***
Entahlah, Ria juga tak mengerti. Tiba-tiba saja Farel mengajaknya ke antrian rollercoaster, walau canggung sesaat, Farel sempat mencairkan suasana dengan perkataan yang membuatku tertawa, seperti..menghibur?
Ia bahkan tak bercerita sama sekali soal surat yang dikirimkannya padanya. Seolah-olah itu hanya urusan belakangan. Yah, yang terpenting aku bisa bersenang-senang dengannya, dan melihatnya tersenyum. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu terbang ke angkasa hanya untuk mengitarinya.
"Ria, ayo! Sekarang giliran kita!" ia menarik lengan Ria, dan membuat mereka berdua duduk berdampingan dikereta terbuka yang akan melaju cepat nantinya.
Ia memasangkan sabuk pengaman Ria, dan tentu saja ia kaget akan perilakunya tiba-tiba. Dari sini, Ria bisa melihatnya dari dekat, bahkan hembusan nafasnya menggelitik kulit lengannya.
Rasanya, sesak napas.
"Keselamatan itu utama." ujarnya lalu beranjak memasang sabuk pengamannya sendiri.
"Lo sih, daritadi bengong mulu, maksa banget gue yang pasang-in nya." keluh Farel. Ria masih terdiam, dan Farel mengernyit heran, menatap Ria yang melongo menatap-nya juga.
"Gue tau gue ganteng, biasa aja liat-nya." ujarnya terkekeh pelan. Seketika, Ria mengerjapkan matanya dan melotot tajam.
"Amit-amit, gue---"
"Kyaaa!!"
Ria spontan berjerit saat kereta tersebut melaju cepat. Jerit demi jeritan, tawa demi tawa menggelegar bersahut sahut-an saat kereta itu melaju dengan cepat-nya.
Seketika, kereta panjang itu melambat sedikit demi sedikit saat berjalan ke puncak. Ria menghenti-kan jeritannya dan mengarahkan kepala ke Farel yang masih sibuk tertawa.
Ria ikut tersenyum melihat-nya, Farel yang tersadar diperhatikan menoleh dan membalas senyumannya. Ia menggenggam telapak tangan Ria yang mengeluarkan keringat dingin.
Menggenggam-nya dengan sangat erat.
"Jangan takut."
.
Kereta itu memang melambat seiring ke puncak, Daniel yang ada disamping-nya memandang heran orang disebelah-nya. Deru nafas orang tersebut, seperti ingin mati.
"Ngia?"
Anggia menoleh, wajah-nya sangat pucat, bak mayat hidup.
"Gue..gak papa."
Daniel tersenyum lembut,
"Eum..bertahan-lah. Lo bakalan baik-baik aja kok. Bentar lagi ini rute rollercoaster-nya berhenti pas kita nyampe ke bawah."
Nggak usah dibilangin juga, napa sih? Bikin gue nambah mual aja mikirinnya. Gumam Anggia yang sudah menyandarkan kepalanya. Menatap langit langit diatas-nya, yang terlihat bisa diraih, namun nyatanya tidak.
Tiba-tiba, seketika dada-nya sesak. Tangan itu melingkari lehernya.
"Kalo lo kayak gitu, nambah mau muntah, tau. Jadi kayak gini aja sampe kebawah nggak papa kan?"
Anggia tak menjawab. Daniel barusan memeluk-nya, dan mendekap-nya. Anggia bahkan bisa merasakan detak jantung cowok itu sangat cepat. Bahkan Anggia bisa menghirup bau aroma parfum mint-nya.
Anggia bisa jadi gila kalau seperti ini.
.
.
Ckrek
"Euww, mesra amat anak orang."
Orang disebelah-nya hanya terkikik pelan. Ia mengecek foto yang barusan ia ambil.
"Blur sih, tapi gak papa lah ya?"
Vina terkekeh geli.
"Chin, lo kurang kerjaan banget sih fotoin mereka?"
"Jadi anceman donk, kalo ada kehendak." ujar Chintiya.
Vina masih dengan pelan-nya menghabiskan permen kapasnya, sedangkan Chintiya masih melihat hasil fotonya tadi. Chintiya niat-nya hanya ingin mem-foto Ria, supaya saat ia melihat foto ini akan malu setengah mati atau mungkin bisa jadi ancaman akan disebarkan, walaupun opsi kedua itu sepertinya mustahil, ia merasa tak tega.
Tapi setelah foto tersebut di zoom..
"Lah? Ini ngia?"
Vina mengernyit heran dan ikut melihat foto di ponsel Chintiya.
"Lah? Iya. Di..dipeluk?!!"
"Yeee, minta kena tabok kayak-nya. Berani banget kek gitu sama sahabat gue." cetus Chintiya.
Kegiatan mereka tersebut terhenti, karena kedatangan dua pria dihadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Alan dan Riko.
"Jalan lagi yuk?" ajak Riko.
"Ayo."
Mereka berempat berjalan berdampingan, tawa mengitari mereka, membelakangkan beberapa masalah yang menghambat pertemanan mereka.
