Animosity

By young_ssi

2.1M 257K 61.8K

(COMPLETED) Byun Baekhyun, seorang jaksa tampan yang datang dalam kehidupan Park Sena secara tiba-tiba. Denga... More

Introduce
Prolog
TRAILER
01 - Their Meeting
02 - Falling in Love at First Sight?
03 - She Is A Different Woman
04 - Where Are You?
05 - Stop It
06 - Thrilling Kiss
07 - Shocked
08 - A Warm and Comfortable Hug
09 - Fall In Love With Byun Baekhyun?
10 - Second Kiss With Him
11 - Another Shocking Moment
Special Chapter - That Sweet Little Boy, Named William
12 - Men Of The Past
13 - Loving Him Deeply
14 - The Bitter Story on Her Birthday
15 - Familiar Scar
16 - Between Evil and Kind
Special Chapter - A Sad Birthday
17 - Unexpected Fact
18 - Want to Spin
19 - Fear Of Death
Special Chapter - Daddy Like A Monster
Inget Baik-Baik.
20 - Fact About Men 7 Years Ago
About 7 Years Ago
Side Story - A Conspiracy
21 - The Beginning Of Suffering
22 - Remaining Time
23 - Byun Naomi
24 - He And His Warm Side Are Back
25 - Her Frustration
Special Chapter - Old Story
26 - Three Clues
27 - Regret and Apology
28 - Hurt
Special Chapter - Old Wound
29 - In Danger
Special Chapter - Terrible Night
30 - A Proof of The Truth
31 - In Critical Condition
Special Chapter - Trauma
32 - Miss Him
33 - Accident
Special Chapter - Death And New Life
34 - He's Back
35 - A Longing Kiss
36 - Feel Selfish
37 - Rain
38 - Pororo Girl
39 - A Fear
40 - A Lie Revealed
Pahami ya!
41 - Sick
42 - Daddy's Back
Side Story - A Quiet And Peaceful Place
Special Chapter - Sadness In That Day
43 - Choose to Go
44 - Find Her
45 - Nostalgia In Busan
46 - Lightning And Rain
47 - Last Chance
48 - Request Cheonsa or Sena?
49 - A Farewell Letter
Side Story - When He Fall In Love With Her
50 - Byun Cheonsa
51 - Their Cute Baby
Visual - Cheonsa
52 - Feel Neglected
53 - Fever
54 - Painful Choice
55 - Trust Her
56 - Amnesia?
57 - Cuteness Cheonsa
58 - Not Free Because Cheonsa
59 - A Small Lie
60 - Wine
61 - Request Cheonsa
62 B - Aged With You (End)
Epilog
MV Animosity
Special Chapter (KaeSoo) - The Wedding
Special Chapter - The Crowd In House of Little Byun's Family
Special Chapter - The Presence of A Handsome Baby
Special Chapter - Baekhyun And Five Children
Special Chapter - Little Quarrel
Special Chapter - The Wedding Oh Sehun & Kim Mi Yeon
Special Chapter - Playing With Their Children
Special Chapter - Our Happiness
Silahkan dijawab ;)
TROUVAILLE (Promosi FF baru)
SEQUEL ANIMOSITY

62 A - Honeymoon

25.4K 2.5K 350
By young_ssi

Jeju.

Dari sekian banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk bulan madu, Sena memilih Jeju.

Bukan tanpa alasan dia memilih Jeju, selain Seoyon yang menyarankannya——karena saat baru menikah Seoyon dan Junmyeon pun bulan madu ke Jeju, banyak tempat-tempat romantis yang bisa dikunjungi oleh pasangan yang pergi kesana dengan tujuan bulan madu.

Sena bahkan sangat antusias saat Seoyon menyebutkan beberapa tempat wisata di Jeju yang dikunjungi wanita itu dan Junmyeon dulu saat bulan madu. Terlebih lagi Junmyeon dengan baik hati mengizinkan dirinya dan Baekhyun untuk tinggal di villa milik pria itu saat di Jeju.

Tentu saja dia sangat antusias.

Karena baru kali ini dia akan merasakan yang namanya bulan madu——lebih tepatnya bulan madu yang terlambat.

Bahkan dia berencana ingin langsung berjalan-jalan saat sudah sampai, dan dia tidak berniat untuk istirahat sebentar. Yang ada dipikirannya hanyalah mengunjungi tempat-tempat yang dikatakan Seoyon.

Tapi sayangnya harapannya tidak sesuai kenyataan.

