Kita Yang Tak Selesai [END]

Por Firkook89_

65.2K 4.6K 226

Segalanya berawal di masa SMA-masa yang penuh tawa, gengsi, dan cerita tentang cinta. Dialah orang yang membu... Más

000 - Intro
Part 1 - Pinjam Gelang
Part 2 - Hah, Pacaran?
Part 3 - Diberi Gelang
Part 4 - Reaksi Juno
Part 5 - Curhat
Part 6 - Salah Sangka
Part 7 - Ada Rasa?
Part 8 - Di Jenguk
Part 9 - Bertemu Mantan
Part 10 - Rumah Juno
Part 11 - Pantai
Part 12 - Kembali Sekolah
Part 13 - Rencana Kuliah
Part 14 - Nugas Bareng
Part 15 - Pingsan
Part 16 - Kampus Sivana
Part 17 - Cemburu
Part 18 - Penolong
Part 19 - Kerja Kelompok
Part 20 - Jadian
Part 21 - Rencana
Part 22 - Grup Chat
Part 23 - Games
Part 24 - Prank
Part 25 - Do-Fun!
Part 26 - Pasar Malam
Part 27 - Instagram
Part 28 - Interogasi
Part 29 - LDR (?)
Part 30 - Grup Chat 2
Part 31 - Konflik 1
Part 32 - Konflik 2
Part 34 - Butuh Waktu
Part 35 - Balikan
Part 36 - Sehari jadi Baby Sitter
Part 37 - Dinner
Part 38 - Jamkos
Part 39 - Latihan
Part 40 - Gladi
Part 41 - Graduation Day
Part 42 - Teman Lama
Part 43 - Cemburu 2
Part 44 - Girls Time
Part 45 - Kencan
Part 46 - Last Day
Part 47 - Raka's Love Story
Part 48 - On The Way
Part 49 - Kecelakaan
Part 50 - New Friends
Part 51 - New Job
Part 52 - Because a Job
End Part
HARUS KOMEN!
Exstra Part

Part 33 - Penjelasan

777 73 3
Por Firkook89_

Mereka semua berkumpul di ruang tamu untuk mendengarkan penjelasan dari Juno. Suasana yang awalnya cukup ramai perlahan menjadi lebih serius.

"Jadi gimana ceritanya lo bisa ketemu lagi sama cewek gila itu?" Tanya Raka.

"Dia tuh kakak kelas kita dulu kan pas SMP?" Tanya Jidan memastikan.

"Iya, bener" Jawab Juno.

"Pantes mukanya gak asing" Ucap Vian.

"Ya kalian tau sendiri kan dia dulu kaya gimana ke gue" Kata Juno.

"Sama-sama gila sih" Celetuk Jinan.

"Hahaha, mana iya lagi" Tambah Jidan.

"Basa-basi mulu, jelasin buruan" Kata Jihan dengan nada ketusnya.

"Sabar dong sayang" Ucap Vian menggoda.

"Dih siapa gua lo panggil-panggil sayang?!" Balas Jihan kesal.

"Hehe bercanda" Kata Vian sambil tertawa kecil.

"Udah, langsung aja jelasin. Jangan kebanyakan bercanda" Kata Jinan.

"Kalem-kalem" Ucap Vian santai.

"Jadi jelasin gak? Kalo gak, gua pulang" Kata Jeni sambil berdiri.

Melihat itu, Juno langsung menahan tangan Jeni dan membuatnya kembali duduk.

"Sayang tunggu dulu, aku bakal jelasin" Kata Juno.

"Eh kata Bella tadi kalian put—" Ucapan Jovan terpotong karena Jinan langsung membekap mulutnya.

"Lanjutin Juno, gak usah dengerin Jovan" Kata Jinan.

"Yaelah kenapa si?" Tanya Jovan bingung.

"Gausah dibahas anjir, situasinya lagi sensitif" Kata Raka.

Jovan hanya tersenyum kaku "Sorry-sorry."

"Gapapa, emang gua sama Juno udah putus kok" Kata Jeni tiba-tiba.

Seakan-akan ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan Jovan tadi.

"Ih elu si!" Kata Jidan.

"Ya maap" Ucap Jovan.

"Jen, tapi aku gak mau" Kata Juno sambil menatap Jeni.

Jeni menghela napas.

"Kalo gak mau jelasin yaudah, gua pulang aja. Capek disini, energi gua ke kuras."

