Keras kepala, egois, susah diatur.
Tapi memang itu cara yang ia miliki.
***
Zero mengarahkan mobil untuk masuk ke halaman rumahnya saat satpam berkumis tebal itu membuka gerbang. Rumah besar berwarna abu-abu terang kini memenuhi pandangan Bella. Sekarang mereka sudah sampai di rumah cowok itu, sesuai janji alias hukuman yang Bella dapat kemarin.
Selama di perjalanan, baik Bella maupun Zero sama-sama tidak berbicara. Bella asik memainkan handphone, sedangkan Zero fokus mengendarai mobil.
Sekarang, gadis itu bingung ingin turun atau tidak dari mobil.
"Gue gendong dulu baru mau masuk?" Tanya Zero yang sudah turun dari mobil.
Bella menghela nafasnya sebelum turun dari mobil dan menapakkan kakinya di halaman luas milik keluarga Zero. Ia mengikuti cowok itu sampai berada di depan pintu utama rumah.
"Abang pulanggg!"
Bella menahan tawanya karena baru ini melihat sisi yang lebih terbuka dari Zero.
"Kalo ngeliat tuyul, jangan takut. Itu adek gue," Zero mengajak Bella masuk ke dalam rumahnya "Nah, itu dia tuyulnya"
Ten yang sedang berjalan keluar dari dapur, melihat Bella dengan mata yang membulat sempurna dan mulut terbuka.
"STROBERI MANGGA APEL, demi apa lo bawa cewe ke rumah?!"
"Pisang, jeruk, buah naga. Jangan teriak ngapa!"
"Buah kesukaan lo semua,"
Ternyata Zero memiliki adik yang sama sepertinya. Bukan sama dalam hal sikap saja, mereka berdua sangat mirip tentunya. Ia tertawa melihat interaksi abang dan adik itu.
"Astaga, dia barusan ngapain bang?!" Ten masih dengan matanya yang terbuka lebar.
"Ya menurut lo aja ngapain. Ketawa lah! Orang ketawa kok ditanya." Jawab Zero.
"Kok cantik banget gitu?!" Ten berjalan mendekat "Kak, jadi pacar aku aja,"
Bella tersenyum lebar, bingung mau menanggapi seperti apa. Ia jadi penasaran bagaimana kedua orangtua Zero. Kalau saja satu keluarga semua seperti ini, mungkin rumah yang sangat besar ini tidak pernah sepi sama sekali.
"Kenalin kak, nama aku Ten-"
Zero menarik tangan Bella dari sana. Tidak ingin gadis itu merasa terganggu padahal ini kali pertama ia ke rumah Zero.
"Woi jangan dibawa ke kamar, bahaya!"
Zero menghiraukan ucapan adiknya itu. Mereka melangkah menuju lantai dua, tempat kamar Zero berada. Bella hanya mengikuti kemana cowok itu bawa, sampai ia terkejut dan berhenti saat melihat pintu berwarna hitam dan ada tulisan di depannya.
Warning! Jangan ketuk pintu kamar kalo gamau dicium sama mimi peri!
Dan ada simbol kepala mickey mouse di bawahnya.
Zero membuka pintu itu, ia masuk kesana dan kembali berbalik saat menyadari Bella masih berhenti di depan pintu.
"Masuk," ajaknya.
"Ini kamar lo," Bella menjelaskan.
"Iya gue juga tau." Lima detik kemudian barulah cowok itu paham "Gakpapa, masuk aja. Takut gue apa-apain?"
Akhirnya Bella masuk ke dalam kamar yang bernuansa hitam dan putih itu. Harum khas milik Zero langsung tercium olehnya. Bella memperhatikan seisi kamar yang dindingnya hampir rata digantung bingkai foto. Sepertinya memang di sengaja bingkai-bingkai foto itu disusun hingga membentuk nama Zero.
Kamar yang luas ini bisa terbilang rapi kalau untuk anak cowok. Bella menyentuh hiasan yang ada di atas meja kaca, banyak sekali hiasan berbentuk motor balap disana. Gadis itu kembali melihat ke sudut kamar, sejenak ia diam sebelum berjalan mendekat ke arah piano.
Bukan piano yang membuat ia terkagum, tapi lukisan besar abstrak membentuk wajah Zero yang digantung di depan piano itu. Lukisan rahang yang sangat tajam, memberi tanda bahwa itu memang Zero Gravity.
"Amazing,"
Zero yang tadinya bersandar di dinding memperhatikan Bella, kini berjalan mendekat ke arah gadis itu.
