Caramella, nama yang diberikan oleh ibunya yang berkebangsaan Thailand karena beliau suka sekali dengan permen karamel. Aneh? Memang. Namun, ia menyukai nama itu karena ia menyayangi ibunya. Untungnya sang ibu tidak memberikan nama Gorilla karena ibunya termasuk dalam golongan ibu-ibu anti mainstream yang suka menonton film tentang binatang purba itu. Hal itu juga berlaku untuk saudara kembarnya yang bernama Moza, Mozarella Mykel.
Di usianya yang keenam belas tahun, ia memilih untuk hidup mandiri dengan tinggal jauh dari keluarganya. Sang ayah menolak keinginan putri bungsunya, apalagi ketika mengetahui putrinya memilih Jerman sebagai negara untuk tinggal. Akhirnya, dengan berat hati sang ayah menuruti kemauan putrinya.
Cara senang bukan main ketika mendapat tiket kebebasan di depan matanya. Ia juga meminta sang ayah untuk menarik semua pengawal yang mengawasi dirinya. Lagi-lagi ayahnya menyetujui usul putrinya meskipun ia akan melakukan pengawasan secara sembunyi-sembunyi.
"Tidak ada penguntit, ayah. Aku tahu isi kepala ayah saat ini." Ucapan Cara membuat sang ayah melongo tak percaya.
"Kalau ayah tetap melakukannya, Cara akan berhenti sekolah dan tidak mau makan." Ancam Cara menatap tajam ayahnya.
Ibunya menelan ludah melihat sikap putrinya yang keras kepala. Memang gen dari sang ibu yang menurun kepada Cara. "Bagaimana kami tahu keadaanmu, jika kami tidak melakukan pengawasan?"
Cara memutar bola matanya. "Aku akan menelepon ibu dan ayah. Setiap jam kalau itu perlu, atau aku akan mogok makan."
Ayahnya menghembuskan napas kasar. "Baiklah, jika itu maumu, ayah menarik semua pengawal."
"Tidak ada pengawasan?" Tanga Cara meminta kepastian
"Ya, tidak ada pengawasan."
Cara tersenyum. Senyum kemenangannya malam itu yang terus menghiasi bibirnya sampai waktu makan malam itu keluarga habis.
***
A year later...
Berlin, Jerman.
Di sinilah Cara meneruskan pendidikannya. Sebuah sekolah yang masuk dalam kategori sekolah unggulan dan terbaik di kota Berlin.
Ia menatap gedung sekolah di depannya. Sudah satu tahun ia bersekolah di sini. Rasanya seperti baru kemarin ia pindah ke negara ini.
Matanya masih terus mengamati gedung sekolahnya. Ia betah duduk di bawah pohon yang terletak di taman sekolah sambil memperhatikan gedung sekolah di depannya. Tak hanya itu, ia juga suka mengamati siswa-siswa di sini ketika jam istirahat berlangsung, seperti saat ini.
Tepukan ringan mendarat di bahu kanan Cara. Tanpa perlu menoleh, ia tahu siapa pelakunya. Reyes Daemon. Teman sekelasnya dan satu-satunya sahabat di sini.
Reyes menyodorkan sekaleng kopi dingin di depan wajah Cara yang langsung mendapat sambutan baik dari gadis itu. Selama istirahat berlangsung, mereka berdua memang menghabiskan waktu di taman atau di perpustakaan sekolah.
Cara membuka tutup kaleng sebelum meneguk kopi dingin dengan sedikit campuran cokelat di dalamnya. Rasa cokelat dan kopi bersatu menimbulkan kenikmatan di lidahnya, membuatnya ketagihan dengan minuman ini.
"Apa yang kau pikirkan?" Reyes bertanya tanpa menatap gadis Asia di sampingnya.
"Tidak ada." Jawab Cara tak acuh.
"Aku tidak bisa berbohong padaku."
Cara menoleh, menatap laki-laki di sampingnya. Wajah tampan, hidung mancung alami tanpa operasi, rahang yang tegas membuatnya terlihat sangat sempurna. Reyes termasuk murid tampan di sekolah ini, tetapi ia lebih memilih mengekori Cara kemana pun daripada mengikuti club di sekolahnya yang bisa membuatnya semakin terkenal.
