Love Her ✔

By rainischa

290K 18.8K 1.5K

[COMPLETED] Gracia yang naif hanya menginginkan bahagia dalam hidupnya. Bahagia yang ia rasakan sempurna deng... More

Sinopsis
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36 (end)

Chapter 3

12.3K 814 60
By rainischa

Waktu, kini menjadi musuh terbesar bagi Shani. Karena dengan hari yang terus berganti, didapati ia yang sekarang semakin terlihat memperhatikan Gracia. Meskipun ia masih bersikap cuek dan pura-pura tak peduli karena masih merasa bingung pada perasaannya, tapi, hal itu juga yang dapat merubah Shani menjadi anak rumahan. Dia menjadi jarang keluar rumah dan lebih betah menonton TV sambil sesekali melirik Gracia yang sedang membersihkan lantai. Atau makan siang di ruang makan sambil melihat Gracia mencuci piring, dan bangun pagi untuk jogging sambil memperhatikan Gracia yang tengah menyiram tanaman di depan rumah.

Shani bahkan merasa dia tak ada bedanya dengan psikopat, karena terlalu sering memperhatikan orang yang disukainya secara diam-diam. Dan hal itu kadang juga mengganggu dirinya sendiri.

Pagi ini, 3 hari sebelum liburan usai. Seperti telah menjadi kebiasaan bagi Shani yang belakangan ini sering bangun pagi untuk lari-lari kecil di sekitar rumahnya. Tentu sambil sesekali melihat Gracia yang dirasa Shani semakin terlihat cantik setiap harinya.

Shani mendengarkan musik lewat earphone-nya dengan tenang, sebelum getar ponsel di sakunya membuatnya mengerutkan dahi.

"Apa Ta? Lo sekarang kenapa jadi sering nelfon gue ih. Jijik tau gak, berasa pacaran."

Okta terkekeh. "Ya elo sih, sekarang kenapa gak pernah ikut ngumpul? Sejak kapan lo betah di rumah? Gaya lo pagi-pagi udah bangun dan jogging, biasa juga jam segini lo masih molor."

"Terserah gue lah. Gue tuh lagi sibuk, udah deh ntar juga kalo gak sibuk gue ikut ngumpul kayak biasa kok."

"Sibuk ngapain? Sibuk perhatiin Gracia yah?"

" ... "

Okta terkekeh lagi, lebih keras dari yang sebelumnya. "Iya kan? Udah deh lo gak usah muna sama gue. Lo suka dia kan?"

"Hah?"

"Bahkan sekarang lo ngeliatin dia dengan tatapan menjijikkan itu lagi. Bruh, you're so fucking gay."

Shani pun segera membalikkan tubuhnya mencoba mencari keberadaan Okta di sekitarnya. Dan di hadapannya kini, Okta sedang tersenyum sinis melihat Shani.

"Kalo lo beneran cinta sama dia, lo ngomong dong Shan! Jangan cuma diem dan pura-pura cuek kek begitu. Lo kira dengan lo yang tiap hari cuma merhatiin dia dari jauh itu, dia jadi tau gimana perasaan lo? Gak, kan?"

Okta pun mematikan telponnya, lalu memainkan alisnya untuk menggoda Shani yang sedang melihat Okta dengan alis yang membentuk huruf V, Shani pun mengalihkan pandangannya ke arah Gracia yang tengah tersenyum kecil sambil melihatnya.

Kini, Shani menjadi semakin dilema.

Gracia menatap langit-langit di kamarnya dengan seksama. Ia berpikir, semakin hari semakin ia terus berdekatan dengan Shani, Gracia merasa Shani telah menjadi sosok berbeda dengan Shani yang kurang ajar saat pertama pertemuan mereka.

Shani yang tak menertawakan dirinya dan tak memandang rendah dirinya, Shani yang dengan baik mau menerimanya di rumah ini, Shani yang tidak seburuk yang Gracia pikirkan. Bahkan Shani juga orang yang setuju pada rencana Tante Nindy menyekolahkan dirinya dan bersedia jika nantinya Gracia berangkat bersama Shani dengan mobil kesayangannya.

