Vote dulu gaes…
Malam itu adalah hal yang sangat membekas di otakku. Bahkan, rasanya memoriku dipenuhi oleh setiap tutur kata dari obrolan mengerikan yang terjalin saat itu. Bagaimana tidak? Terselip bumbu dusta disana, walau tak terlalu bermasalah. Ayolah! Tetap saja rasanya aku seperti seorang wanita bodoh saat itu. Yap, wanita.
"K-kalian tinggal bersama?"
"Ya" belum sempat aku menjawab, Yoongi sudah lebih dulu menyambar pertanyaan ibunya.
"Apa kalian pernah melakukan itu?"
"Hm. Aku ingin menikahinya untuk bertanggung jawab" sekali lagi mataku melotot kaget ketika kalimat tak berotak itu meluncur bebas dari mulut pria yang duduk disampingku.
"I-ia ini hamil?" tanya ibunya tak percaya seraya menatapku yang menggeleng panik dengan tangan bergoyang untuk mengatakan itu tidak benar.
"T-tidak. B-bukan begitu, kami bahkanㅡ"
"Belum, tapi kami sudah sering melakukannya dan itu akan segera terjadi. Mungkin besok," seketika itu juga aku dan ibunya sama-sama dilanda sesak nafas. Mati saja aku, mati saja kau Yoongi.
"Eomma, aku mencintainya. Ia tak seperti gadis lain, ia bahkan tak menganggapku sebagai publik figur. Ia apa adanya. Eomma tau kan, butuh waktu lama bagiku untuk benar-benar menyukai seseorang? Sekali aku menyukainya, aku akan memilikinya dan takkan pernah melepaskannyaㅡ Argh! Aku tak ingin menikah dengan Young i! Aku ingin dengan Yenie jika tidak, aku akan mati"
"Hei! Kau gila?! Jika kau mati, lalu bagaimana dengan ibumu? Keluargamu?! Min Yoon Gi, kau bodoh!" pekikku refleks pada makhluk kesurupan disebelahku yang sedang memasang wajah tak peduli bahkan terkesan dingin.
"Apa gunanya aku punya Ayah, Ibu, Hyung, atau apalah itu yang namanya keluarga. Mereka bahkan tak mendukungku!"
PLETAK!
"ASTAGA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Ada ibumu disini! Bagaimana bisa kau berkata begitu? Dimana sopan santunmu? Kau perlu kembali ke TK, huh? Atau mau kudidik dengan kekerasan? Minta maaf cepat!" racauku otomatis pada makhluk yang menundukkan kepalanya dengan raut wajah kesal layaknya anak kecil. Bibirnya dipautkan segala, ingin kuterkam?
"Aish! Arasseo! Eomma, mian" suaranya benar-benar tak menggambarkan ketulusan, aku kembali dibuatnya naik pitam.
"Kau tidak tulus, Min Yoon Gi. Ulangi!"
"Hhh… Eomeonim, yongseohaejuseyo" mohonnya pada wanita disana yang sedang menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Berapa lama kalian menjalin hubungan?" pertanyaan itu sontak membuatku dan Yoongi saling tatap seraya mengangkat jari bersama.
"Hei! Kau bahkan tak pernah memintaku menjadi kekasihmu" tepukku pada pundak manusia itu yang tersentak sembari merenung sebentar lalu menatap ibunya yang tersenyum.
"Sebelum tur WINGSㅡ Eh? Kapan pertama kali aku menciummu?"
"Mana kutau! Aku tak mengingat hal-hal mesum begitu" terdengar tawa renyah sang ibu disana yang membuatku sadar diri saat itu juga.
"Yoongi-ah, Eomma tau kalian saling mencintai. Eomma mendukung jika ini keputusanmu, sesuatu yang kau inginkan. Tapi, Eomma tak tau cara membujuk Appa mu. Kau tau kan, ia keras kepala?"
"Ya, aku tau. Lalu bagaimana ini?!"
