Crowded Mind [l.r.h]

By lowcostsis

117 28 20

"I met her and then my mind just crowded by thoughts," The cliche story about a new girl met the popular hot... More

Pasar Malam
Ganteng dan Cantik
Gitar

Kota Lama yang Baru

49 14 16
By lowcostsis

Tatapan tajam masihku lontarkan ke arahnya. Laki-laki itu hanya mengabaikan dan memasang senyuman miring yang sangat menyebalkan. Inginku robek dari wajahnya.

Hukuman seharusnya membuatnya mampus tetapi kenapa dia malah terlihat sebaliknya? Seperti acara pindahan ini adalah hadiah baginya untuk ikut geng motor.

"Adik gue tersayang... jangan cemberut terus... nanti cepet tua," tanganku langsung mendarat ke kepalanya. Karena dia 'keras kepala' dia hanya tertawa dan melipat lengannya, menatap jalan di depan.

Aku kembali bersandar, mengambil napas dalam dan memejamkan mata. Membandingkan memori yang telah terjadi dengan apa yang mungkin akan terjadi di Jogja nanti.

I hope it will be good this time.

"Mamah sama Papah mau keluar dulu, ketemu kawan-kawan lama di kota,"

Mereka berdua telah berdiri di ambang pintu. Aku hanya mengangguk dan kembali memerhatikan Bang Adi memasang televisi tanpa minat untuk membantu sedikitpun.

"Adi," kakakku tidak merespon sama sekali, membuat mamah melanjutkan kalimatnya, "mamah, papah, bahkan Anna, pengen kamu berubah disini. Mamah mohon, bantu mamah menjadikan diri kamu lebih baik, sukses untuk ke depannya,"

Melihatnya mengabaikan perkataan tersebut, Papah pun ambil suara, "Adi, kalau orang tua menasehati didengerin! Gak sopan kamu!"

Dengan tangannya yang sibuk dengan obeng dan sebagainya, ia memutar mata yang membuatku terkejut layaknya gak pernah liat dia begitu. Aku langsung melemparkan bantal sofa terdekat kepadanya.

"Ck! Ah!" lirikan gue yang mengisyaratkan ke arah orang tua kami berhasil membuatnya menjawab, "iya, pah,"

Mamah menarik napas kembali, "Ya sudah, mamah sama papah duluan ya,"

"Hati-hati, Mah, Pah,"

Lalu rumah hanya berisi kami berdua.

"Orang tua itu, Bang! Hargai layaknya permata! Bukan sampah!"

"Abang!"

Aku memilih untuk berdiri dan berjalan menuju kamarnya setelah tidak ada respon darinya. Hpku lowbat dan butuh charger yang kemaren Bang Adi pinjam. Tanganku mengetuk pintunya dan aku masih tidak mendapat apa-apa.

Sebuah ide untuk masuk ke kamarnya muncul seketika di otakku. Dengan fakta aku belum pernah melihat kamarnya, sama sekali, penasaran juga ingin melihat apa isinya. Aku mencoba membuka pintunya dan beruntungnya, tidak terkunci.

Badanku tergelonjak saat seisi kamar terlihat. Keempat dindingnya berhasil ia penuhi dalam dua hari dengan poster penyanyi ataupun band yang familiar bagiku. Yang lebih mengejutkan lagi adalah terdapat tiga gitar tergeletak dengan gardus dan bubble wrap yang berantakan di lantai.

Dan salah satunya milikku.

Sebelum kakiku mendekat dengan benda itu, suara Bang Adi dari belakang ibarat menarikku kembali ke luar kamar.

"LOE NGAPAIN ANJIR DI KAMAR GUE!"

Badannya membloking jalan masuk walaupun pintu telah ia tutup keras barusan. Mukanya penuh dengan khawatir, takut, dan marah. Aku bisa melihat dari matanya.

"It's nothing, okay? The guitars are my friend's,"

"Bang Adi-"

"Fuck off!" ucapnya dengan nafas yang gak teratur. Aku menarik napas dalam, bersiap untuk mengatakan yang sebelumnya aku tutupi.

"Gitar putihnya punya gue, Bang," ekspresinya melembut dan tubuhnya menjadi tenang.

"We are hiding things for good, you're not alone,"

Kami berakhir duduk di lantai kamar Bang Adi, bercakap-cakap tentang apa yang kami telah rahasiakan.

Bang Adi bilang kalau dia selalu pulang malam karena dia latihan nge-band. Aku langsung merasa bersalah mengingat setiap dia balik ke rumah sekitar jam sepuluh, aku akan memutar mata ketika ia masuk.

Dia bercerita lagi tentang dirinya yang selama ini mencoba untuk berbaur dengan kumpulannya, hasilnya begitulah perlakuannya; minum-minum; rokok; geng motor.

"Gue sayang, Na, sama mama dan papa, bahkan gue sayang sama loe," tatapannya yang daritadi tertuju dengan lantai langsung melihatku dalam. "Memang gue keliatannya kurang ajar. Gue cuman ga suka dinasehatin, hal ini bukan salah mama tapi dipikiran gue cuman alasan kenapa gue gak bisa bebas di dunia yang gue cintai; musik,"

Potongan memori aku bersama 'alasan' itu datang, membuatku sedih tak karuan. Saat ia setiap hari bernyanyi untukku dengan gitarnya waktu aku masuk rumah sakit. Atau ketika aku dalan perasaan yang buruk, ia akan bilang kalau aku gak sendirian, lalu dirinya bercerita tentang garis-garis di tangannya. Tanpa aku ketahui, air mata telah mengantri untuk turun.

