[URBAN THRILLER] Chandra Bien...

By nourapublishing

22.2K 1.7K 89

Tiga mayat anak jalanan ditemukan tewas di kawasan Jatinegara. Ketiganya ditemukan tergantung di pinggir flyo... More

jangan sampai ketinggalan
Prolog
Bab 1
Bab 2
Bab 3
Bab 5
[[rehat sejenak]]
Bab 6
Bab 7
Bab 8
Bab 9
Bab 10
Bab 11
Bab 12

Bab 4

1K 103 10
By nourapublishing


Sudah berjam-jam lewat sejak Toko Roti Alwiya tutup, tapi satu lampu masih menyala. Di pojok bawah, di dapur, kesibukan tengah berlangsung bertubi-tubi di bawah cahaya putih delapan belas watt.

Memukul, meninju, memutar, menggelinding, membanting, memotong.

Madinah, pegawai tertua Alwiya, rupanya masih yang paling tangguh kalau berurusan dengan adonan roti. Tidak hanya kekuatan tangannya yang bisa menangani pembuatan roti berbagai tradisi dari segala penjuru dunia, tapi vitalitasnya secara keseluruhan membuat orang susah percaya usianya sudah di ambang enampuluh-an.

Andai sore tadi tak terjadi bencana, Madinah mungkin sudah bisa berbaring pulas saat ini. Gara-gara dia sakit kepala, dia menyerahkan pembuatan Roti Swiss untuk besok pada seorang pegawai yang masih muda. Rupanya si pegawai yang diberi mandat itu teledornya minta ampun, ditinggalkannya roti-roti berharga itu dalam oven sampai gosong. Setelah melalui drama penuh isak tangis dan cercaan, Madinah memutuskan untuk membereskan segalanya sendiri malam ini juga.

Bu Arumi, generasi ke-tiga pemilik Toko Roti Alwiya selalu penuh perhitungan dan disiplin. Tapi dia selalu lunak pada Madinah yang sudah mengabdi pada toko itu sejak zaman neneknya. Diberikannya Madinah sebuah kamar di pekarangan belakang, juga kunci toko. Dengan begitu Madinah tak perlu berjalan jauh untuk pergi kerja di usianya yang lanjut itu.

Siapa yang tidak kenal Mami Madinah dan roti-roti legendaris buatannya. Diam-diam dirinyalah yang lebih sering diasosiasikan dengan Toko Roti Alwiya dibandingkan Bu Arumi sendiri. Bahkan sempat ada desas-desus sebenarnya Madinah yang menciptakan resep-resep roti di situ. Berkali-kali warga berkata Madinah harusnya bisa buka toko roti sendiri kalau punya modal. Tapi Madinah loyal pada Alwiya dan para penerusnya.

Tangannya sudah penuh tepung, tapi pekerjaannya belum rampung. Wajah sampai lehernya berpeluh. Padahal baru saja hujan mengguyur. Memang sedang masa pancaroba, sekarang. Hujan tapi menyisa panas. Sebentar gersang, sebentar berangin. Namanya juga Jakarta. Madinah terkenang kampung halamannya, sebuah kota kecil di utara Yogyakarta.

Lalu kenangannya berubah menjadi sosok-sosok polisi berseragam yang beberapa hari lalu menyambangi toko. Tanya-tanya tidak jelas. Soal anak jalanan dan sebagainya. Mereka ingin tahu apakah ada yang pernah memberikan roti jualan untuk anak-anak jalanan. Tentu tidak. Mana berani pegawai memberikan roti jualan dengan cuma-cuma, kecuali Bu Arumi sendiri yang menghendakinya.

Madinah-lah yang selalu memberi roti pada anak-anak jalanan, tapi dia tak memberitahu polisi-polisi itu. Bukankah yang mereka tanyakan itu roti dalam kemasan? Madinah hanya memberikan roti-roti yang tidak dijual, alias yang sisa saat pembuatan atau yang hasilnya kurang bagus bentuknya. Roti-roti yang tidak masuk tahap pengemasan. Madinah memberikannya pada setiap anak jalanan yang berkeliaran di dekat toko. Kalau umur sudah tua, orang jadi makin tahu perlunya berbagi, orang jadi makin punya rasa kasihan. Lebih-lebih yang pernah mengalami penderitaan lahir-batin seperti Madinah.

Hidupnya semasa kecil tak pernah enak. Melihat anak-anak jalanan itu, dia..

Madinah tergugah dari lamunannya. Baru saja dia merasa mendengar bunyi berkerit yang samar. Seseorang membuka sebuah pintu, di suatu tempat. Jangan-jangan Bu Arumi jadi terbangun gara-gara mendengar suara berisik di dapur. Dia menghentikan pekerjaannya untuk memasang kuping. Kepalanya ditelengkan ke arah pintu dapur. Bukan. Langkah kakinya itu. Dia kenal Bu Arumi sejak masih bayi, dia tahu seperti apa majikannya itu berjalan. Suara langkah kaki yang kedengaran itu bukan milik Bu Arumi.