"Siapa yang lukis? Sekeren ini-" Bella kaget menemukan Zero berada tepat di belakangnya. Nyaris saja hidung mereka bersentuhan kalau Bella tidak langsung berbalik kembali menghadap ke depan lukisan.
"Gue juga gak tau. Mana mungkin gue ingat nama kakek-kakek tua si pelukis." Jawabnya dengan pelan tepat di telinga Bella.
Sedangkan gadis itu harus mengatur nafasnya memikirkan kalau saja tadi hidungnya mengenai hidung Zero. Ia kembali fokus melihat lukisan itu. Hening, padahal Bella merasa aneh dengan sikap Zero yang berbeda semenjak di dalam mobil. Mungkin karena ia terbiasa melihat cowok itu petakilan. Ingin sekali Bella tanyakan sekarang juga.
"Nol,"
"Quin,"
"Lo duluan deh," ucap Bella cepat.
"Ladies first."
Bella berdeham sebelum berucap, situasi seperti ini membuatnya canggung. Tidak bisakah Zero sedikit mundur ke belakang?
"Biasanya lo cerewet, gak pernah diem," Bella memperbaiki ucapannya "M-maksud gue, tumben tuh dari tadi lo gak kayak biasanya. Kan sejarahnya Zero Gravity gak pernah kalem."
Cowok itu tersenyum asam. Selama ini dia mengira Bella sudah bisa mengambil kesimpulan, ternyata belum.
"Lo suka gue yang kalem, atau cerewet?"
"Suka yang cerewet lah. Kalo lo kalem, siapa lagi yang bisa gue marahin."
"Suka cerewetnya, bukan orangnya?"
"Suka-" Bella seketika berhenti berucap saat menyadari maksud Zero.
"Suka apa?" Cowok itu menaikkan sebelah alisnya meski Bella tidak tau karena ia membelakangi Zero.
Bella merasakan mulutnya tidak bisa berkata sebelum terdengar suara pintu terbuka.
"Bang! Masak sono, gue laper!" Ten menolehkan kepalanya dari balik pintu. Tanpa mendengar jawaban dari Zero, ia kembali menutup pintu.
Bella perlu berterimakasih pada adiknya itu.
"Ganggu orang aja si tuyul." Maki Zero dengan pelan "Btw, lo jago masak?"
Bella berbalik saat merasakan Zero sudah beranjak dari sana. "Gak sejago mama gue sih."
"Kalo gitu bantuin gue masak, ya? Tas ngapain di bawa-bawa. Simpen disitu aja,"
Bella sampai lupa meletak tasnya karena asik memperhatikan lukisan itu. Setelahnya mereka keluar dari kamar dan menuju dapur.
"Nyokap sama bokap semalam berangkat ke Jerman," Zero bisa menebak apa yang akan Bella tanyakan saat gadis itu melihat seisi rumahnya. Seolah mencari sesuatu.
"Tau aja gue mau nanya."
"Anggap aja gue tau semua tentang lo."
Bella membuka kulkas, mencari apa yang bisa dimasak untuk Zero dan adiknya. Isi kulkas itu terbilang lengkap, juga tertata rapi dan bersih.
"Adik lo suka makanan apa?" Tanya Bella.
"Dia sih apa aja masuk, yang penting makan." Jawab Zero "Memang ada apa aja?"
"Ada ayam, pasta, telur, sayur-sayuran, banyak ini. Lo mau apa?"
Zero tersenyum "Mau lo."
"Serius,"
"Hehe, yang kira-kira bisa lo masak aja"
Bella mengangguk. Ia mengambil pasta dan sosis serta bahan yang lainnya. Sedangkan Zero sudah menyiapkan kuali, pisau, dan alat masak yang akan dipakai Bella.
"Masa depan cerah ini namanya," ucap Zero yang kini berdiri di samping Bella. Gadis itu merebus pasta di dalam panci yang sudah berisi air.
"Kalo orang nyuruh lo masak, jangan mau ya. Lo masak kalo di rumah gue aja,"
"Lo kira gue babu apa."
"Ya bukan gitu maksudnya," Zero berjalan mengikuti Bella ke depan westafel "Kalo masak di tempat orang, ntar lo diajak nikah deh sama tuh orang."
"Ampun dah, pikiran lo jauh banget." Bella menggeleng.
"Sejauh pikiran gue mau ngajak lo ke pelaminan sekarang juga."
"Geli gue dengernya."
Zero terkekeh "Gue bantuin ya? Masak sama-sama gitu."
"Potongin sosis, gak usah banyak-banyak. Secukupnya," suruh Bella.
"Siap."
Bella kembali mengurus bahan-bahan yang lain. Selagi menunggu rebusan, ia menyiapkan sambal siap pakai yang akan dilumuri di atas pasta nantinya.