Rencananya yang akan langsung jalan-jalan harus gagal total saat pria bermarga Byun itu lebih tertarik menahannya di villa.

Sejak kemarin tiba di Jeju dan sampai sore ini Sena sama sekali belum keluar dari villa. Pria itu banyak sekali alasan saat diajak jalan-jalan dan ujung-ujungnya mengajaknya ke kamar.

Sena sampai kesal sendiri. Kenapa di otak lelaki itu hanya ada hal-hal mesum saat istrinya mengajak bulan madu?

Contohnya saja seperti sekarang ini. Suaminya itu sama sekali enggan melepaskan pelukannya meskipun Sena bilang dia gerah dan ingin mandi.

"Kau tidak merasa gerah?" tanya Sena.

"Tidak," balas pria itu cepat.

Sena berdecak, dengan cepat berbalik lalu menyentuh dada telanjang pria itu. "Tubuhmu saja penuh keringat. Tidak gerah apanya?"

"Ayolah, aku mau mandi," rengek Sena. "Ini sudah sore. Bahkan aku belum jalan-jalan sejak tiba kemarin."

"Aku mau jalan-jalan. Jadi lepaskan aku dan aku mau mandi, ya ya ya?" bujuk Sena sambil menggoyang-goyangkan lengan Baekhyun.

"Hm. Temani aku 10 menit lagi," balas pria itu.

Sena berdecak lagi. Dia melepaskan tangan pria itu yang semula memeluk pinggangnya, lalu dengan cepat bangkit. "Aku tidak mau percaya. Aku yakin bukan 10 menit jika terus-terusan berada denganmu di tempat tidur," rutuknya kesal.

Baekhyun tersenyum miring membuat Sena mengernyit. Tersadar kemana arah pandang pria itu, Sena dengan cepat membenahi selimut dan menahannya sebatas dada. "Berhenti tersenyum mesum seperti itu!" Sena memalingkan wajahnya.

Pria itu terkekeh. "Jika aku tidak mesum, kau tidak akan hamil."

"Ck terserah. Pokoknya aku mau mandi sekarang."

Baekhyun menahan tangan Sena, membuat Sena menoleh. Belum sempat dia berbicara, pria itu menariknya dengan cepat membuat dia kembali berbaring.

"Hanya temani aku berbaring 10 menit lagi. Atau aku——"

"Atau apa?" balas Sena kesal. "Kau akan melakukannya lagi?"

Baekhyun tersenyum lalu mencolek hidung Sena. "Pintar."

"5 menit. Tidak kurang tidak lebih," tegas Sena.

"Dan tidak ada penawaran lagi," tambahnya membuat Baekhyun terkekeh. "Baiklah, baiklah. Galak sekali." Pria itu melilitkan kakinya ke kaki Sena.

"Apa-apaan..."

Baekhyun menahan kaki Sena. "Untuk memastikan kau tidak akan kabur selama 5 menit ke depan."

Sena membiarkannya, dan nyatanya sudah lewat dari 5 menit pun pria itu belum melepaskannya.

"Lepas. Sudah lebih dari 5 menit," titah Sena.

"5 menit lagi." Baekhyun semakin menahan kaki Sena agar Sena tidak bisa bergerak.

"Aku bilang lepas!" Sena berusaha meloloskan kakinya.

"Tidak akan aku biarkan," balas Baekhyun.

Sena tidak menyerah dan masih berusaha meloloskan kakinya. Dan Baekhyun tersenyum senang karena dia tau tenaga Sena tidak sebesar itu untuk bisa lolos.

Bugh

"ARKHHH!!!"

Mata Sena membulat. Dengan cepat menjauh saat pria itu melonggarkan lilitan kakinya. Dan dia baru tersadar apa yang dikenai lututnya sampai pria itu mengerang kesakitan.

"Astaga, aku tidak sengaja. Aku bersumpah tidak sengaja."

"Lagi pula sepertinya lututku tidak mengenainya sekeras itu. Apa benar-benar sakit?" tanya Sena panik.

"Baek..." Sena mengguncang lengan suaminya saat pria itu masih tidak menjawab.

"Apa sangat sakit? Tapi lututku tidak mengenainya sekeras itu. Bahkan aku rasa pelan dan——"

Baekhyun mendongkak dan menatapnya tajam membuat Sena mengerjap.

"Aku tidak bermaksud menendangnya. Aku bersumpah."

Baekhyun berdecak. Dia bangkit perlahan saat rasa sakitnya mulai hilang. Memang lutut Sena tidak mengenainya sangat keras, tapi tetap saja sakit.