Pikiran buruk Gracia terhadap Shani pun mulai sirna. Walaupun tiap hari dia dan Shani hanya say hai dengan senyum ketika tak sengaja berpapasan, namun, Gracia tahu jika setidaknya Shani adalah orang yang baik. Dan mungkin memang taruhan itu hanyalah candaan baginya. Walaupun tahap bercandanya juga sudah kelewatan, tapi Shani telah minta maaf atas kejadian itu.

Mungkin juga semua bukan salah Shani semata karena dalam taruhan tempo hari yang melibatkan dirinya itu, Okta lah satu-satunya pelopor Shani berbuat hal seperti itu. Okta, teman dekat Shani yang pagi tadi datang saat Shani tengah jogging di luar rumah, kebiasaannya tiap mentari baru terbit.

Terakhir Gracia lihat sih, Okta mengikuti Shani ke kamarnya. Mau main game yang berada di kamar Shani katanya. Jadi begitu Gracia keluar dari kamarnya dan sedang berjalan keluar rumah, Gracia melihat Ethan yang sedang belajar di taman belakang rumah. Ethan melambaikan tangannya kepada Gracia untuk membantunya mengerjakan PR.

Gracia lagi-lagi tersenyum, melihat Ethan itu seperti melihat refleksi Shani. Wajah mereka yang mirip, serta sifat yang sepertinya juga tak jauh berbeda.

"Kak bantuin Ethan ngerjain ini dong?"

"Oh ini, ini caranya yang perkalian atau pembagian dikerjain dulu baru yang penjumlahan atau pengurangan Ethan. Terus-"

"Kak, Kakak udah punya pacar belum?"

"Hah? Kok jadi nanya pacar sih, emang Ethan udah punya pacar?"

"Kak, Ethan gak suka kalau pas Ethan nanya dijawab sama pertanyaan juga." Rengek Ethan.

Gracia terkekeh gemas. "Belum. Gak ada kepikiran punya pacar. Repot atuh."

"Oh, terus menurut Kak Gracia, Kak Shani orangnya gimana? Cakep gak?"

Gracia mengerutkan Alisnya curiga. "Siapa hayo yang nyuruh kamu nanya begini?"

Ethan tersenyum. "Bukan siapa-siapa kan Ethan cuma nanya aja. Tuh kan, Kak Gracia malah baliik nanya lagi, huh Ethan sebel deh."

"Iya-iya. Shani orangnya baik, tapi ya gitu. Tapi kalau cakep, kayaknya Ethan jauh lebih cakep deh."

"Oh ya?" Ucap Ethan tersipu lucu.

Gracia tertawa. "Iyalah."

"Yaudah Ethan mau ke toilet dulu ya Kak, tunggu di sini Ethan cuma sebentar kok."

"Okay."

Ethan pun langsung berlari ke dalam rumah, meninggalkan Gracia yang terkekeh geli melihatnya sambil berteriak "ETHAN GAK USAH LARI NTAR JATOH!"

Ethan dengan segera menuju kamar Shani, namun Ethan malah menghampiri Okta dan membisikkan sesuatu di telinganya. Okta pun lalu mengambil uang di dompet Shani yang diletakkan Shani di atas nakas. Mengambil uang berwarna biru lalu memberikannya pada Ethan dan kembali berbisik. Mereka langsung ber-high five lalu Ethan pun pergi.

Shani yang sedari tadi hanya menjadi penonton pun mulai merasa terganggu. "Eh, duit gue kenapa lo kasih Ethan nyet."

"Udah gak usah banyak bacot. Sekarang gue dan lo jadi tau kalau Gracia belum punya pacar."

"Serius? Lo tau darimana?"

"Gue gitu." Sombong Okta.

"Oh, jadi lo tadi manfaatin Ethan ya?"

Okta mengangguk. "Dan apa lo gak mau tau jawaban dia waktu Ethan tanya pendapat doi tentang lo?"

"Apa?"

"Gracia bilang lo orang yang baik dan cakep walaupun Gracia juga bilang cakepan Ethan tapi."

"Oh ya?"

"Iya. Jadi rencana gue berhasil kan? Coba aja gue gak dateng ke rumah lo pagi ini. Apa selamanya lo cuma akan natap dia dari jauh tanpa bertindak? Cih."

Shani terkekeh. "Sialan lo."

*A few minutes ago ...*

"Shan, udah deh lo jujur sama gue, lo beneran suka sama Gracia kan?"