Sedangkan Zero,
masih dalam tahap membuka bungkus sosis. Perlahan tapi pasti, ia mulai memotong sosis menggunakan pisau yang ia pegang dengan ujung jari-jarinya. Bukannya menggenggam batang pisau, Zero malah takut-takut terhadap benda tajam itu.
"Anjir, cuman motong sosis ae segini susahnya." Ia bergumam. Perlahan tapi pasti, akhirnya satu potongan berhasil Zero usahakan. Cowok itu menggigit bibir bawahnya sangking fokus terhadap sosis.
Timbul ide baru, Zero memotong sosis dengan berbagai bentuk. Lumayan unik, pikirnya.
Bella yang baru selesai memasak sambal, berjalan ke arah rak piring untuk mengambil sendok. Tapi apa yang ia lihat membuat gadis itu menjerit kaget.
"Astaga! Lo apain sosisnya?!"
"Tada! Keren kan?" Cowok itu mengusap peluhnya di kening.
Bella menatap sosis dengan mulut terbuka "Lo kira jajajan anak sd apa? Sosis di bentukin bunga, naga, bulet-bulet kayak gini!"
"Keren lho ini. Yang makan pasti gak bosen ngeliat bentuknya,"
Bella menahan kepalanya dengan tangan "Semerdeka lo aja."
***
Seusai memasak makanan untuk Zero dan adiknya, Bella baru sadar kalau diluar ternyata sudah gelap. Sebenarnya untuk memasak pasta, tidak membutuhkan waktu lama. Tapi adanya Zero di dapur yang cukup menghambat waktu Bella, membuat gadis itu merasa antara kesal dan tertawa bercampur menjadi satu.
Kesal yang berartikan lain mungkin, karena rasa kesal yang dibuat Zero, berbeda rasanya.
Abang dan adik itu memaksa Bella untuk ikut makan di ruang keluarga. Tidak bisa menolak, Bella pun ikut makan satu piring dengan mereka. Dari sana Bella juga mulai dekat dengan Ten. Setidaknya cukup mengetahui bahwa adik Zero itu adalah anak smp yang berjulukan playboy.
Sekarang Bella, bersama Zero tentunya, sedang menikmati angin malam di balkon kamar cowok itu. Ia mengenakan hoodie merah maroon milik Zero yang sangat kebesaran di tubuhnya.
"Di komplek gue kalo jam segini mah masih rame. Ada yang nemenin anaknya main sepeda, ada tante-tante ngumpul, ada cowo ganteng juga. Komplek disini sepi amat. Sebelas tigabelas sama kuburan." Bella menilai sekitar rumah Zero.
"Disini terkadang juga rame. Ada kang sayur, ada emak-emak online shop, ada cewe cantik juga. Sebelas duabelas sama pasar malam."
Bella tertawa pelan "Dasar, gak mau kalah mulu."
"Gimana mau kalah, berjuang aja belom." Zero menyahut tawa Bella.
"Curhat, mas?" Canda Bella.
Cowok itu memiringkan tubuhnya agar melihat Bella, bersandar pada pagar balkon. Ia menarik topi hoodie sampai menutupi kepala Bella. Bukan lagi kepala, tapi sampai menutupi hidung gadis itu. Kemudian Zero terkekeh dan mengusap kepala Bella dari balik topi.
"Ck." Bella berdecak "Untung aja nih jaket harum."
"Baju gue gak ada yang bau."
Bella memeletkan lidahnya, mengejek sebelum meniup rambutnya yang turun menutupi kening.
"Tadi siang lo bilang apa sama Arkan?"
Bella kembali melihat langit yang penuh akan bintang untuk malam ini. Kenapa Zero harus menanyakan itu, membuat ia kembali merasa tidak nyaman dengan Arkan.
"Gue jelasin sama dia, gue lupa udah ada janji mau pergi bareng lo." Jawab Bella seadanya.
Zero merasakan hatinya semakin memilih untuk menjadi milik gadis itu.
Ini merupakan kejadian spontan tanpa kemauan Zero sebelumnya, saat ia menarik Bella untuk menghadap ke arahnya. Dengan kemudian cowok itu mendaratkan ciuman di pipi Bella. Zero memejamkan matanya, menghiraukan Bella dengan rasa kagetnya.
"Lo perlu tau seberapa kuatnya gue nahan ini tadi siang. Bahkan lebih dari ini disaat gue gak terima lo bisa ketawa karena dia."
Sebagai lelaki, Zero tau pancaran mata Arkan saat mengarah pada Bella.
***
Jangan bosan untuk baca cerita Zero yaaa🐥💓