Days Without You

By Zeexxzee

4.6K 460 100

Baik-baik saja? Omong kosong. Aku kacau. Aku merindukanmu, Park Jihoon. - Kang Daniel. . Work ini awalnya han... More

Accident
Can We?
Star
Dream?

Days Without You

1.6K 122 34
By Zeexxzee

Back song : Davichi - Days Without You.

~~~

'Aku akan melewati hari tanpa ada perbedaan. Seperti permintaanmu.'

.

Suara bel di pintu masuk kafe tak berhasil mengalihkan atensi Daniel dari layar pipih didepannya. Sibuk mengetikkan beberapa kata disana. Mungkin. Daniel sudah berada disana sejak dua jam yang lalu. Tapi Daniel sama sekali tak berniat beranjak dari sana. Sungguh, ia tidak ingin meninggalkan tempat ini. Tempatnya dan lelaki manisnya saling bercerita tentang apa saja yang terjadi hari ini sembari menyesap secangkir kopi bersama.
Daniel melirik kearah jam tangannya. Dan menutup benda pipih diatas meja kafe dengan helaan nafas berat dari bibirnya. Ia beranjak tanpa lupa membawa pulang beberapa barang miliknya. Dan tidak lupa dengan mantelnya.

. . .

'Aku tak merasa aku sendirian. Aku tak merasa seperti aku hidup tanpamu.
Tapi waktu terus berjalan dan aku belum mendapatkan apapun sejauh ini. Karena sampai saat ini, kau masih menjadi pengisi tetap ruang hidupku.'

.

27 November 2016.

"Niel."

Mata bulatnya tak beralih dari salju yang berada dibawah kakinya.

"Hm?"

"Aku ingin eskrim~"

Lelaki bermata bulat itu merengek tanpa mengalihkan pandangannya dari kakinya yang sedang bermain dengan salju.

"Hei, apa kau tidak kedinginan? Salju pertama bahkan baru saja turun tadi pagi."

Lelaki manis itu menggeleng dan melepaskan dirinya dari dekapan hangat tubuh besar Daniel.

"Tidak boleh."

Jihoon meraih lengan lelaki yang lebih tua dan mengayunkan pelan lengan itu dengan rengekan kecil dari bibirnya.

"Aku tidak ingin kau sakit, sayang."

"Tidak akan sakit. Aku janji!"

Jihoon tak berhenti mencoba meyakinkan kekasihnya. Matanya berbinar dan mengerjap beberapa kali. Membuat Daniel mau tak mau menghela nafas kasar sembari menganggukkan kepalanya.

.

Daniel menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah taman kecil. Ia mengedarkan pandangannya mengelilingi taman itu.
Bibir Daniel mengukir sebuah senyum tipis saat maniknya menangkap benda putih kecil mulai berjatuhan.

"Jihoon, apa kau masih ingin eskrim sekarang?"

. . .

"Semuanya baik-baik saja. Kau akan menemaniku lagi di penghujung hariku."

'Kata-kata itu terus ku ulang setiap harinya. Aku hanya ingin hidup lebih baik seperti permintaanmu. Aku tahu kau masih disini.
Tetapi berulang kali pula kenyataan menampar telak hidupku. Bohong jika aku mengatakan kalau aku tidak merasakan sesuatu yang hilang disini. Hidupku tak lengkap. Karena kehilanganmu.
Kalau boleh aku berkata jujur, kehidupanku sekarang seperti penjara bagiku.'

.

Daniel menjatuhkan tubuhnya perlahan diatas tempat tidur sembari menatap sisinya yang dulunya terisi oleh sesosok lelaki manis dengan pipi berisi.

.

31 Desember 2016

"Niel."

Suara lembut itu memasuki pendengaran Daniel.

"Ada apa?"

Daniel menyahut tanpa melepaskan rengkuhannya dari tubuh berisi itu.
Jihoon mendongak dan menatap wajah tampan kekasihnya.

"Terimakasih."

Senyum manis terlukis jelas di wajah Jihoon. Membuat Daniel mengernyit.

"Untuk?"

"Kau sudah menemaniku melewati pergantian tahun untuk ke-tiga kalinya."

