Cosmic Railway - Oh Sehun [ON...

liancentauri

3.4K 282 14

"Meet me in the sparkling starry sky, encountering over time." Son Seungwan merasakan begitu banyak tekanan d... Еще

2
3
4

1

959 98 3
liancentauri

"Tidur, bagiku, adalah sebuah hal yang harus dilakukan oleh semua orang. Iya, harus. Jangan pernah melewatkan tidurmu, karena kamu sudah kelelahan berjuang mati-matian selama kamu tersadar, kan? Makanya, istirahatkan tubuhmu, karena besok masih ada hari berat yang harus dilalui."

Cosmic Railway

Pukul 21.46.

Aku menghela napas panjang setelah melihat jam digital yang menempel di dinding yang letaknya di ujung stasiun. Kedua kakiku yang terbalut sepatu pantofel kantor berwarna hitam, kupandangi dengan seksama. Gak ada yang spesial, hanya sepatu pantofel hitam biasa tanpa ada hiasan di atasnya. Ini hanyalah hal yang aku lakukan untuk mengurangi rasa bosan menunggu kereta bawah tanah yang akan datang dua menit lagi.

Selalu begini. Aku akan selalu berada di atas kursi tunggu kereta bawah tanah, seorang diri. Kalau kalian nggak percaya, kalian bisa menanyakan identitasku pada satpam yang berjaga. Katakan saja: "Apa Bapak kenal Son Seungwan?" Lalu jawaban yang akan kamu dengar kira-kira seperti ini: "Oh, gadis cantik yang selalu menunggu sendirian itu, ya?"

Kasar sekali, sih, tapi ya nggak salah juga. Maksudnya, itu fakta. Aku memang selalu menunggu kereta sendirian di sini. Pulang di saat nyaris larut malam bikin aku nggak ada opsi lain selain mengambil kereta bawah tanah yang menurutku, yaaah, paling aman dari yang lain.

Sebenarnya aku ada pacar untuk dipintai tumpangan, dia juga beberapa kali menawarkan untuk dijemput, tapi rasanya kasihan kalau menyuruhnya datang jauh-jauh ke kantor untuk menjemputku. Rumahnya jauh sekali dari kantor tempatku bekerja, mungkin butuh waktu satu jam untuk menempuh perjalanannya. Belum lagi dia harus mengantarku pulang ke rumah dan kembali ke rumahnya sendiri. Lalu, pekerjaannya sebagai seorang montir sering buat dia kelelahan juga. Aku jadi nggak enak membuatnya kerepotan untuk menjemputku.

Suara mesin kereta yang berdesing terdengar. Aku mengadah dan tersenyum lega. Kereta yang sedari tadi aku tunggu akhirnya tiba. Hhh... Aku sudah sangat merindukan kasur empuk yang ada di rumah, ingin cepat-cepat berbaring di atasnya dan menyelam ke dunia mimpi (yang sebenarnya hanya gelap gulita, karena aku gak benar-benar tertidur nyenyak). Memangnya apalagi yang kalian inginkan setelah pulang bekerja seharian selain tidur?

Aku berdiri dan berjalan masuk ke dalam kereta bersama orang-orang lain setelah orang-orang dari dalam kereta keluar. Beruntung malam ini sedikit penumpang, jadi aku bisa duduk di bangku bersebelahan dengan sekat. Hari ini aku nggak perlu susah payah berdiri sambil memegang pegangan.

Kepalaku bersandar di sekat tembus pandang, sedangkan kedua mataku terpejam lemah. Kursi empuk berlapis kapas padat tentunya lebih nyaman dari sekedar bangku besi yang ada di koridor untuk menunggu kereta tadi. Bokong dan pinggangku rasanya sakit sekali. Setelah hampir seharian aku duduk di kursi kerja sederhana yang ada di kantor, dilanjutin dengan duduk di kursi besi tadi. Huft, seandainya saja ada jam istirahat tidur siang, mungkin aku nggak akan mengeluh sebegini banyak.

Bosku itu pelit dalam hal apapun, baik itu masalah gaji, bonus, dan uang lembur. Ah, soal kenyamanan lingkungan kerja juga. Meski kantor itu bergerak dalam urusan furnitur, kantor tempatku bekerja itu disusun dengan sangat sederhana dan nyaris nggak ada estetika dalam penempatannya. Bikin aku jadi malas untuk mengerjakan semua tugas-tugas yang dia berikan.