Bang Adi langsung memeluk tubuh kecilku. Tangannya mengusap punggungku. Tidak perlu aku memberitahunya apa yang aku pikirkan, ia langsung mengerti.

Waktu itu aku hanya umur delapan tahun, tak tau apa-apa tentang mentalitty, dan kalian gak bakal tau betapa menyesalnya untuk tidak mengetahui hal itu. Seharusnya aku membuatnya nyaman, bukan hanya menatap mata penuh luka saat ia bercerita. Harusnya aku tahu bahwa dia merasa sendiri, dia merasa tak ada yang peduli.

I'm so fucking sorry, El, i'm so sorry.

Hari ini adalah hari pertamaku berada di sekolah baru. Aku masih ingin menyalahkan semuanya ke Bang Adi walaupun di otakku sudah paham tentang masalahnya.

Berbicara dengan orang asing bukan keahlianku. Dengan masuk ke sekolah baru, kelemahanku itu mau ga mau harus aku hilangkan. Well, aku tak perlu berbicara jika ada teman sekolah dasar yang masih mengenaliku.

Setelah tubuhku seluruhnya berda di kelas sebelas ini. Penghuni kelas langsung menjadikanku sebuah perhatian. Hingga saat langkahku menuju bangku kosong, masih bisa aku rasakan tatapan-tatapan ke arah sepatu sampai rambut coklatku.

Aku memilih kursi di dekat jendela supaya masih ada kegiatan yang bisaku kerjakan; menonton apapun yang terjadi di halaman samping sekolah. Bayangkanku duduk di barisan pertama, tepat di depan papan tulis, yang akan aku lakukan mungkin cuman bermain dengan jari sambil berharap gak ada yang memerhatikan.

Rasanya sudah lima jam aku duduk dengan tak nyamannya di kursi ini. Mataku langsung berputar saat aku melihat jam tangan dan sepuluh menit saja belum berlalu. Hampir tak tahan aku dengan orang-orang yang berada di ujung berbeda denganku, berbisik-bisik layaknya aku tidak akan sadar dengan hal itu.

Dua orang dari ujung yang sama tetapi kumpulan yang berbeda menghampiriku yang masih sibuk bermain dengan hp tanpa notifikasi. "Anak baru, kan?"

Aku mengangguk dan berlirih iya untuk menjawab pertanyaan dari cewek dengan rambut digerai itu. Si cowok dengan alis yang gue ingin pindahkan ke wajahku hanya diam memperhatikan.

"Gue Luna, ini Matthew," Matthew menaik turunkan alisnya ibarat itu adalah jabatan tangan. Argh! Itu hanya membuatk tambah iri. "Dia terlalu kece untuk berbicara, katanya,"

"Oceanna, panggil Anna aja," jawabku, menerima tangan Lunna.

"Loe mau apa, Na?" aku mengikuti Lunna yang sengaja memutari kantin agar seluruh warung terlihat dan sebuah keinginan datang ke otakku.

"Yang enak apa?" bakso, siomay, smapai es doger tak terlihat menarik di sekitar anak-anak lain yang menatapku asing. I hate this.

"Gue biasanya, sih, mesen bakmoy, Na. Suka gak?" aku hanya mengangguk seperti tak mau mereka mendengar suaraku.

Setelah memesan dua porsi di salah satu warung dan meminta untuk diantar meja yang tadi Matthew pilih, paling dekat dengan halaman sekolah.

Tanganku otomatis bergetar, sadar meja itu bukan hanya ada sosok Matthew disitu. Ada dua cowok lain yang duduk mengapitnya.

Lunna sepertinya sadar dengan keugupanku, ia menatapku dan berkata it's okay, lalu menarik tanganku erat ke meha itu.

"Guys, Nih dapet temen baru!" pandanganku hanya menatap mereka cepat lalu menunduk kembali.

"Akhirnya... gue mulai bosen ngobrol smaa cewek kayak loe doang, Lu," cewek di sebelah gue cuman menggeleng-geleng sambil tertaw. Aku sama sekali tak tau siapa yang berbicara tetapi gue suka suara ini. Unik.

Kepalaku akhirnya mendongak menatap ibu pemilik warung tadi mengantar sesuatu yang beraroma sedap. Tak hanya pemandangan bakmoy yang diletakkan ke meja, aku juga mendapatkan mata biru yang indah memerhatikanku.

That is one of the most pretty eyes I've ever seen.

NJay akhirnya gue nge-post something.

Gue emang penulis amatir tapi gue harap ini cukup untuk menjadi penghibur kalian

Finished-30/01/18
Published-13/05/18

~Tai bangau

Continue Reading

You'll Also Like

1.2K 122 7
Hi, I'm a boy have a name and I'm not a stranger. Seperti itulah kira-kira lelaki itu ucapkan padaku, Ya Ia sudah masuk ke kehidupanku sekarang, aku...
40.7K 4.4K 28
COMPLETED! Ga usah dibaca goblog.
7.4K 562 22
"Mimpi buruk yang menjadi kenyataan ketika aku jatuh cinta pada orang yang tak pernah aku inginkan sebelumnya" Most impressive ranking: #137 ashtoni...
78K 6.7K 56
"Everything seems blur without him." - Chrissy Costanza writing in bahasa. ©Copyrights 2014-2016 by p-vacation. All rights reserved. Book 1 of 4
Wattpad App - Unlock exclusive features