"Ya sudah, kita lupakan saja semuanya" baiklah, aku diabaikan sekarang.
"Oh! Bagaimana kalau Eomma berbohong saja, mengatakan bahwa Yen hamil lalu kalian akan menikah?" bayangkan itu, kalimat busuk itu. Aku ingin mengutuk wanita paruh baya disana, tapi takkan pernah bisa karena aku bahkan tak punya keberanian untuk menentangnya.
"Oh… itu terdengar pintar, Eomma. Pantas saja aku genius begini kalau ibunya juga cerdas dan cerdik" menampar wajah Yoongi mungkin adalah hal terbaik yang harus kulakukan sebagai rutinitasku sehari-hari mulai besok.
APA-APAAN ITU SEMUA, TUHAN?!
Kuhantukkan kepalaku ke embok apartement yang kerasnya minta ampun. Jika saja aku masih waras, maka apartement Mark ini sudah kubakar untuk melampiaskan rasa frustrasiku yang besar. Beruntungnya, aku sedang tak waras sekarang.
Berdiam diri seperti pengangguran, sendirian disini sementara Angel sedang pergi kuliah. Tapi, kenapa ia belum pulang sekarang? Bukankah ini sudah sore? Seingatku, ia tak punya jadwal malam, kalaupun ada ia takkan mau hadir di kelasnya.
"Terserahlah, aku lapar sekaㅡ" belum selesai ucapanku, pintu apartement terbuka dengan menampilkan seorang gadis ceria berlarian masuk sembari membawa banyak kotak pizza.
"Home sweet home~ Aku membawakan makanan untuk kita. Haha!" serunya memanggilku dengan memamerkan benda itu juga tawa lebarnya. Setelah menggerutu tentangnya tadi, aku malah berlari sumringah menghampirinya.
Aku tak murahan. Aku hanya sedang kelaparan.
Gelap, kata itu menggambarkan keadaan ruangan saat ini. Walau tak benar-benar gelap karena ada remang-remang cahaya televisi. Suara dari benda kotak itu menggema memenuhi apartement sunyi kami.
Duduklah aku dan Angel di karpet dengan bersandar pada sofa sembari memangku beberapa bungkus snack. Entahlah, mengapa ia jadi baik dan normal begini padaku, paling-paling ada yang ia inginkan.
Tiba-tiba dua buah suara yang berbunyi bersamaan membuat kami terkejut bahkan hampir lompat dari kegiatan duduk bersemayam kami.
"Kenapa?!" sentakku begitu mengangkat telepon. Angel pun sama, ia juga melontarkan kalimat itu, namun dengan intonasi yang lembut.
"Kenapa kau membentakku? Seharusnya kau senang, seorang idol menghubungimu"
"Persetan, bodoh!" sahutku bersama mata malas sembari sedikit melirik kecoak menyeramkan sekarang yang sedang senyam-senyum sendiri bersama panggilan di ponselnya.
"Aku ingin memberitaukan PD-nim tentang hubungan kita"
"Ohㅡ A-apa?! Tidak! Maksudku, jangan!" seruku dengan kaki yang berlari panik menuju kamar lalu mengunci pintunya, memulai percakapan yang tak boleh di dengar siapapun.
"Kenapa? Aku ingin segalanya dikonfirmasi sebelum akhir tahun ini"
"Kau gila? Kita lakukan itu tahun depan saja! A-atau saat disini sudah kiamat" racauku tak menentu, ini sungguh gawat. Teramat sangat gawat.
"Tahun depan aku sangat sibuk, lagipula kau sudah kembali ke Indonesia kan? Aku ingin publik memotret kita sebagai sepasang kekasih. Intinya, besok aku akan memberitaukan PD-nim"
"… Yoon, aku takut" ujarku pelan dengan wajah tertunduk disini, toh Yoongi takkan melihatnya juga.
"Tidak ada hantu, sayang. Apa yang kau takutkan?"
