"They are around you,"
***
Aku membuka mataku dan mulai mengerjap ngerjapkannya. Mencoba sadar sepenuhnya namun masih terasa sangat mengantuk. Mataku memaksa untuk tertutup kembali.
Sedari tadi aku hanya berguling guling diatas kasur empuk milikku. Terkadang duduk sejenak lalu kembali tertidur.
Mengusap usap rambutku harap harap rasa kantukku hilang. Kembali terduduk dan memandang sekitar kamarku. Menghembuskan nafas dengan sangat kasar.
Lalu tubuhku lagi lagi terjatuh diatas kasur. Menyingkirkan selimut dari tubuhku dan tanpa sengaja akan kembali tertidur kembali. Ntah mengapa saat ini diriku merasa panas.
Padahal semalam AC kamarku sudah aku ubah menjadi 16 derajat. Kurasa itu seharusnya sudah sangat dingin. Bahkan menggigil.
Tok tok...
Tak lama kemudian, keadaan sepi yang membungkus sekitarku telah dihancurkan oleh sebuah ketukan dipintu.
Itu pastinya bukanlah mama ataupun papa. Papa sudah ku pastikan telah berangkat kerja, begitu juga mama yang sedang sibuk dengan pasiennya.
Aku sudah terbiasa pagi pagi ditinggal dan berangkat sekolah sendiri. Namun mama sudah menyiapkan beberapa masakan yang biasaku temukan didapur rumahku.
Walau begitu aku tak sendiri,
Tok tok...
Ketukan itu kembali terdengar oleh telingaku. Dengan mata masih tertutup, aku menutup telingaku dengan guling dan tak memedulikan ketukan payah itu.
Tok tok...
Kebisingan itu mengganggu tidur lanjutku. Aku mohon 10 menit saja untuk memuaskan rasa kantuk didalam mataku ini. Setidaknya jangan mengganggu tidurku.
Tok tok...
Berfikirlah logis, bagaimana jika dirimu diganggu saat kau merasa sangat malas dan capek? Untung saja dikamar ini tak ada pistol, jika ada aku sudah membolongi pintu kamarku.
Tok tok...
Bersumpahlah agar menjauh saat singa ini telah terbangun. Membangunkanku sama dengan membangunkan raja hutan dan kau akan mendapat masalah.
Tok tok...
Kali ini aku menyerah dengan kebodohan dunia ini. Aku memalingkan wajahku dan melihat kearah pintu. Aku mendengus kesal.
Kembali terduduk dan kali ini pasti tak akan tertidur kembali. Menatap datar dan bisa bisa memancarkan laser merah.
"Hm??"
Nyatanya ia tidak berada diluar melainkan sudah berada didalam dan sempat membuatku jantungan. Sedari tadi ia mengetok pintuku dari dalam.
Yang aku lihat adalah sebuah wajah imut pucat yang selalu aku lihat setiap harinya. Ia melontarkan senyum padaku.
Aku juga balik memberi ia senyuman pertamaku pagi hari ini.
"Ada apa?"
"Bangun,"
Fira, adik kecilku yang slalu menjadi alarm bagiku. Mengganggu tidurku adalah kebiasaan yang paling aku benci darinya.
Mau tak mau aku harus bangun dan bergegas mempersiapkan untuk hari ini. Aku beranjak dan membuka selot kamarku dan berlalu keluar.
Fira juga mengikutiku dengan boneka beruang hadiah dariku saat ulang tahun terakhirnya dulu. Ia masih menyimpannya namun sudah kusam.
Aku menuruni tangga dan masih terselimuti oleh rasa kantuk. Mengambil beberapa sendokan nasi dan juga beberapa lauk. Jus jeruk juga telah tersedia rapi disebuah cangkir besar.
Duduk dimeja makan bersama 'dia' disampingku. Memerhatikanku memakan suap demi suap yang masuk kemulutku. Mengunyahnya tanpa memedulikan sekitar.
Kini piringku telah bersih walaupun ada beberapa butir nasi yang masih menetap. Meneguk jus jeruk yang sedari tadi berdiri tegap disamping piring.
Mataku lambat laun kembali tertutup kembali. Masih berada dimeja makan dengan piring yang belum aku kembalikan.