"Njir, emang keliatan banget ya?"

Okta mengangguk. Ia melangkah mendekati Shani yang kini melihat Gracia dari balik jendela kamarnya.

"Iya banget. Lo... Beneran serius sama dia?"

"Gue gak tahu." Shani mengalihkan pandangannya.

"Oke, kalau begitu gue tanya lo jawab. Iya atau enggak. Gue bisa tau lo emang serius cinta dia atau enggak lewat jawaban-jawaban lo nantinya."

Shani hanya mengangguk. Tak begitu yakin.

"Lo ngerasa ada yang aneh sama perasaan lo?" Shani menjawab ya.

"Lo takut dia gak suka sama lo? Karena insiden pertemuan pertama kalian waktu itu?" Lagi-lagi Shani mengangguk.

"Lo suka merhatiin dia tanpa lo sadari?"

"Lo selalu mikirin dia kapanpun dan dimanapun?"

"Lo selalu pengen ada di dekat dia?"

"Lo punya perasaan beda dari saat lo sama mantan-mantan lo sebelumnya ke dia?"

"Lo bahagia liat dia bahagia?"

Okta menghela nafas ketika semua pertanyaannya dibalas Shani dengan anggukan penuh keraguan.

"Lo cinta sama dia?"

"Gak tahu." Lirih Shani. Bagaimana dia bisa tahu soal cinta jika ia pun sebelum ini tak pernah merasakannya?

Okta melotot gemas. "Kok gak tahu sih? Lo itu cinta sama dia oneng." Geram Okta.

"Ah, bodo ah. Gue tuh bingung tau gak. Gue kan gak pernah ya kayak begini. Dan gue tuh takut kalau gue beneran cinta sama dia itu Oma bakalan ngelarang gue deket sama dia. Kan susah, lo juga tau kan gimana masalah nyokap bokap sama oma gue?" Ucap Shani dalam satu sentakan nafas.

"Oke pertannyaan terakhir. Kalo gue bilang gue juga suka sama dia dan gue mau ngedeketin dia. Apa lo mau mundur teratur? Lo kan yang bilang sendiri kalo lo gak cinta sama dia? Lagian kalo dilihat, Gracia cantik juga yah."

Shani maju selangkah mendekati Okta dengan tatapan tajam yang mematikan. "Apa maksud lo? Apa apaan nih? Bukannya lo ya yang bilang dia itu kuno dan bukan selera lo?"

"Tuh kan. Iya kan lo cemburu? Lo tuh berarti beneran cinta sama dia Shan. Tuh mata lo aja masih melotot serem gitu ih."

"Oke, gue cinta sama dia terus apa?"

"Nah kan, ngaku dari tadi kenapa sih? Lo gengsi?"

"Gue tuh ngerasa gue gak baik buat dia Ta, lo tau itu kan? Dan dengan adanya Oma juga gue takut kita bakalan sama-sama terluka nantinya."

"Kita? Emang dia juga suka sama lo?"

"Nah itu juga masalahnya. Tapi itu sih gampang ya, gue gak perlu waktu lama bikin orang suka sama gue." Shani tersenyum menyebalkan.

"Idih najis."

Shani terkekeh begitupun Okta. Mereka pun diam dan saling berpikir. Shani berpikir bagaimana kedepannya dan Okta yang berpikir untuk membantu Shani menyelesaikan masalah hatinya. Huek, sensitif banget kalo bahas hati. Berasa kayak anak alay yang apa-apa baper apa-apa ribet gara-gara hati.

Ceklek.

Ethan masuk kamar Shani dengan wajah bingungnya. "Kak, ini gimana cara ngitungnya? Bantuin Ethan ngerjain PR dong." Ucap Ethan melas.

Lampu lalu menyala di otak Okta, ia jadi punya ide dan cara khusus untuk membantu Shani sekaligus membantu Ethan.

"Oh ya, Kak minta duit dong buat beli kuota. Abis nih punya Ethan padahal udah mau level terakhir game online-nya."

Okta tersenyum misterius. "Oke Shan, gue punya rencana. Ethan lo boleh minta apa aja ke Shani tapi bantuin dia dulu yak."

Dengan pandangan tertarik Ethan pun mengangguk sedang Shani yang terheran hanya menatap Okta penuh rasa ingin tahu.

