Kamu..
Maaf karena aku telah lancang
Memakai namamu untuk ku perbincangkan denganNya pada sepertiga malamku
Karena aku telah mengagumi mu tanpa izin
Karena sebuah rasa yang ku simpan sangat dalam
.
Teruntuk kamu..
Orang yang namanya sering aku sebut dalam sujudku belakangan ini
Apa kabar?
.
Kamu..
Orang yang membuatku belakangan ini sering merayuNya..
Orang yang sering aku rindukan dalam heningnya malam..
Rindu yang hanya aku dan DIAlah yang tahu..
Yang terkadang membuatku meneteskan butiran bening dari mataku..
.
Aku tidak punya kecantikan luar biasa seperti Zulaika..
Tidak pula sesabar dan selembut Fatimah..
Apalagi secerdas Aisyah, tidak..
Aku hanyalah seorang wanita akhir zaman yang berharap mendapat imam yang bisa memimpinku untuk sampai ke JannahNya bersama..
.
Aku menyukaimu..
namun aku tidak seberani Khadijah yang mengungkapkan cinta duluan
Tidak pula sekuat Fatimah yang memendam rasa sendirian
Namun, akan kurayu pemilik hatimu (Allah)
Agar kelak, kamulah yang akan menjadi suamiku..
.
Mungkin aku terlihat tidak peduli padamu
Mungkin aku terlihat seperti seorang yang tak pernah memperhatikanmu
Namun suatu hal yang tak pernah kau tahu
Bahwa di setiap sujudku ada namamu yang selalu terucap dengan tulus
.
Sebuah nama yang telah aku ukir dengan indah di langit
Andai saja engkau bisa melihatnya ketika engkau menatap ke langit
Engkau akan melihat sebuah lukisan indah yang tak lain adalah namamu
Ini adalah caraku yang mengagumimu dengan cara yang berbeda
Sebuah cara yang terdengar sakit namun sebenarnya sangat indah
.
Entah memang benar kamu atau bukan yang akan menjadi pendampingku nanti
Jika pertanyaan itu terjawab dengan kata "Bukan"
Maka aku akan berhenti mengagumimu saat itu juga
Selagi semuanya belum terjawab izinkan aku untuk terus mengagumimu
Teruntuk kamu yang sedang aku kagumi
Kuharap engkaulah takdir yang telah lama dipersiapkan tuhan untukku
.
Jika saja kau bisa merasakannya
Saat kau memejamkan matamu
Tuhan membisikkan pada hatimu
Bahwa ada seorang yang sedang mengagumimu dalam diam
"Aku"
.
☘☘☘
CINTA DALAM DIAM
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Sesuai sama apa yang dipilih paling banyak, maka yang dibahas kali ini adalah "Cinta dalam Diam".
Mungkin masih banyak yang bingung dengan apa itu "Cinta Dalam Diam".
Artinya adalah Mencintai seseorang dalam rahasia, yang tahu hanya diri sendiri dan juga Allah.
Bagaimana caranya? tentu saja dengan memendam semua perasaan dan hanya mengungkapkannya lewat doa.
Memendam semuanya seolah tidak terjadi apa-apa. Bersikap biasa saja ketika bertemu dengannya ataupun mengobrol dengannya. Tidak pernah menunjukkan gerak-gerik yang aneh atau yang seperti memberi kode.
Namun pasti ada yang bertanya tentang "bagaimana kalau curhat dengan teman?"
Tentu itu adalah hal manusiawi jika ingin berbagi sesuatu dengan seseorang yang suka dekat dengan kita. Asalkan memang orangnya bisa dipercaya. Tapi, ada sedikit keutamaan yang hilang dari "cinta dalam diam" itu sendiri.
Namun ini bukan berarti tak boleh berbagi dengan sahabat, boleh. Sah sah saja, apalagi jika itu adalah wanita. Karena memang wanita dilahirkan sebagai seorang yang senang bercerita.
.
Ada beberapa keistimewaan yang bisa dirasakan oleh orang yang mencintai dalam diam. Salah satunya, ikhlas. Biasanya mereka yang mencintai dalam diam itu sudah ikhlas dengan apa yang akan terjadi nantinya. Entah berjodoh atau tidak, mereka percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuknya. Karena jodoh sudah diatur oleh Allah sebelum manusia itu turun ke bumi.
Sebagaimana dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 26 : "( 26 ) Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
Kemudian mereka ini biasanya termasuk orang yang mempercayakan semuanya pada Allah.
Mereka percaya bahwa meskipun tanpa mengungkapkan perasaan, jika memang berjodoh maka Allah akan mempertemukan dengan cara yang indah bahkan mungkin dengan cara yang tak terduga sekalipun.
