Raining. Once upon summer afternoon.
Hujan. Tiba-tiba hujan turun di tengah musim kemarau. Di bawah payung ini Aku bertemu dengan laki-laki dewasa yang kukagumi. Namaku Rika. Aku duduk di bangku SMA tahun kedua.
"Dek, ngapain?" Suara asing menerobos di antara derasnya hujan yang menjatuhi payungku.
"Siapa ya?" Aku agak berteriak agar terdengar.
"Elu yang siapa! Lu ngapain di depan pager rumah gua ujan-ujanan?" Dia berteriak.
Ah sial. Aku baru ingat. Aku tadi mengantar temanku pulang. Sekarang aku berada di kompleks orang.
Mundur sedikit.
Aku berjalan bersama temanku, Misa. Karena Misa tidak membawa payung, jadi Aku mengantarnya pulang. Satu payung berdua. Sambil membicarakan hal-hal random, tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Misa.
"Mis, Gua langsung pulang aja yak!" Aku berseru.
"Hah, yakin lu? Ujan deras loh. Ngga nunggu reda dulu di sini?" Misa menawarkan.
"Ngga usahlah. Kan gua bawa payung. Gua pengen cepet-cepet sampe rumah." Aku menolak tawarannya.
"Yaudah, terserah lu deh."
"Oke. Gua pulang dulu yak! Bye Mis." Aku pamit.
"Iya. Ati-ati!" Dia melambaikan tangan.
Rain showering under the umbrella
Aku menyusuri jalan pulangku dengan nyaman dan tentram. Aku berhenti dan menjatuhkan payungku, aku menengadah ke langit. Aku menikmati tiap butir hujan yang membasahi mukaku.Sampai suara itu tadi mengagetkanku.
"Gua Rika." Aku nyeletuk.
"Warga baru ya dek? Kok ngga pernah liat?" Dia bertanya.
"Bukan Bang. Gue bukan orang sini."
"Kalo mau mampir dulu dek. Gua butuh bantuan nih."
Dan entah mengapa. Aku menurut saja. Aku duduk di kursi depan rumahnya. Dia masuk ke rumahnya. Aku mendengar tawa anak kecil dari dalam. Adiknya? Batinku. Tapi ada lebih dari satu suara anak kecil di dalam sana. Tak lama kemudian, dia keluar dengan menenteng handuk kering. Handuk itu dilempar kearahku.
"Kenalin dek. Nama gua Ghani." Dia mengulurkan tangannya. Aku menyambut tangkannya yang ternyata hangat. Atau mungkin akulah yang kedinginan.
"Bang di dalem ada apa?" Aku iseng bertanya.
"Oh itu. Anak-anak pada les. Gua guru SMA, tapi kalo ada waktu luang gua ngajar anak SD buat sampingan." Dia menjelaskan.
"Trus, Abang Ghani tadi mau minta tolong apa?" Aku bertanya.
"Bantuin gua buat ngajar ya, cuma sampe ujan reda. Yah kalo lu mau sih dek. Ngga juga ngga papa kok."
"Ngga papa kok Bang."
Aku masuk ke dalam rumah Bang Ghani. Ada 5 anak kecil di sini. Aku tak bisa membantu banyak. Tapi aku menyukai anak-anak ini. Hujan akhirnya reda. Anak-anak berpamitan pulang, aku juga berniat untuk pamit.
•■■■•■■■•
Semenjak hari itu, entah mengapa aku menjadi sering bertemu dengan Bang Ghani. Di toko buku, minimarket, di jalan, dan kalau aku lewat depan rumahnya dia pasti menyapa dan mengajakku untuk mampir. Bang Ghani ini orangnya asik diajak ngobrol, walau umur kita beda jauh, hampir 10 tahun. Dia tingginya beda jauh denganku, aku hanya sepundaknya saat berdiri di sampingnya. Wajahnya bersih berkulit sawo matang dan tampan menurutku. Tanpa kusadari musim kemarau telah berganti menjadi musim hujan. Dan beberapa hal yang telah berulang kali kupikirkan benar-benar terjadi. Aku jatuh cinta pada Abang Ghani.