Tidak biasanya Madinah gugup. Tapi perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak tanpa dia sendiri tahu penyebabnya. Cepat-cepat dia mematikan lampu dapur. Dia menunggu dan mendengarkan dalam kegelapan.

Langkah kaki itu perlahan dan hati-hati menuruni anak tangga, kemudian berbelok. Madinah mengira pemilik langkah kaki itu akan menuju dapur, tapi kemudian didengarnya langkah itu berbelok sekali lagi, rupanya ke arah belakang. Sebuah pintu lagi dibuka. Dia menebak itu pintu gudang. Siapa yang mau ke gudang malam-malam begini?

Di sudut dapur dia bergeming, sampai akhirnya mendorong keberanian tubuhnya untuk mendekati pintu dapur. Pelan-pelan dia membuka pintu itu, mengintip lewat celahnya.

Orang yang baru turun itu ada di gudang, Madinah merasa pasti sekarang setelah dilihatnya pintu gudang benar-benar terbuka. Sebuah lubang hitam menganga ditambah sunyi membuatnya merinding. Lalu terdengar suara rusuh. Kedengarannya ada setumpuk barang yang berdebam jatuh. Jantung Madinah serasa naik-turun. Lebih mudah jika dia masuk saja ke gudang dan menegur orang itu, tapi timbul suatu keraguan yang mencegahnya. Bahaya, kata suara hatinya.

Bahaya apa?

Madinah percaya yang namanya suara hati. Maka dia tetap berada di balik pintu dapur itu. Penantiannya terbayar tak lama kemudian. Seseorang muncul dari mulut gudang yang hitam itu. Suami Bu Arumi, Pak Jodi.

Melihat orang yang dikenalnya dengan baik, Madinah harusnya lega. Tapi bisikan yang sama melarangnya untuk keluar dan menjumpai Pak Jodi. Diawasinya saja Pak Jodi yang berjalan acuh tak acuh ke arah toko. Dia memakai sandal jepit yang agak basah. Di bahunya yang besar melingkar segulung tali tambang. Mata Madinah turun ke tangan Pak Jodi yang membawa sebuah kantong kresek besar yang tampaknya berat. Apa di dalamnya? Madinah bertanya-tanya. Perasaan tidak tenang yang melandanya membuatnya semakin bingung.

Beberapa menit kemudian Madinah mendengar pintu depan toko dibuka lalu ditutup lagi menyusul kunci yang diputar. Dia melihat Pak Jodi lewat di depan jendela dapur, berjalan melintasi trotoar lalu menyeberang. Kepalanya celingukan ke sana sini. Sesaat ketika bulan yang keperakan muncul dari balik awan, Madinah menangkap seraut kecemasan yang mengerikan membayang di wajah Pak Jodi.

Belum juga Madinah mampu mengolah kejadian yang baru disaksikannya, dia mendengar ada suara pintu lagi. Lama-lama bisa gila dia akibat pintu-pintu sialan di ruko itu! Dia mengintip lagi dari celah pintu dapur. Terdengar lagi langkah kaki di ujung tangga. Kali ini dia yakin itu Bu Arumi. Meski begitu dia tak beranjak dari posisinya karena dia belum bisa menerka apa yang sedang terjadi di sekelilingnya, dan karena lagi-lagi hatinya berseru : Jangan!

Satu anak tangga berderak ketika Bu Arumi menginjaknya dengan kaki terbungkus sandal kamar. Rambutnya digelung asal-asalan di tengkuk. Piyamanya, selembar gaun tipis berwarna putih melambai seiring dia setapak demi setapak menuruni tangga. Dia tak menyadari kehadiran orang di dapur, melirik pun tidak. Tampaknya pikirannya sedang disibukkan oleh suatu hal. Dia berjalan melewati dapur sampai ke jendela toko. Dia berdiri saja di situ, memandang ke seberang jalan. Kedua matanya yang suram terpantul di kaca, demikian pula lingkar-lingkar hitam di kelopaknya.

Sebelah mata Madinah mencelik dari pintu dapur. Keheningan yang ganjil itu berdengung-dengung memusingkan di gendang telinganya. Dia bisa mendengar napas Bu Arumi merayap dengan berat. Dinding-dinding di sekeliling Madinah serasa berdenyut.

Tiba-tiba saja Madinah tak lagi mengenali majikannya.

Saat itu jam dinding tua di lorong berdentang dua kali. Jam dua dini hari.