"Pftt..haha..jadi Riko pernah ngompol cuma gegara takut sama kecoak pas dirumah kak Alan?!" tanya Vina tak percaya.
"Hei! Berenti nge-bongkar aib orang sembarangan! Kak Alan jahat banget sih!" keluh Riko tak terima.
"Lah? Gue cuma nge-ngungkit masa lalu." elak Alan.
"Sama aja, gebleg." ketus Riko.
"Kata-nya bentar lagi sekolah mau ngadain kemah bahkan hiking." ujar Chintiya.
"Iya ya? Gak kerasa. Padahal gue kira tuh acara masih sekitar beberapa bulan lagi. Tau-tau nya udah tinggal beberapa hari aja." celetuk Riko.
"Wahh! Ada mesin bonekaa!" antusias Vina tiba-tiba berlari menghampiri mesin tersebut.
Vina mencoba untuk yang pertama kalinya, ia menggerakkan pengait besi itu kesalah boneka yang menurutnya menarik. Yaitu, boneka berwarna merah, berbentuk heart.
Namun, setelah berkali-kali Vina tak mendapatkannya dan kesal sendiri.
"Lo gak berhasil karena boneka pilihan lo jelek. Kenapa gak pilih yang pink aja sih?" gerutu Riko gereget dengan Vina yang tak bisa bisa memainkan-nya.
"Heh, gue mau-nya yang itu. Selera gue soal boneka tuh beda sama lo. Lo kan cowok ngapain nyaranin gue yang warna pink?!" desak Vina.
Riko tak tahan dengan gadis labil seperti ini, ia mengambil alih mesin boneka tersebut dan menggerakan pengait besi-nya.
Chintiya menepuk pelan bahu Alan, alih-alih membisikkan, 'ayo pergi dari sini.' mendengar hal tersebut, Alan mengangguk.
Riko dengan bangga-nya tersenyum girang saat pengait itu mengenai salah satu boneka. Tapi pengait itu sedikit meleset dan malah mengait boneka jelek yang dimaksud-nya tadi.
"Hah, ngomong gak suka sama boneka yang gue pilih." remeh Vina.
Riko menghembuskan nafasnya pelan, daripada ia melepaskan boneka itu, nanti jadi sia-sia. Ia pun menariknya dan memasukkan-nya ketempat keluarnya boneka.
Melihat hal itu, Vina sangat girang dan mengambil boneka tersebut dengan sekali cekatan.
"Makasihh!" antusias Vina dengan senyum-nya yang mengembang. Melihat hal itu, lagi-lagi Riko merasa hatinya berdesir.
"Ya, sama-sama."
.
.
Chintiya dan Alan berjalan diiringi suara yang berbagai macam disetiap bagian tempat itu, alias disana suasana-nya ramai.
"Lo..masih jadi ketua UKS?" tanya Alan, ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana jeans-nya.
"Iya." jawab Chintiya.
"Hebat banget, padahal lo masih kelas sepuluh, elah." celetuk Alan.
"Biasa aja."
Alan melirik keramaian disekitar-nya. Lalu, mata-nya terfokuskan kearah suatu wahana. Berbentuk roda, ukurannya besar, dan satu ruang atau kereta gantung yang bisa memuat dua orang didalamnya dan juga berjumlah banyak.
"Chin, naik itu yuk."
Chintiya menoleh kearah pandang yang sama.
Bianglala?
Ia sangat ingat. Terakhir kali ia menaiki itu, ia sedang bersama Alan. Tapi itu sewaktu masa kecil. Ia menangis karena takut ketinggian, tapi ada Alan yang menenangkannya, bahwa..semua akan baik-baik saja. Tiba-tiba Alan menggenggam tangannya, dan tersenyum lepas.
"Kan lo udah besar, jadi jangan takut lagi naik gituan. Gak malu apa sama umur?"
Chintiya mengangguk dan terkekeh pelan.
.
.
Empat remaja sedang duduk dengan meja bundar sebagai penghalang mereka. Satu gadis sedang memainkan ponsel, lalu gadis satu-nya sedang menyedot minuman milkshake strawberry. Disana juga terdapat satu cowok yang sibuk menyedot cola dan satu-nya lagi mengunyah kentang goreng yang masih hangat.
"Ga mau kentang goreng?" tanya orang tersebut, Satria.
"Nggak." tolak Rion dan Nabila bersamaan.
"Gue mau!!" cerocos Andina dan mengambil secara sekaligus dua kentang goreng tersebut lalu ia colet ke saus dan ia makan dengan khidmat.
*elah, ga usah dijelasin napa sih?:v -readers.
"Kemah tinggal beberapa hari lagi. Gue denger Vella ngajuin sesuatu soal jadwal tambahan?"
"Labirin. Dia ngajuin sebuah tempat yang harus kita datangi sebelum pulang dari acara kemah." celetuk Nabila dan mendengkap kedua tangannya didepan dada.
"Labirin? Perasaan gue gak enak. Apalagi kalo itu dilakukan sore hari." ucap Andina.