Walaupun begitu, bosku akan sangat dermawan soal waktu kerja. Berkat kedermawanan lelaki tua itu, jam kerja seringkali dia berikan lebih untuk kami dan dia akan ikut bersama untuk lembur dengan mengawasi aku dan rekan lainnya selama lembur itu berlangsung (yang mana terjadi hampir setiap hari).

Aku sudah mencoba mengirim lamaran ke beberapa tempat lainnyaㅡkarena siapa yang tahan dengan sikap bos yang seperti itu? Tapi sampai saat ini aku belum juga mendapat panggilan untuk ikut interview. Jadi, apa boleh buat. Aku harus tetap bertahan di sana untuk menghasilkan uang.

"Permisi, Nak..."

Suara lemah yang kudengar membuat aku terbangun. Ada seorang nenek yang berdiri di depanku, wajahnya penuh dengan keriput dan tulang punggungnya sudah sedikit membungkuk. Kutegakkan sedikit badanku, berusaha beradaptasi dengan cahaya lampu kereta, kemudian menoleh ke samping. Masih ada beberapa bangku kosong, jadi kenapa nenek ini menghampiriku?

"Maaf mengganggu waktu tidurnya.. tapi apa saya boleh duduk di tempat kamu? Saya ingin bersandar, Nak. Semua badan saya terasa sakit sehabis datang berkunjung ke rumah anak saya."

Aku jadi iba. Ke mana anaknya pergi? Seenaknya meninggalkan wanita yang sudah tua ini sendirian di kereta bawah tanah. Seharusnya, mereka antarkan ibu mereka sendiri ke rumah dengan selamat.

Aku segera menggeser ke samping kiri, dan menunjukkan senyum terbaik sebisa mungkin di sela rasa kantuk. "Silakan, Nek."

"Terima kasih, ya."

Detik berikutnya aku kembali memejamkan mata ketika nenek yang aku temui beberapa saat tadi sudah duduk manis di tempatku sebelumnya. Aku sudah nggak kuat lagi menahan rasa kantuk ini. Tidur sebentar selama perjalanan nggak akan seburuk itu. Ada nenek-nenek di sebelahku yang mungkin akan membantuku kembali sadar saat tiba di stasiun tujuanku.

"Nek, tolong bangunkan aku saat tiba di stasiun kesembilan, ya?"

Aku tertidur dengan kepala yang sedikit menunduk setelahnya.

Cosmic Railway

Aku membuka kedua mataku dengan pelan. Cahaya terang lampu yang menggantung di stasiun langsung masuk ke dalam pandangan mata. Tapi, tunggu. Kenapa aku masih di stasiun?!

"Aish... Jadi, aku tertidur di stasiun? Kenapa nggak ada yang bangunin?" monologku setelah memukul kepalaku sendiri. Lalu aku menoleh ke kanan dan ke kiri, nggak ada seorang pun yang menunggu kereta.

Mendengus sebal, kemudian aku berdiri sambil mengambil tas kerjaku. "Wah, benar-benar. Masa satpamnya nggak bangunin aku, sih?!"

Sambil menghentakkan kaki kesal, aku hendak menaiki tangga yang menghubungkan aku ke luar, tapi- eh! Apa ini? Kenapa seolah ada dinding tembus pandang yang menghalangi jalanku?

"Apa ini sistem penjagaan terbaru? Tapi rasanya saat aku datang tadi, nggak ada hal yang kayak begini?"

Sekali lagi aku mencoba menabrak sesuatu tembus pandang yang ada di hadapanku, tapi lagi-lagi gagal.

"Akh!" Yang ada aku malah sedikit terpental ke belakang. Kutatap ke depan, jelas-jelas aku melihat tangga di sana, tetapi kenapa aku nggak bisa lewat, ya?

Tuss... Tuss... Tuss...

Suara halus mesin kereta membuat aku menoleh ke belakang. Sebuah kereta asing berwarna putih melintas memasuki rel bersamaan dengan asap yang datang mengikutinya. Aku jelas langsung mengernyit bingung. Kereta ini nyasar, ya?

Aku langsung mengecek sekeliling. Kutatapi satu persatu sudut stasiun yang nampak sama namun berbeda di saat yang bersamaan.

"Nggak mungkin kalau stasiun ini berhantu, kan? Aku sudah lama di sini, tapi kenapa aku baru merasakan hal semacam ini?"

Spekulasi menyebalkan mulai bermain di dalam kepala. Bayangan-bayangan mengenai film dan drama hantu yang aku tonton bersama ibu berputar. Masa iya aku akan bertemu hantu malam ini?!

