Aku terbangun pukul tiga dini hari, masih berpakaian lengkap dengan kerudung dan kaus kaki. Aku masuk ke kamar mandi untuk mandi, lalu shalat. Selesai shalat aku baru sadar Ethan tidak ada. Aku keluar dari kamar, melihat ke bawah. Ethan meringkuk di sofa, tidur dengan membiarkan televisi menyala. Padahal banyak kamar kosong. Jika ia tidak mau tidur denganku, kenapa malah tidur di sana? Aku turun ke bawah, mematikan televisi, lalu kembali naik.
Aku menghabiskan waktu dengan shalat tahajud dan membaca Qur'an hingga subuh menjelang. Setelah shalat subuh, aku melanjutkan bacaan Qur'an-ku. Pukul lima, Ethan masuk ke kamar. Ia berwudhu, lalu shalat tidak jauh dari tempatku mengaji. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia tidak shalat di masjid seperti biasanya? Tumben sekali ia terlambat bangun.
Setelah shalat, Ethan kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ia kembali mengabaikanku. Sepertinya aku sudah keterlaluan semalam. Seharusnya aku tidak sekasar itu padanya. Mungkin, Ethan semalam ingin bicara untuk memperbaiki keadaan. Aku menggantung mukena di dalam lemari. Ethan masuk ke dalam lemari untuk berpakaian. Aku keluar, memberinya waktu untuk berpakaian.
"Maaf," Aku memulai saat melihatnya berdiri di depan cermin, menyimpulkan dasi. "Aku keterlaluan semalam, aku minta maaf."
"Bukan salahmu," ucap Ethan tanpa memandangku. Ia memakai jasnya, menyisir rambut, lalu berjalan menuju meja nakas. Ia memasukkan dompet ke dalam saku celananya, mengambil kunci mobil dan tas, lalu pergi meninggalkanku, tanpa memandangku, tanpa mengucapkan salam, tanpa mengatakan apapun lagi.
*****
"Neng, berantem, ya?" Bi Isah menegurku yang sedang sarapan. Ia baru datang beberapa menit yang lalu, langsung membereskan dapur sambil mengajakku mengobrol.
Aku meringis. "Kelihatan, ya?"
"Sudah lima hari ini Bapak sering tanya, 'Karla sudah berangkat belum, sudah pulang belum, pulang jam berapa, ke mana saja?' Biasanya Bapak tidak pernah tanya Bibi."
Aku terdiam mendengar penuturan Bi Isah. Ethan memang tidak bisa berhenti memedulikanku. Seperti yang pernah dikatakannya, ia terlalu mencintaiku.
"Maaf, Neng, Bibi bukan bermaksud untuk ikut campur. Bapak juga melarang Bibi bilang pada Neng Karla. Tapi, Bapak sakit."
Aku terkejut, membalikkan badanku menghadap Bi Isah. "Sakit apa, Bi?" Tanyaku cemas.
"Demam, Neng. Muntah-muntah. Bibi pulang jam sembilan malam, Bapak belum makan. Katanya mau makan sama Neng Karla."
Aku tertegun mendengarnya. Jadi, Ethan memang sengaja menungguku pulang, dalam keadaan sakit. "Jadi Bapak seharian di rumah, Bi?"
"Iya. Kemarin Bapak cuma pergi ke bengkel sebentar."
Allah, apa yang sudah kulakukan? Aku menghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. "Saya berangkat dulu, ya, Bi. Assalaamu'alaykum."
*****
Kuliahku selesai pukul tiga sore. Setelah shalat ashar, aku menuju kantor Ethan dengan menumpang taksi. Aku memandangi gedung setinggi dua puluh lima lantai di hadapanku sebelum masuk. Lima belas lantai teratas gedung ini sudah dibeli Ethan. Dad memberikan pinjaman lunak sebanyak seratus juta Dollar untuk membeli gedung ini. Ethan membayarnya secara kredit setiap bulan selama lima tahun.
Aku tidak perlu lagi melapor ke receptionist. Seorang satpam yang mengenaliku langsung menggunakan kartu aksesnya dan membukakan pintu untukku. Aku berterima kasih sambil tersenyum sopan dan langsung menuju lift. Aku menekan tombol dengan angka dua puluh lima. Saat pintu lift akan menutup, seseorang menahannya dengan tangan.
