"Waduh! Telat ini mah." Ujer lari ngos ngosan. Percuma saja, satpam tahu kehadirannya. Tak dapat dipungkiri lagi, Ujer kini berprofesi jadi DPU dadakan. "Untung dapet jatah bersihin mushola. Lumayan telat dapet pahala." Ujer bangga. SMA Jaya 1 membuka lowongan pekerjaan DPU bagi siswa siswanya yang masuk lebih dari jam 7 pagi. Maklumlah, sekolah negeri favorit soal biaya juga ngirit. Tukang kebun ya kebagian honor sedikit.
. . .
Tipex itu berlarian. Dari meja satu ke meja lain. Sebagian memilih mencoret kata yang salah. Beberapa murid memanipulasi gerakan mencontek. Yang lain mendengus kesal kebingungan. Sedangkan, Ujer termenung mendapati lembar jawabnya sudah penuh terisi. Bukan ujian tengah semester hanya saja ulangan harian kali ini diawasi guru super killer, pak Bachri. Pak Bachri hanya tersenyum licik mengetahui gerak gerik yang mencurigakan. Matanya awas melirik kanan dan kiri. Mudah saja, ia tinggal mencoret nama murid curang di daftar. Besoknya takkan ada sepeser nilai untuk murid yang diblacklist.
"Ujer!" Pak Bachri berteriak. Seisi kelas panik. Suasana mendadak mencekam. "Ada apa ya pak?" "Sini kamu." Ujer pun melangkah menuju meja guru. Semua memandang dua lelaki didepan kelas itu. "Hei kalian. Cepat selesaikan soalnya. Ini bukan tontonan. Saya tidak mau tahu 5 menit lagi semua jawaban sudah terkumpul!" Pak Bachri menambahkan aksen melotot. Murid murid malang tadi hanya mengangguk diam seribu bahasa.
"Kamu ini bikin masalah ya?" "Masalah apa ya pak?" "Kamu dipanggil ke BK sekarang. Kamu sudah berani macam-macam ya rupanya. Anak pindahan baru 3 bulan udah buat onar. Mau jadi apa kamu? Tukang bakso boraks?" "Saya mau jadi orang yang sukses dunia akhirat pak." Jawab Ujer enteng. "Malah nglawan ini anak. Udah sono ke ruang BK."
Ujer keheranan. Selama ini dia tak pernah berulah. 'Gila kali ya. Sekali telat langsung dipanggil BK. Ya Allah, cobaan macam apa ini. Hambamu yang ganteng ini ga salah apa-apa, Ya Allah'. "Lu Ujer kan? Tuh udah ditungguin bu Susi." Cewek berambut pirang berjalan keluar dari ruang BK. 'Cantik sih. Blasteran. Sayang, tindikan. Pantes aja dipanggil BK.' Batin Ujer. "Permisi bu" Sapa Ujer.
Bu Susi yang masih kinyis-kinyis itu tersenyum. "Ayo sini masuk. Ga usah takut, Jer. Ibu gak gigit kok." Ucap bu Susi sedikit meringis. Giginya berjejer rapi dan matanya terlihat sipit karena meringis. 'Untung guru BK jarang masuk kelas. Coba kalau guru mapel. Cowok-cowok dikelas pasti pada diabetes ngeliat ni guru.' Pikir Ujer. "Oh iya bu. Saya dipanggil disini karena apa ya? Saya ga nyolong kotak infaq mushola bu. Suer! Emang sih saya tadi bersihin mushola tapi saya ga nyolong bu. Beneran deh. Muka kayak saya gini kan ga ada tampilan maling bu." Bu Susi tertawa terbahak bahak. Kali ini ia berhasil bikin Ujer diabetes beneran.
"Ih, ibu ga nuduh kamu nyolong tau hehe. Ibu justru mau minta tolong sama kamu." Ujer masih keheranan. "Minta tolong? Minta tolong apa bu?" "Hm.. Kamu tahu ketua osis disini?" Ujar Bu Susi sambil nyeruput teh bu kantin. "Belum tahu bu. Saya kan anak baru." "Jer, ketua osis kita itu Dhea Thalita kelas 12 IPS 2. Kamu ga pernah denger?" Ujer mengingat ingat sebentar. "Diem diem bae. Jangan nglamun nak." Bu Susi ketawa lagi. Sepertinya Ujer tahu hobi bu Susi, Ketawa.