*Present*

"Jadi begini ya Shan! Akhirnya lo bisa juga jatuh cinta. Hahaha."

Shani menonyor kepala Okta. "Gak usah ngeledek lo ntar dapet karma tau rasa!"

Okta tetap tertawa geli. Sampai Shani mengancamnya dengan takkan ikut ngumpul esok hari pun, seketika Okta langsung terdiam walaupun tetap mengulum bibir menyembunyikan senyumnya.

"Jadi gimana?"

"Apanya?"

"Lo mau perjuangin dia atau pupusin semua sampai di sini."

"Menurut lo?"

"Kalo lo serius, lo gak bakal bilang gak tau. Dan kalau lo bukan pengecut, lo bakal bilang gue gak takut dengan apapun yang bakal ngehalangin cinta gue." Okta menatap serius mata Shani.

Shani tersenyum. "Tapi kalau gue bilang, karena gue baru pertama kali ngerasain perasaan aneh ini dan hal itu ganggu gue, jujur aja. Dan bagaimanapun, gue penasaran dengan apa yang pertama kali gue rasain ini, jadi gue bakalan tetep biarin ini terjadi. Gue gak akan nyerah sekalipun dia gak bilang iya, dan sekalipun Oma bilang gue harus ninggalin dia karena dia cewek atau karena dia cuma anak pembantu di rumah ini."

"Gue baru sadar, sejak awal harusnya gue gak perlu takut dengan kemungkinan-kemungkinan itu semua. Karena ada kalanya gue mesti percaya sama kata hati sendiri. Dan ada saatnya gue mesti ngelewatin semua masalah bukannya lari dari kenyataannya. Inilah waktunya. Kalau gue ngomong begitu gimana?" Ucap Shani bijak sambil memandang Gracia yang berbincang dengan Ethan di bawah sana.

Okta menepuk pundak Shani. "Itu baru lo Shan. Kalau lo Shani, lo bakalan ngomong kayak begitu."

Mereka pun tersenyum sambil menatap satu sama lain.

"Jijay gue berasa jadi pacar lo, tatap-tatapan mesra kayak gini."

"Gue malah lebih jijik lo ngomong jijay kayak begitu, sumpah." Shani bergedik.

"Hahaha. Njir, lo kalo jatuh cinta puitis banget ye. Gue hampir aja gak percaya kalo lo itu Shani setelah lo bilang jijik ke gue."

"Oh ya?"

"Hm."

"Weh si Ethan udah lari tuh!"

Shani langsung meloncat dari tempatnya menuju pintu kamarnya yang beberapa detik kemudian pintu itu pun terbuka dari luar.

Ethan membisikkan sesuatu di telinga Shani, lau giliran mereka saling berhigh-five.

Okta mengangguk-anggukan kepalanya melihat tingkah petakilan khas Shani. "Ini beneran baru Shani. Dasar Shani... " Gumamnya.

***

Disebuah kafe yang dekat dengan sekolah Shani.

"What's up broh?" Teriak Anin dengan heboh begitu melihat Shani dan Okta menghampiri dirinya beserta teman-temannya.

Shani memejamkan matanya begitu tahu jika semua pengunjung sedang melihat ke arahnya. "Sumpah, lo malu-maluin gue tau gak. Lo bener-bener butuh pertolongan buat gak lebay lagi, angin sepoy." Ucap Shani sambil duduk di kursinya.

Okta terkekeh, begitupun teman-temannya yang lain.

"Kemana aja lo Shan?" Tanya Frans, yang sebenarnya merupakan sepupu Shani.

"Sibuk. Biasa, gue ngerjain tugasnya Bu Ema biar gue gak perlu lagi minjem punya lo. Sebagai sepupu yang baik dan sebagai seorang teman. Pengertian banget kan gue?"

Frans memutar bola mata sedang yang lain menyoraki Shani.

"Bohong. Shani lagi jatuh cinta sama cewek, makanya jadi melankolis dengan terus jadi stalker cewek itu." Okta berdecih.

Shani melotot. "Ta lo!" Shani tersenyum masam. "Heran gue, mulut lo lemes banget." Sewot Shani.

"Si Shani ngerjain PR? Tanda-tanda kiamat itu mah." Heboh Anin.

