Mahabbah (Revisi)

Nass_nsrh tarafından

4K 271 15

Darimu aku belajar satu hal, yaitu cinta. "Jika Rabi'ah Adawiyah dimasa lalu, menghabiskan hidupnya untuk ber... Daha Fazla

Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20

Part 15

65 8 0
Nass_nsrh tarafından

Sudah tiga bulan lamanya Rabi'ah tinggal dipesantren. Ia sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan mudah bergaul dengan santriwati lainnya yang juga mondok di Al-Kuddus ini.

Dan selama itu pula ia selalu teringat dengan ibunya. Ia sangat merindukannya. Bagaimana keadaan ibunya saat ini? Baik-baik sajakah? Dan keadaan Albert dan Evelyn bagaimana? Apakah mereka makan dengan kenyang? Rasanya Rabi'ah ingin pulang bertemu ibunya dan ingin melihat keadaan kambing-kambingnya. Tapi rasanya tidak memungkinkan. Sebenarnya jarak dari rumahnya kepesantren tidaklah jauh tapi peraturan disini tidak boleh asal sembarang keluar masuk peasantren semuanya harus meminta izin dahulu.

Hari ini adalah piket Rabi'ah membatu memasak untuk makan siang. Sebenarnya Rabi'ah tidak bisa memasak, ia hanya bantu-bantu sedikit sembari belajar. Waktu dirumah pun ibunya yang selalu memasak, ia hanya tahu makan saja. Tapi semenjak hidup di pesantren ia sudah belajar banyak hal. Bahkan sekarang Rabi'ah sudah bisa menanak nasi, kemajuan yang baik.

"Rabi'ah!" Panggil Nur.

Saat ini Rabi'ah piket bersama beberapa santri termasuk Fatimah dan Nur.

"Iya teh Nur, ada apa?" Jawab Rabi'ah dan berjalan menghampiri Nur.

"Tolong ambilkan sayur-sayuran yang ada didepan."

Kegiatan masak-memasak ini dilakukan didapur yang sudah disediakan, letak dapur ini dibelakang rumah ustadzah Aisyah tepatnya dipinggir dapur miliki beliau. Untuk memudahkan saat mengambil bahan makan, maka para santri akan meletakannya didepan rumah ustadzah Aisyah dan saat sudah pergi barulah diambil oleh santriwati, agar mengurangi interaksi lawan jenis.

"Iya teh aku ambilin." Rabi'ah bergegas menuju kedepan.

Rabi'ah sudah hafal dengan ruangan-rungan yang ada dirumah ustdzah Aisyah ini, karena memang sudah menjadi tugasnya saat mangambil bahan makanan seperti ini.

Rabi'ah membuka pintu, nampaklah sekeranjang besar sayur-sayuran dan sebuah karung kecil yang Rabi'ah yakini isinya adalah ikan. Ia membawa ikannya terlebih dahulu karena jika ia membawa keranjang terlebih dahulu maka saat keluar ikan-ikan itu akan sudah habis dimakan kucing.

Setelah menaruh ikannya, Rabi'ah kembali mengambil sayur-sayuran dan kembali masuk menuju dapur. Saat itu Rabi'ah tidak sadar jika ada seorang santri yang tengah mengamatinya dari damping kiri rumah Ustadzah Aisyah.

***

"Nah udah selesai. Ayo kita bawa keaula," ucap Fatimah, ia bangkit berdiri dan memisahkan makanan yang akan dibawa keaula dan yang akan tetap ditinggal disini untuk para santri. Nanti setelah santriwati keluar barulah beberapa santri akan masuk dan membawa makanan yang sudah dipisahkan.

"Rabi'ah! Kamu bawa sayur yang dibak ini yah, Ana kamu bawa sambalnya, kalau kamu," Fatimah terlihat mengingat-ngingat sesuatu," nama kamu siapa? teteh lupa." Fatimah menunjuk salah seorang santriwati, rupanya dia adalah anak baru.

"Nama aku Aini teh," jawabnya.

"Oh iya Aini, maaf teteh lupa. Kalau kamu bawa ikan gorengnya yah." Fatimah nampak tersenyum malu.

"Naah sisanya beresin aula dan mempersiapkan semua keperluannya. Biar nasi teteh sama teh Nur yang bawa."

Beberapa santriwati yang tidak mendapat tugas membawa, keluar lebih dahulu hendak membereskan aula.

"Eh tunggu dulu, kalau udah selesai beresinnya nanti salah satu dari kalian kesini untuk memberitahu kami," tambah Nur.

Setelah mengatur semuanya Fatimah dan Nur membereskan sisa kegiatan memasak tadi dibantu dengan santriwati yang tersisa.

Tidak beberapa lama setelah itu, Eha datang, "teh sudah siap aulanya," ucapnya.

"Ya udah kalau gitu dibawa semuanya keaula."

Satu persatu santiwati yang mendapat tugas bergantian keluar dengan membawa lauk pauk. Rabi'ah berjalan didepan Fatimah dan Nur yang membawa sebakul nasi.

Setelah sampai diaula Fatimah membagi nasi dinampan-nampan kecil, dan nur membagi ikan dan sambalnya, sedangkan Rabi'ah, ia mendapat tugas membagi sayurnya.

Setiap nampan untuk tiga orang santriwati. Ini adalah kegiatan yang sangat khas dipesantren. Kegiatan seperti inilah yang nanti akan dirindukan.