"Orang tua Abang Ghani dimana sih? Kok perasaan gua ngga pernah liat?" Aku bertanya pada Bang Ghani saat kami duduk di depan rumah Bang Ghani.
"Orang tua gua di desa. Dulu mereka tinggal di sini. Tapi mereka pindah karna di desa lebih nyaman dan tenang buat ngabisin hari tua mereka. Jadi gua tinggal sendiri disini karna ada hal yang ngga bisa gua tinggal."
Softly, I put a kiss on your wet cheeks
"Bang, ujan-ujanan yuk?!" Aku mengajaknya.
"Hah? Ogah lah. Kayak bocah."
"Ayolah, Bang! Bang Ghani ganteng deh.." Aku menarik-narik tangannya.
"Yaudah ayo." Bang Ghani melemaskan dirinya sehingga aku kuat menariknya keluar.
Kami berlari kesana kemari, aku dari tadi cekikikan karena sesekali Bang Ghani mencubit perutku. Kami bahkan berdansa di tengah hujan. Baju kami sudah basah kuyup tak karuan. Bang Ghani yang memakai kaos putih, tampak jelas terlihat badan Bang Ghani yang berotot. Ini pasti hasil bentukan dari tumpukan barbel di sudut rumahnya. Aku sudah tak peduli dengan sekitar. Yang kupikir tak ada orang di sekitar hujan-hujan begini orang pasti malas buat keluar rumah.
Tiba-tiba aku kepikiran untuk melakukan sesuatu. Aku melabuhkan ciuman di pipi basah Bang Ghani. Aku tersenyum perih.
"Gue suka sama Bang Ghani. Aku jatuh cinta sama Abang."
Sebelum Bang Ghani sempat bereaksi aku berlari untuk mengambil tasku dan cepat-cepat pulang.
"Pulang dulu ya, Bang!" Aku pamit lalu berlari. Aku belum sempat melihat ekspresi Bang Ghani. Tidak, aku tidak mau melihatnya.
I still longing for that season.
Aku duduk di bangku kelasku. Posisi dudukku dekat jendela. Akhir-akhir ini sudah mulai jarang turun hujan. Pemandangan yang semakin menjauh keluar. Aku merindukanmu dan musim dimana derasnya hujan ikut meramaikan tawa kita.
Angin berhembus lembut. Aku melihat pelangi membentang. Begitu cepatnya ia berlalu, hampir pudar. Kuharap besok tak turun hujan. Aku tak bisa fokus dengan apapun. Melamun. Sudah tak ada lagi yang tersisa, kecuali dirimu bagian hidupku.
Still not enough. Still not goes out
Aku sudah mulai jarang bertemu dengan Bang Ghani. Masa remajaku kuhabiskan bersamamu. Tangan kita yang terjalin. Apa yang telah hilang dari kita? Hal-hal buruk apa yang datang pada kita? Apa aku masih bisa tersenyum saat kehilanganmu? Aku basah oleh frasa-frasa ini di tengah hujan.
Calling. Under the breath soaring high
Aku akan mendatangi Bang Ghani hari ini. Di bawah langit, hembusan nafasku membumbung tinggi dan tampak putih karena hawa dingin. Angin berhembus, tanganku terasa membeku. Kusimpan kelemahanku di dalam dompetku kali ini.
Aku mengetuk pintu rumah Bang Ghani. Namun tak ada jawaban. Aku menyentuh meja dan kursi yang biasanya menjadi tempat kami menghabiskan waktu bersama. Menggeser tanganku dan ada debu cukup tebal menempel di sana. Artinya sudah berhari-hari rumah ini kosong. Apa Bang Ghani pindah rumah? Lalu mengapa dia tak mengabariku sama sekali? Apa aku cukup penting untuk dikabari?