"Ah, iya bu. Saya tahu. Waktu itu Dhea dateng ke kelas saya ngasih info soal rapat acara prom night." "Kapan?" "kira-kira seminggu yang lalu bu." "Kondisi Dhea waktu itu gimana? Dia aneh ga? Brutal gitu." Bu Susi bertanya. "Saya ga terlalu ngeh sih bu. Waktu Dhea ke kelas saya. Saya cuma lihat dia bentar soalnya saya lagi main ml." "ML?!" bu Susi berteriak. "Mobile Legends bu. Astaga." Ujer memasang wajah datar. "Kirain." Bu Susi ketawa lagi dan lagi.
"Kita daritadi muter-muter ngomongin Dhea. Bu Susi minta saya nglakuin apa?" "Gini Jer. Ibu percaya sama kamu. Karena, kamu anak baru dan belum banyak yang kenal kamu termasuk Dhea. Jadi, saya minta kamu cari tahu penyebab Dhea brutal." "Wah, saya dimanfaatin nih sama ibu. Pfft.". "Enggaklah sayang." Ucap bu Susi masih nyengir. 'Anjay, kesel Ujer sama guru yang panggil sayang ke muridnya. Mana ni orang masih seger. Kondisiin hati Jer. Jangan sampe kamu baper sama guru sendiri' Batin Ujer.
...
Berbekal amanah dari guru tercantik di sekolah, Ujer berniat kenalan dengan Dhea. Ia selalu memikirkan cara untuk berkenalan dengan ketos SMA barunya itu. "Ma. Mamaa! Ujer berangkat ya. Udah jam 6 lebih nih. Keburu macet." Ujer meneguk susu buatan bi Yuyun, pembantunya. "Eh, udah bayar spp belum?" Mama Nila bertanya. "Udah ma. Kemarin udah dapet transferan dari bapak." "Sayang, kok manggilnya bapak sih. Panggil papa dong. Ga nyambung kali mama sama bapak." Mamanya Ujer kesal.
"Ya gimana ya, abis papa tu jarang pulang kerumah. Jadi, Ujer pengennya manggil bapak aja." "Emang hubungannya apa den? Bi Yuyun menyambar. "Kalau bapak kan contohnya bapak Jokowi, bapak Wardoyo, bapak Bachri. Jadi ya jauh gitu kayak ga akrab." "Duh, anak mama ini kok freak banget sih. Wkwk." "Pak Wardoyo siapa itu den?" "Bi Yuyun kepo deh. Entar googling aja. Hehe. Ujer berangkat ya."
Ujer siap berangkat dengan motor vespa kesayangannya. Entah kenapa ia lebih memilih menggunakan motor butut daripada mercy hadiah ulang tahun pemberian papanya. Bapaknya lebih tepat. Dengan sigap Ujer mengengkol. Sampai sampai kakinya berotot akibat terlalu sering mengengkol. Kali ini Ujer mengenakan jaket dilannya.
...
Ujer menatap jam kelas lekat-lekat. Masih terlalu lama untuk bel istirahat. Ia memutuskan tidur sebentar. Biarlah guru sejarah ngoceh. Tidak akan dihiraukan murid ga jelas yang tidur saat kbm berlangsung. 30 menit berlalu. Ujer terbangun. Matanya merah. Buku tulisnya terkena sedikit liur. Tampaknya, Ujer benar-benar terlelap. Kemudian, cowok 18 tahun itu keluar kelas. Menghambur bersama beberapa siswa. Selepas makan siang dengan tenang Ujer dikejutkan oleh kehadiran Dhea.
"Lu apa apaan sih nyerobot antrian gue ha?" Dhea menunjuk nunjuk wajah seorang anak cupu di depannya. "Kak, tadi saya udah disini duluan." Ucap anak itu ketakutan. "Et dah bisa bisanya lu ga ngaku. Bukannya minta maaf kek." Suara Dhea yang ngebass terdengar keseluruh ruangan. Ujer masih diam terpaku melihat kelakuan Dhea. "Oke oke terserah lo deh kalo ga mau minggir. Awas aja lu." Dhea berlari ke taman sekolah.
Ujer menyodorkan teh kucir. "Hei. Ga sempet jajan gara-gara ngantri?" Ujer duduk disebelah Dhea. Secara otomatis, Dhea bergeser. "Ambil aja nih. Aku ga kasih sianida kok." Dhea masih dalam lamunannya. "Aku kasih sini nih minumannya. Jangan lupa diminum. Ujer cabut dulu." Ujer memusatkan kakinya kearah kelas. 'Sok kenal banget dah tu orang' Dhea membatin sambil meneguk minuman Ujer.
Kau Cantik Hari Ini
Oleh thifadil
Berkisah seorang pelajar 18 tahun yang tampak biasa saja. Belum mengenal cinta dan merasa jauh dari sosok pap... Lebih Banyak