Melamun malas. Malas untuk hari ini. Hari dimana aku harus kembali ke lab praktikum untuk melakukan beberapa praktek payah yang sama sekali aku tak tertarik.
"Bangun,"
Fira mencoba membangunkan diriku kembali. Aku menggeleng. Ia mendekatkan tubuh sekaligus wajahnya kepadaku. Menatapku sinis dan dengan lekatnya. Lama kelamaan aku melihat ia takut.
Baiklah aku akan mandi,
Mengambil baju didalam lemariku dan juga handuk biru yang biasa kupakai. Aku masuk kedalam kamar mandi dan melihat diriku terpantul dicermin.
Pintu telah aku kunci untuk berjaga bila seseorang tetangga atau siapapun itu tiba tiba masuk saat aku mandi. Aku ingin melepas bajuku. Saat sampai diatas dadaku, aku melihat 'dia' menatapku datar.
Tak dapat kulihat dicermin namun aku dapat melihatnya dari ekor mataku. Aku mendengus dan menggertakan gigi.
"Ini privasi dari seorang lelaki,"
Ia menyeringai,
"Aku tau, maaf,"
Maaf? Sejak kapan ia bisa mengatakan hal itu? Erin yang kukenal adalah Erin yang slalu saja mengganggu hidupku dengan kenakalannya. Tak ada kata maaf didalam kamus miliknya.
Dalam sekejap aku tak melihatnya lagi. Aku memastikan keadaan sekitar. Memang kosong, tapi mungkin ia akan kembali.
"Berjanjilah agar tidak masuk!"
-
-
-
Aku berjalan kaki menuju sekolah. Dari pada menggunakan sepeda aku lebih memilih berjalan kaki. Hitung hitung olahraga. Lagi pula jarak antara sekolahanku dengan rumah tak terlalu jauh.
Aku menikmati udara sejuk pagi ini. Mungkin nanti siang akan dipenuhi oleh polusi dan tak sebersih pagi. Sudahlah, aku juga tak tau kapan 'mereka' sadar akan lingkungan.
Perjalanan seorang anak lelaki berumur 14 tahun tak berlalu sendiri. Disetiap jalannya, ia akan slalu ditemani oleh seseorang yang digadang gadang berhubungan sahabat.
Hubungan kami bermula saat pertemuan papa dengan rekan bisnis. Siapa sangka jika kami pada akhirnya akan satu sekolahan?
Kini ia berada disampingku, tak lupa dengan senyuman yang terpajang diwajah cantik yang aku selalu kagumi itu. Memakai seragam lengkap sama denganku.
"Bagaimana harimu?"
"Shakila, aku rindu,"
"lupakan semua,,, aku akan slalu disisi mu,"
Walau aku akan bersamanya dimanapun, kapanpun, apapun atau disetiap pagipun, aku akan sangat merindukan sahabatku ini. Memang ia bersamaku, namun ia tak bisa kugapai. Tak bisa kugenggam lagi seperti dahulu.
***
Sekarang disinilah aku berada. Disekolah yang menampung banyak kejadian yang kuanggap agak aneh dan pastinya seperti biasa, payah.
SPEMDALAS, Sma dimana aku dan Shakila biasa menuntut ilmu. Segala golak canda tawa selalu meramaikan sekolahan ini. Berbagai klub tersedia disini.
Aku memasuki kelasku yang berada dikelas X-2, kelas yang berada dalam naungan bu Dahliya. Guru paling mantav, baik namun jika sudah marah apapun bisa tunduk.
Teman teman sepermainanku menyapa dengan hangat dan kubalas dengan senyuman. Aku duduk dipojok kiri belakang. Tempat itu sudah kunobatkan menjadi tempat pribadi yang tak boleh siapapun mengubahnya.
Bangku sampingku kosong, memang kusengajakan kosong. Itu adalah tempat khusus Shakila. Hanya untuknya. Sedangkan bangku depanku diisi oleh Ardi, si ketua kelas tulen. Ia menduduki tempat itu untuk menjagaku.
Karena aku sering melakukan hal yang tak masuk akal,
⚫👑⚫
"selalu ingat, mereka ada disekitarmu. Mungkin dapat dilihat namun tak dapat digapai,"
⬜Voment⬜