"Iya-iya aku jelasin. Tapi aku mulai dari mana ya? Masalahnya cukup panjang" Kata Juno.

"Semua. Dari awal sampai akhir" Jawab Jeni.

"Busettt" Ucap Raka.

"Bentar deh, gua ambil cemilan dulu. Ini pasti panjang banget ceritanya" Kata Jinan sambil berdiri.

"Nitip" Ucap Jidan.

"Sekalian minum juga ya" Kata Vian.

"Sini kalian berdua ikut. Dikira tangan gua ada tujuh bisa bawain semuanya" Kata Jinan.

"Yaudah iya" Kata Jidan.

"Sana lo aja, dan" Kata Vian.

—————————————

"Jadi kenapa lo bisa ketemu lagi sama cewek itu?" Tanya Saga.

"Bentar, cewek itu sebenernya siapa? Kok kalian bisa kenal sama dia?" Tanya Rosa.

"Oke, gua jelasin cewek itu dulu."

"Dia itu Bella, kakak kelas gua waktu SMP. Lebih tepatnya kakak kelas kita, karena dulu kita 1 sekolah."

"Dia dulu suka sama gua, tapi gak pernah gua tanggepin. Masalahnya dia itu orangnya nekat. Kalo udah pengen sesuatu, dia bakal terus ngejar sampe dapet."

"Dia sering banget ngusik kehidupan gua dan itu ganggu banget. "

"Sampai akhirnya dia lulus, dan gua pikir semuanya bakal selesai karena dia gak bakal ganggu gua lagi."

"Setelah lulus SMP juga gua gak pernah ketemu dia lagi. Bahkan katanya dia pindah kota."

"Tapi tiba-tiba setelah tiga tahun lamanya, dia muncul lagi di hadapan gua."

"Anjir, bener-bener gila tu orang" Ucap Vian di tengah-tengah cerita Juno.

"Kapan lo ketemu sama dia, Jun?" Tanya Raka.

"Satu minggu yang lalu. Dia tiba-tiba dateng ke rumah gua. Bahkan gua juga gak tau dia dapet alamat rumah gua dari mana."

"Gila banget" Ucap Jovan.

"Terus kenapa lo gak lapor polisi aja?" Tanya Jihan.

"Gak bisa, karena dia ngancem gua."

Mereka semua langsung terkejut.

"ANJIR?!" Ucap mereka hampir bersamaan.

"Terus lo takut sama ancaman dia?" Tanya Saga.

"Jelas gua takut. Karena yang bakal jadi korban itu Jeni."

"Hah? Maksudnya gimana?" Tanya Lisa.

"Dia ngancem bakal celakai Jeni kalo gua gak nurutin tiga permintaannya."

"Bener-bener gila tu cewek" Kata Rosa.

"Apa aja tiga permintaannya?" Tanya Vian.

"Wehh kok udah mulai ceritanya? Parah ninggalin" Kata Jidan yang baru datang bersama Jinan.

"Lo berdua lama si" Kata Rosa.

"Udah-udah duduk sini, dengerin aja lanjutannya" Kata Raka.

"Oke, gua sekalian cerita kejadian satu minggu lalu aja."

—————————————

Juno's Flashback on.

Saat itu Juno sedang sendiri di rumah. Orang tuanya sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri. ART, satpam, dan tukang kebunnya juga pulang kampung. Jadi selama beberapa hari rumah Juno sepi.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi.

Karena tidak ada siapa-siapa, Juno sendiri yang membukakan pintu.

Dan betapa terkejutnya Juno ketika melihat seseorang yang berdiri di depan rumahnya.

"Halo sayang."

Dengan wajah sumringahnya dia mengatakan itu.

Juno langsung merasa jijik.

Dan belum sempat Juno berkata apa-apa, dia langsung memeluknya.

Tanpa basa-basi Juno langsung mendorongnya sampai dia hampir jatuh.

"Aw sayang sakit tau, kamu kok dorong aku sih?"

"Pergi lo dari rumah gua!"

"Ih sayang, aku kangen sama kamu."

"Dasar gila!"

"Iya aku gila. Tergila-gila sama kamu."

"Najis."

"Kamu jangan kasar gitu dong sama aku. Kamu tahu sendiri kan aku nekat, jadi jangan main-main sama aku."

"Bodo amat. Gua gak peduli."