"Benarkah?" Cara tersenyum simpul.
Matanya masih menatap Reyes yang sibuk melihat pemandangan di depannya. Laki-laki ini terlihat seperti lebih tua beberapa tahun dari Cara, mungkin empat sampai lima tahun di atasnya. Namun, Cara pernah tidak sengaja melihat kartu identitas laki-laki di depannya. Di sana tertulis tahun kelahiran pria ini sama dengan tahun kelahirannya.
Apakah wajah laki-laki bule itu boros semua ya? Batin Cara.
"Melamun lagi." Ucapan Reyes berhasil menyentak Cara kembali ke alam nyata.
Cara mendengus sebelum ia bercerita pada laki-laki di sampingnya. "Moza, saudara kembarku akan ke sini."
"Bagus. Setidaknya kau ada teman di rumah kecilmu." Sahut Reyes yang malah membuat Cara sebal.
"Dia akan tinggal di sini, Reyes. Sialnya dia merayu ayah dan bilang kalau dia ingin mendapatkan pendidikan sepertiku, padahal dia ingin bertemu dengan kekasih dunia mayanya."
"Biarkan saja dia bertemu kekasihnya." Ucap Reyes sekenanya.
"Biarkan katamu? Aku yang malah menjadi pengawalnya jika ia ada di sini, mengawasinya kemana pun ia pergi. Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain?"
"Tak punya. Kau memang tak punya pekerjaan lain selain sekolah, belajar, dan mengajakku menghabiskan uang orang tuamu."
Cara membeo. Sial! Kata-kata Reyes benar-benar menghujam jantungnya.
"Kau berselisih dengan saudaramu itu?" Tanya Reyes.
Cara menggeleng kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Bukan berselisih dalam artian perang saudara, tetapi aku selalu jadi bodyguard-nya karena dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri."
Tidak ada tanggapan dari Reyes. Pria itu hanya diam dengan pandangan menerawang ke depan. Cara juga memilih diam, sambil tetap menatap Reyes.
Kepala Reyes menoleh ke samping. Mata mereka bertemu. Senyum jahil tergambar di wajah tampannya. "Jangan melihatku terus. Nanti kau malah jatuh cinta."
Pernyataan Reyes sukses membuat laki-laki itu mendapat tinjuan di bahunya. Namun, ia malah tertawa sambil mencubit kedua pipi Cara.
Lumayan juga pukulan gadis ini. Batinnya.
***
"Di mana kamarku?" Tanya Moza sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Di belakang." Jawab Cara yang sibuk mengunci pintunya.
Moza menegakkan tubuhnya. Matanya terbelalak menatap saudaranya. "What? Kau menyuruhku tidur di kamar belakang?"
Cara memutar bola matanya malas. Ia ikut menghempaskan tubuhnya di sofa di hadapan Moza. "Memangnya kenapa? Di sini hanya ada dua kamar. Aku tidak mau tidur denganmu."
Moza mendengus kesal. Bibirnya mengerucut.
"Ayolah. Tidak ada yang perlu kau takutkan di kamar belakang. Pemukiman di sini ramai."
Cara bangkit dari sofa. Ia melangkah menuju kamarnya. Namun, sebelum tangannya memutar knop pintu, ia menoleh, menatap Moza.
"Tunggu apa lagi? Taruh barangmu di kamar! Aku mau tidur."
***
Dering panggilan masuk di ponselnya membangunkan Cara dari tidur. Ia meraih ponsel yang terletak di meja nakas. Matanya setengah terbuka menatap layar ponselnya.
Mom is calling.
Ia segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari ibunya.
"Ya, bu?"
"Apa Moza sudah sampai. Sekarang dimana dia? Ibu telepon kenapa tidak diangkat. Dia baik-baik saja, kan?"
Cara mengernyitkan dahi. Baru saja mengangkat panggilan, ibunya sudah memberondongnya dengan segala macam pertanyaan.