"Karla? Mau bertemu Ethan?" Raihan tampak terkejut melihatku. Ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol lima belas.
Aku mengangguk kaku. Jantungku mulai berdebar-debar. Aku sama sekali tidak siap bertemu dengannya.
"Katanya Ethan ada meeting di luar sore ini. Karla tidak memberi kabar mau datang?"
Aku menggeleng.
Pintu lift terbuka di lantai lima belas. Ethan berdiri di depan pintu. Ia terlihat terkejut dan menatap kami dengan pandangan tidak suka.
"Wajahmu pucat, Ethan." Raihan mengerutkan kening menatap Ethan sambil melangkah keluar lift.
"Aku baik-baik saja." Ethan menjawab sambil melangkah memasuki lift. Ia berdiri membelakangiku. Kami sama-sama berdiam diri sampai pintu lift terbuka. Aku mengikutinya memasuki ruangan.
"Kakak sudah makan? Aku bawa brownis kesukaan kakak." Sebelum ke sini, aku membeli brownies di toko kue dekat kampusku. Ethan suka sekali rasa browniesnya.
"Aku tidak lapar." Ethan langsung menjawab. Ia memasukkan laptopnya ke dalam tas bersamaan dengan beberapa dokumen, memunggungiku. "Pergilah."
Aku terdiam. Ethan mengusirku?
"Kamu datang untuk bertemu Raihan, kan? Pergilah."
"Aku datang untuk bertemu Kakak. Bi Isah bilang Kakak sakit," jelasku.
"Apa pedulimu?" Sergahnya kasar. Ia berbalik menatapku kali ini. Wajahnya terlihat terluka. "Aku mencari-cari Raihan sejak tadi. Tapi ternyata kalian sedang bersama. Aku sampai lupa apa yang harus kukatakan padanya."
"Aku baru bertemu dengannya di lift tadi," bantahku.
Ethan membalikkan tubuhnya, memunggungiku lagi. "Aku ada meeting di luar sampai malam. Pergilah ke manapun kamu mau, lakukan apapun yang kamu sukai. Aku tidak akan mencerewetimu lagi." Ethan memasukkan lagi beberapa dokumen ke dalam tasnya. Ia melangkah hendak keluar.
"Aku tunggu," kataku.
Ethan menghentikan langkahnya.
"Kita pulang dan makan malam bersama," kataku lagi.
Ethan menggeleng. "Pulang sajalah." Lalu keluar dan menutup pintu.
Aku terdiam menatap kepergiannya. Aku merasa bersalah. Sepertinya aku sudah keterlaluan. Aku sudah melukai hatinya terlalu dalam. Istri macam apa aku ini? Masih mendambakan laki-laki lain, tidak memedulikan suami hingga ia sakitpun aku tidak tahu. Apa jadinya jika aku mati sekarang? Dosaku banyak sekali.
Aku menunggu sambil mengerjakan tugas di ruangannya. Hingga 'Isya menjelang, Ethan belum juga kembali. Aku membuka pintu sedikit, mengintip keluar, hanya ada dua orang perempuan yang masih berkutat di depan komputer dan seorang satpam. Mereka masih bekerja sambil sesekali mengobrol.
Melihat pintu lift terbuka, Aku berharap sekali Ethan yang akan keluar dari lift saat ini. Tapi Zahrah keluar sendirian. Ia melangkah menuju meja kerjanya dengan wajah lelah. Aku keluar menghampiri Zahrah. Ia tampak terkejut melihatku.
"Ibu masih di sini?" Tanya Zahrah.
"Ethan belum kembali?" Aku balik bertanya, tanpa menghiraukan pertanyaannya.
"Beliau langsung pulang," jawab Zahrah. Ia terlihat bingung.
"Oh, okay, thank's." Aku berbalik, kembali masuk ke dalam ruangan.
Aku kecewa, kesal, marah. Aku, kan, sudah bilang menunggunya di sini. Aku berjongkok, memeluk lutut di balik pintu. Mataku berair saking kesalnya. Aku meraih handphone, mengecek, mungkin Ethan tadi menghubungiku tapi aku tidak sadar. Aku kembali menelan kekecewaan, tidak ada apa-apa di handphone-ku. Hanya notifikasi chat grup tugas kuliah yang tidak terlalu penting.