"Oh ya? Siapa targetnya kali ini?" Tanya Frans tertarik.

"Ciyyyeee Shani. Traktir dong, lo mau putusin tuh cewek kapan?"

"Yang sekarang kayaknya gak bakal putus deh Nin, masalahnya si Shani udah beneran suka sama nih cewek."

"Widih, emang siapa sih ceweknya Ta? Penasaran gue."

"Ada lah, orangnya cantik. Emang apa sih yang bikin si Shani jarang main bareng kita kalo bukan karena cewek itu?"

"Wah Ta, lo bener-bener-"

Anin memotong ucapan Shani. "Gue gak salah denger ini kan? Si Shani cinta sama cewek? Beuh, gue pikir Shani udah trauma pacaran gegara putus terakhir sama mantannya setahun yang lalu. Pino atau siapa namanya Frans?"

"Vino Anin."

"Nah itu maksud gue."

Shani terdiam lalu menghembuskan nafas kasar. "Apa sih lo pada? Kenapa jadi bahas gue ih."

"Pada kangen kali Shan, sama lo." Frans terkekeh.

"Iya gue pan kangen sama lo Shan." Anin mengedipkan matanya.

Okta dan teman-teman Shani yang lainnya pun tertawa. "Ih sumpah, gue jijik sama lo Anin. Hih amit-amit."

"Aduh tapi si Shani, seorang pembalap cewek profesional sekaligus photographer setengah abal-abal ini beneran bisa cinta sama orang? Gue gak lagi mimpi kan ini? Hahaha. Gue masih gak nyangka, beneran."

Gelak tawa membuat Shani menjadi semakin sebal.

"Eh, sebejat-bejatnya kelakuan gue juga gue punya hati lagi. Awas kalian pada terpesona sama cewek itu."

"Emang se-spesial apa sih tuh cewek Shan?"

Frans tersenyum kecil di balik buku ensiklopedi di tangannya. Biasa, namanya juga anak rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya ya gitu deh. "Ck, selera lo bukan selera gue kok Shan."

"Bagus deh kalau begitu." Shani tersenyum senang.

Ya, selamat bertemu dengan 3 sahabat kocak Shani. Okta, ya gitu deh orangnya. Kelebihannya mungkin dia yang paling sabar dan paling unik dari yang lainnya sekaligus yang paling rese dan sotoy. Anin, paling heboh, kepo dan sok cantik menurut Shani, pokoknya yang paling cerewet ngalahin ibu kost-kostan kalau lagi nagih utang. Cuma ya, dia yang paling bisa menghidupkan suasana juga sih. Dan Frans, sepupu Shani. Yang paling punya prinsip dan komitmen, paling pinter sih dengan berat hati Shani akuin juga yah... Paling dewasa.

Kalau Shani sendiri gak usah ditanya. Paling sok kece, sok iye, sok keren. Paling keras kepala dan suka ngelanggar aturan. Berbanding 180 derajat sama sepupunya. Pokonya dialah yang paling jahil dan petakilan.

Kalau soal asmara, Shani juga yang paling player. Makanya pada kaget waktu tau Shani beneran pengen pacaran lagi. Yang lain masih bisa di toleran lah tingkat ke-playerannya kecuali Frans yang orangnya agak kaku dan penuh komitmen. Pacaran mugkin cuma satu dua kali sejak SMP. Dasar maniak buku.

Keempatnya menyukai olahraga, terutama basket. Tapi Frans lebih dominan di bidang sastra kayak suka nulis-nulis gitu. Sedang Anin yang lebih suka buat shopping, dandan atau main game dan baca komik anime Jepang karena dia otaku sejati dan Okta yang berbakat ngelukis atau gambar logo dan lebih suka baca novel. Kalau Shani sih beda lagi, dia lebih suka hal yang lebih menantang kayak balapan walaupun dia juga hobi moto candid atau pemandangan yang bagus. Sangat berbanding terbalik dengan parasnya yang ayu dan terlihat kalem kayak cewek baik-baik.

Yaudah gitu, ibarat drama korea. Mereka berempat itu mirip sama F4 di Boys Before Flower versi cewek kalau di sekolah. Kecuali Frans tentunya. Banyak anak-anak di sekolah yang terpesona dengan sikap cuek tapi kerennya Frans, lucu dan cute-nya mata sipit milik Anin, tinggi tapi kecenya Okta serta bandel tapi cantiknya Shani.