*

Beratus-ratus meter jauhnya dari Madinah yang berdiri membeku tak berkutik, Kanti sedang terjaga bersama segelas kopi yang setengah penuh. Cat-cat kering menempel di siku juga ujung-ujung jarinya. Tepat pukul sepuluh malam tadi ada permintaan mendesak dari seorang klien agar dia membuat beberapa ilustrasi baru. Warnanya harus lebih mencerminkan karakter, tambah si klien di ujung telepon.

Kanti mengamati hasil kerjanya. Karakter, dia terkekeh dalam hati. Tapi di balik kecenderungannya memandang rendah orang-orang yang selera estetikanya "fantastis", dia tak pernah gagal memberi apa yang dimau klien-kliennya.

Angin menderu masuk, menerbangkan sekumpulan kertas yang sejak awal memang sudah berantakan di atas meja. Kanti tak berkeinginan menutup jendelanya. Jarang-jarang hujan turun. Sebuah kesempatan mengisi kamarnya dengan angin segar, menghela keluar udara pengap yang menyekap.

Seekor lalat memilih mengambil kesempatan itu untuk terbang masuk dan menghinggapi lipatan tirai. Dia berdengung beberapa detik lamanya lalu diam dengan damai.

Kanti berdiri untuk merapikan kertas-kertasnya, kemudian berhenti mengamati lalat besar itu. Diambilnya obat serangga di atas lemari. Lalu seperti melampiaskan kemarahan yang bertumpuk, dia menyemprotkan cairan toksik itu pada lalat yang tak pernah berbuat kesalahan apa pun padanya.

Lalat itu jatuh ke atas meja. Kaki-kakinya seperti jarum, bergerak kalang kabut berusaha bangkit lagi. Berusaha tetap hidup. Tapi lambat laun dia melemas, meregang, sampai kehabisan asanya. Dia mati. Seandainya dia tahu malam itu adalah kali terakhir dia terbang.

Kanti menyukainya. Ada kenikmatan melihat lalat itu menggelepar didera siksaan pernapasan yang hebat. Ada kepuasan bisa melihat makhluk yang lebih kecil dan lebih tak berdaya darinya. Ada kelegaan melihat makhluk yang lebih menderita darinya.

Ketika tak sengaja pandangannya bergeser ke luar, terjadi sesuatu yang tidak biasa. Lampu teras ruko tak berpenghuni yang dilihatnya kemarin malam, tahu-tahu berkedip menyala. Seketika cahaya kuning yang redup berpendar, seolah ruko itu mendadak bernapas. Dia tertegun. Lampu itu padam lagi. Lalu nyala lagi. Padam lagi. Nyala lagi.

Selama lima menit penuh lampu itu berkedip nyala-mati, kemudian berhenti. Kanti menunggu beberapa saat, tapi lampu itu tidak nyala-nyala lagi. Samar-samar dia mendengar bunyi berdesir. Apakah itu bunyi kain gorden yang ditarik? Detik berikutnya dia terlonjak karena menyusul bunyi berat. Sesuatu yang berat dibanting. Dia tak tahu dari mana asalnya bunyi-bunyi itu.

Lalu suara erangan terdengar. Kanti memasang telinga, tapi suara itu tak berlanjut. Bisa saja itu suara orang mengigau. Mungkin salah satu tetangga kosnya. Perhatiannya kembali tertarik pada lampu di seberang jalan yang kini gelap dan dingin seperti sediakala.

Itu hanya sisa-sisa arus listrik. Arus lisrik yang entah bagaimana terhubung lagi. Kanti kepayahan mencari istilah teknis yang tepat. Dalam pikirannya tak mungkin ada penjelasan yang lebih baik.

Meski begitu rasa resah tiba-tiba datang menggerayangi sekujur sarafnya. Jendela-jendela itu. Bukan. Satu jendela di lantai atas itu, seperti mengawasinya. Kedua bola matanya berkedut dalam relung tengkoraknya, menatap jendela gelap di sudut atas itu.

***

Continue Reading

You'll Also Like

... By A-Sanusi

Mystery / Thriller

114K 12.8K 23
11.5K 1.5K 45
Completed. #13 in pembunuhan (10 Mar 2022) [WARNING: Mengandung kata-kata umpatan dan adegan kekerasan yang kurang sesuai untuk anak-anak] Sebuah pan...
959 73 21
[Jangan lupa vote dan komen, serta follow akun penulis sebelum membaca! Cerita ini hanyalah fiktif. Mohon bersikap bijaklah sebagai pembaca!] Genre :...
HILANG BAYANGAN By zzze

Mystery / Thriller

530 55 33
Ketika tokoh-tokoh hukum di kota Arwana dibunuh satu per satu dengan pesan simbolik, Detektif Aruna Sea harus menyelami dunia gelap yang mempermainka...
Wattpad App - Unlock exclusive features