Kress...

Pintu kereta terbuka sendirinya, dan aku jelas makin ketakutan. Kupeluk diriku sendiri, sembari merapalkan doa yang aku panjatkan setiap hari Minggu di Gereja. Kedua tangan aku rapatkan di depan dada sambil memejamkan kedua mata dengan erat.

"Semoga aku baik-baik saja... Tuhan tolong lindungi aku, hamba-Mu ini..."

"Hai, selamat malam, Nona."

Cosmic Railway

Kedua mataku langsung terbuka dengan penuh keterkejutan. Aku refleks langsung melihat ke sekeliling. Ah, sepertinya aku di dalam kereta. Ada lampu kereta, kursi penumpang yang mulai sepi, sekat tembus pandang yang digunakan sebagai sandaran nenek-

"Nenek?!" Aku langsung duduk dengan tegap. Melihat ke sekitar tapi nggak bisa menemukan keberadaan nenek yang duduk di sebelahku tadi. Kemana perginya nenek itu?

Seorang siswi SMA yang duduk di sebelahku nampak tidak terganggu sedikit pun. Dia masih asik menggunakan penyumbat telinga sambil membalas pesan dengan temannya. Aku coba menyenggol tangannya pelan untuk mendapatkan perhatiannya.

"Maaf, tapi apa kamu lihat nenek-nenek yang duduk di sini tadi?"

Anak SMA yang aku senggol tadi melepas sebelah penyumbat telinganya, kemudian menatapku dengan satu alis yang terangkat. "Maaf? Tapi apa Kakak bilang seorang nenek? Saya nggak melihat siapapun di sebelah Kakak tadi."

"Eh? Serius?"

Dua kali anggukan pasti adalah jawaban yang aku dapatkan dari gadis SMA yang duduk di sebelahku, sebelum akhirnya dia kembali memasang earphone miliknya dan mulai sibuk dengan dunianya sendiri lagi. Sedangkan aku hanya duduk termenung dan menatap pijakan besi di bawah dengan perasaan gak nyaman. Aneh, aku ingat sekali kalau tadi ada nenek-nenek yang datang dan mau menempati tempat duduk yang aku pilih sebelumnya. Semua benar-benar terasa nyata, aku bersumpah.

Atau itu hanya halusinasi lantaran aku terlalu lelah sehabis bekerja?

'Ahhh! Terserahlah! Buat apa aku memikirkan hal yang seperti itu? Otakku sudah dipakai untuk bekerja keras seharian, dia butuh istirahat.'

Batinku mendesah malas. Kedua tangan aku bawa untuk memeluk tas tangan yang kuletakkan di depan perut. Rasa kantuk yang sempat mendera tiba-tiba hilang seperti ditiup angin. Huh, nggak masalah, aku bisa tidur di kamar dengan nyaman nanti.

Saat itu aku nggak sadar kalau ada kalung berliontin yang terselip di saku blazer yang aku kenakan malam itu.

°•°•°

Tbc~~

Dikarenakan aku ngerasa kalau alur sebelumnya itu terlalu lama sshingga pembawaannya juga jadi bingung harus gimana wkwkwk jadi aku mutusin buat ngerevisi cerita itu dengan menggunakan gaya bahasa yang menurut aku bakal lebih santai lagi dari sebelumnya.

Terima kasih buat yang sudah dukung karya ini sejauh ini huhuhu😭aku usahain aku akan rajin update sampai cerita ini selesai ya! Sayang kalian❤️

Keep voting,
Lian❤️

Продолжить чтение

Вам также понравится

Her, Who I Love bluesheano

Фанфикшн

166K 19.2K 46
- b l u e s h e a n o ' s S t o r y - # 13 in Fanfiksi (10/01/18) # 2 in saynotoporn (13/06/18) Nggak perlu follow akun saya dulu buat baca ini. Ser...
20.6K 3K 26
[MATURE CONTENT] (SUDAH TAMAT) San Fransisco sama sekali tidak membuat Richard tertarik untuk tinggal disana seumur hidupnya. Dan karena hal itu dia...
Brainwave calé

Фанфикшн

28.1K 4.2K 49
Kelana pikir senyuman lebarnya akan menyembuhkan. Tekadnya untuk tetap giat belajar, membangun koneksi baik dengan banyak orang, selalu bertingkah ce...
Приложение Wattpad - разблокируй эксклюзивные возможности