Daniel menatap kearahnya dan memberikan senyuman lembut serta anggukan dari kepalanya.

"Aku yang harusnya berterimakasih padamu. Karena telah hadir untukku. Sekarang, tidurlah."

Daniel mendapatkan sebuah anggukan cepat dari Jihoon. Lelaki manis itu kembali menelusupkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya.
Tangan besar Daniel bermain dengan surai halus milik Jihoon.

"Ah, Niel."

"Hm?"

Daniel merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Ia mendapat sebuah ciuman singkat dari kekasihnya.

"Selamat malam."

Daniel terkekeh pelan melihat semburat merah memenuhi wajah kekasih manisnya. Daniel mendaratkan beberapa kecupan pada puncak kepala Jihoon.

. . .

'Aku merindukanmu, kurasa satu hari berjalan sangat lambat. Aku merindukanmu, tak terasa setahun sudah berlalu.'

.

Daniel tersenyum kecil. Matanya sibuk menatap lurus kearah layar tipis didepan sana.

"Niel! Jangan mengarahkan kamera itu padaku terus!"

Terdengar pekikan kesal disana. Dan kemudian sebuah tangan berbalut sarung tangan rajut mencoba menutupi kamera.

"Niel, sakit~"

Sebuah ringisan terdengar dari bibir manis lelaki dengan pipi berisi yang sedari tadi menjadi objek utama kamera Daniel. Dirinya terjatuh karena mencoba menghindari kamera yang dipegang kekasihnya.

"Niel, bantu aku membuat boneka salju!"

"Niel, aku lelah."

"Ayo pulang, Niel."

. . .


'Ya, aku hidup seperti itu.
Mencoba meyakinkan diriku sendiri. Kau masih disini.
Park Jihoon. Hatiku masih bersamamu, dan kau malah membawanya pergi. Apa kau benar-benar tidak ingin kembali?'

.

Daniel.
Lelaki berbahu lebar itu masih setia menatap layar didepan sana. Dengan secangkir kopi hangat diatas meja.

.

1 Januari 2017

Daniel menjatuhkan tubuhnya diatas tumpukan salju. Tepat disamping kekasihnya dengan nafas terengah dan kamera yang terus dibawa olehnya.
Kamera Daniel terus menyorot wajah manis Jihoon.

"Hei, ini terlalu dekat!"

"Tidak apa-apa."

Daniel terkekeh mendengar kekasihnya protes karena kamera yang terlalu dekat dengan wajahnya.

.

"Kejar aku!"

Senyum ceria terukir diwajah Jihoon di layar itu.

"Kang Daniel payah! Kau tidak bisa menangkapku."

Mata Daniel sama sekali tak teralih dari layar didepan sana.

"Niel, kau mencintaiku?"

Setetes butiran bening berhasil lolos dari mata sipit milik Daniel.

"Tentu saja. Aku mencintaimu. Park Jihoon."

. . .

'Aku terbangun dan menyadari ini cukup kacau. Aku masih bertanggung jawab atas semua jejakmu. Aku tak bisa melupakanmu, tolong kembalilah.'

.

Daniel terbangun dari tidur lelapnya. Ah, Daniel baru menyadari dirinya tertidur di sofa. Ia beranjak duduk dengan pandangan yang mengelilingi sekitarnya.

"Jihoon, kenapa aku ter-"

Daniel menghela nafas kasar. Ia mengacak rambutnya marah.

"Arghh!!!"

Daniel mengerang keras.

"Bodoh kau, Kang Daniel!"

. . .


Daniel melangkahkan kakinya kearah balkon dengan secangkir kopi ditangannya. Kopi kembali menjadi candunya sejak ia hidup tanpa kekasihnya.
Daniel menatap salju yang masih berjatuhan. Ia memutar tubuh besarnya menghadap kedalam rumah kecilnya. Daniel memperhatikan sekelilingnya.
Dan tersenyum penuh arti.

"Pada akhirnya, sampai kapanpun akan terus seperti ini kan? Jika aku tidak berhasil melupakanmu?"

. . .

'Sekali lagi, akhir yang sama.
Aku merindukanmu.
Aku mencoba melupakanmu.
Aku mencoba menghapusmu meskipun waktu telah berlalu.
Aku merindukanmu, Park Jihoon.'

- Kang Daniel.

