingatkan Brace agar tidak bertindak macam-macam. "Ingat! Jangan macam-macam!"
"Siap bosku!" ucap Brace sambil memberi hormat kepada Daniel seperti hormat pada tiang bendera.
Daniel masuk perlahan, di ikuti Brace yang juga mengendap-endap. Brace heran kepada kakaknya, kenapa berjalan pelan layaknya pencuri. "Kak, kenapa kita seperi pencuri yang berjalan mengendap-endap seperti ini?" bisik Brace.
"Sst!" Daniel meletakkan jari telunjuknya ke bibir, menyuruh Brace untuk diam.
Daniel terdiam melihat penampilan Kathryn. Kathryn yang menyadari keberadaan Daniel, langsung memanggilnya untuk mendekat. Setelah Kathryn ganti baju, tante Lydia ingin memotret Kathryn dan katanya akan dimasukkan ke sosial media milik salonnya.
Daniel berjalan beriringan dengan Brace. Brace berdecak kesal karena dia yang di suruh membawa semua belanjaan.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Kathryn sambil tersenyum manis pada Daniel.
"Cantik. Sangat cantik," ucap Brace yang kagum dengan Kathryn. Brace membulatkan mulutnya takjub dengan kecantikan Kathryn.
"Tutup mulutmu!" perintah Daniel pada adiknya. "Ya sudah, ayo, kita cari baju untukmu!" ajak Daniel.
"Baiklah. Terima kasih tante Lydia," ucap Kathryn pada tante Lydia. Setelah memberikan uang di kasir salon, mereka pergi keluar dan pergi ke toko baju wanita.
Daniel dan Kathryn berjalan berdampingan, sedangkan Brace yang berjalan di belakang mereka, mengumpat dalam hatinya karena dia kesal pada kakaknya. Kakaknya itu menyuruhnya untuk membawa banyak belanjaan.
"Kak! Jangan sibuk pacaran terus! Bawa ini! Aku capek," rengek Brace seperti anak kecil yang minta ice cream.
"Ck! Sudah jangan protes!" ucap Daniel.
"Biar aku bantu," ucap Kathryn sambil mengambil beberapa belanjaan.
"Nah, gitu dong. Dari tadi kek," ucap Brace yang kini berjalan di sebelah kiri Kathryn. "Oh ya, kak. Kenapa kak Kathryn mau sama kak Daniel?" tanya Brace.
"Em, karena... Karena dia baik dan juga tampan. Hehehe," ucap Kathryn agak gugup. Dia asal bicara karena dia memang belum mengenal Daniel sepenuhnya.
"Sudahlah! Jangan bertanya aneh-aneh Brace!" ucap Daniel kesal.
Setelah selesai belanja, mereka bertiga naik ke mobil Daniel. Daniel menyetir mobilnya ke arah apartemen rahasianya. Diam-diam dia membeli apartemen itu. Apartemen itu sebenarnya untuk kumpul-kumpul bersama James, Enri, dan teman-temannya yang lain.
"Brace, kau ke mall sendiri?" tanya Daniel yang masih fokus menatap jalan.
"Ya, kak. Kenapa? Kau takut ketahuan mama ya?" goda Brace.
"Apaan sih. Lagian mama udah tahu hubunganku sama Kathryn, kan."
"Iya deh, iya. Kak Daniel gak kerja? Dan kita mau ke mana ini?" tanya Brace.
"Nanti siang aja kerjanya. Kita mau anterin Kathryn ke apartemennya dulu. Setelah itu, aku anterin kamu pulang, Brace. Biar gak dicariin mama. Di rumah jangan main, belajar!"
"Iya, kak," jawab Brace lesu.
Kathryn hanya tersenyum geli melihat adik dan kakak itu. Sangat lucu. Tiba-tiba dia teringat dengan Grae yang akan di operasi besok. Dia juga sering bertengkar dengan Grae. Itulah kakak dan adik, jika dekat gak akur, kalau jauh malah rindu.
Kathryn masuk dengan membawa banyak belanjaan. Dia merasa sangat senang dengan penampilannya. Dia merasa menjadi salah satu wanita tercantik di dunia. Dia bahkan pernah di perlihatkan oleh Kristel saat di desa, kalau ada ajang wanita tercantik di dunia. Namun, Kathryn hanya orang biasa, tidak mungkin dia mengikuti ajang tersebut.
Kathryn sudah di beri tahu nomor sandi apartemen milik Daniel. Daniel akan menyuruh orang untuk mengambil barang-barang di rumah kardus Kathryn. Meski tidak banyak, tapi di sana ada barang-barang yang cukup penting.
Kathryn menghela napasnya melihat barang-barang berserakan di lantai. Dua hari yang lalu tempat itu dijadikan tempat untuk nobar acara sepak bola. Kathryn membereskan barang-barang tersebut selama satu jam.
Sekarang, Kathryn sedang membuka kotak ponsel barunya. Ponsel yang berlogo Vivo itu dibelikan oleh Daniel. Daniel akan malu kalau mamanya melihat Kathryn yang tidak memiliki ponsel pintar. Kathryn merasa agak bingung dengan ponsel barunya. Ponsel itu tidak ada tombol nomor atau huruf seperti ponsel lamanya. Ponsel itu mirip dengan milik Kristel, namun punya Kathryn lebih besar.
"Ponsel ini aneh, tapi mahal. Masak gak ada tombol hurufnya sih? Mana dari tadi mati mulu. Tunggu!" ucap Kathryn kepada diribya sendiri. "Kata Kristel, kalau gak ada tombol hurufnya itu, namanya ponsel layar sentuh. Ponsel ini sama kayak punya Kristel, tapi kok ini besar banget yak? Pantesan mahal."
Kathryn meletakkan ponsel itu ke nakas dekat kasur. Kasur yang dia dudukki sangat empuk dan nyaman. Kathryn yang sedang duduk, malah menaik-turunkan tubuhnya menikmati kasur barunya. "Wah! Empuk sekali. Pasti Grae nyaman tinggal di sini. Oh ya, besok aku harus bekerja di kafe tante Myra. Wah!! Beruntungnya diriku bisa bertemu dengan Daniel. Udah tampan, pintar, baik, eh tunggu-tunggu! Kenapa aku malah memujinya? Sekarang, mending tidur dulu."
---o0o---
Terima kasih sudah mau mampir membaca ceritaku ini.
Terima kasih yang sudah mau vote dan comments.
👑💙