Aku menelepon ke rumah, tidak ada yang menjawab. Aku mencoba sekali lagi, tidak dijawab juga. Bi Isah dan Mang Udin mungkin sudah pulang, Ethan belum sampai? Aku memberanikan diri menelepon Ethan, tidak dijawab juga hingga tiga kali aku mencoba. Aku mendengus kesal. Aku menaruh handphone di atas meja, duduk di lantai dengan sebelah pipi menempel di meja. Aku merasa diabaikan.
Seketika aku teringat beberapa waktu lalu pernah mengabaikan Ethan. Aku membiarkan handphone-ku dalam keadaan lowbatt seharian, dengan sengaja. Aku mengisi daya handphone dan menyalakannya saat sudah sampai di rumah, menjelang maghrib. Banyak sekali notifikasi chat, pesan, dan panggilan dari Ethan. Ia masih menungguku di kampus selama lebih dari satu jam.
Aku merasa jahat sekali saat itu, jadi aku tidak pernah melakukannya lagi. Aku mencantumkan kejadian itu pada aplikasi Dear Diary. Mungkin Ethan membacanya dan hendak membalas perbuatanku. Apa lagi yang sudah dibacanya?
Aku mendesah pasrah dan memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Aku sebenarnya tidak mau pulang, kesal karena Ethan tidak mengabariku. Aku sudah menunggu sejak sore, keterlaluan sekali ia membuatku menunggu berjam-jam tanpa kabar. Tapi aku juga tidak mungkin di sini terus. Aku memakai tasku dan berjalan keluar. Aku berjalan kaki tanpa tentu arah, merasa segan untuk pulang.
Aku sudah di rumah. Ethan mengirim pesan satu jam kemudian. Tumben sekali, biasanya ia lebih suka menelepon langsung.
Kenapa tidak memberi kabar? Aku sudah menunggu berjam-jam di sini, balasku.
Kamu juga pernah melakukannya.
Aku mendecakkan lidah, kesal. Oh, jadi ini semacam balas dendam?
Membuatku khawatir seharian.
Kakak saja yang lebay. Toh, Kakak tahu aku cuma kuliah lalu pulang.
Kamu juga tahu aku hanya meeting dan pulang. Aku sudah menyuruhmu pulang tadi.
Aku menggertakkan gigi, kekesalanku bertambah. Aku tidak membalas, lebih memilih melanjutkan acara jalan kakiku yang tanpa tujuan. Aku sedang menimbang-nimbang ide untuk menginap di hotel saja dari pada pulang. Lima belas menit kemudian, Ethan mengirim pesan lagi, menyuruhku pulang.
Tidak akan, balasku.
Maafkan aku. Pulanglah. Kita bicara baik-baik. Katakan saja apa yang kamu inginkan.
Aku tidak membalas. Aku berpikir sejenak, menimbang-nimbang. Ethan suamiku. Kalau ia memberiku perintah, aku harus mematuhinya. Aku menghela napas dan memberhentikan taksi yang sedang melintas untuk pulang. Aku mengabarkan bahwa aku dalam perjalanan untuk pulang.
"Neng Karla dari mana saja?" Mang Udin langsung menanyaiku begitu aku memasuki pintu pagar. Ternyata ia belum pulang.
"Dari kampus, terus ke kantor. Kenapa Mang Udin?"
"Bapak tadi pingsan, Neng."
Astaghfirullaah. Mataku membelalak, kaget mendengarnya.
"Bapak pingsan di dalam taksi, Neng. Supir taksinya ribut sekali memencet bel berkali-ka..."
Aku langsung menghambur masuk ke dalam rumah, terburu-buru menaiki tangga. Tidak menghiraukan Mang Udin yang belum selesai bercerita dan memanggil-manggilku.
____________________________________
Ini masih hari Sabtu, kan? Maap ya, yang udah nungguin dari pagi. Aku lagi mudik, susah sinyal di sini. Sempet nyoba update cerpen yang judulnya dia, loadingnya lamaaaa banget. Giliran Karla gagal terus. Huhuuu.
Mudah-mudahan Sabtu depan bisa update tepat waktu. Rencana aku baru balik ke Jakarta Sabtu malem.
Anyway, selamat hari raya Idul Fitri 1439 H. Mohon maaf lahir batin, yaa 😘