Our Life

By Trissm_

2.5K 294 171

"Tris.." "Tris.." "Trisna" "Apa lagi sih rand?" "Gue.. gue.. gue minta maaf." "Maaf? Buat?" "Buat.. semuanya." More

Profil#1
Profil#2
Profil#3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
39
40
41
42
43
44
45
46

38

29 2 0
By Trissm_

"Menurut lo trisna kenapa?" Tanya pida ke triska setibanya di kelas mereka, bel tanda istirahat selesai udah bunyi soalnya.

"Ga tau gue. Apa karna dia udah jadian sama vincent makanya dia berubah? Dimana mana kan, di antara pertemanan ada yang jadian sifatnya berubah." Tebak triska.

"Btw, kok dia ga crita ya ke kita??" -pida.

"Nah ituu.. Biasanya dia udah muncul tuh di grup." -triska.

"Wah, ga beres nihh.. Mana gue belum minta pj lagi." -pida.

"Tenang. Ntar malem kita ke rmh dia minta makan." -triska.

"Siap." -pida.

•••

"Gimana tadi belajarnya?" Tanya mama trisna setibanya dirumah.

"Lancar aja kok." -trisna.

"Bulan 3 udah try out kan?"

"Udah ma,"

"Ya udah, kamu mandi gih siap siap pergi les."

"Ma?"

"Hm?"

"Hari ini free les bisa ga?"

"Maksud kamu?"

"Yah hari ni ajaaa.. Aku ga les. Aku capek ma.." keluh trisna

"Hei.. Kamu ga ada waktu buat capek.. Kerja kamu cuman belajar. Ini buat masa depan kamu, bukan buat mama. Kalo kamu sukses, kamu kan yang bangga." Mama trisna agak marah.

"Mah.. Plis.." trisna mencoba membujuk mama nya itu.

"Mama ga mau tau. Hasil try out nanti, kamu harus bisa dapat tempat yang pertama." Tegas mama trisna

Trisna menghela nafas, dan berjalan lemas menuju kamar mandi.

•••

Trisna pov

"Jadi, kalau bilangan ini dapat difaktorkan, hasilnya merupakan bilangan bulat." Ucap mentor itu.

Gue merhatiin dengan seksama apa yang di jelasin oleh sang mentor.

Jam tangan gue menunjuk pukul 8.

Tahan tris.. Setengah jam lagi. Batin gue.

Ddrrtt ddrrtt

Pida : Lo dimana?

GO

Pida : Pulang jamber?

Setengah jam lagi.

"Trisna, hp nya mau kakak ambil?" -mentor.

"Engga kak, maaf."

Mentor melanjutkan penjelasannya.

"Okeh, yang mau konsul bisa hari minggu jam 2 ya." -mentor.

Gue langsung keluar dari kelas. Saat itu juga vincent udah nunggu gue.

"Hei." Gue nyapa vicent deluan.

"Hei. Gimana belajarnya?" -vincent.

"Lancar doong.." gue senyum.

"Udah makan belom sih? Stiap gue liat itu muka, lesu banget." -vincent.

Gue lupa. Gue ga punya waktu buat makan malam.

"Kek nya belum deh, soalnya kan pulang sekolah langsung pergi les." Jelas gue.

Ini gue sambil jalan ya sama vincent. Kan ga lucu gue bicaranya di depan kelas gue tadi. Jadi penghalang jalan orang ga baik loh.

"Lo les dimana lagi?" -vincent.

"Jam 3 gue les di labana."

"Kita belajar di sekolah 8 jam mata pelajaran, tambah jadwal les lo... Lo ngabisin hari lo dengan belajar??" Vincent agak terkejut.

Gue udah sampe di depan GO, tinggal nunggu emak gue dateng.

Gue ngangguk menjawab pertanyaan vincent tadi.

"Waw. Lo sanggup??" -vincent.

"Di sanggupin atuh."

Vincent natap gue.

"Tuh kan, natap gue kek gitu lagi." -gue.

Vincent senyum, trus ngacak rambut gue pelan.
"Semangat." -vincent.

Tadinya mau marah karna udah bikin rambut gue berantakan. Cuman, karna satu kata, ga jadi.

"Ga mau bareng gue?" -vincent.

Oh ya, vincent bawa motor ke GO.

"Engga, emak gue bentar lagi datang kok." -gue.

"Yodah, gue nunggu mama lo datang aja." Vincent stay di samping gue.

•••

"Kalian ngapain disini?" -gue.

"Yeu. Minta pj lah." -pida.

Gue terkejut coi. Pulang pulang udah nemu dua jamur yang duduk di kursi teras gue.

"Pj apasih??" -gue.

Untung emak gue udah masuk. Kalo emak denger, beh, dijamin dia ga tau arti Pj apaan.

"Oh. Gitu. Lupa sama kawan." -triska.

"Perlu gue minjem toak masjid buat ngasih tau lo?" -pida.

Gue ngehela nafas kasar.

Gimana ya,

Gue capek.

"Gue capek. Kalian pulang aja." -gue.

"Wah parah lo. Meskipun rumah kita agak jauhan, lo tega ya ngusir kita. Kami udah nunggu lo 1 jam njir." Pida agak emosi.

"Emang gue ada minta lo nungguin gue?"

Pida natap gue.

Sejenak, gue mikir.

Kok gue ngomong kek gitu ke pida?

"Tris, lo lagi dapet?" -triska.

Huft.
"Maaf nih, tapi gue bener bener capek sekarang. Plis." -gue.

Pida langsung pergi dan sempat nyenggol bahu gue.

Gue berjalan masuk ke rumah. Memasuki kamar buat ganti baju, dan langsung cuci muka.

Setelah cuci muka, gue langsung rebahan di kasur gue.

Line

Vincent : Udah di rumah?

Udah..
Lo?

Vincent : Gue kejebak ini, ga bisa keluar..

Kejebak gimana??

Vincent : Kejebak di hati lo.

Gembel.

Vincent : Gombal ga sih??

Hehe..

"Kok ga belajar??" Mama masuk tiba tiba.

"Iyah ma, ni mau belajar.."

Gue jalan ke meja belajar gue, mama pun pergi dari kamar gue.

Line

Vincent : Udah jam setengah sepuluh ini.. Ga tidur?

Bentar lagi

Vincent : Lo, lagi ga belajar kan??

Ini mau bejalar sih..
Hehe
Mau tidur?

Vincent : Belum ngantuk.
Gue temenin lo belajar aja deh.

Ya udah..

Vincent want to make a video call.

Gue terkejut sumpah.

Hampir aja gue nge-reject.

"Yah ga pake vc jugak kaliik.." -gue

Hp nya gue senderin di meja belajar gue, muka gue juga masih keliatan.

Gue bisa lihat dia lagi rebahan di tempat tidurnya dengan rambut yang agak basah.

"Kata nya mau belajar.. Mana.." -vincent.

Gue nunjukin buku les gue ke dia bentar, trus gue lanjut nyelesein soal.

"Ga capek apa?" -vincent.

"Capek lah.. Gila aja ga capek." Jawab gue sambil tetap ngerjain soal.

"Gue ganggu ga?" -vincent.

"Ganggu sih. Cuman ga papa lah.." jawab gue sambil senyum ke dia.

Cekleeek

Pintu kamar gue kebukak. Reflek gue ngehadapin layar hp gue kebawah.

"Kamu bicara sama siapa?" Tanya mama tiba tiba masuk.

"Bicara sendiri ma, ini bilangan kuadrat nya ngegganggu." Jawab gue spontan.

"Ooohhh.. Ya udah, lanjut belajarnya." Mama pergi.

Gue ngehela nafas lega sambil megang dada gue.

Gue ngadapin layar hp gue ke muka gue.

Hup laa.

Kamera hp vincent menghadap ke atap kamarnya dia.

"Viin.." panggil gue.

"Viin.." panggil gue lagi.

"Halooo..." panggil gue pelan.

"Tidur kalik ya nih anak." Gue ngomong sendiri.

Gue memutuskan untuk mengakhiri vc tadi. Dan kembali fokus ke buku yang ada di depan gue.