Semua santirwati makan dengan khidmat, meski hanya menu biasa tapi semuanya terlihat menikmati. Kebersamaan inilah yang membuat kesederhanaan menjadi hal yang tidak terlupakan.

Setelah semua selesai makan, santriwati yang piket mendapat tugas lagi untuk mencuci nampan dan membereskan aula.

Rabi'ah, Aini, dan Eha mengumpulkan nampan-nampan yeng berserakan. Fatimah dan Nur mengangkut nampan-nampan yang kotor kebelakan hendak dicuci. Ana dan beberapa santriwati lainnya diberikan tugas menyapu dan mengepel aula.

"Aini! Rabi'ah! Ayo kita bawa sisa nampannya ke teh Fat dan teh Nur." Rabi'ah dan Aini mengikuti Eha.

"Teh ditaro disini aja yah?" Tanya Rabi'ah setelah sampai.

"Iya udah ditaro disini aja, oh iya Aini! Eha! kalian ngepel dapur yah biar Rabi'ah disini membantu kami," ucap Fatimah.

"Iya teh," jawab Eha.

Eha dan Aini berlalu kedapur.

Rabi'ah membatu Fatimah dan Nur mencuci nampan dan peralatan dapur lainnya yang kotor. Namun ia sangat Risih karena ada seseorang yang mencuri padang kearahnya.

Disumur seberang sana ada beberapa santri yang juga sedang mencuci nampan sama dengan yang dilakukan mereka bertiga. Namun salah satu dari mereka ada yang terus menerus memandangi Rabi'ah, Nur, dan Fatimah. Membuat Rabi'ah merasa tidak nyaman.

"Teh Fat!" Panggil Rabi'ah.

"Hmm." Fatimah hanya bergumam menyahuti panggilan Rabi'ah.

"Teh itu orang siapa sih, dari tadi ngelihatin kita terus," tunjuk Rabi'ah pada beberapa santri diseberang dengan isyarat matanya.

Fatimah mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk Rabi'ah, "yang mana?"

"Yang pake sarung biru itu lho teh. Aku ngerasa nggak nyaman dilihatin terus sama dia," adu Rabi'ah, awalnya ia tidak menyadari jika ada yang memperhatikan mereka namun saat Rabi'ah sedang menimba air barulah ia menyadarinya.

"Oh itu, udah biarin aja nggak usah ditanggepin."

"Ya deh."

Rabi'ah membawa nampan-nampan bersih itu kedapur dan menumpukkannya ke rak yang memang dikhususkan untuk nampan. Usai menumpuk semua nampan Rabi'ah duduk dikursi dipinggir rak.

"Aini udah selesai ngepelnya?" Tanya Fatimah saat masuk dengan membawa sisa nampan dan beberapa peralatan dapur.

"Udah teh."

"Terus Eha mana?" Tanya Fatimah seraya menyusun nampan dirak.

"Lagi naro pelan teh."

Rabi'ah menyaksikan interaksi mereka berdua tidak berminat untuk ikut menimbrung atau pun sekedar bertanya. Ia masih kepikiran tentang orang yang sedari tadi memperhatikannya. Orang itu seperti tidak asing tapi Rabi'ah tidak ingat pernah bertemu dimana? Ia memiliki firasat tidak baik tentang orang tadi.

"Yu Rabi'ah!" Ajak Fatimah.

"Iya teh." Rabi'ah bangkit dari duduknya lalu berjalan mengikuti Fatimah meninggalkan Aini yang tengah menunggu Eha.

Tidak ada dari mereka yang membuka obrolan, keduanya sama-sama diam.

"Teh Nur mana?" Tanya Rabi'ah membuka obrolan.

Rasanya tidak nyaman saat berjalan bersama orang lain jika diam saja.

"Udah duluan kekamar."

Rabi'ah hanya ber-oh ria.

"Kamu kenapa?" Mungkin wajah Rabi'ah yang terlihat gelisah menimbulkan tanda tanya dibenak Fatimah.

"Nggak kenapa-kenapa sih, cuman masih kepikiran orang yang tadi liatin kita." Rabi'ah mengelurakan unek-unek yang mengganggunya.

Fatimah tersenyum, " nggak usah terlalu difikirin, biarin aja."

"Tapi aku punya firasat nggak baik tentang orang tadi."

"Ssstt, nggak boleh seudzon sama orang lain," nasehat Fatimah.

"Tapi teh. Ahh ya sudah lah." Benar yang dikatakan Fatimah jangan seudzon pada orang lain.

***

Okumaya devam et

Bunları da Beğeneceksin

433K 15.4K 10
Wang yibo dipaksa menikah dengan remaja tanggung yg usianya terpaut 12 tahun darinya.demi menuruti desakan sang ayah yg tengah sakit. akankah hubunga...
20.3K 655 16
Angin yg berhembus lembut di pipi disertai dengan suara adzan subuh yg telah berkumandang yg membuatku terbangun dari tidurku dan langsung bersiap...
117K 8.3K 21
xiao zhan adalah laki-laki beristri yg di hianati oleh istrinya. akankah xiao Zhan bertahan atau malah sebaliknya, xiao zhan memilih berpisah. penasa...
Wattpad Uygulaması - Özel özelliklerin kilidini açın