"Sudah. Dia ada di kamar. Mungkin ponselnya tidak aktif. Dia baik-baik saja, bu."
"Syukurlah. Jaga Moza baik-baik ya, sayang."
Cara berdecak sebal. "Bu, aku kan anak bungsu. Kenapa aku yang menjaga dia? Dia juga sudah besar."
Terdengar kekehan sang ibu dari seberang sana.
"Sayang, kau bisa melindungi dirimu sendiri dengan ilmu bela diri yang kau kuasai, sedangkan Moza tidak memilikinya sama sekali."
"Kenapa ibu tidak mengirimkan pengawal untuk dia? Aku bukan pengawalnya, Bu."
"Benar juga idemu. Ibu akan mengirimkan pengawal untuk Moza dan kamu, sayang."
Apa? Kenapa dirinya ikut juga? BODOH!!
"Bu, aku sudah bilang, kan? Aku tidak ingin diawasi!"
"Oke, kalau begitu ibu tidak akan pengirimkan pengawal, tetapi ibu minta kamu menjaga Moza."
Penjelasan ibunya membuat ia kesal. Kalau begini apa bedanya ia dengan pengawalnya di Thailand? Apa gunanya ia meminta tinggal di luar negeri? Dia kan ingin bebas. Bebas dari pengawasan orang tua, bodyguard dan Moza.
"Ingat pesan ibu ya, sayang? Love you my baby."
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh ibunya, membuat Cara menggeram kesal. Pupus sudah harapannya hidup bebas di negeri orang.
***
Menjadi pengawal Moza dimana pun membuat ia jengah. Di sekolah, di rumah, di mall, dan semua tempat, di mana ada Moza di situ ada Cara. Hey, ia juga ingin menghabiskan waktunya sendiri.
Ia menceritakan kekesalannya pada sahabatnya, Reyes. Laki-laki itu hanya menjadi pendengar yang baik hingga akhirnya ia memberikan saran untuk Cara.
"Gunakan alat pelacak atau penyadap. Jadi, kau bisa mengawasinya dari jauh."
Seakan mendapatkan siraman air dingin di tengah padang pasir, Cara menyetujui usul Reyes. Ia dibantu oleh laki-laki itu untuk membeli alat pelacak dari seseorang kenalan Reyes. Laki-laki itu juga mengajari bagaimana cara memasang dan menggunakan alat tersebut.
Cara tampak senang. Dengan bantuan alat itu, ia terbebas dari tugas menjadi bodyguard. Ia punya waktu untuk dirinya sendiri dan tentunya ia bisa kembali menghabiskan waktu bersama Reyes.
***
Cara mengamati monitor, melihat kemana perginya Moza. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk akan menimpa saudaranya. Moza pergi bersama kekasihnya, Pedro, yang sejak awal tidak disukai Cara.
Cara memang tidak bertemu langsung dengan Pedro, tetapi ia tahu Pedro. Ia juga memberitahukan watak Pedro pada Moza, tetapi Moza malah mengabaikannya. Namanya juga cinta, ya begitulah, membuat orang lupa diri.
Mata Cara melebar ketika GPS Moza berbelok arah, membawa mereka menjauhi pusat kota. Mau kemana mereka? Sepertinya ada hal yang tidak beres.
Cara mengetikkan beberapa perintah yang membuat layar menampilkan gambar satelit seperti di Google Earth. Namun, penampakan gambar ini lebih akurat karena ia memakai aplikasi khusus yang diberikan oleh teman Reyes saat ia membeli alat mata-mata.
Ia mengambil ponselnya, mencari kontak Moza sebelum menekan tombol panggilan. Tak lama, Moza mengangkat panggilan darinya. Namun, apa yang ia dengar dari seberang sana membuat jantungnya berdetak cepat seakan ingin keluar dari tubuhnya.
.
.
To be continue...
Melamel14
19 Feb 2018
Kecepetan ga sih? Itu cerita awal sebelum Cara lari-lari di bangunan tua :D
Diceritain garis besarnya aja biar ga bosen ^^
Cara and Moza (17 tahun)
Reyes Daemon
Si Mata Biru