ICE

By PANGGILDAKU

25 8 10

kamu tau es krim kan ? . . . . . Kenapa es krim itu dingin ? More

S

25 8 10
By PANGGILDAKU

HI, selamat datang di cerpen yang rada panjang ini. Semoga suka yaa
Happy reading 💐


"Hi" Amira melangkah mendekati Zafa di dekat jendela. Entah sejak kapan Zafa ada disana. Tapi yang pasti, saat Amira melihat Zafa dia akan langsung menghampirinya.

"Lagi apa ?" Amira duduk agak jauh dari tempat Zafa berdiri.

"Nggak ngapa ngapain"

"Gue boleh nanya nggak ?"

"Hm"

"Lo masih marah sama gue ?"

Zafa hanya diam. Pertanyaan ini sudah ribuan kali ia dengar dari Amira, jujur ia bosan. Tapi ia harus bisa menahan dirinya.

"Gue cabut"

Zafa meninggalkan Amira dalam diam.

....

Amira berjalan di koridor sekolah, mencari cari letak Kania, sahabatnya.

Dan disanalah gadis putih itu berada, didekat lapangan sedang mengamati beberapa anak laki laki yang sedang bermain bola.

"Woyy"
Amira berhasil mengagetkan Kania.

"Lo ngliatin siapa si? Zafa ?"

"Ihhh, tau banget si lo. Sumpah deh tu Zafa ya allah gantengnya kek duren dibelah dua. Umpama buah ni ya, Zafa itu udah kaya alpukat, manisnya ampek bikin enek saking banyaknya. Trus ya trus yaa..."

Karis segera membungkam mulut Kania sebelum gadis itu nyerocos kemana mana.

"Iya iya percaya pacar lo ganteng, manis, iyaa"

"Iya tapi ini lepas dulu tangan lo, sesek gue"

Karis segera melepaskan tangannya agar Kania bisa bernafas.

"Eh, btw lo kapan nyusulin gue. Zomblo bin abadi lo tu dikurangin napa"

"Rese luu. Dulu lo juga pernah jomblo tauk"

"Tapi kan lo belom pernah punya pacar. Wleekkk"

"Dasar cicinguk kejam banget sama temen. Gini gini gue pernah suka sama cowok tauk"

"Masakkk???!"

"Hm" Karis manggut manggut.

"Siapa ? Kenalin gue dongg, kalo ganteng biar gue tikung lu"

"Gila lo, trus si Zafa mo lo kantongin ?"

"Ya nggak lahh, bisa kena cium gue ntar"

"Huekk, jijik gue"

"Buruan kasih tau dong mirr"

"Nggak ah, lagian udah kandas juga"

"Hah, ga mutu banget lopelopean lo, jangan bilang lo cinta diem diem ?"

"Emang iya"

"Jahahaha. Jaman skarang masih ada begituan ? Ikut perang negara api aja skalian. Jhahahaha"

"Ihh, rese lu. Bay!" Amirapun meninggalkan Kania yang masih semangat menertawakannya.

....

Hari ini Kania menginap di rumah Amira, mereka ada PR bersama yang harus segera dikumpulkan besok.

Tapi bukannya belajar, mereka malah sibuk main PS.

"Woyy, curang loo. Jangan dorong dorong dong"
Karis menggeser tubuhnya menghindari tangan Kania.

"Yakkk, gue menanggg!! Hu huy huhuyyy "
Amira melompat lompat girang sambil memamerkan kemenangannya pada Kania.

"Ogah ah, perasaan tiap kali main di rumah lo gue kalah terus"

"Huu, bilang aja lo nggak becus. Wleekkk"

Dreett drett

Ponsel Kania tiba tiba berdengung.

"Eh, gue angkat telpon bentar yak"

Kaniapun keluar kamar untuk menerima telepon.

Ting tung

Tiba tiba ponsel Amira juga berbunyi. Segera ia menggeser layar ponselnya dan menemukan pesan dari Zafa.

S batu
Kania disitu ?

