"Ya, aku bersedia." Kata tersebut mereka ucapkan dengan terpaksa. Seharusnya Jungkook dan Jimin mengucapkannya dengan perasaan yang bahagia, namun tidak karena mereka menolak takdir ini.
Sumpah pernikahan yang diucapkan tanpa ketulusan. Keduanya tidak tahu mereka akan mengikuti sumpah pernikahan. Ini hanyalah sebuah kebohongan yang mereka buat.
Lalu ketika pendeta mempersilahkan mereka untuk berciuman, Jungkook memiringkan wajahnya, lalu membelakangi para tamu undangan dan wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Jimin. Namun, Jungkook tidak mencium yang lebih tua, ia hanya diam menutup mata, dan menunggu tepuk tangan dari tamu berakhir. Ketika itu terjadi, Jimin melihat yang lebih muda menarik diri dengan senyum.
Sejujurnya, Jimin merasa jantungnya akan meledak karena berdetak terlalu kencang ketika ia memperhatikan wajah pria di depannya. Ia tak bisa menyangkal bahwa Jungkook benar menarik. Sangat sempurna dan terlihat polos.
Jimin membiarkan tangan besar Jungkook menyelinap di pinggang mungilnya, membuat keduanya semakin menempel satu sama lain. Lalu, mereka berjalan turun menghampiri para undangan yang tak henti memberi ucapan selamat untuk pengantin baru.
Jimin melirik pria di sampingnya dan mendapati Jungkook mulai tersenyum lebar. Jimin tahu itu adalah salah satu sandiwara yang Jungkook buat.
"Ya~ anak dan menantuku yang tersayang. Eomma, sangat bahagia untuk pernikahan kalian." Ibu mertua Jimin hampir menangis dan Jimin hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Eomma, hentikan. Ini hanya pernikahan. Gumam Jungkook.
Ya, tentu saja. Hanya pernikahan tanpa cinta dan kasih sayang. Semua hanya sandiwara, batin Jimin.
"Eomoni, terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menikahi Jimin. Aku tidak pernah merasa begitu lengkap seperti sekarang." Bohong! Berhenti berbohong Jungkook-ah. Setidaknya jangan pada ibuku. Aku membencinya.
"Kalian berdua sangat serasi, begitu sempurna bersama." Ibu Jimin maju ke depan dan merengkuh pengantin baru ke dalam pelukan hangat. Jimin hampir menangis karena rasa bersalah.
Ibunya ingin yang terbaik untuk Jimin, sepanjang hidupnya, sang ibu selalu memanjakannya. Jadi, ketika pernikahan ini terlaksana, ibunya sangat bahagia. Itulah kenapa ia tak bisa menolak pernikahan ini. Jimin terlalu mencintainya ibunya.
Para ayah memberi selamat kepadanya dan Jungkook dengan cara masing-masing. Dan terakhir membawa topik tentang bisnis di tengah-tengah aula yang luas.
"Appa, tolong berhenti bicara tentang bisnis di hari pernikahanku." Protes Jimin yang kini cemberut, mengundang tawa dari para orang tua.
Kemudian, acara pernikahan tersebut berlanjut dengan beberapa kerabat memberikan pidato kepada pasangan pengantin baru. Serta doa dan ucapan yang terus mengalir dari para tamu.
Jimin kelelahan. Para reporter dan fotografer terus mengambil foto mereka sepanjang waktu. Mewawancarai pasangan tersebut untuk dijadikan bahan utama berita esok hari.
***
Begitu ia sampai di penthouse Jungkook, Jimin menghela napas dalam-dalam, terlihat sekali jika ia lelah. Sampai melupakan bahwa ada orang lain selain dirinya di penthouse ini.
Jimin memutuskan untuk segera mandi, ia tak tahan menahan gerah karena keringat yang terus menetes ke tubuhnya di balik pakaian formalnya.
Matanya sudah mulai berat karena mengantuk, namun ia tetap memaksa kedua kakinya untuk berjalan ke kamar mandi di dalam kamar barunya. Pria mungil tersebut hanya membutuhkan waktu tak lebih dari setengah jam untuk membersihkan tubuhnya sebelum bersiap-siap untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya.
Matanya semakin memberat. Tak hanya tubuhnya yang lelah karena terlalu lama berdiri menyambut tamu namun juga pikirannya sangat lelah. Jadi dia ingin langsung istirahat sekarang. Berharap dapat melupakan semuanya, pernikahannya, sandiwara, dan Jungkook...
Jungkook!!
Jimin bangun dari ranjang empuknya dan menatap pintu kamar tidur. Ia tahu Jungkook sedang di ruang tamu. Bagaimana ia bisa melupakan pria yang baru dinikahinya hanya karena ia kelelahan? Ia merasa kacau sekarang.