Dan sesampainya Shani di rumah...

"Mbok, Gracia ada dimana?"

"Hah? Oh, si neng tadi abis masak gak tau deh kemana. Tadi neng kayaknya bilang mau ke taman belakang kalau gak salah."

"Oh, yaudah makasih."

Shani pun berjalan ke taman di belakang rumahnya. Satu-satunya tempat yang rindang dan nyaman apalagi dengan banyak tanaman serta pohon, gazebo dan kursi yang menghadap ke kolam ikan peliharaan Papa dan adiknya.

Shani dengan hati-hati menghampiri Gracia yang sedang membaca buku di tangannya. Buku tebal yang juga sering dibaca mamanya, novel mungkin.

"Ehm, boleh ikut duduk di sini?" Ucap Shani sok yes sambil memasang senyum tebar pesona.

Gracia menoleh, tersenyum kecil. "Oh, boleh."

"Cuacanya bagus yah."

Diam-diam Gracia tersenyum geli. "Shan, bukannya ini mendung ya."

"Oh? I-iya, maksudnya enggak. Udaranya kayak nyaman gitu lho, seger kan ya banyak pohon gitu kan, jadinya yah... Gitu." Shani semakin salah tingkah.

Gracia terkekeh, yang suaranya bagaikan senandung indah di telinga Shani. "Hm."

"Lagi baca apa sih?"

"Novel?" Gracia mengendikkan bahu.

"Novel cinta-cintaan ya?"

"Iya, romance."

"Yang kayak gitu, ceritanya gimana?"

Mata Gracia pun berbinar saat menceritakan hal yang disukainya. Bacaan yang paling disenanginya. Ya, sama seperti saat Shani bercerita tentang Gracia kepada Okta, sama seperti saat mamanya bercerita icha dan veer di serial drama india favorit Tante Nindy. Semua orang punya sesuatu yang disukai. Dan tanpa disadari, mata kita pasti berbinar saat membicarakan hal yang kita sukai itu, sama seperti Gracia saat ini.

"Ceritanya ya romantis gitu. Ada terharu ada senengnya. Tapi di novel ini konfliknya tentang dua orang yang saling mencintai tapi gak bisa bersatu karena terhalang restu. Sedihlah pokonya."

"Oh, gitu. Kalau lo jadi salah satu pemain di cerita itu, hal apa yang bakal lo lakuin? Tetep jalanin hubungan yang gak mungkin itukah?" Tanya Shani bimbang, entah kenapa Shani merasakan hal yang sama, ia tersindir hanya oleh sebuah cerita fiksi. Omanya, Shani tau sang Oma takkan merestui cintanya dengan gadis yang kini duduk di sampingnya.

"Ya, susah juga sih. Tapi, kalo kita emang bener-bener cinta dia, kenapa kita gak berusaha untuk meluluhkan hati orang tuanya buat bisa dapet restu? Kalo menurut aku, ya aku mesti buktiin kalo semua cinta itu berhak untuk bersatu."

Shani mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.

Saat Gracia telah kembali fokus pada novelnya, yang mana membuat Shani mengalihkan pandangan ke depan untuk meyakinkan diri dan berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk dia mengutarakan perasaannya.

Shani pun menghela nafas panjang.

Lalu dengan suara lantang disertai degup jantung yang hebat ia berkata. "Gre."

"Hm?"

"Gre kalo gue bilang gue suka sama lo, gimana?" Ucap Shani sambil menatap dalam mata Gracia.

Gracia terdiam. Menatap dalam mata Shani juga, ia pun berkata. "Kalah taruhan lagi ya Shan?" Bisiknya.

Shani mengerjapkan matanya kaget dengan respon Gracia, ia pun mengerutkan alisnya memberikan gestur bertanya. "Hah?"

Gracia menghembuskan nafas kasar. "Yaudah gak apa-apa. Berhubung kamu udah baik sama aku akhir-akhir ini, oke aku bakalan akting di depan Okta ataupun temen-temen kamu kalau, seolah kamu berhasil buat aku-"

"Lo ngomong apaan sih Gre?"