"Gue rasa kalian kena target lagi, kalian gak boleh pergi sendirian kemana-mana. Tetap pada rombongan. Apalagi nginget Marshel pernah hampir dibunuh om om sewaan Amanda. Ngeri tau." jelas Rion.
Satria memijit pelipisnya yang mengkerut,
"Ntah lah, gue heran. Mereka nekat banget ya mau masuk penjara? Remaja itu harusnya belajar baik-baik. Bukan ngelakuin kejahatan kek gini. Ini gak masuk akal."
"Masuk akal bagi orang gila." cetus Andina.
"Usul itu disetujui kak Leon, dan diadakan rapat juga. Gue rasa itu karena Vella anak dari salah satu donatur terbesar disekolah, yaitu ibu-nya." jelas Nabila.
Andina menonaktifkan ponselnya. Meletakkannya begitu saja diatas meja.
"Satria, gue tau dari Gita bahwa dulu ayah lo pemilik perusahaan yang dipimpin oleh ibu-nya Vella sekarang?"
"Iya." jawabnya singkat.
"Sebelum ayah lo, siapa yang mimpin tuh perusahaan?"
"Ibu-nya Vella, tentunya. Sesudah paman-ku, Ibu Vella mengambil alih, namun paman-ku sebagai pembentuk keputusan untuk pengganti dirinya selanjutnya tak setuju, dan perusahaan digantikan oleh ayah, ayah terpaksa melepas mimpi-nya sesaat sebagai Vokalis band.
"Saat ayah sudah menempati jabatan paman, paman meninggal karena kecelakaan saat perjalanan menuju gedung perusahaan. Tak lama beberapa bulan, ayah jatuh sakit, keluarga Vella memberi banyak bantuan soal biaya. Dan ayah tak bisa diam, karena tanggung jawab perusahaan ada ditangannya.
"Akhirnya, ibu Vella mencalonkan diri lagi, ayah menyetujui-nya dan menanda tangani kontrak. Mereka memberi janji bahwa akan terus memberi biaya pengobatan hingga ayah sembuh dan menempati jabatan lagi. Istilahnya, Ibu Vella hanya sementara hingga ayah sembuh. Namun, bertahun-tahun hal itu tak pernah terjadi. Penyakit ayah makin hari makin parah."
Satria menahan tetes hujan yang ada di dalam mata-nya yang memerah. Tangannya terkepal kuat, dan kepala-nya menunduk.
"Ba..bahkan ayah selalu..membicarakan hal yang sama setiap gue mengunjungi..ka..kamarnya."
Satria menumpahkan tetes air mata pertamanya, gigi-nya mengertak, dan ia tahan isakan tangisan yang akan keluar dari mulutnya.
"Ba..bahwa..hiks..kata-nya gue harus penuhin mimpi-nya..dan..harus belajar..sungguh-sungguh. Ka..karena..kalo..ayah..tiada..hiks..gu..gue bisa ngambil alih perusahaan..yang.. merupakan..tanggung jawab-nya dalam hal perkejaan..hiks.."
Rion yang ada disebelahnya menepuk pundak Satria pelan.
"Seolah olah..ayah bakal ninggalin..gue..hiks..gue takut. Gue..takut."
Andina tersenyum kecut, ia menggenggam tangan Satria erat.
"Lo harus kuat. Kalaupun nanti dia benar benar udah gak ada lagi, itu takdir. Dan lo harus inget, masih ada yang sayang sama lo, ndukung lo, bantuin lo. Lo harus tau itu. Cause, you are not alone."
Tangis Satria pecah, ia tak sudah sudah mengelap air mata-nya yang terus berjatuhan. Ia sangat takut apabila ayahnya tiada lagi dari hidup-nya.
Bagian hidup-nya.
Ia sangat takut, dan akan menyalahkan dirinya terus menerus jika hal itu benar-benar terjadi.
.
.
Seorang pria tiba-tiba tersungkur ke tanah halaman berumput didepan rumah-nya. Ambulance berbunyi memenuhi suara sunyi dimalam itu. Tangisan-nya pecah. Langit malam menunjukkan dirinya akan ikut meneteskan air mata-nya juga.
Seorang wanita paruh baya tak sudah-sudah menjerit-jerit didepan pintu saat kasur tempat tidur yang memiliki penyangga beroda itu lewat dihadapannya.
Orang diatasnya tertidur lelap dengan kain putih yang menyelimuti-nya. Pria itu tak bisa berkata-kata.
Tetes rintik hujan mulai membasahi bumi. Namun, pria itu tak peduli. Ia menjerit sekuat tenaga pada dunia, bahwa ia mengeluh akan takdir yang ia dapat. Ini tidak adil.
"AYAHHHHHH!!!!!!!!!"
.
.
Seorang gadis duduk didekat jendela kamar-nya, tak sudah sudah mengecek ponselnya resah. Ia menatap rintik air mata langit malam diluar sana, hati-nya begetar, perasaannya tak enak.
"Satria kok nggak ngangkat ngangkat telpon sih?"
.
.
***