"Yakin gak peduli? Kalo sama Jeni peduli gak?"

Seketika Juno langsung terdiam.

Dahi gua mengernyit.

Kaget.

Bingung.

Campur aduk jadi satu.

Dia tau Jeni? Batin Juno

"Kamu kenal Jeni kan? Aku juga kenal dia."

"Lo tau Jeni dari mana?"

"Gak penting aku tau dari mana. Tapi kalo kamu macem-macem sama aku, aku gak segan-segan buat celakai Jeni."

"Kurang ajar! Jangan berani-berani lo sentuh Jeni!"

"Simpel kok. Kalo kamu gak mau Jeni terluka, ikuti aja apa mau aku."

"Najis! Gak sudi gua!"

"Oh yaudah. Siap-siap aja nanti kamu liat Jeni masuk rumah sakit."

"SIALAN!"

"Makanya nurut dong sama aku. Cuma tiga permintaan kok. Gimana?"

Juno benar-benar berpikir saat itu.

Di satu sisi Juno muak dengan dia.

Tapi di sisi lain Juno takut Jeni kenapa-kenapa.

"Apa permintaannya?"

"Jawab dulu. Setuju atau enggak?"

Akhirnya dengan berat hati Juno setuju.

"Oke gua setuju. Tapi dengan syarat lo jangan sentuh Jeni sedikitpun."

"Aman sayang."

"Jadi apa permintaannya?"

"Rahasia."

"Anjir?!"

"Nanti aku kasih tahu. Sampai jumpa lagi, sayang."

Keesokan harinya, dia tiba-tiba sudah ada lagi di depan rumah Juno

Juno yang baru saja turun dari kamar langsung terkejut melihat keberadaannya.

"Halo sayang."

"Ngapain lagi lo kesini?!"

"Permintaan pertama."

"Apa?"

Sejujurnya Juno benar-benar malas berurusan dengan cewek gila ini. Tapi lagi-lagi pikiran Juno kembali ke Jeni.

Juno tidak mau Jeni kenapa-kenapa gara-gara masalah ini.

"Aku mau nginep di rumah kamu."

"GILA LO?!"

"Gila karena kamu kan."

"NAJIS."

"Inget, kalo kamu gak nurut, Jeni bakal celaka."

Juno mengepalkan tangan.

Kesal.

Marah.

Tapi ia tidak punya pilihan.

Dengan sangat terpaksa, Juno menyetujui permintaan pertamanya.

"Oke."

Dia tersenyum puas.

"Yeay, makasih sayang."

"Tapi inget, jangan pernah sentuh Jeni."

"Aman kok."

Walaupun berat, pada akhirnya Juno membiarkannya tinggal di rumah.

Malam harinya, Juno memilih diam di kamar. Juno tidak peduli dia ada di mana. Yang penting dia tidak mengganggunya.

Tok tok tok.

"Sayang, buka pintunya."

Juno diam.

Tidak ada niatan untuk membuka pintu.

"Juno..."

Tetap Juno abaikan.

Sampai akhirnya dia berteriak.

"JUNO! DAPUR LO KEBAKARAN!"

Seketika Juno panik.

Tanpa pikir panjang ia langsung keluar kamar.

Tapi ternyata...

"Tapi bohong."

Juno langsung terdiam.

"ANJING!"

Dia malah tertawa.

"Sayang, liat deh. Kamu suka gak sama baju aku?"

Juno melihat ke arahnya. Dan seketika rasa jijik muncul.

Dia memakai pakaian yang sangat tidak pantas.

"Ih sayang, liat dong. Kok malah liat ke arah lain?"

"Ngapain lo pake begituan anjir?"

"Biar kamu suka."

"GUA GAK SUKA!"

"Masa sih?"

Dia mulai mendekat.

Refleks Juno langsung mendorong dahinya.

"Ih sayang sakit tau."

"Pergi lo dari pandangan gua."

"Aku mau tidur sama kamu."

"OGAH!"

Juno langsung masuk kamar dan membanting pintu.

Setelah itu ia kunci rapat.

Tapi sialnya, beberapa jam kemudian Juno merasa lapar.

Ia tidak punya pilihan selain keluar kamar untuk mengambil makanan.

Saat membuka pintu kamar, ternyata Bella masih berdiri di depan sana.

"Hahaha akhirnya keluar juga."

Juno tidak menggubrisnya.

"Pasti gak tahan kan liat aku begini?"