Selain itu, mereka yang memilih cara ini adalah mereka yang sadar betul akan dosa.
Mereka sadar bahwa jika perasaan itu diungkapkan maka setan akan mulai memperindahnya, kemudian mulai mengajak untuk ada di jalan yang salah (pacaran) dengan logo "syari".
Mereka takut bahwa jika perasaan itu terungkap sebelum adanya ikatan halal maka semuanya berubah. Bukankah Allah maha membolak balikkan hati hambaNya?
Rasulullah bersabda, "Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ka akan menjadi kekasihmu." [HR. Al-Tirmidzi]
☘☘☘
Rindu?
Tentu saja mereka merasakannya juga. Namun, cara mereka untuk menyampaikan rindu ini berbeda dari orang kebanyakan.
Mereka titipkan semua rasa itu lewat doa. Membiarkan Allah menyimpan semua rasa rindunya di langit.
Mereka menyebut nama seorang yang di kaguminya dalam sujud. Mengukir namanya dengan indah di langit.
Allah yang menjaga cinta mereka. Allah yang menjadi teman curhat mereka.
Galau?
In syaa Allah tidak. Karena biasanya orang yang mencintai dalam diam itu sudah siap dengan segala resiko.
Mereka yang mencintai dalam diam akan memilih untuk menahan semuanya sendiri. Meskipun tak bisa dipungkari bahwa kadang mereka menangis di hening malam.
Memendam perasaan, tentu saja rasanya sakit. Namun semua rasa sakit itu akan hilang ketika mereka mencurahkan semuanya pada Allah.
Berharap?
Bohong jika dikatakan tidak berharap pada seorang yang dikagumi atau dicintainya. Mereka tentu saja berharap agar cintanya terbalaskan.
Namun mereka biasanya tidak menaruh harapan yang terlalu tinggi. Karena mereka tahu bahwa terlalu berharap kepada manusia hanya akan membuat kecewa, berbeda dengan berharap kepada Allah.
Sebagaimana sudah dijelaskan pada Surah Al-Insyirah ayat 8 "dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."
Kebanyakan orang salah dalam mengartikan "Cinta Dalam Diam".
Sehingga mereka menyebut "Cinta Dalam Diam" namun yang sebenarnya adalah Cinta yang blak-blakan.
jadi maksudnya itu, bukan "Cinta Dalam Diam" kalau kamu ngekode terus ke dia, bukan cinta dalam diam kalau kamu ngomongin tentang dia terus. Bukan "Cinta Dalam Diam" kalau kamu saling lempar perhatian sama dia, atau mungkin bahkan sampai kaluar kalimat rayuan atau gombalan.
Meskipun kita mencintai seseorang dalam diam, namun tetap saja tak boleh berlebihan..
Seperti halnya terlalu memikirkan dia. Lebih mementingkan berdoa tentangnya ketimbang berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Lebih mendahulukan rindu padanya ketimbang Allah dan rasulullah. Lebih ingin bersamanya ketimbang bersama rasulullah dan para sahabat.
Tidak. Bukan itu makna Cinta dalam Diam yang sebenarnya.
Rasulullah bersabda dalam doanya :
"Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai." [HR. Al-Tirmidzi]
☘☘☘
Pada zaman rasulullah dahulu sebenarnya sudah dijelaskan dan dicontohkan tentang "Cinta Dalam Diam" yang dialami langsung oleh Fatimah dan Ali.
Ali adalah anak dari paman Nabi Muhammad Rasulullah Saw, yaitu Abi Thalib. Sebut saja, Ali adalah sepupu Rasul. Abi Thalib sangat sayang kepada Rasul. Sepeninggal orang tua Rasul, Abi Thaliblah yang merawat Rasul bahkan selalu membela Rasul dalam memperjuangkan dakwah Islam walaupun pada ajalnya Abi Thalib wafat bukan sebagai muslim. Rasul sangat sedih mengenai hal itu.
Ali sejak kecil tinggal bersama Rasul, kalau tidak salah semenjak umur Ali tujuh tahun. Ali merupakan satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan ia adalah yang paling muda di antara yang lain. Ia termasuk tokoh Islam atau sahabat Rasul yang sangat berpengaruh dan berjasa. Ali adalah pemuda yang gagah, tampan, kuat dan cerdas. Bahkan Rasul pernah berkata jikalau Rasul adalah sebuah gudang ilmu maka Alilah gerbang untuk memasuki gudang tersebut.