•••

Sekitar jam 5 pagi, gue udah bangun dari tidur nyenyak gue.

Gue berniat ngeline vincent sih..

Bangun masnya..

Vincent : Udah bangun kok mbaknya..
Baru aja mau ngechat, udah kedeluanan.

Udah bangun ternyata.

Tidur nyenyak?

Vincent : Sangat.
Semalam kenapa dimatiin?

Dih.
Situ yang ga nyahut.

Vincent : Dih.
Mbaknya tu yang tiba tiba ilang.

Emak gue masuk ke kamar..
Gue reflek ngadepin layar hp ke bawah.

Vincent : Iyain.
Nanti ke labana jamber?

Jam set 3 gue udah otw.
Soalnya, masuknya jam 3.

Vincent : Jan langsung masuk ke kelas ya.
Tunggu di depan.

Kenapa emang?

Vincent : Liat aja ntar.
Siap siap gih.
Sampai jumpa disekolah:)

Okhei.

•••

Setelah gue ngeletakin tas gue di kursi gue, gue langsung ke kelasnya pida.

Gue julurin kepala gue kedalam kelas pida dari balik pintu, berniat mengintip pida udah datang apa belum.

"Masih pagi, udah nyariin gue aja lo." Kata seseorang di belakang gue.

"Geer masnya. Nyari pida gue, tapi belum dateng."

"Alah.. Ga usah boong. Nyariin gue ya kan?" -vincent.

"Iihh.. Engga dibilang." Gue ngehentakin kaki gue layaknya anak anak.

"Ga usah sok comel gitu kenapa, gemes gue liatnya." -vincent.






"Masih pagi woiiii." Triak seseorang dari kelas gue, valent.

Orang sirik gitu emang.

"Ya udah deh, nanti aja. Masuk gih. Belajar yang bener ya, jangan mikirin gue muluk." Kata gue sambil nepuk nepuk kepala vincent.

Gue kembali ke kelas gue.

"Bahagia ya mbaknya?" -valent.

"Apasih?" -gue.

"Buset. Ekspresi lo berubah drastis gilak." -valent.

"Lebay."

"Oh ya, randhi ngechat gue semalem. Lo di chat gak?"

"Randhi?"

"Wah. Lo lupa ya sama randhi?"

Gue duduk di kursi gue dan mebiarkan tangan gue menjadi topangan buat dagu gue.

"Gimana gue mau lupa sama tuh cowok, dia yang ngerecokin hidup gue selama ini." -gue

"Cowok?" Valent masih stay berdiri di samping meja gue.

"Lah iya cowok. Dia belum ganti kelamin kan??"

"Sejak kapan lo nyebut dia cowok?" Valent natap gue heran.

"Semenjak negara api menyerang noohh.." gue setengah berdiri buat ngejitak kepala valent.

Vivian dateng.
"Jangan dijitak dong kepala valent, sakit ituu.."

Gue melirik vivian dan valent secara bergantian.

"Lo kok peduli amat sih sama dia? Dia ini bukan orang tau gak sih viv?" Gue heran.

"Gimana dia bukan orang.. Trus, dia apa? Plankton?" -vivian.

"Eheeii.. Udah dong, jan rebutin gue.. Jimayu nii." Valent menyambungkan kedua telunjuknya di depan mukanya seperti seorang gadis.

"Ingat pida woi!!" Gue berhasil jitak kepala valent lagi.



















"Gue selalu ngingat dia kok." -valent.

~~~

Continue Reading

You'll Also Like

5M 203K 52
📌SEBAGIAN PART DI HAPUS DEMI KEPENTINGAN PENERBITAN!!📌 Mana yang katanya selalu ada?!. Kata orang keluarga adalah tempat kita meminta perlindungan...
85.4K 9.2K 29
Rasa sakit itu benar-benar merubahku menjadi orang lain - R
22.1K 1.9K 21
Nyawaku nyala karena dengan mu
57.8K 5.5K 74
"Bisakah kamu menerimaku setelah mengetahui kekurangan ku?" -jisoo- "Apakah kebahagiaan akan berpihak padaku kali ini?" -jennie-
Wattpad App - Unlock exclusive features