"Ayo sayang, kita main aja. Punya aku gede loh."

Juno tetap diam, ia terus berjalan menuju dapur tanpa peduli.

Tapi dia masih mengikuti Juno

Juno mengambil makanan lalu duduk di meja makan.

Dan lagi-lagi dia menempel pada Juno.

Awalnya Juno diam. Sampai akhirnya dia mulai bertingkah semakin kurang ajar.

Tangannya mulai menyentuh paha Juno.

"ANJING!"

Karena emosi, Juno langsung membanting piring ke meja.

Juno sudah kehilangan nafsu makan.

Tanpa berkata apa-apa, Juno pergi menuju ruang TV.

"Yaelah, udah gede masih nonton kartun."

Juno tetap diam.

Juno membiarkan dia berbicara sendiri.

Tapi ternyata dia semakin nekat.

Dia duduk di pangkuan Juno tanpa izin.

Bahkan dia mencoba menunjukkan sesuatu yang membuat Juno semakin muak.

Juno langsung mendorongnya sampai dia jatuh. Lalu pergi ke kamar dan mengunci pintu.

"Kuat juga dia nahan nafsu."

"Tapi kalo terus begini, rencana gua bisa gagal."

Tengah malam, Juno terbangun karena merasa haus.

Akhirnya Juno turun ke bawah untuk mengambil minum.

Saat melewati ruang TV, Juno mendengar suara yang membuatnya langsung merasa jijik.

"Anjir, ini orang bener-bener gila."

Juno memilih diam dan langsung kembali ke kamar.

Keesokan paginya, Juno melihat Bella tertidur berantakan di sofa ruang TV.

Juno benar-benar muak melihatnya.

"WOY BANGUN ANJING!"

Dia membuka mata perlahan.

"Sayang, pagi-pagi kok marah-marah? Morning kiss dulu dong."

"OGAH!"

Karena Juno sudah benar-benar lelah menghadapi dia, ia memutuskan keluar rumah untuk olahraga mengelilingi komplek.

Saat kembali, Juno berharap dia sudah pergi.

Tapi ternyata tidak.

Dia masih duduk santai di ruang tamu dengan pakaian rapi.

"Kamu dari mana sih lama banget?"

"Gua kira lo udah pergi."

"Loh? Kan kita mau jalan-jalan."

"Gak."

Dia tersenyum.

"Permintaan kedua."

"Apa lagi?"

"Jalan-jalan sama aku."

Juno hanya bisa menghela napas.

"Anjir, kapan beresnya permintaan ini?"

"Tinggal dua permintaan lagi kok. Kalo kamu setuju, tinggal satu. Dan Jeni bakal aman kalo kamu nurut sama aku."

Lagi-lagi Juno terpaksa mengiyakan.

Akhirnya Juno pergi jalan-jalan dengannya ke sebuah mall. Dan di sanalah Juno bertemu Jovan.

Saat itu Juno sedang berada di supermarket. Tiba-tiba Juno melihat Jovan.

Juno sempat ingin menghampirinya dan menjelaskan semuanya. Tapi Bella langsung menariknya pergi.

Akhirnya Juno tidak sempat mengatakan apa-apa.

Setelah itu Juno dan Bella memutuskan pulang. Namun saat di parkiran, Juno tiba-tiba ingin ke toilet.

Sialnya, HP Juno tertinggal di mobil.

Dan lebih bodohnya lagi, HP Juno tidak dikunci.

Juno sama sekali tidak sadar kalau Bella sudah membuka HPnya dan melakukan sesuatu. Makanya Bella bisa mengirim pesan di grup, dan membuat semuanya salah paham, bahkan mengeluarkan Juno dari grup.

Saat itu Juno juga sangat sulit memegang HP karena Bella selalu mengawasinya.

"Rumah lo dimana?"

"Ngapain ke rumah? Mau ketemu calon mertua?"

"Najis."

"Yaudah kalo gitu gua turunin lo di jalan."

"Ih sayang, barang-barang aku masih ada di rumah kamu. Jadi kita ke rumah kamu dulu."

"Gak perlu. Nanti gua paketin barang-barang lo. Kalo perlu gua buang sekalian."

"Kamu jahat banget sih. Pokoknya kita ke rumah kamu dulu."

Seperti biasa.

Juno terpaksa mengiyakan.

Akhirnya mereka kembali ke rumah Juno.