Sedangkan Fatimah az-Zahra adalah putri kesayangan Rasul dari pernikahan beliau dengan Siti Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah istri pertama Rasul. Rasul pun sangat sayang kepada Khadijah.
Fatimah adalah perempuan yang tegar, cantik, baik dan lembut. Sebagai anak yang berbakti pada ayahnya, Fatimahlah yang mengurus Rasul sejak Khadijah meninggal sampai Rasul menikah lagi.
Sejak Ali ikut tinggal bersama Rasul dan keluarganya, otomatis Ali tinggal bersama Fatimah. Mereka berdua tinggal dan melewati hari-hari bersama sejak kecil. Hingga menjelang remaja, tumbuhlah rasa cinta Ali kepada Fatimah. Hatinya dipenuhi keinginan untuk selalu berada di samping Fatimah. Tapi Ali tidak bodoh. Ia adalah pemuda yang beriman. Ali berusaha untuk selalu menjaga hatinya. Ia pendam rasa cinta itu bertahun-tahun. Ia simpan rasa itu jauh di dalam lubuk hatinya bahkan si Fatimah pun tidak pernah tahu bahwa Ali menyimpan lama rasa cinta yang luar biasa untuknya.
Hingga ketika Ali telah dewasa dan telah siap untuk menikah, maka Ali pun berniat menghadap Rasul dengan tujuan ingin melamar putri Rasul yang tak lain adalah Fatimah, seorang perempuan yang sudah lama Ali kagumi. Tapi sayang, niat Ali telah didahului oleh Abu Bakar yang sudah duluan melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir pupus. Apalagi Abu Bakar adalah sahabat setia Rasul yang sangat shalih dan begitu sayang kepada Rasul, dan rasul pun menyayanginya. Sedangkan Ali merasa dirinya hanyalah seorang pemuda yang miskin. Sungguh jauh bila dibandingkan dengan seorang mulia seperti Abu Bakar, pikirnya.
Rencana Allah memang sulit ditebak oleh manusia, ternyata Rasul hanya diam ketika Abu Bakar melamar putri beliau. Maksudnya, Rasul menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali pun senang. Karena masih merasa memiliki kesempatan melamar Fatimah. Maka Ali pun bergegas ingin segera melamar Fatimah sebelum didahului lagi.
Namun sungguh sayang sekali, lagi-lagi Ali didahului oleh Umar. Lagi-lagi, hati Ali tersayat. Ali sangat bersedih. Sama seperti dengan Abu Bakar, Ali merasa tak ada harapan lagi. Lagipula, apakah cukup dengan cinta ia akan melamar Fatimah? Karena ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengharapkan seorang putri Rasul yang luar biasa. Berbeda bila dibandingkan dengan Umar seorang keturunan bangsawan yang gagah dan berkharisma.
Dan, Ali yakin Fatimah pasti akan bahagia bersama Umar.
Maka Ali pun hanya bisa bertawakal kepada Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang sedang dialaminya. Kali ini, Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu. Namun Ali adalah pemuda yang shalih. Ia pun yakin bahwa Allah MahaAdil. Pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping hidup baginya. Derita cinta memang menyakitkan. "Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah diatas cintaku," bisik Ali dalam hati.
Disaat Ali merasakan derita cintanya, tak disangka-sangka, datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya. Dan memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Pikir Ali, pasti ini tentang pernikahan Umar dengan Fatimah. Sepertinya Rasul meminta Ali untuk membantu persiapan pernikahan mereka. Maka Ali pun menyemangati dirinya sendiri agar kuat dan tegar. Walaupun sebenarnya, hatinya sangat perih teriris-iris. Apalagi harus membantu mempersiapkan dan menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan orang lain.
Sungguh rencana Allah memang yang paling indah. Setelah Ali bertemu Rasul, tak disangka, lamaran Umar bernasib sama dengan lamaran Abu Bakar. Bahkan Rasul menginginkan Ali untuk menjadi suami Fatimah. Karena Rasul sudah lama tahu bahwa Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali pun sangat bahagia dan bersyukur. Ia pun langsung melamar Fatimah melalui Rasul. Tapi, Ali malu kepada Rasul karena ia tak memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar. Apalagi ia selama ini dihidupi oleh Rasul sejak kecil.
Namun, sungguh mulia akhlak Rasul. Beliau tidak membebankan Ali. Rasul berkata bahwa nikahilah Fatimah walaupun hanya bermahar cincin besi. Akhirnya, Ali menyerahkan baju perangnya untuk melamar Fatimah. Rasul pun menerima lamaran itu. Fatimah pun mematuhi ayahnya serta siap menikah dengan Ali. Akhirnya Ali pun menikah dengan Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai.