"Aku gak senaif itu, Shan. Ini kisah nyata bukan fiksi, bukan sinteron bukan juga ftv. Gak ada sejarahnya orang kayak kamu beneran suka sama aku. Aku cukup sadar diri berada di sini, dan buat jadi bahan taruhan lagi... Oke aku gak apa-apa asal kamu jujur dan ngomong dari awal biar aku bisa bantu kamu juga."

Shani semakin merasa tidak senang. Butuh keberanian besar untuk dia mengungkapkan perasaannya tapi, kenapa Gracia bisa berpikir seperti itu? "Kenapa lo bisa punya pendapat kayak gitu? Lo mikir kalau gue bilang suka karna kalah taruhan lagi? Darimana datengnya pemikiran gak masuk akal itu?"

"Apanya yang gak masuk akal, Shan?"

"Lo dan teori lo."

"Masuk akal." Tegas Gracia.

"Enggak."

"Masuk akal Shan! Kita bahkan gak pernah sedeket ini sebelumnya dan secara tiba-tiba kamu datang dan bilang suka kayak gitu. Gimana aku bisa percaya? Saat pertama kali kita ketemu aja kamu udah jadiin aku taruhan, terus apa selanjutnya?"

Shani tercengang. Itu kalimat terpanjang yang Gracia katakan setelah dia tinggal di sini. Tapi entah kenapa yang dirasakan Shani kali ini hanyalah sesak. "Sebegitu buruknyakah gue di mata lo?" Lirih Shani.

"A-aku mesti ke dapur bantuin si Mbok." Dengan tiba-tiba Gracia berdiri lalu pergi. Meninggalkan Shani yang terpaku melihatnya semakin menjauh.

***

"Emang tampang gue tampang kriminal ya?"

"Hahaha. Astaga lucu banget. Perut gue sampe sakit anjir."

"Ck, gue kan gak lagi ngelawak, Ta."

"Iya, tapi itu lucu tau gak. Hahaha, jadi si Gracia ngira jadi bahan taruhan lagi? Payah lo Shan!"

Shani mendengus. "Kayaknya salah ye, gue curhat dan nelfon lo malem-malem gini. Ngabisin pulsa gue juga."

"Lo kalo lagi kesel ya gak gue juga dong yang mesti kena dampaknya. Lagi lo pelit banget sih Shan, pulsa doang dipermasalahin. Kayak orang susah aja."

"Oh, mulut lo bisa di rem juga ya, ketawanya?"

Okta pun kembali tertawa membuat Shani yang moodnya sedang sebel kuadrat menjadi sebel banget, banget yang banget banget.

"Bagus, ketawain aja gue. Seneng banget ya lo, liat gue menderita gini."

"Oke, sorry-sorry Shan. Oke gue mau ngomong serius ini. Kalo menurut gue itu kode Shan, kode. K-O-D-E. Cewek-cewek tuh suka nyebar kode, dan kita yang sebagai cewek juga mesti peka. Sekali-kali gak usah pake logika, tapi pake hati. Itu berarti si doi itu belum yakin sama lo. Dan lo mesti tunjukin kalo lo beneran gak main-main sama pernyataan suka lo itu, lo harus mengubah sikap lo ke dia."

"Kok gitu? Bukannya cinta itu menerima apa adanya ya? Kenapa gue harus berubah jadi orang lain?"

"Bukan begitu juga sih. Maksudnya itu lo mesti ngubah sikap lo buat nunjukin semuanya. Lo kan seringnya diam-diam gitu, secara sembunyi-sembunyi kan selama ini? Nah, sekarang lo gak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Lo ngerti gak maksud gue?"

"Tumben lo pinter. Eh tapi, gue bingung. Gue gak tau mesti ngelakuin apa dulu. Bantu gue lah Ta?"

"Ah, gue tau. Pertama-tama hal yang mesti lo lakukan adalah buat diri lo sesuai dengan orang yang disukainya. Ya, usaha gitu buat dia bisa mulai ngelihat lo."

"Caranya?"

"Pake cara lama. Nge-stalk."

"Emang dia punya akun sosmed ya? Kayaknya gak deh."

"Haish Shani! Jadi orang mah gak usah bego-bego banget kenapa? Kan ada Ethan oneng."

"Oh iya yah. Lupa gue. Bener juga yah ide lo cerdas Ta."