"Abis ini lo balik sendiri. Gua gak peduli."

"Tenang, aku punya supir kok yang bisa jemput."

"Bagus deh."

"Sini duduk dulu."

"OGAH."

"Sini sayang, aku mau kasih tahu permintaan ketiganya."

"Tinggal bilang apa susahnya si?"

"Aku gak mau kalau kamu gak duduk di samping aku."

Dengan berat hati, Juno duduk di sampingnya.

"Apa?"

Bukannya langsung menjawab, dia malah mendekat dan bersandar ke arah Juno.

Sudah Juno dorong.

Tapi dia tetap mendekat.

Bahkan tangannya memeluk lengan Juno dengan kuat.

"Permintaan ketiganya apa anjir? Buruan!"

Dia tersenyum.

"Kiss."

"What?!"

Juno langsung menahan dahinya agar dia tidak mendekat.

Juno benar-benar jijik.

Sampai akhirnya...

Juno melihat seseorang berdiri di ambang pintu.

Jeni.

Jantung Juno seketika seperti berhenti. Juno tidak tahu kenapa Jeni ada di sana. Yang Juno tahu, dia melihat semuanya.

Dan yang paling menyakitkan...

Jeni menangis.

Juno paling tidak bisa melihat Jeni menangis.

Setelah itu terjadilah pertengkaran besar antara Juno dan Jeni.

Sampai akhirnya dia mengatakan...

"KITA PUTUS!"

Juno tidak mau. Tapi Jeni pergi begitu saja. Bella juga meninggalkan Juno. Juno benar-benar frustasi.

Sampai akhirnya Juno mendengar suara pintu utama yang digedor. Juno langsung menghampiri sumber suara.

Dan betapa terkejutnya...

Jeni ada di sana.

Dalam bahaya.

Bella bahkan berani memecahkan vas bunga dan menggunakan pecahannya untuk menyandera Jeni.

Juno tidak bisa berpikir panjang. Ia mengambil pecahan kaca itu dan menarik Jeni menjauh.

Akibatnya tangan Juno terluka. Tapi ia tidak peduli. Yang penting Jeni aman.

Setelah itu Juno membawa Jeni masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Sampai akhirnya teman-teman-temannya datang dan menyelamatkan mereka.

Juno's Flashback Off.

—————————————

Suasana di dalam mobil terasa sangat hening. Tidak ada suara apapun selain suara mesin mobil yang berjalan pelan membelah jalanan sore itu.

Biasanya Jeni dan Juno akan menghabiskan waktu di dalam mobil dengan bercanda atau saling meledek. Tapi kali ini berbeda.

Jeni hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Pikirannya masih kacau setelah kejadian hari ini.

Sedangkan Juno sesekali melirik ke arah Jeni. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi ia takut membuat keadaan semakin buruk.

"Jen..."

Tidak ada jawaban.

"Jeni..."

"Hmm?"

Akhirnya Jeni menoleh.

"Kamu masih marah sama aku?"

Jeni kembali melihat ke arah jendela.

"Gatau, Jun."

Jawaban singkat itu membuat Juno menghela napas.

"Aku ngerti kalo kamu kecewa sama aku."

"Kecewa? Bukan cuma kecewa, Jun."

Juno terdiam.

"Gua sakit hati."

Suara Jeni terdengar pelan, tapi cukup membuat dada Juno terasa sesak.

"Gua liat sendiri lo sama cewek lain di rumah lo. Gua liat sendiri dia ngomong kaya gitu tentang kalian."

"Tapi aku berani sumpah, Jen. Semua itu gak bener."

Jeni menghela napas "Setelah lo jelasin semuanya gua tau kalo itu bukan salah lo sepenuhnya."

"Terus kenapa kamu masih marah?"

Jeni diam cukup lama.

"Tapi rasa sakitnya masih ada, Jun."

Juno menggenggam kemudi lebih erat. Ia tahu Jeni tidak bisa langsung melupakan semuanya dalam satu hari.

"Aku minta maaf."

"Lo udah bilang itu berkali-kali."

"Karena aku emang salah."

Jeni menatapnya.

"Salah lo bukan karena lo nolongin gua."

"Terus?"

"Lo salah karena lo nutupin semuanya dari gua."

Juno terdiam.

"Kita pacaran, Jun. Harusnya kalo ada masalah, kita hadapin bareng. Bukan lo sendiri."