No matter how far I look out over those passing days. Nothing, but you're the part of me.
Aku berusaha melupakan Bang Ghani seiring hari-hari berlalu. Sekarang Aku benar-benar kosong. Kecuali Bang Ghani bagian diriku. Aku ingin menyentuhmu lagi. Dirimu jelas-jelas begitu menyilaukan. Hingga tanpa sadar aku memalingkan mataku dari kebaikanmu itu. Kuingin tertidur dalam sentuhanmu. Berjumpa denganmu dalam lelapnya tidurku. Sekarang juga, di dalam puisi tempatku menjajarkan frasa-frasaku.
Di jalan pulang ini. Aku menaiki bus seperti biasa. Aku terlelap hingga tiba-tiba bus tergoncang dan aku sadar kalau baru saja aku bermimpi sesuatu yang tak mungkin menjadi nyata.
I'm still not getting used to the ref:rain of seasons
Entah sudah berapa kali musim berlalu. Tak terasa aku sudah kelas 3 dan aku sebentar lagi lulus. Aku masih belum terbiasa akan pergantian musim. Setiap musim hanya akan membuatku terkenang akan Bang Ghani.
Aku saat ini di rumah sendiri. Ting tong. Bel rumah berbunyi. Ternyata seorang kurir mengantar sebuah undangan. Aku membaca nama siapa yang tertera di situ. Ada tulisan berwarna emas dengan font latin:
GHANI & MARISSA
Invite You to attend their
WEDDING
Lututku lemas. Aku jatuh berlutut. Aku bahkan tak sanggup menangis. Aku terlalu syok. Tapi sakit sekali rasanya. Di dalam undangan itu tertera bahwa pernikahannya dilaksanakan minggu depan.
Aku berjalan dengan gontai menuju kamarku. Aku menjatuhkan diriku tepat di atas bantal. Aku menangis sepuasnya. Sampai aku tertidur pulas karena kelelahan menangis.
Pukul 04.00 pagi aku terbangun. Menatap diriku di depan cermin. Rambutku acak-acakan. Mataku merah dan berkantung persis seperti panda. Karena masih terlalu pagi untuk mandi, jadi aku memasak makanan untuk diriku sendiri. Aku baru sadar kalau aku belum makan sejak kemarin.
If only, I could be a little bit mature
I wonder, what would I say?
Seminggu ini adalah minggu paling menyiksa seumur hidupku. Rasanya energiku tersedot setiap kali kumengingat kebaikan dan senyuman Bang Ghani. Sampai akhirnya aku berhasil keluar hidup-hidup dari minggu menyiksa ini, hari pernikahannya Bang Ghani dengan seorang bahkan aku tak pernah dengar namanya pun datang.
Aku memakai dress terbaikku. Dress tanpa lengan berwarna baby pink selutut. Memoleskan sedikit make up dengan lipstick berwarna pink natural. Hingga di tahap terahir aku menata rambutku. Aku memasukkan payung lipat ke dalam tas kecilku. Aku sangat berharap hujan turun deras hari ini.
Aku memesan taksi online menuju tempat pernikahan Bang Ghani. Di perjalanan aku sedikit mengobrol dengan supir taksi.
"Neng mau nge-date, ya?" Tanya pak supir.
"Ngga, Pak. Mau ke nikahan orang." Jawabku.
"Oh... kalo Eneng kapan nyusul nih?" Pak supir menggodaku.
"Heheh, ngga tau deh kapan. Saya kan baru lulus SMA pak!" Aku sedikit kesal sekarang.
Aku kepikiran untuk menjawab 'nanti kalo Bang Ghani cerai sama bininya 😂' tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku terdengar seperti dedek gemes yang kerja sampingan jadi pelakor.