~~~~~

"Ibu, apa ini tulisan ayah?"

Seorang anak kecil menghampiri ibunya yang sedang berkutat dengan masakannya.
Ibunya yang mendengarnya pun menoleh setelah menyelesaikan masakannya.

"Tulisan apa, sayang?"

Jinyoung menghampiri putra kecilnya. Ia bersimpuh mensejajarkan tingginya dengan putranya.

"Ini, bu. Aku tidak bisa membacanya."

Jinyoung terkekeh sembari mencubit gemas hidung mancung sang anak.

"Kau harus belajar lebih giat, sayangku."

Jinyoung meraih kertas itu dari tangan putranya.

"Ibu akan menyiapkan makan malam kita dulu. Tapi ibu akan menyimpan ini."

Jinyoung mendapatkan sebuah anggukan.

.

'Aku akan melewati hari tanpa ada perbedaan. Seperti permintaanmu.
Aku tak merasa aku sendirian. Aku tak merasa seperti aku hidup tanpamu.
Tapi waktu terus berjalan dan aku belum mendapatkan apapun sejauh ini. Karena sampai saat ini, kau masih menjadi pengisi tetap ruang hidupku.
"Semuanya baik-baik saja. Kau akan menemaniku lagi di penghujung hariku."
Kata-kata itu terus ku ulang setiap harinya. Aku hanya ingin hidup lebih baik seperti permintaanmu. Aku tahu kau masih disini.
Tetapi berulang kali pula kenyataan menampar telak hidupku. Bohong jika aku mengatakan kalau aku tidak merasakan sesuatu yang hilang disini. Hidupku tak lengkap. Karena kehilanganmu.
Kalau boleh aku berkata jujur, kehidupanku sekarang seperti penjara bagiku.
Aku merindukanmu, kurasa satu hari berjalan sangat lambat. Aku merindukanmu, tak terasa setahun sudah berlalu.
Ya, aku hidup seperti itu.
Mencoba meyakinkan diriku sendiri. Kau masih disini.
Park Jihoon. Hatiku masih bersamamu, dan kau malah membawanya pergi. Apa kau benar-benar tidak ingin kembali?
Aku terbangun dan menyadari ini cukup kacau. Aku masih bertanggung jawab atas semua jejakmu. Aku tak bisa melupakanmu, tolong kembalilah.
Sekali lagi, akhir yang sama.
Aku merindukanmu.
Aku mencoba melupakanmu.
Aku mencoba menghapusmu meskipun waktu telah berlalu.
Aku merindukanmu, Park Jihoon.'

- Kang Daniel.

.

Jinyoung tersenyum tipis. Ia tahu. Tentu ia tahu tentang Park Jihoon. Bahkan Daniel sendiri yang menceritakan bagaimana seorang Park Jihoon padanya.
Ia tak cemburu. Karena sekarang Daniel miliknya.

Jinyoung berniat menutup kertas itu sebelum sebuah tangan besar menghentikannya. Tangan besar itu menyerahkan selembar kertas terlipat pada Jinyoung.

"Itu adalah halaman berikutnya."

.

'Hei, Park Jihoon. Apa kau yang memintanya menemuiku? Jika iya. Terimakasih.
Aku bahagia bersamanya. Sungguh.
Aku menemukan kembali titik cerah di hidupku. Dia tidak menghapusmu dari hidupku. Tetapi dia telah membantuku melewati hari tanpamu. Dan aku menyadari, hariku bergantung padanya.
Aku tidak melupakanmu, Jihoon.
Aku hanya memulai hidup baru dengannya.
Bae Jinyoung.
Nama yang indah bukan? Seperti senyum yang dimilikinya. Ah mungkin sebentar lagi akan berganti marga. Menjadi Kang? Mungkin?

Sekali lagi. Terimakasih, Park Jihoon. Karena telah mengisi hariku di masa lalu.

Aku mencintaimu, Bae Jinyoung.'

- Kang Daniel.

.

Daniel terkekeh melihat setetes butiran bening mengalir dari mata indah Jinyoung.

"Aku mencintaimu."

Jinyoung mendongak menatap kearah Daniel. Lelaki yang ditatap oleh Jinyoung itu pun menarik Jinyoung kedalam rengkuhan hangatnya.

"Terimakasih telah hadir disini. Dan memberikan seorang malaikat kecil untukku."

Daniel mendapat sebuah anggukan dari lelaki berwajah kecil didalam rengkuhannya.

"Aku juga mencintaimu, Kang Daniel."

"Dan terimakasih, Park Jihoon."

. . .

'Ah, teman di penghujung hariku? Aku kembali menemukannya, Jihoon.
Orang itu.
Bae Jinyoung.'

- Kang Daniel.

⚫⚫⚫

Terinspirasi dari MV Days Without You.
Dan terciptalah cerita ini!
Maaf typo bertebaran.
Pengennya sih bikin ff yang bisa bikin mewek gitu. Gatau ini bisa atau ngga ehe.

Have a nice day!

Continue Reading

You'll Also Like

37.9K 4.3K 16
❝Tabok gue, keknya gue lagi mimpi deh.❞
1.6K 248 16
Telah terjadi bencana. Gempa di pantai barat pulau Jeju dan hati Kang Daniel yang terguncang bertemu dokter muda Park Jihoon. Completed on April 8th...
611 176 9
Daniel perlahan-lahan mulai tertarik sama cewek pindahan deket rumahnya??
48.6K 2.9K 12
Langsung dibaca aja... BXB JiKook/KookMin TaeGi NamJin
Wattpad App - Unlock exclusive features