"Sudah tidak sakit?" tanya Sena polos.

Baekhyun tidak menjawab dan segera turun dari ranjang.

"Baekhyun. Jangan marah. Aku tidak sengaja."

"Sudahlah," balas pria itu masih ketus.

Baekhyun berjalan menuju kamar mandi lalu langkahnya terhenti. Dia menoleh ke arah Sena. "Kemari, temani aku mandi."

"Heih?!"

***

"AW! SAKIT!" teriak Sena.

"Tahan."

"Aku tidak mau——ARKH!!"

Baekhyun menghela napas. Dia meraih kaki Sena lagi. "Kakimu mau sembuh tidak?"

"Sudah. Aku tidak mau lagi. Itu malah semakin sakit!" Sena menjauhkan kakinya.

"Lagi pula ini salahmu sehingga aku terjatuh dan kakiku terkilir!"

Baekhyun menghela napas lagi. Dia duduk di samping Sena yang memegangi kakinya sambil merintih.

"Dengar, nyonya. Kau jatuh sendiri. Ingat?"

Sena berdecak. "Tetap saja itu salahmu!"

"Aku salah apa? Jelas-jelas kau jatuh sendiri."

"Ck. Itu...karena lantai kamar mandinya licin!" seru Sena lalu memegangi kakinya lagi.

"Jadi siapa yang salah?"

"Lantainya!" jawab Sena polos.

Baekhyun tertawa. "Kemari. Aku berjanji padamu jika sakitnya hanya sebentar."

"Kau tidak ingat saat kita masih pacaran dulu kakimu terkilir dan aku yang mengobatinya?" Baekhyun meraih kaki Sena lagi. "Kau percaya padaku?

Sena mengangguk. "Pelan-pelan...."

Baekhyun tersenyum miring. "Ambigu sekali. Itu persis seperti yang selalu kau katakan saat kita——"

"Diam. Tutup mulutmu. Aku——"

"AKRHHHHHHHH!!!!!" Sena beteriak kencang saat pria itu membenarkan kakinya yang terkilir tanpa aba-aba.

"Jaksa gila! Menyebalkan! Bodoh! Idi——" Perkataan Sena terhenti saat tiba-tiba pria itu menindihnya dan mengunci pergelangan tangannya.

"Setelah suamimu mengobati kakimu, kau malah mengatainya?" ujar Baekhyun.

Sena mengerjap-ngerjapkan matanya, terlalu terkejut akan aksi pria itu.

"Aw!" Sena memegangi keningnya yang dijitak pria itu. "Sakit!"

"Kau itu ya. Kadang kau bisa bersikap dewasa. Tapi terkadang kau kekanakan. Bahkan jika pria lain yang melihatmu, mungkin mereka tidak akan percaya jika perutmu sudah pernah diisi seorang bayi."

"Oh berarti itu bagus," balas Sena.

"Bagus apanya?"

"Jadi mereka akan menyangka jika aku ini masih gadis perawan."

"Jadi kau berencana akan selingkuh?"

Sena mengangguk. "Boleh juga. Apa aku selingkuh dengan Daniel saja? Tubuhnya kan bagus, apalagi bahunya——"

"Tapi kemampuannya tidak akan sehebat aku," sela Baekhyun.

"Kemampuan apa?"

Baekhyun mendekatkan wajahnya lalu berbisik. "Kemampuan ranjang."

"Lihat. Aku bahkan bisa mendengar jantungmu berdebar hanya karena aku membisikkan kata itu," goda Baekhyun.

"Jadi, kau tidak usah menyesal menikah dengan duda. Justru kau beruntung," tambahnya.

Sena menghela napas. "Bisa lepaskan tanganku dan menyingkir?" tanya Sena.

Baekhyun bangkit. Dia menurunkan kaki Sena dari sofa. "Coba gerakkan."

Sena menggerak-gerakkan kakinya. "Lumayan. Sudah tidak terlalu sakit."

Sena menoleh ke arah Baekhyun. "Siapa ciuman pertamamu?"

"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" balas Baekhyun.

"Aku hanya penasaran. Memangnya tidak boleh?"

Baekhyun diam, seperti enggan menjawab. Sena memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sepertinya aku tau. Mengingat siapa cinta pertamamu. Sudah pasti ciuman pertamamu itu dia."

"Jika sudah tau, kenapa bertanya?"

"Begitulah wanita!" seru Sena.