Aku akhirnya sampai di tempat tujuanku. Ternyata mereka menikah di gedung yang mewah menurutku. Di depan gedung banyak sekali karangan bunga berjejeran. Semuanya bertuliskan Selamat Bahagia atau Happy Wedding. Aku bertanya-tanya mengapa tak ada mantan salah satu dari mereka yang iseng mengirim karangan bunga Turut Berduka Cita, mungkin harusnya aku membuat satu.
Saat aku memasuki gedung dan melihat Bang Ghani dari kejauhan, semua pikiran konyolku sirna. Aku senang karena akhirnya aku bisa bertemu dengan Bang Ghani lagi. Tapi di moment seperti ini, mana bisa aku senang?
Karena aku belum siap menghadapi Bang Ghani, aku mencari-cari makanan dulu sebelum menyalami Bang Ghani dan seseorang di sampingnya. Tanpa kuduga aku bertemu dengan teman SMP ku yang ternyata dia murid Bang Ghani, aku menyapanya sejenak lalu menyelinap pergi. Aku belum siap ditanya aku siapanya Bang Ghani.
Saat aku merasa kenyang. Aku pun ikut antre untuk menyalami mereka.
Aku menyalami Bang Ghani dengan senyum seadanya.
"Bang Ghani nikah kok ngga bilang-bilang, sih! Selamat ya Bang." Aku berbasa-basi agar suasanya tak canggung.
"Hehe. Ma'af deh, ma'af. Makasih ya dek udah dateng."
"Iya, Bang. Sekali lagi selamat ya, Bang. Semoga langgeng." Aku tersenyum lalu bergantian menyalami seseorang di sampingnya. Menyunggingkan senyum. Lalu pergi.
Di dekat tempat Bang Ghani berdiri ada laki-laki yang mengalungi camera dan jika kuperhatikan, dia memotret dengan acak. Aku pura-pura lewat di dekatnya. Aku melirik. Kurasa wajahnya mirip dengan Bang Ghani. Mungkin adiknya, pikirku.
"Hey!" Aku berbalik.
"Saya?" Aku membuat isyarat dengan menunjuk diriku sendiri.
"Iya!" Dia berseru.
"Ada apa, ya?" Aku bertanya
"Gua tadi iseng-iseng motret elu. Eh ngga taunya bagus. Coba deh liat ni." Dia menekan tombol geser cameranya.
Aku ikut melihat. Ada fotoku sedang memegang segelas minuman sambil melirik. Ada juga saat aku tertawa karena lawakan pembawa acara tadi. Yang terakhir fotoku saat mengobrol dengan teman SMP ku, aku sedang tersenyum biasa.
"Wah iya bagus-bagus nih. Bisa dikirim ngga?" Aku meminta.
"Bisa-bisa." Dia memberi tahu username instagramnya.
Di luar gedung ternyata hujan gerimis. Harapanku terkabul. Aku mengeluarkan payung dari tasku dan mulai berjalan. Di dekat gedung, ada lapangan yang cukup luas dan di sekitarnya tak ada pemukiman sama sekali. Seperti biasa, aku berpikiran untuk hujan-hujanan di sini.
Aku menjatuhkan payungku dan menengadah ke langit. Merasakan air mataku beradu dengan derasnya hujan.
Jika aku lebih dewasa, aku bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan kukatakan padamu tadi? Mampukah aku mengucapkan selamat tinggal? Betapa baiknya jika aku merelakanmu. Betapa baiknya kita bisa kenal dan akrab. Jika aku tak pernah mengenalmu, apa aku masih bisa tersenyum? Aku sekali lagi basah oleh frasa-frasa itu.
Tiba-tiba ada seseorang berpayung mendatangiku. Dia memungut payung yang aku jatuhkan tadi dan memposisikannya di atas kepalaku.
"Jadi ternyata elo orangnya, yang diceritain Bang Ghani."
"Hai!" Aku tersenyum.
[E N D]