Sekarang, Fatimah telah menjadi istri Ali. Mereka telah halal satu sama lain. Beberapa saat setelah menikah dan siap melewati awal kehidupan bersama, yaitu malam pertama yang indah hingga menjalani hari-hari selanjutnya bersama, Fatimah pun berkata kepada Ali, "Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu. Aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, shalih, cerdas dan baik sepertimu."
Ali pun menjawab, "Aku pun begitu, wahai Fatimahku sayang. Aku sangat bersyukur kepada Allah, akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.".
Fatimah pun berkata lagi dengan lembut, "Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? Karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita."
Kata Ali, " Tentu saja istriku, silahkan. Aku akan mendengarkanmu."
Fatimah pun berkata, "Wahai Ali suamiku, maafkan aku. Tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda. Aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya, ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu. Kau adalah imamku, maka aku pun ikhlas melayani, mendampingi, mematuhi dan menaatimu. Marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhai Allah."
Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama. Suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan shalihah. Tapi, Ali juga terkejut dan sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya, ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa bersalah karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah. Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.
Namun Ali memang pemuda yang sangat baik hati. Ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah. Tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa tidak tega jika hati Fatimah terluka. Karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang, Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan di dalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi di sisi lain, Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak. Ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.
Fatimah pun lalu berkata, "Wahai Ali, suamiku sayang. Astagfirullah, maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu. Demi Allah, aku hanya ingin jujur padamu."
Ali masih saja terdiam. Bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, "Wahai suamiku Ali, tak usahlah kau pikirkan kata-kataku itu."
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, "Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu. Kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh, aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti. Aku begitu merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku."
Fatimah pun tersenyum haru mendengar kata-kata Ali. Ali diam sesaat sambil merenung. Tak terasa, mata Ali pun mulai keluar airmata. Lalu dengan sangat tulus, Ali berkata, "Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikitpun dari dirimu. Kau masih suci. Aku rela agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu. Aku akan ikhlas, lagipula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi, aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Karena ia pasti akan membahagiakanmu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan. Sungguh aku sangat mencintaimu. Demi Allah, aku tak ingin kau terluka."
Dan Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali. Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya. Cinta yang dilandaskan keimanan yang begitu kuat. Ketika itu juga, Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, "Tapi Fatimah, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu? Aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu. Namun ijinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu."
Airmata Fatimah mengalir semakin deras. Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu, "Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah." Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya.
Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, "Wahai Ali, awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu. Aku hanya ingin menggodamu. Sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah."
Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya, "Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? Tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?"
Fatimah lalu memeluk mesra lagi, lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, "Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu. Aku memendamnya bertahun-tahun. Sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya. Tapi aku terlalu takut. Aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini. Aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila kubertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku. Ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku? Pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya."
Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, "Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku. Aku sedang memeluk mesra pemuda itu. Tapi dia hanya diam saja. Padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya. Aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar. Ia juga sangat mencintaiku."
Ali berkata kepada Fatimah, "Jadi maksudmu?"
Fatimah pun berkata, "Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku."
Berubahlah mimik wajah Ali menjadi sangat bahagia dan membalas pelukan Fatimah dengan dekapan yang lebih mesra. Mereka masih agak malu-malu. Saling bertatapan lalu tersenyum dan tertawa cekikikan karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing. Mereka bercerita tentang kenangan-kenangan masa lalu dan berbagai hal. Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci. Subhanallah.
Ali dan Fatimah pun menjalani rumah tangga mereka dengan suka maupun duka. Buah cinta dari pernikahan Ali dan Fatimah adalah putra tampan bernama Hasan dan Husain. Mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka. Juga disayangi keluarga Rasul yang lain tentunya. Mereka berdua nantinya juga menjadi tokoh dan pejuang Islam yang luar biasa.
Selama berumah tangga, Ali sangat setia dengan Fatimah, ia tak memadu Fatimah. Cintanya Ali memang untuk Fatimah, begitupun cinta Fatimah memang untuk Ali, mereka juga bersama-sama hidup mulia memperjuangkan Islam. Hingga hari itu pun tiba, semua yang hidup pasti akan kembali ke sisi-Nya. Ali, Hasan dan Husin dilanda kesedihan. Fatimah terlebih dahulu wafat, meninggalkan suami, anak-anak dan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.
(Sumber cerita Ali dan Fatimah : dakwatuna.com )
.
.
Jazakumullah khayran katsiran untuk yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca ini..
In syaa Allah selanjutnya akan bahas "Ana uhibbuka fillah" ❤❤❤
***