"Bagaimana jika banyak orang tidak menyetujuinya? Fans mu ibarat jumlah pasir di seluruh muka bumi ini, ada banyak. Apa yang akan mereka rasakan jika idolanya berkencan? Aku tak mau jadi perusak imajinasi mereka tiap malam" kini, aku sedang berakting ria. Oh… suaraku begitu lembut ternyata.
"Mereka akan paham. Semua idol mempunyai kehidupan pribadi. Bagaimana mungkin kami juga tidak bisa berkencanㅡ Ah? Jadi, maksudmu aku harus hidup sebagai perjaka tua, begitu?"
"Bukan begitu, bodoh! Otakmu ini kenapa?ㅡ Aish! Intinya aku tetap tak mau"
"Kau sudah pernah bilang jika aku egois kan? Aku tidak pernah mendengarkan siapapun. Maka, hal itu kembali berlaku sekarang. Selamat malam. Aku mencintaimu"
Disini, di situasi ini aku mengutuk orang yang kukasihi itu. Bisa-bisanya ia memutuskan itu sendiri?ㅡ Ah! Tidak! Bisa-bisanya ia mengabaikan penolakkanku? Manusia hati batu itu perlu diberi pelajaran agar jera. Sayangnya, aku tak tau harus memberi apa padanya.
Meanwhile…
Di lain tempat dan daerah, namun masih di negara yang sama. Seorang wanita paruh baya sedang berdiri dihadapan suaminya di sebuah ruangan, kamar mereka. Raut wajah kedua insan itu saling berbeda, yang satu mengeluarkan ekspresi tak peduli, sisanya tampak meminta kepedulian.
"Yeobo, apa susahnya memberi restu? Yoongi tampak lebih serasi dengan Yenie. Gadis itu sangat sopan, bahkan ia bisa mengendalikan ucapan Yoongi" tutur sang wanita paruh baya itu pada suaminya yang berpura-pura sibuk membaca sebuah buku.
"Mungkin saja itu hanya akting"
"Akting darimana? Pancaran matanya sangat tulus begitu. Yeobo, tidakkah kau ingin Yoongi bahagia? Ia sudah memiliki cintanya, tak mungkin kita paksa ia mencintai oranglain" mohon istrinya lagi dengan wajah yang sangat memelas.
"Siapa peduli itu? Mereka tetap takkan kuberi restu. Gadis tak jelas darimana asal-usulnya itu ingin kau nikahkan dengan putramu? Yang benar saja kau ini!"
"T-tapiㅡ"
"Tidak ada tapi-tapian!"
"Tapi Yenie sedang mengandung anak Yoongi"
~•~
Kubuka mataku perlahan saat merasakan kaki busuk itu mendarat di hidungku dengan jempolnya bergerilya disana. Aromanya sangat menggugah selera muntahku, aku ingin membunuh pelakunya sekarang juga jika saja suara bel disana tak berdentang.
"Menyingkirlah kecoak busuk!" dorongku pada manusia yang sedang tidur seperti orang mati itu. Kakiku melangkah malas menuju pintu apartement dan langsung membukanya kasar sampai anginnya berhembus menerpa wajah masamku.
"Kau baru bangun? Aigo… bagaimana bisa kau mengurus rumah tangga nanti jika bangun saja jam segini?" oceh makhluk albino yang datang tak diundang dan pulang tak diantar. Ia masuk begitu saja, langsung menghidupkan televisi pula dan duduk santai di sofa, layaknya ini rumahnya sendiri.
"Kenapa kau kemari? Pergi sana! Menganggu pagiku saja!" usirku pada manusia itu sembari berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Lengannya terulur untuk merangkul pundakku, membuatku mengantuk kembali.
"Hei, bangun!," sentaknya hingga aku kembali terbangun dan erkejut sebelum menatapnya sebal setengah mati.