Baekhyun menyandarkan punggungnya. "Yah begitulah wanita. Selalu bilang tidak cemburu padahal cemburu. Selalu bilang tidak apa-apa padahal ada apa-apa."

"Kau tidak mau bertanya siapa ciuman pertamaku?" tanya Sena.

"Aku sudah tau. Dulu kau sudah memberitahuku." Baekhyun masih ingat saat Sena berkata jika ayah kandungnya sendiri yang merupakan ciuman pertamanya. Atau lebih tepatnya ciuman paksa? Ah sudahlah Baekhyun terlalu ngeri membayangkannya.

"Bukan! Bukan dia."

Baekhyun mengernyit, lalu mendekat. "Lalu siapa?"

"Daniel. Kang Daniel."

"Apa? Kau? Daniel? Ciuman?"

Sena mengangguk bangga. "Daniel sendiri yang menceritakannya. Saat itu aku pingsan. Daniel membawaku ke UKS lalu Seongwoo datang terburu-buru dan menabrak Daniel sehingga Daniel mengenaiku dan bibirnya juga mengenai bibirku," ujar Sena menceritakan detailnya.

"Jadi ternyata ciuman pertamaku itu Kang Daniel."

"Kau sesenang itu?" balas Baekhyun dengan nada kesal.

"Tentu saja! Setidaknya ciuman pertamaku itu ternyata cinta pertamaku. Bukan pria tua jahat itu!"

"Hhh terserah," ujar Baekhyun segera bangkit.

"Oh aku juga pernah mandi bersama Daniel."

Baekhyun dengan cepat menatap Sena dengan tajam. Sena tertawa. "Oke, yang itu bercanda. Aku tidak pernah mandi bersama pria."

"Lalu kau tidak menganggap aku pria?" balas Baekhyun.

"Oh ya, aku lupa. Maksudku selain kau."

"Sudahlah. Aku mau tidur," ujar Baekhyun segera berlalu.

"Kita tidak akan jalan-jalan?" tanya Sena.

"Baek!"

"Baekhyun!"

"Heol, apa jangan-jangan kau cemburu karena aku mengatakan ciuman pertamaku Daniel?" teriak Sena.

Sena bangkit, dia berjalan perlahan dengan kondisi kaki kirinya yang masih sedikit ngilu.

Dia menyusul Baekhyun ke kamar. Bertepatan dengan dia yang masuk kamar, bertepatan itu Baekhyun baru membaringkan dirinya.

"Kau benar-benar cemburu?" Sena duduk di sisi ranjang. Baekhyun berbalik lalu mengubah posisinya menjadi tengkurap.

"Ayolah. Jangan marah seperti ini. Aku mau jalan-jalan. Ayo jalan-jalan," rengek Sena.

"Kau mau kemana dengan kaki seperti itu?" balas Baekhyun.

"Kakiku sudah tidak apa-apa. Sudah tidak terlalu sakit."

"Ayolah. Ayo oppa....." bujuk Sena dengan nada yang dibuat imut. "Oppa, ayo jalan-jalan bersama istrimu ini, hm?"

Baekhyun tidak menjawab dan malah memejamkan matanya.

"Oh ponselmu berbunyi," seru Sena segera mengambil ponsel Baekhyun yang ada di atas nakas.

"Jaksa Byun. Ini aku Ahn Ye Hwa. Apa kau punya waktu luang sebentar? Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting. Jika kau menerima ini tolong segera hubungi aku." Sena membaca pesan itu.

"Ahn Ye Hwa. Siapa dia?" tanya Sena curiga.

"Rekan kerjaku," gumam Baekhyun.

"Halo, Ahn Ye Hwa-ssi?"

"Aku? Aku Park Sena. Istri Jaksa Byun. Sesuatu penting apa yang ingin kau bicarakan dengan suamiku?"

"Pekerjaan? Kau yakin? Kau yakin bukan selingkuhannya?"

Mata Baekhyun terbuka. Dia menghela napas sebelum bangkit. "Kemarikan ponselnya."

"Dengar Ahn Ye Hwa-ssi. Kau tau sendiri bukan jika Jaksa Byun sedang mengambil cuti untuk bulan madu? Jadi jangan bicarakan pekerjaan disaat dia sedang berlibur dengan istrinya. Kau mengerti?"

Sena dengan cepat memutuskan sambungannya. Baekhyun mengambil ponselnya. "Sekarang lihat siapa yang cemburu."

"Kau selingkuh?" tuduh Sena.