"Gue gitu." Sombong Okta lagi-lagi yang membuat Shani begitu ingin menimpuknya jika saja dia berada di hadapannya.

***

"Udah bisa, Ethan?"

"Udah." Ethan menutup buku PR nya. Ethan benar-benar merasa berutung Gracia tinggal di rumahnya. Berasa punya guru les privat yang setiap waktu bisa ngajarin dia. Kapan saja dan dimana saja.

"Kak Gracia kok pinter banget sih? Udah baik, cantik, pinter juga. Pantes aja kak Shani- Ups."

"Kak Shani kenapa Ethan?"

"Hehe gak apa-apa Kak. Itu kan, Kak Shani kan kayak kebalikan sifatnya Kakak gitu."

"Hush, gak boleh gitu sama Kakak sendiri."

"Oh ya, Kakak kenapa suka banget sih sama doraemon?" Tanya Ethan sambil melihat sekeliling kamar Gracia yang penuh dengan boneka jepang berwarna biru itu.

"Yah, suka aja. Kak Gracia pengen gitu kayak doraemon yang punya kantong ajaib. Kan enak bisa gampang kalo pengen sesuatu."

"Jus... Jus-tin Biye bier? Siapa Kak?"

Gracia terkekeh. "Bacanya Justin Bieber Ethan, dia itu idola Kakak. Keren kan?"

"Kerenan siapa Kak sama Kak Shani?"

"Hm, kerenan siapa ya? kerenan Ethan lah."

"Iyalah." Ucap Ethan tersenyum lebar. Gracia kembali tertawa.

"Kakak suka warna ungu?" Ethan melihat kamar Gracia yang dominan berwarna ungu.

"Putih juga bagus. ungu itu unyu aja deh."

"Oh, Kak Gracia. Kak Gracia kriteria pacarnya yang kayak gimana? Yang kayak si Biye bier itu ya?"

Kelakuan Ethan kembali membuat Gracia terkekeh geli. "Kakak lebih suka orang yang romantis, perhatian, dan setia. Kenapa ih nanya itu?"

"Gak apa-apa" Ethan tersenyum lebar.

***

"Dia suka orang romantis Ethan?"

"Iya Kak Shani. Kak Gracia tuh suka orang yang romantis dan perhatian dan setia. Katanya yang ketiga itu paling penting."

"Oke, kalo setia itu bukan masalah. Kak Shani juga bisa, perhatian juga bisa tinggal terang-terangan aja kayak yang diomongin Okta semalem. Tapi romantis? Romantis itu gimana?"

"Ethan tau Kak, Ethan banyak liat di Tv, apalagi yang sering Mama tonton itu kalo artisnya bilang orang romantis biasanya suka ngasih bunga."

"Bunga? Jadi Kakak mesti ngasih dia bunga?"

"Iya betul. Bunga tapi warnanya putih. Katanya Kak Gracia, dia juga suka warna putih."

Shani terdiam lalu mengangguk. "Mawar putih kayaknya lebih bermakna gitu ya Ethan. Artinya kan ketulusan." Gumam Shani.

"Eh tapi gimana Kak Shani ngasihnya? Cara yang romantis itu yang kayak apa kira-kira ya?"























Tbc

Selingan lagi....

Oh ya, kayaknya gue bisa ngramal deh.

Gue ramal... ntar malem 'Pacar Shani' update.

Hahaha

Continue Reading

You'll Also Like

23.9K 983 13
Dia kembali tapi dengan sifat yg jauh berbeda Dia berubah jadi orang yang dingin ke siapa pun termasuk kekasihnya, bahkan ia tidak mengenal siapa ke...
883K 66.2K 66
Aku memang bukan pacar idaman, Tapi aku layak Jadi Pilihan. Cerita ini Bergenre GXG, harap Bijak dengan segala sesuatu nya. Thank you :)
51.6K 3.7K 19
Menyembunyikan perasaan bukan lah hal mudah bagi kebanyakan orang. Begitupula dengan Gracio yang ternyata sangat pandai merahasiakan perasaan suka pa...
185K 11.5K 44
A story about relationship Gracio & Shani tentang kesetaraan ekonomi atau kesetaraan cinta? siapa yang lebih jatuh hati ke dalam cinta? kapan mereka...
Wattpad App - Unlock exclusive features