"Pergilah mandi lalu gunakan pakaian formal dan yang pasti hangat! Gunakan saja kemeja dengan bawahan rok panjang, lalu mantel, atau apalah itu yang digunakan perempuan biasanya. Terserah kau saja, asal kau tidak kedinginan" ia menyuruhku pergi mandi, tapi sekarang ia bahkan merangkulku lebih dalam dengan jemarinya memainkan rambut acak-acakanku.
"Kita akan kemana?"
"Ke tempat yang ada Taehyung nya"
"Benarkah? Ke dorm kalian?"
"Agensi. Taehyung akan rekaman pagi ini"
"Sungguh? Wah… aku boleh melihatnya?"
"Iya, sayang. Kau boleh melihat tapi tidak dengan memeluknya"
"Oke! Aku mandi dulu. Tunggu sebentar, ya? Jangan tinggalkan aku! Sebentar saja!"
30 menit kemudian…
Aku keluar dari kamar dengan menggunakan kemeja putih dipadukan rok coklat di bawah lutut, bersama mantel dan syal melekat rapi di tubuhku. Kulihat tamuku tadi, ia duduk seraya menulis sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya kesana-kemari.
Disisi ruangan lain, teman sekamarku sedang duduk seraya memakan sarapannya dengan wajah sumringah, lengannya memainkan ponselnya. Akhir-akhir ini, aku merasa sangat curiga dengan Angel. Jangan-jangan ia berkencan.
"Yoongi, ayo," seruku setelah memasang sepatuku di dekat pintu.
Tahukah? Aku merasa seperti hantu sekarang, aku terlihat atau tidak sebenarnya? Dua manusia ini sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan aku diabaikan.
"ALBINO!"
"Oh? Ya?ㅡ Oh, iya, iya" sahutnya kemudian menyimpan buku lirik tercintanya itu ke dalam saku dan kakinya sedikit berlari menghampiriku.
"Angel, aku pergi dulu, ya?"
"Hm. Nggak usah balik lagi kalau bisa" jawaban kecoak disana membuatku rada kesal sekarang.
Di perjalanan, aku sibuk menerka-nerka tujuan kami saat ini. Langsung ke tempat rekaman dulu atau ke ruang latihannya? Apakah sesuatu yang dramatis akan terjadi kala aku bertemu kembali dengan Taehyung yang selama ini terus menjalin chat denganku tiap malam?
Oh! Astaga, aku merasa seperti sedang membicarakan diriku yang selingkuh sekarang. Ini menyenangkan.
"Berhentilah tersenyum seperti monyet. Kita sudah sampai sekarang" tegur supir albino simpanse itu. Ia tak sadar wajahnya jauh lebih buruk daripada aku. Oke.Baiklah, ia takkan pernah sadar karena itu hanya fiktif belaka.
"Tunggu sebentar?" kagetku saat turun dari mobil kala menyadari sesuatu.
Sebenarnya aku hendak masuk kembali, tapi si jahat itu sudah lebih dulu menarik lenganku mengikutinya. Tamatlah aku saat ini, banyak staf yang bingung ketika melihatku disini terlebih Yoongi yang menggenggam tanganku. Aku ingin buang air kecil!
"Yoongi-ah?"
"Hm?"
"K-kita hanya akan bertemu dengan Taehyung Oppa saja kan?"
"Ha? Kau percaya ucapanku yang tadi? Bodoh sekali" sahutnya dengan smirk menggoda itu.
Astaga! Tolong berikan aku pintu kemana saja milik Doraemon, aku ingin pergi dari sini. Mungkin dulu impianku memang kemari, tapi sekarang tidak lagi. Membayangkan aku akan disidang habis-habisan demi hubungan aneh ini atau mungkin saja menerima amukan kemarahan serta penolakkan dari Bapak Teori itu. Ya Lord.
Kami tiba dilantai paling atas, tepatnya depan pintu bertuliskan 'CEO BIGHIT ENTERTAINMENT' setelah mendapat izin dari wanita didepan sana tadi.