'ya allah mimpi apa gue dichat ama si es batu. Gile borr, gue kayaknya harus mandi kembang nih. Yaa, walaupun nanyain si Kania, tapi nggak papalah yang penting dia ga dingin banget sama gue' batin Amira

Me
Iya. Lo mo nyusul ?

S batu
Ga sudi. Suruh balik, mo gue ajak keluar

'Tuhkan, baru dibaik baikin udah jadi es aja ni batu' batin Amira lagi.

Me
Iya iya, kasar banget sih lo, manusia bukan si?
(Delete)

Me
Iya ntar gue bilangin
(Send)

S batu
Buru. Nggak pakek lama

Me
Iya iya, es banget si lo. Kalo nggak karna temen udah gue kasih cone trus gue makan. Nyam nyammm!
(Send)

'Ya allah kekirim. Mati gue' batin Karis.
Tubuhnya jadi panas dingin seketika. Ia tidak habis pikir bagaimana pesan itu yang seharusnya ia hapus malah jadi terkirim.

'Karis bego'

"Ada apaan ?"

Karis segera menyembunyikan ponselnya begitu Kania masuk kembali ke kamar.

"Eh, ituu si kang udin nanyain londrian pacarnya udah jadi apa belom"

Kania hanya meng-oh kan kalimat Karis tersebut.

"Eh, gimana dengan si-dia lo ?"

"Hah ? Gue nggak pakek Sidia, gue pakeknya citra bengkoang. Sotau lo"

Kania menepuk jidatnya heran.

"Si sepasi De i a. Lo kalo tau bloon jangan kebanyakan makan micin Amiraa"

"Oh, maapkan lah"

"Crita gih. Nggak mau lo perjuangin tuh si-Dia lo"

"Ogah ah, dia udah nglepasin gue. Lagian dia juga nggak pernah nanyain gue lagi. Buat apa"

"Dasar lo ya, hati kebanyakan botox ya gitu, sampek nggak buat buat dimasukin hati cowok"

"Ngawur lo. Hati gue masih suci tauk, suci dalam debu"

"Tayamum dong. Suci dalam debu"

"Sableng lo"

Amira mengambil cemilan yang berada diatas karpet lalu membawanya ke kasur.

"Gue saranin ni ya, kalo dia emang berharga, kejar Mir. Kalo dia nggak ngasih kepastian,  yaudah, tanyain dong. Lo kira enak di gantingin kek krupuk maratusan. Lama lama mlempem lu"

"Cih, bahasa lo. Kek dokter cinta lo"

"Ini bukan apa apa Mir, lo harus tau perjuangan cinta itu nggak kaya beli nasi uduk. Tapi udah kaya bikin nasi uduknya. Susah dijelasin, bisanya lo praktek langsung biar lo tau kalo prosesnya itu berat plus panjang"

Amira menepuk pundak Kania.

"Gue bangga sama lo Ni, besok gue bikinin channel Kania Chandra. Biar ngalahin boy candra. Oke"

"Bego dasar"

Kania geleng geleng kepala keheranan dengan sikap ga peka Amira. Pantaslah ia tidak segera mendapat pacar, bahkan nasehat cintapun dia tolak, batin Kania.

....

Bel baru saja berbunyi, Amira masih berada di trotoar hendak membayar ojek.

"Ni bang, kembaliannya ambil aja"

Amira segera berlari menuju gerbang. Tapi sayangnya, gerbang sudah tertutup rapat.

"Gilak, jam segini udah ditutup. Dikira muridnya anak baik baik semua kali ya" ucap Karis sambil meninggalkan gerbang dengan muka kesal.

"Eh, bukannya itu Zafa" Amira menatap puncak gerbang belakang sekolah, dan disanalah Zafa berada.

Amira berjalan pelan mendekati gerbang.

"Ngapain lo ngliatin gue" ucap Zafa begitu sadar ada yang mengamati dirinya.

"Lo ngapain ?"

"Bisa diem nggak sih. Tangkep"
Zafa melempar tasnya ke Amira.

