"Sudah lama Nduk?"
Mama terbangun dari tidurnya. Aku disini karena mbak Vit mengabariku bahwa mama di opname di rumah sakit.
Beberapa minggu paska pertunangan Gatra dan Gupita, kondisi kesehatan mama drop. Terlalu lelah lahir dan batin ungkap papa padaku.
Iya. Akhirnya mama sekeluarga datang mendampingi Gatra, merestui tanda hubungan resmi mereka sebelum nantinya berlanjut ke jenjang pernikahan. Terlepas ada atau tidaknya campur tanganku di sana, aku lega. Sedih? Anehnya tidak. Relieved. That's all. Melepaskan dan mengikhlaskan ternyata lebih menenangkan hati.
Meskipun sungguh tingkah Gatra di luar nalarku. Sampai detik ini dia masih setia merecoki hidupku dengan asumsi tak bermutu.
Ingatkah pertemuanku dengan Ananta di Legian?
Nasib sialku tidak berhenti saat bertemu Hanenda. Gatra dan rekan kantornya juga sedang ada acara di sana. Dia mengabadikan moment saat tanganku digenggam Ananta. Guess what?
Yes. Dia mengirimkan foto itu padaku, juga di grup keluarga Waluyo.
Brengsek? Sangat.
Malam itu juga aku di japri banyak anggota keluarga Waluyo. Kujawab apa adanya saja. Aku baru menolak Ananta. Dari respon yang kubaca. Kusimpulkan mereka lebih mempercayaiku daripada Gatra. Dikuatkan dengan kabar dari mbak Vit, pembela garis kerasku. Aku mengetahui bahwa Gatra kesal bukan main. Bukannya membeciku, kakak dan orang tuanya malah menyayangkan perbuatan tak bermanfaatnya. Aku tak merespon. Tidak menambah bumbu penyedap untuk berbalik menggosipnya. I'm done with my ex. who cares!
"Sudah Ma. Mama sudah enakan?" tanyaku sambil mengangsurkan teh hangat pada beliau.
Mama mengangguk. Beliau lalu menceritakan banyak hal padaku. Terutama tentang Gatra dan perubahan sikapnya yang mama tidak suka. Aku tentu saja diam tanpa menyahut. Sampai akhirnya mama menanyakan tentang Ananta. Siapa, kapan, bagaimana, apa, mengapa. Semua kata tanya beliau gunakan. Aku? Apalagi yang bisa kulakukan selain menjawab apa adanya.
"Nae, masih sakit hati sama Gatra?
Nyuut.
Ada sedikit nyeri ketika mama menanyakan ini. Bukan karena aku masih menyisakan rasa untuknya. Lebih ke ingatan peristiwa terakhir kami bertegur sapa. Saat itu dia meremukkan sisa simpati dan hormatku padanya. Namun, Kejadian demi kejadian yang kualami akhir - akhir ini membantuku mengikis sakit hatiku pada Gatra. Hanya jika diingatkan, luka yang belum sembuh benar, pasti masih terasa sepintas pedihnya.
"Sedikit Ma. Mama ndak usah banyak mikir ya. Kami sudah besar Ma. Yang terpenting mama sehat sekarang. Biar bisa gendong Tito lagi," bujukku, mencoba mencari topik pembicaraan baru.
Tito adalah putra mbak Vit. Usahaku berhasil, obrolan kami berubah haluan ke bayi menggemaskan itu. Sampai notifikasi email masuk memutus sejenak percakapan kami.
Aku membulatkan mata melihat isi surel itu. Dadaku sesak akan rasa haru. Aplikasi beasiswa yang kukirimkan di ambang batas pengiriman itu lolos tes administrasi. Meski tersisa interview untuk menentukan siapa yang berhak menjadi salah satu peserta terpilih, tidak berhenti kuucap syukur dalam hati. Mataku berkaca - kaca. Aku senang luar biasa.
"Kenapa nduk? Kok nangis?"
Aku menceritakan pada mama perihal kabar yang baru saja kuterima. Mama ikut bahagia. Beliau mengucapkan selamat kepadaku.
Ponselku berdering. Memutus euforia di hati dan otakku.
Hanenda.
Dia mengabarkan Chesta dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan. Mimisan hebat berujung pingsan. Disela igauannya dia memanggil namaku. Aku segera pamit pada mama dan papa. Bergegas menuju Jember Klinik, rumah sakit tempat Chesta di rawat sekarang.
Beberapa hari ini memang aku kerap mengunjungi Chesta. Gadis kecil Hanend itu kian lengket denganku. Ayah dan bunda Hanend, serta mertuanya, orang tua almarhum Ditya yang berjumpa denganku beberapa hari lalu juga heran. Chesta bisa begitu akrab denganku.
Seperti bu Rinta, ayah dan ibu almarhum istri Hanend itu juga menyambutku hangat. Bahkan mereka terang terangan menjodohkanku dengan menantu mereka. Hanenda tak jarang ikut menggodaku jika aku mulai salah tingkah.
