Bagian 1 - Mengejar Awan : Awan Samudra-
"Pertemuan pertama yang cukup berkesan. Terdapat kebodohanku, buku rated 21, dan tawamu."
SMA Talenta, salah satu sekolah elit yang berada di Kota Bandung. Sekolah ini memiliki lorong yang luas, namun tetap akan sesak bila jam sudah menunjuk ke angka 10 yang berarti adalah waktu istirahat pertama. Banyak yang berteriak lega karena merasa diri mereka sudah bebas dari penjara walau dalam waktu sebentar. Bahkan ada juga yang langsung menyabotase bangku panjang yang terletak di depan kelas untuk dijadikan tempat tidur.
Di antara banyaknya manusia dengan baju putih abu-abu, ada satu warna yang berbeda. Abigail, sering dipanggil Abi. Pecinta buku dan drama korea. Benci keramaian, petir, dan gelap. Gadis biasa yang sangat menyukai warna kuning dan bunga matahari. Gadis itu berjalan menelusuri lorong sekolah dengan langkah lebar. Kaki pendeknya terus berusaha melangkah dengan pasti walau kadang tersandung atau tak sengaja menginjak sepatu orang lain. Dengan tubuh yang ia balut oleh hoodie berwana nyentrik kesukaannya, kuning. Gadis itu terlihat kecil namun mencolok di antara manusia-manusia kelaparan yang berjalan berlawanan dengan arah yang dia ambil. Sehingga bahunya tak jarang bertabrakan dengan yang lain.
"Sorry." Ucap gadis itu saat bahunya kembali bersinggungan dengan orang lain. Setelah berjalan cukup jauh, ia akhirnya dapat bernafas lega begitu kakinya sampai tepat di hadapan pintu kayu besar yang terbuka. Di atas pintu itu tertuliskan dengan jelas 'Perpustakaan', tanpa ragu ia langkahkan kakinya melewati pintu. Dirinya langsung disambut dengan suasana sunyi dan sejuk juga bau khas buku-buku tua favorite-nya. Sebelum melangkah lebih dalam, ia melepas sepasang sepatu yang ia kenakan dan menyimpannya di sebuah rak sepatu dekat pintu yang sengaja disediakan oleh sekolah agar perpusatakaan mereka bebas dari lantai yang kotor.
Selepas itu, ia berjalan menghampiri meja yang di belakangnya tengah duduk seorang wanita tua memakai pakaian rapi juga kacamata tebal. "Bunda, Abi mau ngembaliin buku." Ucap Abi sambil meletakan buku-buku yang sedari tadi ada di tangannya ke atas meja. Namun ia menyisakan satu buku bersampul buludru berwarna kuning di tangannya. Wanita tua yang Abi kenal dengan nama Bunda Dari itu tersenyum sambil mengecek buku-buku yang tadi Abi berikan. "Kartunya, Abi?"
Abi dengan cepat merogoh saku hoodie-nya. Ia menghela nafas lega karena mendapati benda berwarna biru itu tidak jatuh saat di koridor tadi. Pasalnya Abi kerap kali kehilangan kartu perpustakaanya karena kebodohanya menerobos lautan siswa yang kelaparan. Kartu yang kini tengah Bunda Dari periksa adalah kartu yang ke-3.
Abi mengedarkan pandangannya. "Bun, kok sepi banget sih?"
"Kan istirahat. Kamu aja yang aneh kok istirahat malah ke perpustakaan, bukannya makan di kantin."
"Lah, nanti gak ada yang nemenin Bunda."
"Bilang aja kamu mau nonton drama korea lagi kan?"
Abi tertawa mendengar penuturan Bunda Dari. Benar adanya, gadis itu kerap kali menonton drama korea menggunakan komputer perpustakaan milik Bunda Dari dengan fasilitas wi-fi super kencang. Omong-omong, nama wanita di hadapan Abi itu adalah Andari, kenapa dipanggil Bunda Dari? Karena memang sifatnya yang begitu baik dan sering menolong Abi di kala susah. Contohnya saat Abi nyaris ditangkap oleh Pak Bambang saat ketahuan berkeliaran menggunakan jaket di dalam sekolah. Abi disembunyikan oleh wanita berumur 47 tahun itu di bawah meja kerjanya. Jadi Abi memanggil Ibu Indari dengan sebutan Bunda Dari.
"Kartunya di Bunda dulu aja. Abi mau nyari novel lagi, gak nonton korea."
Setelah ucapannya diangguki oleh Bunda Dari, Abi berjalan melewati beberapa rak buku sambil memasukkan buku kuningnya ke dalam saku hoodie hingga dirinya masuk ke salah satu bilik yang di sana tertuliskan 'NOVEL'. Setelah menutup kepalanya dengan hoodie, Abi dengan pelan kini membaca satu persatu judul yang tertera di sampul. Abi pecinta novel ber-gendre romance. Maaf-maaf saja, Abi tidak sepolos yang orang-orang kira. Bahkan dirinya sudah membaca beberapa buku dengan rated 21 padahal umurnya baru akan menginjak 17 tahun 3 bulan lagi tepatnya pada hari valentine tahun depan.
Abi menghela nafas kesal begitu menyadari tak ada novel yang menarik perhatiannya. Akhirnya Abi memutuskan untuk mendongakkan kepalanya untuk mencari buku di rak bagian atas. Tiba-tiba matanya langsung melebar begitu menemukan sebuah buku yang akan ia jadikan temannya untuk 2 malam kedepan. Tangannya terulur ke atas untuk meraih buku tersebut. Namun sayangnya tak sampai. Bahkan setelah berjinjit, tangan Abi baru menyentuh 2 rak sebelum buku yang ia mau. Dilema memiliki tubuh pendek. Selama 2 tahun bersekolah di sini, Abi hanya membaca buku yang ada di dalam jangkauannya, dalam arti yang bisa ia raih sendiri tanpa memerlukan tenaga ekstra. Makadari itu, Abi tidak pernah mau mendongak untuk mencari buku yang ada di rak atas karena dia tahu bahwa dirinya hanya akan merasa kesal karena tidak bisa meraih buku itu.
Jangan tanya 'kenapa gak pake kursi?' jawabannya adalah karena Abi tidak mau menyuruh Bunda Dari untuk bangkit dari duduknya. Jika ada pertanyaan lagi tentang 'emang gak ada kursi lain?' jawabannya adalah karena memang yang tersedia di dalam perpustakaan hanya ada bantal-bantal empuk yang digunakan untuk duduk lesehan.
Saat kelas satu, Abi pernah berusaha untuk menumpuk beberapa bantal untuk dijadikan pijakan dan berakhir dengan pantat Abi yang memar hingga gadis itu berasa sedang kena penyakit bisul karena terjatuh dengan anggunnya dari pijakan bantal-bantal itu. Kini, saat dirinya sibuk mencoba meraih buku yang ia mau, matanya malah berkeliaran membaca satu-persatu buku yang berada di rak atas. 'Shit! Kenapa gue pendek banget?!' teriaknya dalam hati begitu menyadari bahwa buku-buku yang ada di rak atas adalah buku-buku yang selalu ingin dia baca namun tak mau membelinya karena harganya yang mahal di Toko buku. Abi tidak mengerti kenapa orang yang menyususn buku-buku di sini menyimpan buku-buku bagus di atas sana. Apa agar Abi tidak bisa membacanya? Jahat sekali kalau memang begitu.
Di tengah kesibukannya untuk meraih buku yang ia mau. Abi malah terlihat seperti orang aneh yang tengah bersandar pada rak buku dengan tangan terulur keatas dan wajah yang fokus membaca judul-judul buku lain. Tiba-tiba sebuah tangan teulur tinggi menjangkau buku yang Abi inginkan bersamaan dengan terbukanya hoodie yang Abi kenakan sehingga kini rambut coklatnya yang berantakan dapat terlihat dengan jelas. Dan dengan itu juga Abi langsung terlonjak hingga sikunya terbentur pinggiran rak buku dan menyebabkan Abi berteriak karena sikunya terasa seperti tersengat oleh listrik.
"Hmpt—"
Abi langsung berbalik begitu menyadari ada orang yang hendak mentertawakannya. Matanya melebar begitu medapati cowok yang sering ia lihat tertidur di mushola sekolah kini ada di hadapannya dengan senyum tertahan. Abi dengan cepat membaca nama yang tertera di seragam cowok itu.
"Awan Samundra?"
"Ya?"
Abi terlonjak. Kini punggungnya yang menjadi korban karena dengan bodohnya lagi, Abi membaca nama cowok di hadapannya itu dengan keras. Maksud Abi kan ingin membaca di dalam hati. Tapi malah kelepasan.
"Auh." "HAHAHAHAH."
Abi melotot melihat cowok bernama Awan itu tertawa. Apa Abi selucu itu hingga tawa Awan dapat membuat Bunda Dari berteriak "AWAN!!" untuk memperingati cowok itu bahwa dirinya ada di dalam perpustakaan, bukan tempat karaoke.
Awan mengusap rambutnya ke belakang sambil menetralkan tawanya. Cowok itu dengan pelan berdeham lalu mengulurkan tangannya yang memegang buku kepada Abi. " Nih, udah dapet." Ucap Awan dengan nada enteng namun terdengar mengejek di telinga Abi. Abi menatap buku itu cukup lama sebelum menerimanya. "Thanks." Ucap Abi. Awan mengangguk dan memberikan senyum.
Sejenak, Abi merasa bahwa senyum yang Awan tampilkan terlihat begitu manis dan membuat cowok itu terlihat begitu tampan. Namun pemikirannya itu dengan cepat ia tepis karena tidak mau mengulang kebodohannya lagi, yakni mengucapkan apa yang ia pikirkan.
Beberapa detik mereka diam. Abi menatap Awan begitu juga sebaliknya. Kalau dipikir-pikir, adegan tadi seperti adegan-adegan klasik di dalam sebuah drama, di mana karena dibantu mengambilkan sebuah buku yang tidak terjangkau, si gadis jatuh cinta kepada si laki-laki.
"Gak nyangka,"
Abi mengerjap. Dirinya menatap Awan tidak mengerti. "Huh?" Awan menunjuk kearah buku yang ada di tangan Abi sambil tersenyum geli. "Itu, Fifty Shade of Grey?" Abi ikut membaca judul buku yang ada di tangannya itu. "Iya, kenapa emang?" tanya Abi bodoh. Awan kini kembali tertawa. "Kamu? Baca yang gitu?"
"Ya emang kenapa?"
"Kamu tau itu buku ceritanya tentang apa?"
Abi berpikir sebentar lalu mengangguk "Ya iya lah ta—" ucapan Abi terpotong dengan sendirinya begitu gadis itu menyadari kemana arah pembicaraan Awan. 'Shit!'
Abi yang kepalang malu langsung menutup kembali kepalanya dengan hoodie yang sempat terbuka tadi dan berlari meninggalkan Awan yang tengah tertawa terbahak di tempatnya. Abi langsung menghampiri Bunda Dari yang terlihat sudah siap untuk berteriak memperingati Awan namun wanita itu mengurungkan niatnya dan beralih kepada Abi yang kini tengah menatapnya dengan kesal.
" Kenapa, Bi?" tanya Bunda Dari.
Abi memberengut kesal dan langsung berteriak kesal "BUNDA KENAPA HARUS ADA BUKU INI DI PERPUS?!"