Zafa melompat dari Pagar sekolah yang lumayan tinggi.

"Lo mau bolos ? Zaf jangan. Lo bisa kena hukum. Guru BP yang baru kan galak banget"

Tanpa menjawab atau mengeluarkan sepatah katapun, Zafa menyerobot tasnya dari tangan Amira lalu pergi begitu saja.

"Zaf" panggil Amira. Tapi Zafa sama sekali tidak menggubris. Akhirnya Amira berlari untuk mengejar langkah Zafa yang sudah cukup jauh.

"Zafa tunggu" Amira menggenggam lengan Zafa, tapi segera ditepis oleh siempunya tangan.

"Ngapain sih lo ngikutin gue. Balik sana"
Zafa kembali berjalan.

Lagi lagi Amira mencekal tangan Zafa.

"Zaf dengerin gue bentar napa sih"

"Zaf bisa nggak sih lo sekali aja dengerin gue. Berhenti sebentar buat dengerin apa kata gue. Gue capek tau nggak sama sikap dingin lo. Jujur aja kenapa sih! Mana Zafa yang gue kenal dulu"

Zafa masih melangkah, kali ini langkahnya tidak secepat tadi. Ia masih bisa mendengar dengan jelas ucapan Amira.

"Zafa yang tiap pagi bangunin gue"

"Zafa yang selalu jagain gue kalo lagi jalan jalan bertiga sama Kania"
Amira tidak sadar jika sekarang air matanya bercucuran. Ia masih berusaha mengikuti langkah Zafa.

"Mana Zafa yang pernah bilang dia nggak bakal bikin gue nangis"

Langkah kaki Zafa berhenti tepat disamping persimpangan. Sedangkan Amira berada satu meter darinya.

"Karna gue nggak kuat denger suara lo Mir"

Satu kalimat itu, kemudian Zafa kembali berjalan meninggalkan Amira yang masih menangis.

"Brengsek lo Zaf"

....

Kania berlarian di koridor dengan nafasnya yang memburu dan juga air mata yang mengalir dipipinya.

Ia menuju taman, menemui Amira.

"Miraaaaa. Hiks"

Amira pun jadi bingung mengapa Kania tiba tiba datang padanya sambil menangis. Ia pun membawa Kania kepelukannya dan mengelus pundaknya.

"Kenapa Ni ? Kok lo nangis ? Cerita sama gue"

Kania masih terisak. Amira berusaha menenangkan sahabatnya itu.

"Zafa lagi ya ?"

Kania mengangguk.

"Dia mau pergi ke Amsterdam. Hiks hiks. Gue nggak kuat ditinggalin Mirr, gue nggak kuatt"
Kania kembali menangis hingga membuat baju seragamnya basah.

"Iya iya. Emang dia kapan mau ke sananya ?"

"Hari ini. Hiks"

"Udah cup cup. Udah gede lu malu maluin gue dehh"

"Ihh, namanya juga sayang, kalo ditinggal ya sedih. Huaaaaa" sekarang tangis Kania malah semakin menjadi jadi, bahkan beberapa siswa yang berada didalam kelas sampai keluar karena jeritan Kania.

Amira sebenarnya juga sedih, ia menangis. Tapi tangisannya hanya dipendam. Dalam, dan sakit.

....

Pukul empat sore merupakan jam padat bagi Bandara Adiaksa.

Zafa duduk dikursi tunggu, sebentar lagi ia harus take off karena pesawat yang akan menerbangkannya ketujuan sudah standby di Bandara.

Ia menggenggam sepucuk surat yang entah untuk siapa.

Setelah mendapat pengumuman keberangkatan, Zafa segera berpamitan pada kedua orang tuanya dan menuju kabin pesawat.

Ya, hanya kedua orang tuanya. Kania tidak datang ke Bandara. Seharian penuh sejak pulang dari sekolah ia mengurung dirinya dikamar sambil menangis.

"Zafa" seseorang berlarian mendekati rombongan yang mengantarkan Zafa.

Zafa yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh.

"Lo ngapain di sini?" Zafa menatap Amira yang masih terengah engah.
Amira masih mengenakan seragam sekolahnya.

"Gue mau tanya satu hal sebelum lo pergi dan nggak balik kesini lagi"

"Apa ?"

"Kenapa lo selalu dingin sama gue ?"

Hening. Seakan semua suara lalu lalang di Bandara layaknya angin yang tak berani bersuara.

Zafa mematung dan Amira masih berusaha mengatur nafasnya.

....

Amira masih berdiam diri dikamarnya. Ia memikirkan jawaban Zafa dibandara tadi.

*flashback on

Zafa masih diam begitupun Amira. Mereka berada diatmosfer yang benar benar ganjil.

Zafa mengatakan sesuatu pada petugas pesawat, kemudian ia berjalan mendekati Amira. Ya, semakin dekat.

Dan

Jantung Amira seakan dipompa ribuan nuklir. Rasanya sangat panas hingga keseluruh tubuh.
Zafa memeluknya erat sekali. Amira tidak bisa berkutik, ia mati rasa.

"Mir" suara Zafa terdengar lembut, sama persis dengan suara Zafa yang sering Amira dengar dulu.

"Jangan pernah benci diri lo karena gue. Cukup gue aja yang nyesel karna ngrusak persahabatan kita dan ngehancurin lo"

Zafa melepas pelukannya. Rasanya berat, tapi Amira tidak boleh egois.

*falshback off

Berulang kali Amira mencoba menghapus ingatannya tentang kejadian tadi, tapi menghapus kenangan semanis itu bukanlah hal mudah.

Ia mencari sesuatu di nakas, sebuah album foto.

Ini album foto persahabatannya dengan Kania dan Zafa sejak mereka saling mengenal di TK.

Amira tertawa kecil mengamati foto Kania yang sedang digendong Zafa dan dirinya mengganggu mereka dari belakang. Semuanya masih menyenangkan waktu itu.

Ia membuka lembaran lembaran berikutnya.

Foto waktu SMA. Ya, mereka bertiga satu sekolah sejak TK, bahkan SMP dan SMA pun mereka masih bersama sama, walau kadang berbeda kelas.

Karis mengamati fotonya yang sedang duduk berdua dengan Zafa. Ini beberapa hari setelah mereka MOS.

Saat itu Kania mendapat kado ulang tahun kamera dari Zafa. Dan seketika itu juga, Kania meminta Zafa dan Amira untuk menjadi modelnya.

Amira tertawa geli ketika mengingat candaan Zafa padanya dulu.

Zafa selalu bilang jika ia menyukai Amira, tapi ia ingin menjadikan Kania sebagai pacarnya, karena tidak mau Kania jomblo seperti Amira.

Rasa rasanya candaan itu sangat menyenangkan. Tapi setelah itu benar benar terjadi, ternyata lebih menyakitkan dari yang mereka bertiga bayangkan.

Zafa pernah menyatakan cintanya pada Amira, tapi Amira tau ia tidak mau kehilangan persahabatan mereka hanya karena cinta. Sejak itulah Zafa berubah.

Beberapa hari setelahnya, Kania memberitahu Amira bahwa ia sudah jadian dengan Zafa.

Pelupuk mata Amira terasa basah. Ya sudah tentu, karena ia sekarang sedang menangis.

Ia kembali membuka lembaran lembaran foto yang bahkan sudah lama tidak terisi lagi.

Dihalaman terakhir, ada sebuah coretan.

Itu tulisan tangan Zafa, sehari sebelum ia menembak Amira.

"Kita adalah remaja. Kita ingin semuanya. Memiliki semuanya. Tapi tiba tiba saja kita sadar bahwa kita egois. Karna segalanya belum tentu mau kita miliki"

Tertanda, sahabat paling sulit dilupakan
Zafa


Dan sekarang, coretan itu terbukti. Mereka terpecah belah dan menjadi sangat berantakan seperti sekarang hanya karena egoisme mereka sendiri.

Karis menghapus pipinya dari air mata.

Ia menutup buku itu dan membuka sebuah surat yang tadi sempat Zafa berikan padanya di Bandara.

22 Februari 2018

Mir, gue tau lo pasti lagi dikamar sambil nangis. Gue jahat, gue tau.

Gue dingin selama ini bukan karena gue benci atau marah sama lo.

Lo inget album foto kita bertiga ? Jangan bilang udah lo buang

'Kagak. Bego' batin Amira.

Gue pernah bilang ke elo kalo gue suka sama lo tapi gue bakal pacarin Kania. Dan gue udah laksanain itu semua.

Jujur gue capek pura pura cuek dan dingin sama lo. Gue udah bilang sama Kania buat jangan cinta sama gue, dan dia udah janji diawal.

Tapi ternyata dia malah suka beneran.

Gue nggak bisa ngehancurin persahabatan kita yang udah terlalu gue anggep kaya keluarga.

Gue nggak bisa balik lagi ke elo karna gue nggak mungkin ngelukain Kania. Gue udah sayangin dia kaya adek gue sendiri.

Gue nggak tau gimana cara mengakhiri ini semua. Drama ini udah berlangsung tiga tahun, dan tiga tahun juga gue nyakitin lo. Dan gue nggak bisa bayangin Sebetapa sakitnya lo nahan ini semua.

Gue sadar gue brengsek.

'iya, lo emang brengsek Zaf. Dan gue nggak bisa benci sama lo' Karis menyeka air matanya yang mengganggu pandangan.

Lo boleh dan berhak untuk benci gue Mir.

Maaf karna gue udah bungkam selama tiga taun tanpa ngasih tau lo apa apa.

Dan pertanyaan lo yang kemaren di gerbang.

Karna gue nggak kuat denger suara lo.

Karna gue nggak kuat liat lo yang selalu bikin gue jatuh hati sekaligus merasa bersalah.

Karna gue nggak bisa jadi orang baik buat lo.

Maka dari itu gue pergi. Gue harap ini bisa jadi akhir buat penderitaan lo Mir.

Satu hal, gue sayang sama lo

Salam maaf
Zafa

Karis memeluk buku albumnya kuat kuat. Ia menangis sejadi jadinya malam itu.

Dimalam itu ia tau semuanya. Rahasia dari rasa sakitnya selama ini, yaitu alasan dari sikap Zafa yang selalu dingin padanya.

Disaat yang sama, ia kehilangan semuanya.

Zafa, dan mungkin besok akan Kania.

Amira membenamkan tubuhnya kekasur. Dan entah kenapa malam ini terasa begitu panjang. Dan sakit.

🍁 The end 🍁

Hi hi guyss!!!
Ini cerpen pertama Daku,
Gimana nih ?.
Seru nggak ??
Nggantung banget ya ceritanya ??

Doaian aja yaa, semoga cerpen ke-2 nya segera terbit.
Soalnya rencananya ini bakal jadi cerpen bersambung guys. Jadi tunggu aja yaaa

👧👨💞💞

Jangan lupa vote and comment 😘

Continue Reading

You'll Also Like

18.1M 1.6M 53
[Part Lengkap] [FOLLOW SEBELUM MEMBACA] [Reinkarnasi #01] Aurellia mati dibunuh oleh Dion, cowok yang ia cintai karena mencoba menabrak Jihan, cewek...
11.2M 701K 29
Mari follow terlebih dahulu 💋 *** Leyla termangu sesaat. Sebuah pistol di todongkan tepat di keningnya. "Masih mau bermain-main, hm?" Yang di tanya...
33.9K 4.6K 101
Lee Donghyuck tidak pernah bermimpi menjadi idol. Ia mengikuti audisi hanya karena keadaan, tanpa ekspektasi apa pun. Namun, takdir membawanya di tr...
17.8M 1.1M 74
Dijodohkan dengan Most Wanted yang notabenenya ketua geng motor disekolah? - Jadilah pembaca yang bijak. Hargai karya penulis dengan Follow semua sos...
Wattpad App - Unlock exclusive features