Kurasakan genggaman tangan pria disampingku semakin erat juga terasa dingin. Keringat mengalir kecil di pelipis putihnya. Ia menghela nafas pelan sebelum menoleh padaku dengan senyuman, seolah mengatakan segalanya akan berjalan dengan baik. Kita lihat saja nanti.
"Sejak kapan?" tanya pria paruh baya yang dulu sering kuanggap receh fotonya. Ia duduk dengan tegas dan tenang di balik mejanya, bahkan sedari tadi tak mendongak dan menatap kami sejak tadi. Aku takut sekali.
"Sebelum tur WINGS. Aku ingin hubungan kami segera di konfirmasi sekarang" ujar Yoongi dengan mantap, padahal lengannya gemetar sekarang terlebih kala pria disana mengangkat kepalanya dan menatap kami, lebih tepatnya menatapku.
"
Ireumi mueos-ibnikka?" tanyanya padaku yang terhenyak sampai aku gelagapan menjawabnya.
(Siapa nama Anda?)
"Jeonun Yenista Hinaku-ieyo" baiklah, aku akan menyesuaikan disini dan bersikap biasa saja.
"Kau sepertinya bukan berasal dari sini. Apa kau bekerja di Korea?" tuturnya lagi padaku yang mengangguk.
"Ya. Aku berasal dari Indonesia. A-aku dikirim dari negaraku dan bekerja di perusahaan penerjemah disini. Tapi akhir bulan ini aku akan kembali ke Indonesia" jelasku pada orang yang mengangguk itu, sekilas aku melihat Yoongi yang masih diam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.
"Begitu. Lalu kau ingin hubungan kalian di konfirmasi sebelum akhir bulan ini?"
"Ya?" refleks mulutku mengeluarkan kalimat tanya itu, aku terkejut sekarang.
"O-oh? Ng… a-anu… aku… aku tidak yakin juga. Aku hanya mengikut saja" ujarku pelan terlebih lenganku digenggamㅡ dicengkram kuat oleh manusia di sampingku ini.
"Yoongi-ah, kekasihmu saja belum siap untuk ini. Jangan terlalu terburu-buru, biarkan saja netizen dulu yang berasumsi. Baru agensi akan mengkonfirmasi, bukankah aturannya begitu?"
"Aku pikir lebih cepat lebih baik, Hyung-nim"
"Tidak, kau salah. Itu digunakan untuk sesuatu yang sudah mantap dan siap. Tapi kalian ini belum apa-apa, kau terlalu meledak-ledak dan tidak sabaran, Yoongi"
"Terserah!" kurasakan lenganku di hempas kuat diiringi angin kepergian orang itu. Jadi, sekarang aku panik sendiri dan kelayapan mengejarnya.
"Min Yoon Gi!" panggilku pada sosok yang berjalan terburu itu, hentakkan kakinya terlihat begitu penuh amarah. Ia akan segera masuk lift. Tunggu! Aku harus lari!
"HHIIYYAA!!!" teriakku ketika kaki ini lupa caranya mengerem. Beruntung aku berhasil masuk ke dalam lift, namun sialnya aku menubruk tubuh si es ini. Memalukan.
"Menyingkir dariku!"
"Aku tak mau!," persetanlah dengan harga diri. Aku tak kenal malu sekarang, ini demi sebuah pengabulan maafku. Lihat, ia bahkan tak berkutik lagi saat aku mendongak menatap wajahnya dengan lengan memeluk tubuhnya.
"Maafkan aku, ya? Aku membuatmu marah. Aku hanya takut itu adalah keputusan gegabah dan akan menjatuhkanmu sendiri. Kau taukan aku hanya orang biasa? Wajahku juga biasa-biasa saja, bahkan kalah dari Son Hwa Min, ulzzang itu. Tubuhku juga tidak bagus, aku lebih pendek dari manusia yang setinggi botol acar sepertimu. Pasti akan sangat banyak orang tak menyukaiku nanti. Akan banyak tanggapan buruk untukmu, berdampak pada karirmu dan member Bangtan yang lain, terutama Taeㅡ"
"Kau membuatku semakin kesal!"