"Nak Nae!"
Bu Tiara, Ibu almarhumah Ditya menyambutku. Ku cium tangan kanannya sebelum beliau memelukku dan terisak.
"Chesta gimana kondisinya bu?" tanyaku cemas.
"Masih di PICU NICU Nae, Nenda lagi temenin dia sekarang."
Bu Tiara menunjuk sebuah ruangan kaca di balik pintu. Hanenda duduk di samping ranjang denga memakai jas dan masker steril.
Chesta yang malang. Si kecil cantik itu berjuang dengan alat - alat kesehatan di sekujur tubuhnya.
Ketika tahu aku sudah datang, Hanend keluar ruangan, kemudian mengangsurkan jas dan masker untukku. Setelah kupakai, bergantian aku masuk ke ruangan Chesta.
Kuusap tangannya yang semakin mengecil. kulafalkan doa - doa yang kubisa sembari mengecup dahinya. Kata Hanend dia masih tertidur karena obat. Dalam 1 - 2 hari ini masih observasi. Semoga segera bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Kemungkinan sebulan lagi saya bawa Chesta ke Surabaya Nae. Nunggu kondisinya stabil,dan cukup sehat. Besok saya urus berkas kepindahan Chesta ke sekolah." tutur Hanend saat kami berdua duduk di kursi tunggu di lorong yang memisahkan ruangan PICU NICU dan ruangan perawat.
"Dia kembali ke sekolah lama?" tanyaku setelah sekian menit aku terdiam.
Hanenda menggeleng.
"Biar lebih intensif perawatannya. Ayah Bunda juga kasihan kalau bolak balik Jember. Kalau Ches masih semangat belajar, dan kondisinya memungkinkan, pilihan terbaiknya ya homeschooling," jawabnya.
"Berkas kepindahan Chesta biar saya yang bantu urus di sekolah. Kamu konsentrasi sama Ches saja di sini."
Hanenda mengangguk lalu berterima kasih.
"Hm, Nae. Kalau nanti saya bawa Ches ke Surabaya, boleh saya minta kamu temani antar kami?"
Ini mulai aneh. Hubungan kami. Aku menolak jika dikatakan punya hubungan lebih dengannya. katakanlah terlibat asmara.
Tidak. Tidak di titik itu.
Atau belum?
Entahlah.
Aku hanya terbiasa dengan keberadaannya. Karena Chesta. Chesta selalu meneleponku sebelum dia tidur. memintaku bercerita apapun sampai dia menguap lalu tertidur.
Kuakui Hanenda sedikit mengusikku. Mati - matian aku menahan diri untuk tidak menanyakan kabar jika di hari itu dia belum mengirim pesan. Aku memang sedang membangun tembok itu. Meneguhkan hati. Tidak boleh lagi terhanyut. Lebih baik begini dulu. Sendiri. Fokus pada hidupku saja.
"Nae? Bisa?"
"Ehhh, sebulan lagi ya Nen?" jawabku sambil mengingat jadwal interview yang tadi kuterima kabarnya. "Kalau sebelum tanggal 23 InsyaAllah bisa Nend, sekalian berangkat."
"Berangkat?" tanyanya bingung.
"Saya ada jadwal interview."
"Interview apa? Kamu melamar kerjaan baru?"
Kening Hanenda berkerut, dia menatapku bingung.
"Err, saya belum cerita ya? Saya apply fellowship programnya Aminef. Cuman semacam short course sih. Buat pengajar yang minimal sudah mengajar selama 5 tahun. Masih lolos test administrasi, belum tentu kena juga. Tanggal 23 bulan depan interview ke Jakarta."
"Kemana?"
"Hah? Apanya?'
"Beasiswa kemana? Dalam atau luar negeri?
"Amerika. Tapi ini non gelar, jadi hanya sekitar 6 bulanan total, sama pre departurenya."
Hanenda diam. Perasaanku tak enak. Berita ini tak tepat waktu kusampaikan. Kami tidak ada hubungan. Tapi kenapa aku merasa bersalah?
"Saya memang tidak ada di hati kamu Nae. Tapi kamu selalu saya sertakan di do'a saya selain Chesta dan orang tua saya. Kamu terang tahu bagaimana perasaan saya ke kamu. Setidaknya kamu bisa cerita ini ke saya sebelumnya. Meski tidak butuh pendapat saya sekalipun."
Hatiku seakan tercubit. Aku tidak mampu berkata - kata. Walau sekedar membela diri.
Hanenda menarik nafas berat, berdiri, lalu berjalan meninggalkanku menuju pintu.
Kok kangen Nae. Saya publish ini dulu deh. Ada yang kangen juga? Hehehe
Thanks for recommending and Supporting everyone.
Comments and Votes will be well appreciated!
Typos? Feel free to let me know. :)
Thanks
XOXO