Jimin melangkahkan kaki mungilnya keluar kamar, matanya bergerak kesana kemari mencari Jungkook. Tidak ada tanda-tanda Jungkook untuk saat ini tetapi ia melihat pintu kaca yang terbuka.
Jungkook ada di balkon.. Ia mendengar suara Jungkook, seperti sedang berbicara dengan seseorang. Jimin mengintip suaminya dari jauh. Sedangkan Jungkook masih sibuk dengan telepon di tangannya dan tubuh yang bersandar pembatas balkon.
"Aku tidak bisa. Ibuku ingin aku dan pria itu tinggal di rumah. Maafkan aku sayang." Jantung Jimin berdetak kencang. Dia mendengar percakapan Jungkook dengan seseorang yang Jimin tebak pasti kekasih suaminya.
Ia kini mengerti. Pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Ia dan Jungkook tidak bisa saling mencintai. Takdir hidup mereka tak akan terhubung satu sama lain.
Bisnis adalah alasan kenapa mereka berdua menikah. Ayahnya berjanji akan menjadikan Jimin CEO perusahaan keluarganya. Karena itu ia setuju. Dan Jimin yakin seratus persen yakin jika hal yang sama terjadi pada Jungkook.
Jimin tak ingin menghampiri Jungkook. Ia justru berjalan kembali ke dalam kamar. Ia merasa bodoh. Ia tak suka Jungkook memanggil orang lain dengan sebutan 'sayang'. Ia membencinya, meskipun ia tak tahu kenapa ia harus merasa seperti ini.
Akhirnya Jimin memutuskan untuk tidur dan mengistirahatkan pikirannya. Ia bisa bisa berdiskusi tentang pernikahan ini dengan Jungkook esok hari. Mungkin ada banyak hal yang Jungkook ingin bicarakan dengannya.
***
Keesokan paginya, tidur tenang Jimin terganggu oleh ketukan keras di pintu kamar. Ia menggosok matanya dengan jengkel lalu dengan malas berjalan ke pintu.
"Bangun dan keluarlah. Ada yang perlu kita bicarakan." Ucap Jungkook datar dan berlalu dari hadapan Jimin yang masih mengumpulkan nyawanya.
Setelahnya, Jimin memutuskan untuk mandi dengan air hangat. Lalu memilih celana selutut dan sweater rajut berwarna pink. Sangat sederhana, toh di rumah ini hanya ada ia dan Jungkook. Jimin mulai keluar kamar dan berjalan ke ruang tamu yang disambut oleh punggung lebar Jungkook.
Jimin duduk di depan Jungkook dan bersandar di sofa mencoba merilekskan tubuhnya. Jungkook tidak menatapnya tapi ia tahu pria di hadapannya ini menunggu kedatangannya. Jimin berdeham untuk memecah kesunyian.
"Beri tahu aku apa yang ingin kau katakan." Jimin, sebagai yang tertua, mengeluarkan suara terlebih dulu. Dan berhasil menarik perhatian Jungkook padanya.
"Aku tidak akan tinggal di sini. Aku akan tinggal dengan kekasihku. Jika terjadi sesuatu, kita bisa saling menghubungi." Yang lebih muda berkata dengan tenang namun mampu membuat Jimin terkejut. Dia tidak pernah mengira hal ini akan terjadi pada dirinya.
"Aku mengerti." Ucap Jimin datar, tak ingin kalah dari Jungkook. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak terlalu peduli."
"Baguslah, itu yang ingin kudengar darimu."
Dan setelah itu, ia melihat laki-laki yang berstatua sebagai suaminya berjalan keluar rumah seolah tak pernah terjadi apa-apa. Jimin tak tahu harus merasakan apa. Merasa lega atau justru kecewa. Dia harus tinggal di penthouse mewah ini sendirian.
Tapi bagaimanapun juga, ia ingin seseorang untuk menemaninya di rumah ini. Jika bukan sebagai suami, mungkin mereka cocok menjadi teman. Itu tidak buruk pikir Jimin.
Jimin menutup matanya, berpikir berapa lama pernikahan palsu ini akan berlangsung. Ia tak ingin berbohong kepada siapapun, terutama ayah dan ibunya. Mereka telah mendidiknya dengan sangat baik, mengajarkan kejujuran dan jauh dari kebohongan.
Jimin tak ingin melihat orang tuanya kecewa jika mereka tahu bahwa ia telah berbohong. Kali ini saja tolong beri Jimin keberanian dan kekuatan. Dia harus menunjukkan bahwa ia bahagia dengan pernikahan ini, jadi orang tuanya juga akan merasa bahagia.
***
Surakarta, May 31, 2018
MissAngryBird_