"E-eh? Benarkah? Aku tak tau harus mengatakan apa agar kau simpatik padaku, lihatlah kakiku bahkan terkilir beginiㅡ Tunggu! Kakiku terkilir?"
"Aigo… kenapa tiang listrik di sepatumu sampai patah begitu? A-aish! Memalukan. Sepertinya aku harus berfikir dua kali untuk mengenalkanmu pada publik. Akan lebih baik aktris diluar sana yang menjadi kekasihku" gerutuan itu terdengar pelan diakhir kalimatnya.
Entahlah, itu hanya candaan Yoongi yang kelewatan atau suasana hatiku sedang buruk sekarang.
"Hhh… maafkan aku. Aku bukan sosok yang kau harapkan," gumamku padanya yang ikut berjongkok setelah aku mendudukkan diriku di lantai lift yang lambat sekali menuju lantai dasar ini.
"Aku pasti sering mempermalukanmu. Yha… sebenarnya, aku menggunakan sepatu tiang listrik ini demimu. Tapi rupanya itu ide yang buruk" sambungku seraya tersenyum paksa dengan airmata yang menetes keatas punggung tanganku.
"Hei! Aku hanya bercanda. Kenapa kau sampai menangis?" panik Yoongi, lengannya gelagapan lalu mengacak rambutnya sendiri.
"Iya, ya? K-kenapa aku menangis? Aku bodoh! Ini pasti karena kakiku sakit" racauku sendiri seraya mengelap mataku kasar seperti bocah. Sialnya, aku masih menangis sekarang, perkataan Yoongi melukai perasaanku.
"Berhentilah menangis. Astaga. Sudahlah, ayo peluk artis dulu. Sini, katakan kenapa kau menangis, hm? Karena kakek cerewet ini? Maafkan, kakek, ya? Kakek memang cerewet dan ceroboh," ocehnya bersama lengannya yang mengusap-usap punggungku. Suara tawaku teredam di dadanya. Aku benar-benar merasa seperti bocah TK sekarang, tak apalah ini menyenangkan.
"Bagus, tertawalah. Sekarang berikan kakek sebuah ciuman singkat, maka kau akan bahagia selamanya. Ppoppo" Yoongi memberikan pipinya ke hadapanku, ibu jarinya mengusap lembut bekas air mata di wajahku yang kacau sekarang.
"Kau kakek pedofil yang kucintai" ujarku disela tawa serakku dengan suara yang bergetar khas orang selesai menangis. Kukecup pipi kirinya, lalu ia menyodorkan pipi kanannya lagi, begitu terus sampai kami saling tertawa lepas dan lupa bahwa lift sudah terbuka.
"Annyeonhaseyo," suara itu, aku kenal. Sangat! Eh, tidak juga.
"Wah… aku salah timing rupanya" sambungnya lagi seraya berdiri di depan lift, sementara aku dibantu Yoongi berjalan keluar.
"Lama tak bertemu. Apa yang Nuna lakukan disini?" tanya Yoongi ramah pada wanita ular disana yang tersenyum.
"Aku harus mengurus sesuatu dengan PD-nim"
"Oh, begiㅡ"
"Aku haus! Ayo beli minuman!" sentakku pada sosok yang menoleh padaku lalu berjongkok memunggungiku dan berpamitan dengan si suram itu.
Kemudian, Yoongi berjalan sembari berceloteh masalah berat badanku. Sialan, tapi melihat perlakuannya yang manis sampai rela menggendongku di tengah kerumunan dan tatapan orangㅡ aku tak bisa untuk tidak mencintainya.
"Hhh… tak apa. Aku tak peduli. Toh, Dean terlihat lebih tampan sekarang" monolog Suran di dalam lift seraya tersenyum aneh, tertawa sendiri hingga ia lupa di lift ini ada sebuah CCTV. Jaga image selalu, ya? Orang terkenal memang begitu, kecuali Taehyung.