"Aku bersumpah tidak pernah selingkuh dengan siapapun," jawab Baekhyun.

"Dia rekan kerjaku, Sena. Kau tidak percaya padaku?"

"Jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Junmyeon hyung."

Sena berdecak dan segera bangkit. Baekhyun tersenyum geli melihat istrinya itu cemberut. "Lagi pula dia sudah bertunangan. Mana mungkin aku selingkuh dengannya? Terlebih dia adalah tunangan dari adik sepupunya Junmyeon hyung."

Seketika Sena menoleh. "Oh? Adik sepupu Junmyeon oppa yang tampan itu?"

"Tidak. Lebih tepatnya tidak lebih tampan dariku," balas Baekhyun percaya diri.

Sena mengambil asal benda yang ada di sampingnya dan melemparnya ke arah pria itu.

"Dasar narsis!"

Baekhyun langsung menangkap benda yang mengenainya. Mata Sena membulat saat menyadari apa yang baru saja di lempar.

"Wow. Warna merah?" ujar Baekhyun usil.

"Kemarikan!"

"Jadi yang kau pakai semalam itu warna merah? Aah aku tidak menyadarinya karena kamarnya gelap semalam."

"Apa yang kau pakai sekarang warna merah juga?" tanya Baekhyun sambil menyeringai.

Seketika Sena menutupi dadanya. "Ya! Dasar mesum!"

Sena mendekat dan segera mengambil pakaian dalamnya yang dia lempar tadi.

"Jadi, warna apa yang sekarang kau pakai?"

"Aku tidak memakainya! Kau puas?!"

"Mana? Coba aku periksa?" Pria itu mengerling.

Bugh

Bugh

Bugh

"Dasar jaksa mesum! Mesum! Mesum!" Refleks Baekhyun menghalangi pukulan Sena dengan tangannya.

Dengan cepat dia menarik Sena membuat kini posisi Sena ada di atas pria itu.

"Jalan-jalannya besok saja. Aku masih ingin menghabiskan waktu dengan istriku di tempat tidur."

Dengan cepat membalik posisinya menjadi Sena dibawah.

"Argh! Kakiku sakit!"

"Oh maaf, aku lupa."

"Awas! Menyingkir!" titah Sena.

Yang terjadi justru pria itu malah mengunci pergelangan tangannya. "Salah siapa memberitahu sesuatu yang bisa membangkitkan naluri lelakiku."

"Sekarang, let's make a cute baby."

***

Baekhyun melepaskan sepatunya sambil melihat Sena yang tengah bermain-main dengan air pantai di depannya. Istrinya itu sudah lebih dulu melepaskan sandalnya dan langsung antusias saat melihat pantai.

Bahkan ini masih sangat pagi. Matahari saja belum muncul, dan istrinya itu menariknya paksa dari tempat tidur.

Wanita itu bilang ingin melihat matahari terbit di pantai. Dan berakhirlah mereka disini.

Baekhyun mendekat ke arah Sena. "Kakimu sudah tidak apa-apa?"

"Memang masih sedikit sakit. Tapi sudah tidak apa-apa."

"Oh dinginnya..." ujar Sena saat air pantai mengenai kakinya.

Sena mengulurkan tangannya ke arah Baekhyun membuat pria itu langsung meraihnya.

Mereka berjalan berdampingan di sekitar pantai dengan tangan yang saling menggenggam.

"Hanya ada beberapa orang disini. Suasana pantai masih sepi," ujar Sena.

Sena tersenyum. "Tapi aku menyukainya. Ini terasa romantis sekali saat aku berjalan berdua denganmu seperti ini."

"Kau menyukainya juga kan?" Sena menoleh dan Baekhyun mengangguk.

Sena berhenti. Dia mengajak Baekhyun duduk. Tangan mereka masih saling menggenggam, sebelum akhirnya Sena melepasnya dan beralih menggandeng lengan pria itu.

Baekhyun bergeser lebih dekat agar Sena bisa bersandar padanya. Sena menyandarkan kepalanya. "Sekarang kita akan melihat matahari terbit, lalu nanti sore kita harus melihat matahari tenggelam dan malamnya kita harus melihat bintang. Siapa tau ada bintang jatuh."

Baekhyun tertawa kecil. Tangan yang satunya beralih mengusap rambut istrinya itu. "Memangnya jika ada bintang jatuh kau mau membuat permintaan?"

Sena mengangguk. "Tentu saja. Itu tidak boleh dilewatkan."

"Memangnya apa permintaanmu?"

Sena mendongkak lalu tersenyum. "Akan aku katakan jika nanti benar-benar ada bintang jatuh."

Baekhyun hanya tersenyum dan mengacak pelan rambut Sena. Selanjutnya mereka diam, dan Sena menunggu matahari terbit dengan dirinya yang bersandar pada Baekhyun.

"Whoaa indah sekali...." Sena refleks berdiri dan menunjuk pemandangan matahari terbit.

"Sudah lama aku ingin melihat pemandangan matahari terbit seperti ini," ujar Sena takjub.

Baekhyun ikut bangkit lalu memeluk Sena dari belakang. "Memang indah. Tapi tidak seindah dirimu."

"Kau mulai lagi menggombal?"

"Ini bukan gombalan. Kali ini aku serius," balas Baekhyun.

"Kau indah, sangat indah. Dan aku begitu mencintaimu, lebih dari apapun," bisik pria itu.

Sena menyentuh tangan Baekhyun yang memeluknya. Dia sangat menikmati pemandangan indah yang dilihatnya, terlebih dia melihat hal indah itu bersama orang yang sangat berarti baginya.

"Oh ternyata pria mesum semalam sudah berubah menjadi pria romantis di pagi hari?"

Baekhyun terkekeh. "Lagi pula aku mesum pada istriku sendiri. Memang apa salahnya bercinta dengan istriku sendiri?"

"Dan juga bukankah tujuan kita bulan madu itu untuk memenuhi permintaan Cheonsa yang ingin punya adik?"

Sena mengangguk-angguk.

"Kau sedang dalam masa subur?" tanya Baekhyun. Dan Sena mengangguk lagi.

Baekhyun tersenyum. "Bagus. Berarti aku mengambil waktu yang pas untuk bulan madu."

"Kau sudah siap kan jika hamil lagi?"

Sena membalik tubuhnya menjadi berhadapan dengan Baekhyun. Tangan Baekhyun terulur menyampirkan sebagian rambut Sena.

"Jika anakku dan suamiku yang menginginkannya, kenapa tidak?" jawab Sena membuat Baekhyun tersenyum.

"Baiklah. Yang harus kau lakukan sekarang adalah mempercayaiku jika aku akan segera membuat perutmu ini terisi oleh seorang bayi lagi," ujarnya sambil menyentuh perut Sena.

"Bayi yang lucu, manis dan menggemaskan."

Sena tertawa. "Baiklah. Aku akan menantikannya, bapak jaksa."

Baekhyun ikut tertawa. Lalu mendekatkan wajahnya dan menyentuh bibir yang selalu menjadi candu baginya itu tanpa ragu.

Sena mengalungkan tangannya ke leher suaminya saat suaminya itu menarik pinggangnya.

Ditemani pemandangan indah dari matahari terbit, mereka berpagutan mesra dan saling menyalurkan rasa cinta mereka lewat ciuman itu.

***

Seharian ini Baekhyun menemani Sena berjalan-jalan dan mengunjungi tempat manapun yang diinginkan istrinya itu.

Baekhyun bahkan juga dengan sabar menemani Sena berbelanja. Dan tentunya tau sendiri bagaimana lamanya waktu yang dibutuhkan wanita untuk berbelanja bukan?

Sena berlarian ke arahnya dengan beberapa kantung belanjaan yang ada di tangannya.

Baekhyun mengambil alih kantung belanjaan itu dari Sena. "Ini sudah hampir malam. Mau langsung pulang atau makan dulu di luar?"

"Kita makan di villa saja. Kau yang memasak."

"Apa? Kenapa aku?" tanya pria itu.

"Kata Ibu saat aku koma, kau selalu memasakkan apapun yang Cheonsa mau. Kau mulai belajar memasak saat aku tidak ada di sampingmu. Jadi kenapa tidak biarkan aku mencoba masakkan yang kau buat?"

Dan berakhirlah Sena disini. Duduk di depan meja pantry dengan kedua tangan menahan dagunya. Sementara pandangannya sepenuhnya tertuju pada suaminya yang terlihat bertambah tampan saat memasak dan memakai apron.

Ah tepatnya....terlihat seksi?

"Jangan memandangiku seperti itu, aku juga bisa merasa malu, Sena."

Sena tertawa. "Jadi ternyata kau bisa merasa malu juga? Aku kira urat malumu sudah putus."

Sena bangkit lalu mendekat pada Baekhyun. Dia memeluk suaminya itu dari belakang. "Ternyata kau bertambah tampan saat sedang memasak."

"Dan kau semakin cinta?" balas Baekhyun.

Sena mengagguk. "Tapi aku lebih suka kau di ranjang," godanya.

Baekhyun terkekeh. "Sejak kapan kau jadi nakal seperti ini?"

Sena tertawa dan memeluk suaminya itu lebih erat.

"Kau tunggu di meja makan. Sebentar lagi selesai," ujar Baekhyun.

"Baiklah. Yang semangat memasaknya ya bapak jaksa." Sena berjinjit dan mencium kilat pipi pria itu, lalu segera menuju meja makan.

Dan saat pria itu menata makanan di atas meja makan, Sena langsung tertarik pada satu makanan.

"Sup rumput laut?"

Baekhyun mengangguk dan meletakkannya di meja makan. Lalu dia berjalan menuju lemari es, membawa kue dan segera meletakkannya di depan Sena. "Hari ini ulang tahunmu."

Seketika Sena terdiam.

Baekhyun menghela napas. "Aku tau kau tidak suka merayakan ulang tahunmu. Ataupun ada yang mengucapkan selamat ulang tahun di hari ulang tahunmu."

"Tapi Sena, aku ingin merayakan hari dimana istriku lahir ke dunia."

Sena menyimpan kembali sumpitnya. "Tapi hari ini adalah hari peringatan kematian ayah Do."

"Sejak aku mendapat kabar Daniel mati dan melihat ayahku mati di hari ulang tahunku, aku tidak pernah merayakan ulang tahunku lagi."

"Daniel memang ternyata masih hidup. Tapi tetap saja, karena ayah benar-benar mati hari itu."

Baekhyun menumpukkan tangannya pada meja makan. "Kau bilang, kau sudah memaafkan masa lalu. Lalu kenapa kau masih membenci hari ulang tahunmu?"

"Karena aku tidak mungkin berbahagia merayakan hari ulang tahunku sementara ibu dan Kyungsoo sedang bersedih memperingati hari kematian ayah!" suara Sena meninggi.

"Ibu dan Kyungsoo bahkan selalu ingin merayakan ulang tahunmu. Ibumu selalu menyiapkan kado setiap tahunnya meskipun kau sama sekali tidak mau menerima kado di hari ulang tahunmu," balas Baekhyun.

"Dan juga, ayahmu tidak akan suka jika kau seperti ini. Dia pasti orang yang paling bersedih karena melihat putrinya tidak bahagia di hari ulang tahunnya."

"Aku tidak selera makan. Aku ingin istirahat," ujar Sena segera bangkit.

Baekhyun menahannya dan menariknya ke ruang tengah. Dia membuka laptop lalu segera menyambungkan flashdisk.

"Aku mendapatkannya dari ibumu. Dia bilang ayahmu sudah menyiapkan video ini 4 hari sebelum hari ulang tahunmu yang ke-17. Dia sama sekali tidak tau jika akan terjadi sesuatu hal yang buruk di hari ulang tahunmu."

Sena memandang layar laptop saat sebuah video mulai terputar. Terlihat ayah tirinya yang sedang duduk dan tersenyum.

"Apa kau sudah mulai merekamnya?"

"Ya. Aku sudah mulai merekamnya." Terdengar suara ibunya yang menjawab.

Ayahnya berdehem sebentar lalu tersenyum lagi. "Annyeong. Putri cantik ayah pasti sedang menonton ini kan?"

Mendengar suara ayah tirinya lagi setelah sekian lama membuat Sena mulai menangis.

"Park Sena, ah tidak tidak. Kau Do Sena mulai sekarang. Emm Do Sena tidak terdengar buruk kan? Karena kau sudah menjadi putri ayah sekarang."

"Sena-ya. Selamat ulang tahun. Putri ayah sudah berumur 17 tahun sekarang."

"Harapan ayah, semoga Tuhan memberikan banyak kebahagiaan padamu dan membuat ayah akan selalu melihat senyuman manismu."

"Ini pertama kalinya aku membuat video seperti ini. Bahkan saat ulang tahun Kyungsoo aku tidak membuat video ucapan seperti ini. Jadi kau harus ingat, jika kau sangat special bagi ayah. Karena kau sudah membuat ayah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang anak perempuan."

Dan selanjutnya Sena mendengarkan dengan seksama rentetan kalimat yang diucapkan ayahnya dari layar laptop.

Bahkan sampai video itu berakhir Sena tidak bisa menahan tangisnya.

"Selalu berbahagialah, apalagi di hari ulang tahunmu. Tetap sehat dan jangan sakit. Pastikan senyuman manis itu tidak hilang dari bibirmu, mengerti?"

"Ayah menyayangimu. Bagiku kau seperti putri kandung ayah sendiri."

"Sekali lagi. Tetap bahagia, Do Sena."

Dan detik itu juga Sena menumpahkan tangisnya. Dia bangkit, dan Baekhyun langsung memeluknya.

"Ayah....ayah..." Sena terisak. Baekhyun mengusap-usap punggung Sena.

Setelah dirasa Sena mulai tenang, Baekhyun melepaskan pelukannya. Tangannya mengusap air mata istrinya itu. "Maaf. Maafkan aku Sena."

"Maafkan aku. Aku mohon, berhenti membenci hari ulang tahunmu. Dan maafkan aku karena hari itu membuat hari ulang tahunmu begitu mengerikan. Maafkan aku...."

Tangan Sena terulur mengusap air mata pria itu yang hendak jatuh. "Tidak. Jangan menangis, Baekhyun..."

"Mulai sekarang aku tidak akan membenci hari ulang tahunku lagi. Demi ayah Do dan kau, hm?"

Baekhyun langsung memeluk Sena lagi seraya terus menerus meminta maaf.

"Itu benar-benar penyesalan terbesar dalam hidupku. Maafkan aku."

Sena memeluk pria itu semakin erat. "Harus berapa kali aku bilang jika aku sudah memaafkanmu, hm?"

"Sekarang, ayo makan sebelum makanannya dingin."

Baekhyun melepaskan pelukannya. Dia menatap Sena. "Sebelum itu, kau harus meniup lilin dan memotong kuenya terlebih dahulu."

Sena tersenyum dan mengusap air matanya. "Tentu saja. Ayo!"

***

Sena memandangi Baekhyun yang sudah terlelap setelah percintaan panas mereka. Tangannya terulur mengusap rambut pria itu dengan lembut.

"Wajahnya terlihat seperti bayi saat tertidur," ujar Sena pelan seraya tekekeh.

Sena mencium kilat bibir pria itu sebelum akhirnya bangkit dan memakai jubah tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Setelah membutuhkan waktu beberapa menit di kamar mandi, Sena keluar dari kamar mandi. Lalu berjalan menuju pintu kamar.

Tujuannya adalah dapur. Dia tiba-tiba lapar lagi dan ingin memakan ramen.

Sena memakan ramen sambil menonton televisi sendirian. Tidak kenyang dengan satu bungkus ramen, dia kembali membuat ramen lagi. Dan setelah menghabiskan dua bungkus ramen, sekarang dia sedang asik memakan rumput laut kering sambil memainkan ponselnya.

Setelah merasa kenyang, Sena kembali ke kamar dan menemukan Baekhyun kini sudah mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap dan mempertontonkan punggung polosnya.

Sena membenahi letak selimut yang dipakai pria itu lalu ikut melesak masuk ke dalam selimut.

Tangannya terulur menyentuh bekas luka di lengan pria itu.

"Bekas lukanya mulai menghilang..." ujar Sena.

Tangannya beralih mengusap rambut pria itu lagi, lalu tersenyum. "Tidur yang nyenyak, bayi besarku."

TO BE CONTINUED

***

Ini belum tamat ya gais. Sengaja chapter 62 aku bagi 2 karena menurut aku kepanjangan kalo disatuin.

Continue Reading

You'll Also Like

146K 10K 22
❌DON'T COPY OR REPOST WITHOUT PERMISSION!!!❌ ⚠WARN: RATE M!!⚠ ❤High Rank #198 In Fanfiction, at 20180509 High rank #10 Sad #2 parkjiyeon #1 HunJi at...
1.2M 122K 46
Cerita hidup klasik seorang Han Je A. Terjebak friendzone, jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, terlalu naif untuk mencoba bertahan tanpa balasan da...
2.9K 1K 8
[BYUN BAEKHYUN FANFICTION] "Aku tidak suka di kasihani dan aku juga tidak suka mengorek kesedihan." "Apa kau bisa melihatku? Aku berbeda... Duniaku t...
294K 34.8K 55
"Hanya Cinta, itu tak akan cukup. Maka kepercayaan akan membuatnya sempurna." Byun Baekhyun & Oh Sehyun (Sebelum baca ini disarankan baca FF Baekhyun...
Wattpad App - Unlock exclusive features