"Iya... aku ngerti."

"Lo pikir gua bakal diem aja kalo tau lo ada masalah? Kalo lo cerita dari awal, mungkin kita bisa cari jalan keluar bareng."

Juno mengangguk kecil.

"Aku takut kamu kenapa-kenapa."

"Dan sekarang yang terjadi? Gua tetep kena masalah itu."

Perkataan Jeni membuat Juno semakin merasa bersalah.

"Tapi aku lebih takut kehilangan kamu."

Jeni terdiam.

"Aku rela kamu marah sama aku, aku rela kamu kecewa sama aku. Tapi jangan pergi, Jen."

Mobil kembali hening.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah Jeni.

Juno mematikan mesin mobil.

"Aku anter sampe depan."

"Gausah, tangan lo luka."

"Aku masih bisa."

Jeni menghela napas.

"Juno."

"Iya?"

"Makasih."

Juno menatap Jeni.

"Buat apa?"

"Buat hari ini. Karena lo tetep lindungin gua."

Senyum kecil muncul di wajah Juno.

"Tapi jangan senyum dulu."

Senyum Juno langsung menghilang.

"Kenapa?"

"Gua belum maafin lo sepenuhnya."

Juno mengangguk.

"Iya, aku ngerti."

"Tapi..."

"Tapi?"

"Gua juga gak mau kehilangan lo."

Mata Juno langsung membesar.

"Jen..."

"Gua cuma butuh waktu buat nerima semuanya."

Juno tersenyum kecil.

"Aku tunggu."

"Jangan maksa gua buat langsung balik kaya dulu."

"Aku gak akan maksa."

"Dan jangan rahasiain apapun lagi."

"Aku janji."

Jeni mengangguk.

"Yaudah, gua masuk dulu."

Jeni turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumahnya.

Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke arah Juno.

Juno masih berada di sana, memastikan dirinya masuk dengan aman.

Tanpa sadar, sudut bibir Jeni sedikit terangkat.

Walaupun hatinya masih sakit, tapi ia tahu satu hal.

Juno tidak pernah berniat menyakitinya.

—————————————

Juno masih diam di dalam mobil setelah Jeni masuk ke rumah.

Hari ini benar-benar kacau.

Juno hampir kehilangan Jeni. Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya.

"Bodoh banget sih gua..."

"Seharusnya dari awal gua cerita."

"Seharusnya gua gak ngadepin semuanya sendirian"

Tapi satu hal yang pasti...

"Gua gak akan pernah biarin kejadian ini terulang lagi."

Ting!

Handphone Juno berbunyi. Sebuah pesan masuk dari grup.

Keluarga Cemara 🙊

Raka: Jun, udah sampe rumah?

Vian: Jangan lupa tangan lo diobatin lagi.

Jihan: Dan jangan bikin Jeni nangis lagi.

Jinan: Kalo sampe lo ulangi, siap-siap gue yang marahin.

Saga: Intinya jangan bego lagi.

Juno hanya bisa tertawa kecil membaca pesan mereka. Mereka memang suka bercanda, tapi Juno tahu mereka peduli.

Juno: Iya iya cerewet banget kalian.

Jidan: Syukurlah masih bisa bercanda. Berarti aman.

Rosa: Semoga kalian cepet baikan ya.

Lisa: Amin.

Juno melihat pesan itu sambil tersenyum. Semoga semuanya benar-benar kembali seperti dulu.

==================

Don't forget to like, comment, follow and see you next part 🙌🏻

Seguir leyendo

También te gustarán

83.5K 11.5K 31
[Baku | Sequel of Stay With Me] -Jenyong- Buat kalian yang cerita ini belum baca cerita Stay With Me, aku saranin baca itu dulu biar ngerti soal toko...
14.8K 1.2K 13
Kita dipertemukan dalam impian yang sama di tempat terindah. Mungkin itu adalah takdir alam semesta Hanya harus seperti ini Kamu adalah aku, aku adal...
12.6K 1.2K 17
Short Story (sangking pendeknya sampai saya merasa tidak baik-baik saja). Entah kisah apa, baca aja, siapa tau suka ? (ini fanfiction, sekali lagi c...
26.8K 1.3K 24
[ C o m p l e t e d ] [FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!] 🎥Trailer Tersedia! Cerita tentang dua sahabat yang sama sama memendam perasaan cinta, sayang sa...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas