Seluruh pengisi acara hari itu mengisi panggung untuk last stage, dan tiga orang MC Inkigayo yang terdiri dari Han Seungyeon, Kim Minseok dan Twice Jungyeon itu mulai membacakan perhitungan total point untuk minggu ini.
"Blackpink ㅡ Whistle!!!"
Empat orang member Blackpink terperangah, saat itu lagu mereka yang berjudul Whistle menggema memenuhi studio. Mereka gagal menyembunyikan keterkejutannya, maknae Line saling berpelukan dan Jennie bahkan menangis.
Bukan hanya mereka, beberapa pengisi acara lainnya pun tampak terkejut, meskipun kemenangan pertama Blackpink ini dinilai wajar karena debutnya grup ini pun telah mencetak hits yang luar biasa mengagumkan. Dijuluki rookie monster, debut mereka menjadi debut impian nyaris seluruh trainee maupun grup di Korea Selatan.
Lisa tersenyum penuh rasa bangga, tangannya meraih thropy yang mereka dapatkan, mengangkatnya ke arah fans agar mereka dapat turut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Saat itulah, manik Bambi sang gadis menangkap binar tak percaya dari seorang pria yang berdiri di barisan belakang penggemar.
'Kau mau tahu? Karena kau dan aku sekarang berada di level yang berbeda'
Ingatan itu merasuk kedalam jiwanya, seperti semerbak lily yang terbawa hembusan angin musim gugur. Datang secara tiba-tiba, berputar di dalam benaknya, dan memberikan rasa dingin yang meremat jantungnya kuat. Lisa menggigit bibirnya, setitik rasa sakit itu kembali menghujam jantungnya.
Seringai pongah sang gadis tercetak tanpa terduga, sekalipun ada kesedihan mendalam yang tercermin dalam pancaran manik bambinya. Tangannya gemetar, mengangkat tinggi thropy yang mereka dapatkan. Berusaha tetap kuat, seolah mengejek saat obsidian pemuda itu bertemu pandang dengan manik Lisa.
.
Langkah sepasang tungkai beradu cepat membelah koridor panjang. Saat pintunya terbuka, ia melempar asal sepatunya, tak mengindahkan sepatu penghuni lain yang menjadi berantakan karenanya. Ten melangkah kuat-kuat, membanting pintu kamarnya dan langsung melompat penuh ke atas kasur.
Bayang-bayang Lisa saat gadis itu menyeringai padanya dari atas panggung tadi memenuhi kepalanya, Ten memejamkan maniknya frustasi. Sialan, bagaimana mungkin Lisa yang dikenalnya bisa berubah menjadi sosok yang begitu berbeda?
Tiba-tiba obsidiannya terbuka, saat itu jemarinya segera meraih iPhone X dari sakunya. Mencoba mencari tahu sesuatu, Ten mengetikkan keyword 'Blackpink' pada laman pencarian Naver. Detik itu, Ten baru menyadarinya. Informasi yang diterima pemuda itu terlalu banyak, menjabarkan semengerikan apa prestasi dan popularitas yang dicapai Blackpink dari debutnya.
'Debut Girl Group tersukses'
'Menjadi trending #1 hingga #15, Blackpink kuasai Naver Realtime Search'
'Girlgroup pertama yang meraih Perfect All-Kill dengan debut song'
'Raih Perfect All-Kill, Certified All-Kill, trend #1 Realtime Search, Blackpink sandang title rookie monster'
'Debut dengan Square One, Blackpink puncaki #1 Worlwide iTunes Chart'
'Debut di Billboard, Blackpink dijuluki group dengan debut paling bersejarah'
Dan yang lebih mengejutkan, video musik Blackpink telah meraup jutaan viewers dalam waktu singkat. Entah karena begitu banyak informasi yang baru diterimanya atau apa, jemari Ten gemetar hingga ponsel yang berada dalam genggamannya jatuh ke atas kasur.
'Tak bisakah kau melihat kita sekarang? Aku, dan dirimu. Kita berada di dunia yang berbeda'
Sekelebat bayangan akan perkataannya yang lalu melintasi benak Ten, ia terpaku disana.
'Aku sudah mengepakkan sayapku, sementara kau masih disana. Merayap di atas tanah, mendongak dengan susah payah, melihatku terbang mengelilingi langit. Menurutmu apa kita masih bisa bersama?'
Apa... Itu...? Aku... Sungguh mengatakan hal itu pada Lisa...?
'Bahkan dunia pun takkan bisa menyatukan kita, karena kita terlalu berbeda'
Kalimat demi kalimat yang sebelumnya ia katakan pada gadis itu menghantam kepalanya seperti boomerang yang telah menanti untuk kembali, membuat Ten menggeram kesal sembari meremat surainya frustasi.
Senyum itu tercetak samar, diantara celah pintu yang terbuka. Ice gaze yang mengintai dengan tatapan puas yang berbahaya, mengamati dengan jelas bagaimana kacaunya sosok pemuda Thailand yang kini menenggelamkan tubuhnya di atas kasur.
Sudah sepatutnya kau merasa menyesal... Ten...
Dan sosok itu menghilang dibalik pintu, menutupnya perlahan tanpa suara.
♠lucid♠
"24... 365..."
Alunan musik milik Blackpink ㅡ Whistle menggema, menemani hiruk pikuk pengunjung salah satu Departement Store terkemuka di kawasan Hongdae tersebut.
Seorang gadis membawa kakinya dengan langkah santai, menyusuri lusinan baju yang menggantung Indah sejauh mata memandang. Seiring dengan langkah riangnya, bibir hati sang gadis ikut melantunkan bait demi bait lirik lagu yang menggema.
Lisa tersenyum puas dibalik masker hitamnya, merasa begitu bersyukur dan diberkati. Lagu-lagu mereka dimainkan di department store, dan orang-orang dijalan bahkan ikut menyanyikan lagu mereka. Ini benar-benar sebuah kebanggaan untuknya pribadi, membuat mood sang gadis naik ke tahap maksimal untuk berbelanja hari itu.
Permata bambinya menyapa sekitar, menikmati waktunya sekalipun ada sosok sang manager yang mengawasi Lisa dari jarak dua meter dibelakangnya. Siang ini suasana mall menjadi lebih ramai, sepertinya ada fansign event yang diadakan oleh grup idola populer.
Ia menghela nafas, seketika terbesit rasa iri dalam dirinya. Mungkin. Debut Blackpink memang mencetak hits yang cukup besar, mungkin lagu mereka menjadi popular diseluruh penjuru negeri. Namun mereka belum memiliki album fisik, sehingga mencicipi rasa fansign pun belum pernah mereka rasakan.
Tiba-tiba terdengar suara erangan dari balik punggungnya, Lisa mengernyit, itu managernya yang sedang mengaduh pelan. Sang artist segera menghampirinya, saat erangan si manajer semakin menjadi-jadi. Untunglah erangannya tak cukup kencang untuk menarik perhatian orang-orang.
"Oppa wae? Apa maag mu kambuh?"
"Kurasa... Ugh... Aku akan kembali ke mobil... Untuk mengambil obat ugh... Jangan buat masalah... Akㅡugh...pergi dulu!"
Sebenarnya Lisa ingin menawarkan untuk mengambilkannya obat, namun managernya langsung pergi begitu saja. Yah... Biarlah, mungkin ia juga butuh sedikit waktu untuk istirahat di mobil.
Gadis itu menghela nafas. Menunggu sambil berdiam diri bukanlah keahlian Lisa, jadi sepasang tungkai jenjang yang dibalut ripped jeans selutut membawa si gadis menuju tepian pagar pembatas lantai dua ㅡmenyaksikan keriuhan fansign di aula utama lantai satu mall tersebut.
Oh.. Pantas saja ramai, rupanya ini fansign NCT U.
Ia hanya mengamati semuanya, bagaimana teriakan fans memecah kata para member yang sedang berbicara dengan mikrofon. Lisa hanya berdiam diri disana, melihat bagaimana para member melakukan kontak dengan para penggemar. Ia masih bergeming menatap barisan fans yang menanti untuk mendapatkan fanservice dari para member NCT U tersebut.
Hingga Ten mengambil alih mikrofon, pemuda itu mulai berkomunikasi dengan fans. Ia melakukan beberapa percakapan, melontarkan kalimat-kalimat lucu yang membuat fans tertawa. Sampai saat si pemuda menyapa pengunjung mall yang lain, yang menghuni lantai satu, dua dan tiga.
Lisa menghela nafas, merasa begitu bodoh saat ini. Bagaimana mungkin setelah semua ini, ia masih memiliki perasaan pada pemuda itu. Meskipun kebencian lebih mendominasi dalam hatinya, Lisa sadar benar perasaan mendalamnya terhadap Ten lah yang membuat ia menjadi begitu membenci pemuda itu.
Bukan sebulan dua bulan, sudah bertahun-tahun waktu yang dilalui keduanya bersama. Dan mungkin saja, mungkin karena perasaan Cinta yang terlalu besar itulah yang membuat kebencian menumpuk dalam hatinya, meninggalkan luka yang terlalu dalan akibat perlakuannya.
'Kau harus tahu, sejak awal kehadiranmu disini adalah sebuah kekacauan. Kau melampaui batas'
Ah... Kalimat yang pernah Ten ucapkan datang kembali seperti sebuah belati yang melesat tajam. Menampar dan mencemoohnya seperti dirinya adalah pecundang dunia. Rasanya, tiap kali mengingat Ten hanya ada rasa sakit dan kesedihan yang menyertainya.
Tiba-tiba nafasnya sesak, ia melonggarkan sedikit maskernya. Membiarkan pernafasannya dapat berfungsi dengan baik, menghirup udara tanpa terhalang apapun. Maniknya bergulir, detik itu pupilnya melebar kala tanpa sengaja permata sang gadis bersinggungan dengan iris doe pemuda di bawah sana.
Ia tertegun, gadis itu disana. Menatapnya lurus dengan sorot mata dingin yang kentara, jemari lentik itu menarik kembali masker hitamnya guna menutupi paras sang gadis. Seberkas perasaan lama yang tak asing merayapi kembali relung hatinya, membuat obsidian pemuda Thailand memancarkan setitik harapan.
Dengan ekspresi bahagia yang kentara, keraguan Ten lenyap tak bersisa. Senyuman tipis yang sekian lama tak pernah dilihatnya terulas penuh, terlukis hangat tanpa keraguan. Dengan manik berbinar penuh rasa, tertuju pada gadis Thailand yang berdiri di ambang pembatas lantai dua.
Lalisa Manoban
Namun segalanya terasa seperti sebuah pukulan keras saat sang gadis mendengus dan berbalik arah, berlalu pergi meninggalkan kekecewaan yang kentara dimata Ten. Terlalu terkejut, itu Lisa-nya, gadis yang berlalu pergi tanpa mengacuhkannya sedikitpun.
Ini... Mustahil 'kan?
.
.
.
♠
.
Tbc
.
♠
.
.
.
Cukup singkat ya, chapter ini 😅
Marathon ngerjain yang lain, jangan lupa voment nya guys!
©royalistdreamers
💜💛lucid💜💛